NovelToon NovelToon
My Possessiv Damian

My Possessiv Damian

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Zaara 26

Zona dewasa ‼️ Harap bijak dalam memilih bacaan!

Valerie seorang mahasiswa fresh graduate, cantik ,pintar, berkelas, sebenarnya hidupnya normal layaknya mahasiswi biasa, namun semuanya berubah saat sebuah kejadian yang membuatnya harus terikat dengan seorang gangster bernama Damian Callister.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 2

Valerie sudah tidak tahan lagi. Bukan hanya karena ia merasa sesak, tapi karena pria ini seolah-olah mulai hanyut dan menikmati apa yang ia lakukan. Dengan sisa tenaga dan emosi yang meluap, Valerie menggigit bibir bawah pria itu sekuat mungkin.

"Akh!" Pria itu mengerang pelan, melepaskan pagutannya seketika.

Valerie menggunakan kesempatan itu untuk mendorong dada bidang pria itu sekuat tenaga hingga pria itu terhuyung ke belakang. Napas Valerie memburu, wajahnya memerah bukan karena malu, melainkan karena amarah yang meledak.

"Hey! Apa-apaan kau? Main cium sembarangan, sudah gila ya?!" bentak Valerie dengan suara tertahan namun tajam.

Ia mengusap bibirnya dengan kasar menggunakan punggung tangan. Meskipun ini bukan ciuman pertamanya, tetap saja Valerie merasa kecolongan. Gadis sekelas dia tidak seharusnya diperlakukan seperti ini di sebuah gang gelap oleh orang asing.

Pria itu meringis, menyentuh bibirnya yang kini mengeluarkan sedikit darah akibat gigitan Valerie.

Namun, bukannya merasa bersalah, ia malah berdiri tegak dan menyeringai tipis—sebuah senyum yang terlihat berbahaya di bawah remang lampu jalan.

Sebelum Valerie sempat melangkah pergi, pria itu bergerak lebih cepat. Ia kembali merapat, mengunci tubuh Valerie ke dinding. Kali ini, ia menarik kedua tangan Valerie dan menahannya di atas kepala gadis itu dengan satu tangan besarnya.

Valerie tersentak, mencoba berontak, namun terkunci rapat.

"Manis, tolonglah aku," bisik pria itu dengan suara serak yang sangat dalam dan mengintimidasi.

Tatapannya tajam, menembus langsung ke mata Valerie. "Jika kau mau menolongku, aku akan memberikan apa pun yang kau inginkan. Apa pun."

Valerie terdiam. Jantungnya berdegup kencang, bukan lagi karena takut, tapi karena aura dominan yang dipancarkan pria ini. Meski suaranya terdengar mengancam, Valerie yang pintar bisa menangkap nada urgensi di sana.

Pria ini memang sedang terdesak, dan entah kenapa, naluri keberanian Valerie justru tertantang oleh tawaran tersebut.

"Apa pun?" tanya Valerie dengan nada angkuh yang mulai kembali, meski posisinya masih terkurung.

Valerie mendengus remeh, mencoba menutupi debar jantungnya yang tak keruan. "Bagaimana mungkin aku bisa menolongmu? Aku bahkan tidak tahu siapa namamu," tantangnya kemudian.

Pria itu tidak langsung menjawab. Perlahan, ia melepaskan satu tangannya yang tadi mengunci tangan Valerie, lalu menggerakkannya untuk membelai pipi Valerie dengan lembut. Sentuhan itu terasa kontras dengan situasi mereka yang mencekam.

"Aku membutuhkan tubuhmu... sekarang," bisik pria itu dengan tatapan yang sulit diartikan.

Mata Valerie membelalak sempurna. "Apa???"

Ia seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Darahnya mendidih seketika. Bagaimana mungkin pria asing yang baru saja menyeretnya ke dalam masalah ini, dengan tidak tahu malu meminta hal seperti itu?

"Kau pikir aku ini siapa?!" Valerie mendesis penuh amarah, ia berusaha meronta lebih keras. "Apa tampangku terlihat seperti wanita panggilan yang bisa kau beli begitu saja? Kau benar-benar sudah gila!"

Valerie merasa sangat terhina. Sebagai seorang yang berkelas, ia terbiasa dipuja, bukan ditawar dengan cara serendah ini di sebuah lorong gelap.

Rasa waspada gadis itu bangkit sepenuhnya; ia tidak akan membiarkan pria misterius ini berpikir bahwa dia bisa memiliki Valerie hanya dengan sebuah janji "memberikan apa pun".

Namun, di tengah kemarahannya, Valerie menyadari sesuatu. Napas pria itu semakin memburu dan suhu tubuhnya terasa tidak normal.

Pria itu menatap Valerie dengan pandangan sayu, matanya mulai kehilangan fokus. "Arrgh, brengsek!" makinya pada diri sendiri sambil mengerang frustrasi. "Aku sudah tidak tahan lagi..."

Ia kembali merunduk, mencoba meraih bibir Valerie untuk yang kedua kalinya. Namun kali ini, Valerie lebih sigap.

Ia segera menempelkan telapak tangannya di depan bibir pria itu, menahan gerakannya. Sebagai mahasiswi yang pintar, Valerie mulai menyadari ada yang tidak beres dengan reaksi fisik pria ini.

"Tunggu sebentar," sela Valerie tenang. "Apa kau sedang dibius obat perangsang?"

Pria itu tertegun sejenak, lalu menyeringai tipis meski napasnya semakin berat. "Gadis pintar... Jadi, kau mau kan menolongku?"

Bukannya takut, Valerie justru menunjukkan senyum liciknya. —ia tahu sekarang dialah yang memegang kendali. "Baiklah, aku akan menolongmu. Tapi tidak di sini," ujarnya tegas.

Pria itu mengerutkan kening, tampak bingung di tengah gejolak yang menyerangnya. "Apa maksudmu?"

"Bagaimana kalau kita cari hotel terdekat? Setelah itu, aku bisa menolongmu dengan layak," jawab Valerie santai.

Mendengar tawaran itu, pria tersebut perlahan melepaskan cengkeramannya pada tangan Valerie. Ia tampak setuju, atau mungkin sudah terlalu lemah untuk berdebat.

Valerie kemudian berbalik dan berjalan lebih dulu, memberi isyarat agar pria itu mengikutinya menuju ujung lorong yang mengarah ke jalan raya utama.

Begitu mereka keluar dari kegelapan dan sampai di bawah sinar lampu jalan yang terang, Valerie berhenti dan menoleh. Ia ingin melihat dengan jelas siapa sebenarnya pria yang baru saja menciumnya dengan sembarangan tadi.

Seketika, Valerie terdiam.

Di bawah cahaya lampu yang kekuningan, pria itu ternyata luar biasa tampan. Rambutnya yang sedikit berantakan justru menambah kesan maskulin.

Matanya yang berwarna cokelat gelap menatap tajam, dan wajahnya yang tegas kini nampak kemerahan—sebuah efek dari obat yang mulai bekerja maksimal di dalam tubuhnya, membuatnya terlihat menawan sekaligus berbahaya.

Di sisi lain, pria itu pun tertegun. Di bawah lampu jalan yang terang, kecantikan Valerie terpancar sempurna. Gadis di depannya bukan hanya berani dan angkuh, tapi juga memiliki daya tarik yang membuat pria mana pun akan bertekuk lutut.

Beruntung bagi Valerie, sebuah taksi lewat tepat saat mereka sampai di tepi jalan raya. Ia segera melambai, lalu dengan sigap menuntun pria misterius itu masuk ke kursi belakang. Valerie ikut menyelinap masuk dan menutup pintu dengan rapat.

"Pak, ke hotel terdekat ya," perintah Valerie pada sopir taksi. Sopir itu hanya mengangguk pelan, seolah sudah biasa melihat pasangan muda keluar dari area klub di jam-jam seperti ini.

Namun, baru beberapa menit mobil melaju, Valerie melihat papan neon sebuah apotek yang masih buka 24 jam. "Pak, berhenti sebentar di depan sana," pintanya.

Saat Valerie hendak membuka pintu, sebuah tangan yang panas dan bergetar menahan lengannya dengan kuat. Pria itu menatapnya dengan curiga, seolah takut Valerie akan melarikan diri dan membiarkannya menderita sendirian.

Valerie mendekatkan wajahnya, berbisik tepat di telinga pria itu dengan nada menggoda namun tegas. "Tenanglah. Aku harus membeli 'pengaman', kan? Kau tidak ingin kita melakukannya tanpa persiapan, bukan?"

Mendengar itu, cengkeraman pria tersebut perlahan mengendur. Ia mengangguk lemah, membiarkan Valerie keluar dari taksi.

Valerie melangkah masuk ke apotek dengan santai, seolah apa yang ia beli adalah hal paling wajar di dunia. Tak butuh waktu lama, ia kembali ke taksi dengan sebuah bungkusan plastik kecil.

Di dalam plastik itu, memang ada kotak pengaman seperti yang ia katakan tadi. Namun, di balik itu, Valerie juga menyelipkan beberapa butir obat tidur dosis tinggi.

Ia tahu, meskipun pria ini tampan, ia tetaplah orang asing yang berbahaya. Sebagai gadis yang tidak ingin mengambil risiko, Valerie sudah menyiapkan rencana cadangan untuk "menidurkan" pria ini jika situasi mulai tak terkendali di hotel nanti.

"Jalan lagi, Pak," ucap Valerie sambil melirik pria di sampingnya yang kini terlihat semakin kepayahan menahan gejolak dalam tubuhnya.

1
@RearthaZ
lanjutin terus ceritanya kak
@RearthaZ
awalan cerita yang bagus kak
Raffa Ahmad
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!