NovelToon NovelToon
GAMON

GAMON

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:447
Nilai: 5
Nama Author: Vianza

"Cintai aku sekali lagi."

(Cuma enam suku kata. Tapi beratnya kayak batu nisan.
Kata siapa yang ngomong? Keana ke Bima? Atau Bima yang dulu, yang masih gamon, yang masih berharap? Dua-duanya bisa.
Itu celanya. Itu bagusnya.)

---

"Peluk hangat untukmu yang selalu berusaha paham akan aksaraku, aku belajar bahwa kolaborasi bisa datang dari mana saja-bahkan dari algoritma yang dirancang untuk memahami bahasa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vianza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Bima Mulai Penasaran

...GAMON...

...Bab 34: Bima Mulai Penasaran...

...POV Bima...

---

Selasa – 21.00 WIB

Rumah Baru – Ruang Tamu

Bima baru aja selesai bersihin piring.

Dia lap tangan pake handuk kecil yang tergantung di belakang pintu dapur. Wangi sabun cuci piring masih nempel di kulit. Bau lemon. Rina yang pilih. Rina yang selalu pilih yang wangi-wangi. Katanya, "Biar rumahnya enak."

Rumahnya memang mulai enak. Sofa abu-abu itu empuk. Meja kopi kayu jati udah tertata rapi. Buku-buku di rak mulai berjejer. Tapi dinding masih kosong. Belum ada foto. Belum ada lukisan. Masih putih bersih, kayak kanvas yang belum digores.

Tapi malam ini, Bima nggak liat dinding.

Dia liat Rina.

Rina duduk di sofa. Buku biru di pangkuan. Pulpen di tangan. Matanya fokus ke halaman. Gerakan tangannya pelan-pelan, kayak orang yang nulis sesuatu yang berat. Sesekali dia berhenti. Tatap ke luar jendela. Lalu nulis lagi.

Bima berdiri di ambang pintu dapur. Nggak kedengaran langkahnya. Kaki masih pake sendorlon—empuk. Rina nggak sadar dia di situ.

Dia liat Rina dari belakang. Rambut diikat asal, beberapa helai lepas nempel di leher. Bahunya sedikit membungkuk. Tangannya—tangannya gemetar sedikit pas nulis. Atau mungkin cuma efek lampu.

Bima penasaran.

Buku apa itu?

Kenapa dia nulis tiap malam?

Kenapa dia sembunyiin di rak paling atas, di belakang novel-novel?

Dia jalan mendekat. Senderan ke dinding dekat rak buku. Pura-pura liat koleksi.

"Lo lagi nulis apa, Rin?"

Rina kaget. Bukunya ditutup cepet. Kayak anak kecil yang ketahuan baca buku larangan.

"Eh... nggak. Cuma... catatan."

Bima angkat alis. "Catatan apa?"

"Catatan... belanja. Buat besok."

Bima diem. Dia tahu itu bohong. Catatan belanja nggak bakal ditulis pake buku biru mahal. Nggak bakal ditulis dengan wajah serius kayak lagi mikirin sesuatu yang berat.

Tapi dia nggak nanya lebih.

"Oh. Oke."

Rina berdiri. Buku biru dipegang erat. Jalan ke rak. Taruh di baris paling atas. Di belakang novel-novel tebal. Rapih.

Bima liat dari belakang. Jari Rina nyusuri punggung buku-buku itu, kayak nyari sesuatu. Atau kayak pastiin sesuatu.

Dia balik. Senyum.

"Bim, kamu mau tidur? Aku masih mau bersihin dapur dikit."

"Udah aku bersihin."

"Oh. Iya. Makasih."

Rina jalan ke dapur. Bima liat dia pergi.

Dia jalan ke rak. Liat baris paling atas. Novel-novel tebal. Warna-warni. Tapi di belakangnya, ada buku biru. Cuma keliatan sedikit pinggirannya.

Catatan belanja.

Bohong.

Tapi Bima nggak ambil. Nggak buka. Nggak ngintip.

Dia balik ke kamar.

---

Rabu – 20.00 WIB

Ruang Tamu – Bima Datang Lebih Awal

Bima pulang lebih cepet dari biasanya. Jam 7 udah sampe. Biasanya jam 8 atau 9. Hari ini dia sengaja. Mau makan malam sama Rina. Mau ngobrol. Mau coba jadi suami yang lebih hadir.

Tapi pas dia buka pintu, Rina nggak di ruang tamu. Rumah sunyi. Lampu dapur nyala, tapi nggak ada suara masak.

"Rin?"

Nggak ada jawaban.

Bima jalan ke ruang tamu. Sepatu dilepas di teras. Kaki masuk ke ruang tamu.

Dan dia lihat.

Sofa kosong. Meja kopi rapi. Tapi di atas meja, ada buku biru. Terbuka.

Bima berhenti.

Jantungnya berdebar. Bukan karena dia pengen tahu isinya. Tapi karena dia tahu, ini privasi Rina. Ini rahasia yang selama ini Rina jaga. Dan sekarang, terbuka. Di depan matanya.

Dia liat ke arah dapur. Masih sepi. Ke kamar mandi—pintu tertutup. Rina mungkin di kamar. Atau di halaman belakang.

Matanya balik ke buku itu.

Halaman terbuka. Tulisan tangan Rina. Rapi. Kecil-kecil. Beberapa kata kebaca dari jarak ini.

"capek..."

"bayangan..."

"Bima..."

Bima mundur. Satu langkah. Dua langkah.

Dia nggak mau baca. Nggak mau tahu. Ini rahasia Rina. Rina berhak punya rahasia.

Tapi kenapa kakinya nggak bisa jalan? Kenapa matanya masih ke buku itu? Kenapa di dada ada yang sesak?

Dia dengar suara pintu kamar mandi dibuka.

Cepet-cepet Bima balik. Jalan ke dapur. Pura-pura buka kulkas.

Rina muncul dari lorong. Rambut masih basah. Wajah segar.

"Bim? Lo udah pulang?"

"Iya. Baru."

"Aku kira lo masih di kantor. Aku belum masak."

"Nggak papa. Kita pesen aja."

Rina jalan ke ruang tamu. Bima dari dapur liat. Rina ambil buku biru itu. Tutup. Bawa ke rak. Taruh di tempatnya.

Dia balik. Senyum.

"Lo udah makan?"

"Belum."

"Pesen apa? Ayo."

Rina ambil ponsel. Buka aplikasi ojek online. Mata fokus ke layar.

Bima liat dia. Tenang. Kayak nggak ada yang terjadi. Kayak buku biru itu cuma buku biasa. Kayak nggak ada rahasia.

Tapi Bima tahu. Ada sesuatu. Sesuatu yang Rina sembunyiin. Sesuatu yang mungkin berat. Sesuatu yang mungkin tentang dia.

Dan dia nggak tahu harus nanya atau diem.

---

21.30 WIB

Kamar Tidur – Malam

Mereka habis makan. Pesan sate Padang. Enak. Tapi Bima nggak inget rasanya. Pikirannya masih ke buku biru itu.

Rina udah di kasur. Lagi liat ponsel. Baca artikel atau apa. Bima di samping. Juga liat ponsel. Tapi matanya kosong.

"Bim."

"Hmm?"

"Lo kenapa? Dari tadi diem."

Bima nengok. Rina lagi liat dia. Matanya—ada sesuatu. Bukan curiga. Tapi khawatir.

"Nggak. Capek aja."

Rina diem sebentar. Lalu pegang tangannya.

"Kamu istirahat, ya. Jangan dipaksain."

Bima balas pegang. Jari-jari Rina hangat. Kecil. Lembut.

Rin, aku liat buku itu. Aku liat terbuka. Aku hampir baca. Tapi aku nggak.

Kata-kata itu di ujung lidah. Tapi nggak keluar.

"Iya. Lo juga."

Rina senyum. Matikan lampu.

Gelap.

Bima pejam mata. Tapi di balik kelopak, dia liat buku biru itu. Terbuka. Kata-kata Rina. Capek. Bayangan. Bima.

Rin, kamu nulis apa?

Kamu sembunyiin apa?

Kenapa kamu nggak cerita?

Tapi dia nggak nanya. Dia cuma diem. Di samping Rina. Yang mungkin lagi nangis tanpa suara. Atau mungkin lagi mikirin hal yang sama.

---

Kamis – 05.30 WIB

Ruang Tamu – Bima Bangun Lebih Awal

Bima bangun. Rina masih tidur. Dia dengar napas Rina—pelan, teratur. Masih nyenyak.

Bima turun dari ranjang. Jalan ke ruang tamu. Gelap. Lampu belum dinyalain. Cuma cahaya dari luar yang masuk lewat jendela—abu-abu, dingin.

Dia duduk di sofa. Liat ke rak buku.

Buku biru itu masih di sana. Di baris paling atas. Di belakang novel-novel tebal. Cuma keliatan sedikit pinggirannya.

Bima tahu dia nggak boleh. Ini privasi Rina. Ini rahasia yang Rina jaga mati-matian.

Tapi kenapa tangannya gemetar? Kenapa jantungnya berdebar? Kenapa dia pengen ambil buku itu dan baca?

Dia berdiri. Jalan ke rak. Angkat tangan. Jari nyampe ke baris paling atas.

Berhenti.

Lo ngapain, Bim?

Lo mau jadi suami yang kayak gimana?

Lo mau rusak kepercayaan Rina yang udah mulai dibangun lagi?

Dia turunin tangan.

Balik ke sofa. Duduk. Napas berat.

Di luar, matahari mulai naik. Langit berubah dari abu-abu jadi oranye. Burung-burung mulai ribut. Ayam tetangga berkokok.

Bima liat ke rak lagi. Buku biru itu masih di tempatnya. Masih tersembunyi. Masih rahasia.

Dia tahu, suatu hari dia akan baca. Suatu hari rasa penasaran itu akan menang. Atau mungkin Rina sendiri yang akan kasih. Atau mungkin buku itu akan hilang, dibuang, dilupakan.

Tapi sekarang? Sekarang dia milih diem. Milih nggak tahu. Milih percaya.

Meskipun di dalam dada, ada yang tanya: Kamu percaya sama istri kamu, Bim? Atau kamu cuma takut tahu jawabannya?

---

Bersambung ke Bab 35: Jurnal Rina Hampir Terbaca

---

...📝 Preview Bab 35:...

Bima nggak bisa tidur. Setiap kali pejam mata, dia liat buku biru itu. Terbuka. Kata-kata Rina.

Suatu malam, Rina lupa. Dia taruh jurnal di meja kopi. Buka. Baru ditulis.

Bima dari kamar mandi, liat. Dan kali ini, dia nggak bisa berhenti.

Bab 35: Jurnal Rina Hampir Terbaca—segera!

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!