Genre: Sistem, Sport, Tactical.
Sub-Genre: Romance, Drama, School, Slice of Life, Friendship.
Arc 1 : Kebangkitan Calon Pelatih Trainee (Chapter 1 — 21) - (22.691 kata)
Arc 2 : Asisten Pelatih yang Diremehkan (Chapter 22 - ... ) - (Ongoing)
Dari gelandang tengah SMA Hangzhou menjadi seorang pelatih muda? Dibekali Sistem Kepelatihan, Xiao Han merajut kembali mimpinya, setelah dokter memvonisnya tak bisa menjadi pesepak bola lagi karena cidera. Mampukah ia menapaki sepak bola sekali lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4
Dua bulan berlalu sejak Shen Yuexi membasuh lukaku di rumah sakit.
Bulan Juni kulalui dengan ujian nasional yang terasa hambar, kakiku masih belum bisa digerakkan bebas, tapi setidaknya alat penopang ini membuatku bisa berjalan sedikit lebih lancar ke meja belajar.
Setiap malam, Shen Yuexi mengirim pesan, kadang foto latihan karatenya, kadang hanya stiker lucu.
Sistem tetap setia menemani; misi analisis kekalahan Hangzhou telah kukirimkan di minggu pertama, dan hadiahnya, buku usang berjudul Dasar-Dasar Formasi 4-4-2, sekarang tergeletak di meja, penuh coretan.
Ibu menjemputku pertengahan Juli, matanya sembab, tapi ia hanya berkata, "Pulanglah, Nak."
[ Misi Analisis: SELESAI ]
[ EXP +50 ]
[ Buku Dasar-Dasar Formasi 4-4-2 telah ditambahkan ke inventaris ]
***
Ketak.
Ketik.
Ketak.
Ketik.
Aku sedang bertukar pesan WhatsApp dengan kontak yang kuberi nama Pelatih Botak. Bukan tanpa alasan, dia memang tak punya sehelai rambut yang bisa dibanggakan di kepalanya.
Dulu aku berharap dia adalah Pep Guardiola-nya Manchester City.
Tapi nyatanya, dia lebih mirip Erik Ten Hag di Manchester United.
Klik.
Aku mengirim pesanku.
^^^| Kenapa aku tidak bisa? |^^^
Ding!
Dia membalas secepat kilat. Kami berdebat tentang kepelatihan, aku memintanya untuk menjadi asisten pelatih di Hangzhou bersamanya, karena tak mungkin bagiku untuk menggiring bola seperti dulu.
| Kau tak punya pengalaman |
| Kau itu memang bagus sebagai pemain |
| Bukan berarti kau bisa menjadi pelatih |
Pak Guan Tian memang keras kepala, pelatih botak itu selalu saja menganggap dirinya serba benar, tanpa mau mendengarkan pendapat seseorang lebih dulu. Tapi, aku butuh dia, untuk melatih Hangzhou meraih trofi turnamen nasional.
Ketak. Ketik. Ketak. Ketik.
Klik.
^^^| Tak bisakah kau memberiku kesempatan? |^^^
Ding!
| Jangan bercanda! Jadi pelatih itu tidak mudah! |
Orang itu memang keras kepala, aku menutup ponselku, tanda seru di akhir kalimat terasa seperti penegasan yang takkan berubah menjadi seruan melatih bersama.
“Hahh ...” Udara kubuang dari mulutku, aku duduk di tepi kasur yang bukan ranjang rumah sakit.
Sudah dua bulan berlalu, kini sudah memasuki bulan Agustus musim semi.
Dua bulan lalu, aku cedera pada kaki dan kepalaku, sekarang di kamarku yang hanya berteman bola sepak dan meja belajarku yang sudah tak digunakan.
Aku meratapi kakiku yang harus menggunakan alat penopang jalan, karena aku enggan menggunakan tongkat.
Cacat.
Begitu kata orang-orang.
“Seandainya aku bisa bermain bola lagi ...” kataku lirih. “Aku pasti sudah berada di tim elite sebuah klub karena turnamen itu.”
Ujian nasional kelulusan sekolah menengah atas telah selesai, aku lulus di bulan Juni, tanpa perayaan, hanya berbaring di rumah sakit.
Tapi selama masa pemulihan cedera kaki, Shen Yuexi selalu menemaniku.
Kipas angin menderu, membelai rebahku di atas kasur kamar.
Tak ada yang bisa kulakukan, tapi berkat sistem itu aku sedikit belaja—
Sreeettt ...
Decit suara pintu kamar terbuka pelan.
“Han,” suara itu bernada marah, tapi lembut. “Sampai kapan kau di kamar terus.”
Ibuku, wanita berusia 50 tahun ini dengan celemek dapurnya datang dengan centong di tangan.
“I-Ibu ...”
“Aku sudah bilang jangan main bola, ini yang aku takutkan, dan sekarang kau tetap ingin menjadi pelatih sepak bola.”
Aku hanya menunduk, ibuku terlalu overprotektif semenjak ayahku meninggal. Tak ada ruang gerak untukku. Tak ada yang bisa aku lakukan untuk mengejar mimpiku.
“Ibu berbicara seperti ini karena ibu sayang, ibu tidak mau ayah kecewa ... tapi sekarang lihat, kamu seperti ini, apa yang harus ibu katakan jika ayah masih ada?”
Aku tetap menundukkan kepala, hanya ini yang aku bisa. Dulu aku bersikukuh untuk terus bermain sepak bola, karena ayahku yang mengenalkannya padaku.
Tapi sekarang seperti ini, saat kecil ayah dan aku pergi ke stadium untuk menyaksikan laga klub di tingkat tertinggi sepak bola china. Namun, kami mengalami kecelakaan lalu-lintas, sehingga ayah harus pergi meninggalkan dunia.
“Nurut sama ibu ya nak,” lanjut ibu berkata. “Kau tak perlu menjadi pemain bola untuk menjadi hebat.” Dia mendekat padaku. “Kau hanya perlu belajar, melanjutkan kuliah nanti, dan fokus menyembuhkan kakimu.” Tangannya mengusap rambutku pelan.
Tapi ...
Sistem.
Aku punya sistem.
Takkan kusia-siakan kesempatan yang datang seperti keajaiban ini.
“Ibu ...” kataku menatap langsung ke iris ibu. “Kau tahu, aku selalu merindukan ayah.”
“Ibu juga sama, nak.”
“Sebab itulah aku tak ingin meninggalkan sepak bola, karena ada wajah ayah yang kuingat setiap aku memikirkannya.”
Ibu hanya menghela napas panjang, ratusan kali sudah ibu mengingatkanku, namun aku tetap ingin menapaki sepak bola.
Aku paham, kehilangan seseorang yang ibu cintai memang menyakitkan, terutama hal itu berkaitan dengan olahraga yang aku minati.
“Turunlah ke bawah, ibu sudah masak makanan favoritmu.”
Kemudian, ibu pergi melangkah.
Sreeettt ...
Menutup pintu tanpa melihat ke arahku.
Kamarku kini kembali dirundung sepi. Ini waktu yang tepat, untuk mengecek sistem kembali.
“Sistem,” kataku hampir kepada suara.
Ding!
[ SISTEM KEPELATIHAN ]
Aku bangkit dari kasurku.
Kreeetaaak.
“Sial ...” Desahan tertahan keluar dari bibirnya. Tulang keringnya seperti diremuk beban tubuh yang ia paksakan berdiri.
“Aduhhh ... sampai kapan aku seperti ini.” Aku membungkuk, menyentuh alat penopangku di kaki. “Aku takkan pernah lupa siapa yang membuatku begini.”
Aku menegarkan diri, berjalan pincang menuju meja belajarku. Di sana, buku dasar formasi 4-4-2 yang kudapatkan dari sistem terletak rapi.
“Sistem bilang minimal paragraf, tapi aku terbawa suasana saat itu.”
Aku meraih buku itu, setelah mencapai meja dan duduk perlahan dikursi, sakit kakiku tak bisa ditutupi.
Aku sulit bergerak walau hanya untuk sebatas duduk.
“Kemarin aku menulisnya di sistem dengan ... kalau dipecah bisa banyak paragrafnya.”
Kekalahan Hangzhou ...
Kata kalah masih menghantui ruang pikiranku.
Di paragraf pertama.
Kekalahan Hangzhou No.9 Highschool dari Tshinghua University Highschool bukan semata karena kualitas individu pemain, melainkan karena struktur permainan yang kalah stabil sejak awal pertandingan. Hangzhou tetap menggunakan formasi 3-4-3 yang sama seperti pada laga-laga sebelumnya tanpa perubahan berarti. Pada babak pertama, tim masih mampu menekan melalui sayap dan mencoba mempertahankan tempo serangan tinggi. Namun, seiring berjalannya pertandingan, Tshinghua mulai membaca pola permainan tersebut dan perlahan mengambil alih kendali lapangan, terutama di sektor tengah.
Panjang, namun sama halnya di paragraf kedua.
Masalah utama dari formasi 3-4-3 Hangzhou terletak pada lini tengah yang terlalu terbuka ketika menghadapi formasi 4-3-3 milik Tshinghua. Tiga gelandang lawan mampu menguasai ruang di tengah lapangan dan mengatur ritme permainan dengan lebih leluasa. Ketika Hangzhou mencoba melakukan tekanan tinggi, ruang di belakang wing-back menjadi celah besar yang langsung dimanfaatkan oleh penyerang sayap Tshinghua melalui serangan balik cepat. Situasi ini membuat struktur pertahanan Hangzhou sering terlambat kembali ke posisi, sehingga beberapa peluang berbahaya tercipta dari transisi cepat lawan.
“Aku memang terlalu berlebihan jika berkaitan dengan sepak bola ... huhh ... paragraf ketiga pun sama panjangnya.”
Selain itu, pelatih Hangzhou terlalu bergantung pada satu sistem permainan tanpa memberikan variasi taktik selama pertandingan berlangsung. Ketika lawan mulai menguasai lini tengah, seharusnya ada penyesuaian seperti menambah kekuatan di sektor tersebut atau mengubah pendekatan permainan menjadi lebih seimbang. Tanpa adaptasi taktis, tekanan yang diberikan Hangzhou justru berubah menjadi kelemahan bagi tim sendiri. Pada akhirnya, kekalahan ini menunjukkan bahwa strategi yang agresif tanpa keseimbangan struktur hanya akan menjadi keuntungan bagi lawan yang mampu membaca permainan dengan baik.
“Tiga paragraf tapi panjang, anehnya aku dapat mengingat setiap diksi yang aku isi.”
Aku sadar, jika bukan sistem, dia takkan membaca tiga paragraf analisaku.
“Jika paragraf itu dibaca oleh pembaca novel, sudah jelas mereka melewatkan bagian analisa yang super-padat begitu.”
Aku tertawa kecil.
Jika sistem itu aku, sebagai pembaca, aku juga akan melewatkan bagian yang dapat membuatku lelah membacanya.
Betapa bodohnya aku sebagai pembaca.
Dring ...
Dring ...
Dring ...
Suara ponsel berdering.
Sebuah panggilan masuk.
“Ye Chen?”