Setelah kecelakaan tragis empat tahun lalu, Lyodra Taylor terbangun dari koma panjang di Chicago dalam keadaan amnesia total. Keluarganya, yang menyimpan dendam dan mengira kecelakaan itu adalah sabotase bisnis, memilih memalsukan kematian Lyodra dan menghapus seluruh masa lalunya—termasuk rahasia bahwa ia sempat hamil dan keguguran saat kecelakaan terjadi.
Di sisi lain, Archello Dominic, sang kekasih yang hancur karena mengira Lyodra telah tiada, berubah menjadi pria yang dingin dan menutup diri. Di bawah tekanan ibunya, Archello terpaksa bertunangan dengan Oliver Bernardo, seorang gadis baik hati yang tidak tahu apa-apa tentang konspirasi besar di balik perjodohan mereka.
Tanpa mereka sadari, kecelakaan itu sebenarnya adalah skenario manipulatif kakek Oliver demi ambisi bisnis keluarga. Di tengah bayang-bayang masa lalu yang membeku dan kebohongan yang rapi tersusun, Archello mulai berjuang antara kesetiaannya pada memori Lyodra atau membuka hati bagi ketulusan Oliver.
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#22
Di sudut lain New York, jauh dari kemewahan Mansion Dominic yang kini tengah diliputi romansa panas, berdiri sebuah bangunan gothic yang menjulang angkuh: Mansion Cavanaugh. Jika di rumah Archello udaranya terasa tegang namun penuh kehidupan, di sini udara terasa mati. Setiap embusan napas seolah harus melalui izin tertulis dari sang penguasa tunggal, Silas Cavanaugh.
Di dalam sebuah kamar luas yang lebih mirip sel penjara berlapis emas, Oliver Bernardo duduk meringkuk di sudut jendela. Matanya kosong, menatap pagar besi tinggi yang memisahkan dirinya dengan kebebasan. Sejak rumor kehamilan palsu itu diledakkan ke media, Oliver tidak pernah lagi diizinkan menginjakkan kaki di luar kamar. Ia tidak diberi ponsel, tidak ada akses internet, bahkan pelayan yang mengantarkan makanan dilarang berbicara sepatah kata pun padanya.
Pintu jati besar itu berderit terbuka. Langkah sepatu pantofel yang berat dan berirama lambat menandakan kedatangan sang kakek. Silas masuk dengan wajah yang menghitam karena amarah. Ia baru saja menutup telepon dengan Nenek Hera—sebuah percakapan yang membuatnya sadar bahwa ia telah dipermainkan. Hera telah mendapatkan apa yang diinginkannya: Archello pulang dan Lyodra berada di bawah pengawasannya, sementara Silas ditinggalkan dengan skandal kehamilan palsu yang mulai tercium oleh beberapa jurnalis investigasi.
Silas berdiri di depan Oliver, menatap cucunya dengan pandangan yang lebih dingin daripada salju musim dingin.
"Ternyata aku salah menilaimu, Oliver," suara Silas berat dan penuh penghinaan. "Aku pikir kau adalah aset berhargaku. Ternyata kau hanyalah beban yang memalukan."
Oliver tidak bergerak. Ia tidak lagi memiliki kekuatan untuk membela diri.
"Pantas saja kau ditolak oleh Archello Dominic," Silas melanjutkan, suaranya naik satu oktav. Ia berjalan mengitari Oliver, menatap tubuh cucunya dengan tatapan menilai yang sangat merendahkan. "Lihat dirimu. Kau membiarkan dirimu layu karena kesedihan yang bodoh. Kau makan terlalu banyak karena depresi, atau mungkin kau memang dasarnya pemalas? Ternyata lingkaran perutmu sudah seperti perut kuda. Berlemak dan tidak berbentuk! Bagaimana mungkin pria sekelas Archello mau menyentuh wanita yang bahkan tidak bisa menjaga lekuk tubuhnya sendiri?"
Oliver tersentak. Hinaan itu menghujam tepat di ulu hatinya. Ia tidak gemuk; ia hanya tampak sedikit lebih pucat dan tidak terurus karena tekanan mental yang luar biasa. Namun di mata Silas, kesempurnaan fisik adalah satu-satunya nilai jual yang dimiliki seorang wanita.
Silas kemudian berbalik ke arah pintu dan berteriak memanggil Betavie, ibu Oliver.
"Betavie! Masuk kau!"
Betavie masuk dengan langkah tergesa, wajahnya tampak cemas melihat ayahnya yang sedang murka.
"Lihat anakmu ini," Silas menunjuk Oliver dengan tongkatnya. "Dia adalah kegagalan terbesarmu. Mulai besok, aku tidak mau melihat setetes pun lemak di tubuhnya. Buat kelas diet yang sangat ketat untuk Oliver. Tidak ada karbohidrat, tidak ada gula. Hanya protein minimalis dan air putih. Panggil instruktur kebugaran pribadi yang paling kejam. Dia harus menjadi sempurna, lebih sempurna dari gadis Taylor itu, sebelum aku menjualnya kembali ke aliansi bisnis yang lain!"
Betavie menatap putrinya dengan tatapan iba yang tertutup oleh rasa takut pada Silas. "Tapi Ayah, Oliver sedang sangat lemah secara mental. Jika kita memaksanya—"
"Tidak ada tapi-tapi!" Silas memotong dengan kasar. "Dia harus sempurna! Jika dia tidak bisa menjadi istri Dominic, dia harus menjadi persembahan yang cukup cantik untuk menjerat mangsa yang lebih besar. Aku tidak akan membiarkan investasiku selama dua puluh tahun ini sia-sia hanya karena dia ingin meratapi pria yang sekarang sedang meniduri wanita lain!"
Oliver akhirnya mendongak. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini mengalir deras, membasahi pipinya yang tirus. Ia menatap kakeknya dengan tatapan putus asa yang menyayat hati.
"Bunuh aku saja, Kakek," bisik Oliver dengan suara serak. "Jika aku hanya sebuah aset bagimu, jika hidupku hanya tentang bagaimana cara menyenangkan pria-pria yang kau pilih... maka bunuh aku saja sekarang. Aku sudah tidak punya alasan untuk bernapas di rumah yang terasa seperti kuburan ini."
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Oliver, jauh lebih keras dari tamparan sebelumnya. Silas menatapnya dengan api kemarahan di matanya.
"Mati pun kau harus seizinku, Oliver! Jangan pernah berpikir kau bisa lolos semudah itu. Kau akan tetap hidup, kau akan menjadi cantik, dan kau akan melakukan apa yang aku perintahkan sampai setiap sen yang aku keluarkan untukmu kembali berkali-kali lipat!"
Silas berbalik dan melangkah keluar, menyisakan suara dentuman pintu yang terkunci rapat.
Betavie mendekati Oliver, mencoba menyentuh bahu putrinya, namun Oliver menghindar. Oliver menatap ibunya dengan tatapan yang kosong.
"Kenapa kau tidak membantuku, Mom? Kenapa kau membiarkan dia memperlakukanku seperti binatang?"
Betavie hanya bisa menangis diam-diam. "Maafkan Mommy, Sayang. Di rumah ini, tidak ada yang bisa melawan Kakekmu. Ikuti saja perintahnya, mungkin dengan begitu dia akan melepaskanmu suatu hari nanti."
Oliver tertawa getir di tengah tangisnya. Keinginan untuk hidup seolah telah tercerabut dari akarnya. Saat ia mendengar kabar melalui celah-celah bisikan pelayan bahwa Archello dan Lyodra telah menikah dan sedang bahagia, Oliver merasa dunianya benar-benar telah berakhir.
Kini, di bawah rezim diet ketat dan latihan fisik yang menyiksa yang akan dimulai besok pagi, Oliver merasa dirinya benar-benar hanya sebuah boneka porselen yang sedang diperbaiki retakannya agar bisa dijual kembali. Dan di dalam hatinya, ia hanya bisa berdoa agar suatu hari nanti, kebenaran tentang kehamilan palsunya terungkap, agar ia tidak lagi harus memikul beban kebohongan yang diciptakan oleh kakeknya sendiri.
🌷🌷🌷🌷