NovelToon NovelToon
Transmigrasi Dunia Novel Menjadi Suami Villain

Transmigrasi Dunia Novel Menjadi Suami Villain

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Sistem / Fantasi Timur / Epik Petualangan / Fantasi / Harem
Popularitas:10.3k
Nilai: 5
Nama Author: EGGY ARIYA WINANDA

Wu Xuan mahasiswa elite jurusan bisnis, hukum dan manajemen tanpa sadar memasuki dunia novel kultivasi yang baru saja dibacanya, bukan sebagai mc, bukan juga villain, tapi menjadi karakter pendukung yang akan mati pada arc awal. Dengan bantuan sistem, Wu Xuan berusaha mengubah cerita.

Ia masuk ke tubuh patriark tua, namun karena sistem membantunya menerobos, tubuh tuanya berubah menjadi muda dan tampan.

Dia melamar wanita (Villain) yang harusnya menjadi menantunya, karena pembatalan pertunangan sepihak yang dilakukan oleh anaknya.

Demi menghindari masalah di masa depan, ini adalah jalan yang harus di ambil oleh Wu Xuan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Transmigrasi Kaisar Gunung Suci

Di alam semesta yang jauh melampaui pemahaman fana, di sebuah dimensi misterius dan tak bertepi yang disebut sebagai Alam Dewa (God Realm), darah berwarna keemasan menetes membasahi takhta yang terbuat dari debu bintang.

Kaisar Gunung Suci. Entitas yang memimpin Kekaisaran Gunung Suci—sebuah faksi yang sejatinya hanyalah riak kecil, sebuah kekuatan marginal di tengah lautan entitas Alam Dewa yang misterius—menatap dengan mata redup ke arah tujuh pedang kosmik yang menembus jantung dan dantian surgawinya. Di hadapannya, berdiri para murid yang selama ribuan tahun telah ia besarkan, ia didik, dan ia berikan pencerahan. Mereka mengkhianatinya demi pusaka tingkat dewa rendah yang tak sengaja ia temukan.

Saat tubuh Ranah Dunia Sejati itu mulai hancur menjadi serpihan cahaya, jiwa sang Kaisar Gunung Suci tidak ikut padam. Dengan satu raungan terakhir yang mengguncang hamparan gunung kekuasaannya, jiwanya merobek jalinan ruang dan waktu, melesat jatuh ke salah satu alam dibawah alam dewa yaitu benua Tianlan atau Alam Tianlan, mencari wadah untuk terlahir kembali dan menuntut balas untuk membuktikan bahwa ia bisa merajai seluruh Alam Dewa kelak.

Bruk!

Sensasi pertama yang dirasakan oleh sang Kaisar bukanlah kelembutan awan surgawi, melainkan dinginnya lantai batu yang kasar dan bau amis darah merah yang menjijikkan.

Di sebuah ruangan sempit dan lembap, kelopak mata yang memar itu perlahan terbuka. Pandangannya kabur, tubuhnya terasa luar biasa kaku dan remuk di setiap persendian. Rasa sakit yang remeh namun sangat nyata ini membuat jiwa agung sang Kaisar merasa terhina.

"Tubuh macam apa ini... kenapa bisa selemah ini?" gumamnya serak, merasakan darah menggenang di tenggorokannya.

Ingatan asing mulai membanjiri kepalanya. Nama wadah ini adalah Chu Zhang. Seorang pemuda berusia sembilan belas tahun dari keluarga cabang Klan Chu. Tubuh ini tidak memiliki bakat kultivasi yang layak, meridiannya tersumbat, dan ia baru saja dipukuli hingga tewas oleh beberapa sepupunya hanya karena tidak sengaja menatap mata seorang tuan muda dari keluarga utama.

Sebuah kematian yang sangat menyedihkan dan tidak berharga.

Namun, bibir pemuda yang berlumuran darah itu kini melengkung ke atas. Senyuman arogan, dingin, dan penuh dengan keangkuhan seorang penguasa terbentuk di wajahnya yang babak belur.

"Semut-semut alam Tianlan berani menyentuh wadah reinkarnasiku," bisik Chu Zhang—atau lebih tepatnya, sang Kaisar Gunung Suci. Matanya yang tadinya redup kini memancarkan cahaya keemasan yang setajam pedang. "Pemilik tubuh ini mendapatkan banyak ketidakadilan dan aku akan membalaskan ketidakadilan itu lebih dahulu sebelum naik kembali ke alam dewa Tianzun."

Tanpa mempedulikan tulang-tulangnya yang patah, Chu Zhang duduk bersila dengan paksa. Pengalaman tempur dan pengetahuan kultivasi selama ratusan ribu tahun berputar di dalam otaknya. Meridian yang tersumbat di tubuh cacat ini bukanlah masalah bagi seorang dewa. Dengan teknik pernapasan surgawi yang ia ingat, ia secara paksa menyerap energi spiritual di sekitarnya.

Udara di dalam ruangan sempit itu berputar liar. Suara retakan tulang yang sedang menyambung kembali terdengar mengerikan.

Dalam hitungan napas, batas Pembentukan Qi hancur lebur.

Satu jam kemudian, pusaran energi di atas kepalanya menembus batas Ranah Jiwa.

Dan tepat ketika matahari mulai meninggi, aura di tubuh pemuda yang seharusnya sudah menjadi mayat itu stabil di puncak Ranah Jiwa Tahap Akhir.

Sebuah lompatan kekuatan yang sepenuhnya menginjak-injak logika dunia kultivasi alam Tianlan. Inilah kekuatan sejati dari sebuah plot armor tokoh utama tingkat dewa.

Chu Zhang berdiri. Pakaian kasarnya yang compang-camping berkibar oleh sisa-sisa energinya. Ia mengepalkan tangannya, merasakan kekuatan yang meskipun terasa seperti setetes air dibandingkan dengan lautan kekuatannya di masa lalu, namun ini sudah cukup untuk menunjukan taringnya pada keluarga kecil ini.

Ia berjalan ke arah jendela, menatap ke luar menuju pemandangan kota tempat ia terlahir kembali.

Kota Batu Hijau.

Bagi ukuran Kekaisaran Great Yan, ini hanyalah sebuah kota perbatasan yang diklasifikasikan sebagai 'kota kecil'. Namun, makna 'kecil' di dunia yang luasnya melampaui nalar ini sangatlah relatif. Kota Batu Hijau membentang seluas sepuluh juta kilometer persegi, dikelilingi oleh tembok raksasa yang terbuat dari batu giok hijau yang diukir dengan formasi pertahanan tingkat menengah.

Dan kota raksasa ini, hanyalah satu dari tiga puluh kota besar yang berada di bawah yurisdiksi mutlak Wilayah Selatan.

Wilayah Selatan Kekaisaran Great Yan bukanlah sekadar sepetak daratan. Wilayah ini memiliki luas wilayah lima puluh kali lipat lebih besar dari ukuran total sebuah tata surya kecil di alam fana biasa. Bulan dan matahari kecil, pulau seukuran planet melayang, lautan spiritual yang luasnya tak bertepi, dan rantai pegunungan yang ukurannya sebesar matahari disatukan oleh hukum gravitasi spiritual benua Tianlan. Ini adalah sebuah hamparan daratan super raksasa di dalam sebuah kekaisaran.

Dan penguasa mutlak dari wilayah sebesar itu... adalah Keluarga Wu.

"Keluarga Wu..." gumam Chu Zhang, mengais ingatan pemilik tubuh aslinya. "Keluarga bangsawan yang menelantarkan wilayahnya sendiri demi menjilat penguasa di ibukota. Penguasa yang tidak pantas. Saat aku kembali ke puncakku, aku akan mengambil alih wilayah ini sebagai langkah pertamaku merebut dunia Tianlan ini sebelum kembali ke atas."

Kaisar Gunung Suci tersenyum penuh percaya diri, tidak menyadari bahwa takdir yang ia baca dari ingatan pemilik tubuh terdahulu... telah dihancurkan sepenuhnya oleh seorang pria dari Bumi yang telah membaca naskah hidupnya.

Di kedalaman lorong dimensi ruang, sebuah fenomena yang mengerikan sedang terjadi.

Sebuah lubang cacing (wormhole) yang terbentuk dari lipatan hukum ruang kuno memancarkan cahaya keperakan yang membutakan. Di dalam lorong dimensi yang mampu merobek tubuh kultivator Ranah Kuno tahap awal menjadi partikel subatomik itu, seekor makhluk buas melesat dengan kecepatan yang menentang cahaya.

Mandou. Singa raksasa berbulu seputih salju dengan sayap griffin peraknya mengepak, menciptakan riak pelindung ruang yang stabil. Tiga kepalanya yang agung sesekali mengaum pelan, menikmati sensasi membelah lapisan dimensi yang jarang bisa dilakukan oleh beast normal.

Di atas punggung makhluk tingkat Kuno akhir yang lebar itu, Wu Xuan duduk bersila dengan sangat santai. Jubah hitam kebesarannya bahkan tidak berkibar karena ia telah membungkus area di sekitarnya dengan domain energi Air yang sangat tenang. Di belakang punggungnya, Dao Halo berputar lambat, menyeimbangkan tekanan dimensi di sekitarnya.

Perjalanan dari Ibukota Kekaisaran di pusat menuju pusat Wilayah Selatan memakan waktu yang sangat lama jika menggunakan kapal terbang biasa, namun dengan kemampuan memanipulasi ruang tingkat Primordial Suci tahap menengah dan tunggangan seperti Mandou, jarak yang melampaui Ribuan tahun cahaya itu ditekan menjadi perjalanan beberapa jam saja.

Sementara matanya terpejam, menikmati aliran hukum ruang, layar biru sistem mendadak muncul di depan retinanya dengan kilatan emas yang sangat terang.

[Ding! Peringatan Sistem Tingkat Tinggi!]

[Karena merusak plot antara protagonis Chu Zhang dengan putri kakaisaran Yan Yue, Host mendapatkan hadiah kartu Summon elite x1.]

[dan terdeteksi protagonis telah bertransmigrasi di kota batu hijau.]

Wu Xuan tidak membuka matanya, namun senyum tipis terukir di bibirnya. 'Ah, tokoh utamanya sudah bangun rupanya. Aku harap dia tidak terlalu bersemangat mendapati tubuh barunya penuh dengan luka memar.'

[Analisis Perubahan Takdir: Dalam alur cerita asli, Protagonis akan menghabiskan waktu berbulan-bulan menaklukkan Wilayah Selatan yang terbengkalai secara diam-diam, mengumpulkan kekuatan, sebelum akhirnya pergi ke ibukota.]

[Namun, tindakan Host yang kembali ke Wilayah Selatan dengan kekuatan (Ranah Primordial Suci) dan membawa serta sepuluh Kapal Tempur Tingkat Kuno Akhir, telah mengunci wilayah ini.]

[Evaluasi: Host berhasil merusak dua grand-plot Protagonis Utama bahkan sebelum dia mengambil langkah pertamanya ke dunia luar!]

[Selamat! Host mendapatkan hadiah tingkat kosmik: Pedang Pelahap Dunia (World Devourer Sword) - Tingkat Primordial!]

Mata emas kristal Wu Xuan perlahan terbuka. Kegembiraan yang sangat langka memancar dari tatapannya.

"Keluarkan," perintah Wu Xuan di dalam pikirannya.

Seketika, ruang di hadapannya berdistorsi hebat. Hawa dingin yang tidak berasal dari es, melainkan dari ketiadaan, menyebar. Sebuah pedang melayang keluar dari sistem penyimpanannya dan mendarat perlahan di telapak tangannya.

Pedang itu sama sekali tidak terlihat bercahaya. Panjangnya sekitar empat kaki, dengan bilah lurus berbilah ganda. Warnanya hitam pekat, lebih gelap dari malam tanpa bintang, seolah bilah itu sendiri menyerap seluruh cahaya di sekitarnya. Tidak ada ukiran naga atau ornamen berlebihan di gagangnya; murni desain yang mengutamakan fungsi pembantaian. Namun, saat tangan Wu Xuan menggenggam gagangnya, ia bisa merasakan resonansi yang mengerikan dengan Akar Spiritual Samudra Terdalam miliknya.

Pedang ini memiliki sifat seperti dasar palung samudra: Menelan segalanya, menghancurkan segalanya dengan tekanan yang tak berujung, dan tidak pernah melepaskan apa yang telah ditariknya.

"Sebuah pedang yang tidak memantulkan cahaya, dan dirancang untuk menelan hukum alam," gumam Wu Xuan, ibu jarinya mengusap sisi tumpul pedang itu. Ia mengayunkannya pelan ke udara kosong di dalam lubang cacing.

SRIIIING... CRACK!

Ayunan santai itu merobek dinding dimensi lubang cacing, menciptakan retakan hitam sekecil rambut yang langsung menyedot energi spasial di sekitarnya sebelum tertutup kembali.

"Senjata yang sempurna untuk seorang tiran rasional," puji Wu Xuan, matanya berkilat mematikan. Dengan satu jentikan pikiran, pedang itu menghilang, menyatu kembali ke dalam ruang dantiannya, menunggu saat yang tepat untuk mencicipi darah.

"Kita hampir sampai, Mandou," ucap Wu Xuan santai.

Singa raksasa tiga kepala itu mengaum sebagai tanda persetujuan. Di ujung terowongan dimensi, sebuah titik cahaya biru dan hijau mulai membesar. Mandou mengepakkan sayapnya untuk yang terakhir kali, menembus titik cahaya itu dan melompat keluar dari dimensi kembali ke dunia nyata.

Kota Wu Agung.

Kota ini bukanlah sekadar kota; ia adalah ibu kota wilayah selatan, pusat pemerintahan, sekaligus benteng militer terbesar di seluruh Wilayah Selatan Kekaisaran Great Yan. Dibangun di atas sembilan urat nadi naga spiritual yang menyatu, kota ini memiliki luas yang bahkan lebih besar dari gabungan puluhan planet di alam bawah. Tembok-temboknya yang menjulang setinggi ratusan ribu kaki terbuat dari baja bintang yang tidak bisa dihancurkan oleh ledakan tingkat kuno sekalipun.

Di pusat kota tersebut, Istana Keluarga Wu berdiri dengan kemegahan yang menyaingi istana kaisar di ibukota pusat. Namun, selama dua puluh tahun terakhir, istana ini terasa sepi. Keagungannya memudar karena ditinggalkan oleh sang penguasa yang memilih mendekam di ibukota karena urusan asmara yang menyedihkan.

Para pejabat bawahan, jenderal pengganti, dan para pemimpin keluarga luar yang bernaung di bawah Wilayah Selatan perlahan mulai kehilangan rasa hormat. Banyak mata-mata dari faksi asing, mata-mata Duke Barat atau kekaisaran, hingga tikus-tikus korup mulai menggerogoti Wilayah Selatan dari dalam.

Namun, sore ini, langit di atas Kota Wu Agung menjadi gelap.

Bukan karena awan mendung, melainkan karena sepuluh bayangan raksasa menutupi matahari spiritual.

Sepuluh Kapal Tempur Raksasa tingkat Kuno akhir melayang di atas kota dalam formasi tempur absolut. Kapal-kapal raksasa yang panjangnya mencapai ratusan kilometer itu memancarkan aura kanon spiritual yang siap meratakan sepertiga kota Wu Agung hanya dengan satu tembakan. Bendera Keluarga Wu dengan lambang naga air yang membentang berkibar ditiup angin badai.

Jutaan penduduk, kultivator, dan para pejabat di Kota Wu Agung berhamburan keluar ke jalanan. Mereka mendongak dengan wajah pucat pasi.

"Itu bendera keluarga Wu... apa itu armada Keluarga Wu?!" teriak seorang pejabat dengan kaki gemetar. "Bukankah mereka berada di ibukota pusat?! Bagaimana mereka bisa memobilisasi kekuatan sebesar ini untuk kembali?!"

Di atas kapal induk utama, Wu Guan dan Wu Ling berdiri berdampingan. Di belakang mereka, Qin Wuyan duduk dengan tenang di sebuah kursi giok, memancarkan wibawa Nyonya yang telah sepenuhnya terbangun, diam-diam dijaga oleh puluhan tetua.

Mereka telah tiba lebih dulu dan mengamankan perimeter, menunggu aba-aba dari sang penguasa sesungguhnya.

Tepat saat matahari sore mulai berwarna jingga, ruang di atas menara tertinggi Istana Wu Agung terbelah.

Seekor beast surgawi dengan tiga kepala singa dan sayap perak melompat keluar. Di atasnya, berdiri Wu Xuan dengan jubah hitam yang berkibar anggun. Dao Halo di belakang punggungnya tidak lagi disembunyikan; roda kosmik berwarna biru palung samudra dan hijau kayu surgawi itu berputar memancarkan tekanan mutlak seorang Primordial Suci tahap menengah.

Kehadirannya di atas sana membuat seluruh hukum alam di sekitar Kota Wu Agung tunduk. Angin berhenti bertiup. Awan berhenti bergerak.

Jutaan mata menatap sosok itu dengan teror dan kekaguman. Bagi generasi tua, mereka mengenali pria itu, namun ketampanannya yang luar biasa muda dan auranya yang setara dewa membuat mereka meragukan ingatan mereka sendiri.

Wu Xuan tidak membuang waktu dengan pidato emosional atau salam kerinduan. Ia bukan karakter melankolis. Ia adalah seorang ahli strategi yang tahu bahwa untuk mengambil kembali apa yang menjadi miliknya, ia harus menanamkan paku teror terdalam di hati semua orang.

Wu Xuan mengangkat tangannya. Energi dari Akar Spiritual Samudra Terdalam dan Akar Kayu Surgawi mengalir keluar, beresonansi dengan inti formasi pertahanan raksasa Kota Wu Agung, dan secara berantai, menyambung ke Formasi Wilayah Besar.

Sebuah jaringan komunikasi spiritual yang menjangkau seluruh Wilayah Selatan—termasuk hingga ke pelosok Kota Batu Hijau—diaktifkan secara paksa oleh kekuatan Primordialnya.

Suara Wu Xuan bergema. Tidak keras memekakkan telinga, melainkan berat, dalam, dan terdengar seolah ia sedang berbisik tepat di telinga setiap makhluk hidup di tiga puluh kota besar di Wilayah Selatan.

Kelembapan udara mendadak turun, pepohonan spiritual berdesir merinding.

"Dengarkan suaraku, seluruh penduduk, pejabat, dan kultivator di Wilayah Selatan."

Suara itu mengalir masuk ke dalam Istana Kota Wu Agung, masuk ke dalam rumah-rumah bordil tempat para pejabat korup bersembunyi, hingga ke kediaman Klan Chu di Kota Batu Hijau tempat Chu Zhang baru saja terbangun.

"Dua puluh tahun yang lalu, aku meninggalkan tanah ini," gema Wu Xuan melanjutkan, intonasinya sedingin es yang tidak memihak. "Dan dalam ketidakhadiranku, aku mendengar bahwa banyak tikus yang merasa diri mereka telah menjadi naga."

Di jalanan Kota Wu Agung, para pejabat yang diam-diam membelot ke faksi kekaisaran mulai berkeringat dingin, beberapa bahkan jatuh berlutut, tak kuat menahan tekanan suara yang membawa hukum kosmik itu.

"Siang ini, Yang Mulia Kaisar telah mendekritkan pengangkatanku," ucap Wu Xuan, menjatuhkan bom politik yang melenyapkan seluruh harapan para pemberontak. "Aku tidak lagi sekadar Duke. Aku adalah Archduke Xuan. Dan seluruh Wilayah Selatan ini... secara absolut berada di tanganku, tanpa campur tangan ibukota pusat, dan sekali lagi aku tekankan wilayah ini adalah tanah otonom milikku."

Sorak-sorai mulai terdengar dari para loyalis tua Keluarga Wu, namun suara itu segera tenggelam oleh kalimat Wu Xuan berikutnya yang dipenuhi niat membunuh yang sangat murni.

"Sang raja telah kembali ke rumahnya," bisik Wu Xuan, dan bersamaan dengan kalimat itu, ratusan sulur kayu surgawi yang tajam dan tak terlihat melesat dari tanah di seluruh penjuru kota.

"Dan sebagai bentuk perayaan kepulanganku," lanjut Wu Xuan, senyum mematikannya mengembang meski tak ada yang bisa melihatnya dari jarak sejauh itu. "Aku akan membersihkan rumahku dari tikus kotor hari ini juga."

‘Archduke Xuan...’ batin Chu Zhang, matanya menyipit berbahaya. ‘Kekuatan yang luar biasa menindas. Ini akan menjadi tantangan yang menarik. Tunggu saja, Archduke, tak lama lagi, kepalamu akan menjadi pijakanku.’

Namun, apa yang tidak disadari oleh sang protagonis arogan itu adalah, di dalam bayangan tiang kayu tepat di belakangnya, sepasang mata kelabu mati milik pembunuh elit Keluarga Wu sedang menatap punggungnya tanpa memancarkan setetes pun niat membunuh, mencatat setiap hela napasnya untuk dilaporkan pada sang penguasa sesungguhnya.

Bersambung...

1
Fajar Fathur rizky
bikin wuxuan menunjukkan kekuatan alkemisnya thor bikin kedua leluhur itu ketakutan bikin kedua leluhur itu menjadi boneka perang wuxuan
Fajar Fathur rizky
di tunggu updatenya thor bab 50
Fajar Fathur rizky
cepat bikin bab 48 bikin wuxuan dapat hadiah besar thor protagonis itu gagal
Fajar Fathur rizky
thor gambar yan meli mana thor
EGGY ARIYA WINANDA: Nanti kalau wu xuan udah pulang ke selatan dinasti.
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat update bab 46
Fajar Fathur rizky
cepat update bab 45 thor
Fajar Fathur rizky
thor bikin wuxuan licik orang yang mau meracuni klanya bikin bantai bikin orang yang mau meruntuhkan tambang spritual juga di bantal semua sampai tak tersisa bikin faksi ibu kota ketakutan bikin wuxuan meracuni semua anggota Kekaisaran great yan termasuk kedua leluhur itu bikin ranah kultivasi mereka turun sampai ranah primordial suci tahap awal bikin mereka menua
Fajar Fathur rizky
thor bikin wuxuan bikin pil racun yang menurunkan ranah kultivasi kedua leluhur itu sampai ranah primordial suci tahap awal thor bikin wuxuan licik
Fajar Fathur rizky
bikin semua orang yang di suruh itu mati oleh wuxuan
Fajar Fathur rizky
yan maier yang ada elu yg bakal di taklukkan oleh wuxuan
Fajar Fathur rizky
bikin Kekaisaran great yan bangkrut thor
Fajar Fathur rizky
bikin nanti bantai leluhur itu dan kaisar Kekaisaran great yan dengan cara paling kejam thor
Fajar Fathur rizky
cepat bikin wuxuan bantai para pembunuh itu dengan cara paling kejam thor bikin tubuh mereka jadi makanan hewan kontraknya
Fajar Fathur rizky
di tunggu updatenya thor bab 44 thor
Fajar Fathur rizky
thor ko belum update bab 43 thor
Fajar Fathur rizky
cepat naikin ranah kultivasi wuxuan sampai ranah tinggi thor pengen liat dia bantai kaisar Kekaisaran great yan termasuk dua leluhur itu dan taklukin ibu suri itu thor
Fajar Fathur rizky
cepat bikin ranah kultivasi yan dobu dan yan chaoran turun sampai ranah primordial suci tahap awal
Fajar Fathur rizky
cepat update bab 43 thor
Fajar Fathur rizky
nanti jika wuxuan jika sudah berada di ranah tribulasi dunia tahap puncak bantai kedua leluhur Kekaisaran great yan itu dengan cara paling kejam Dan keji thor
Fajar Fathur rizky
chapter 42 bikin wuxuan kejam kepada musuhnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!