Chunxia tak pernah merasakan kehangatan keluarga sejak kecil. Kematian semua anggota keluarga mengubah hidupnya. Kini, ia hidup hanya untuk balas dendam. Ia berlatih dan berlatih hingga dewasa. Chunxia kecil mengubah namanya menjadi Zhen Yi, bahkan, ia rela bekerja di rumah bordir demi memuluskan rencananya.
Hingga saat ia menjadi Selir seorang Raja yang dikenal kejam dan tak punya rasa belas kasih. Ia harus berpura-pura menjadi wanita yang lemah lembut dan penurut, namun yang tak mereka sadari Zhen Yi memiliki rencana yang besar. Demi sebuah ambisi yang besar ia rela memanipulasi orang-orang yang begitu tulus padanya.
Putra Mahkota yang terpikat dengan kecantikannya bahkan sampai rela merebutnya dari sang Kaisar. Akhirnya perlahan kokohnya kerajaan goyah.
Mampukah Zhen Yi melancarkan aksi balas dendamnya? Atau justru, ia akan terjebak dalam permainan balas dendamnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uswatun Kh@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. AMSALIR
Setelah semua ketegangan dan drama pengangkatannya, Zhen Yi mulai menikmati perannya sebagai seorang Selir Agung.
Tetesan air membasahi dahan bunga kesayangannya. Dengan hati yang damai ia mencoba menikmati suasana seperti manusia normal pada umumnya, tanpa menghilangkan tujuan utama dalam hidupnya.
Bunga Krisan mekar dengan indah. Aromanya mampu menenangkan, membuat hari terasa hidup.
"Damainya. Hari ini aku akan bersantai sejenak sebelum melangkah ke rencana selanjutnya," gumamnya lirih namun masih bisa di dengar Dali yang setia menemaninya.
"Nona memang berhak dapat kedamaian ini setelah drama panjang kemarin. Nona sudah sangat menderita selama ini," sahut Dali.
Zhen Yi hanya tersenyum. "Tapi dari semua penderitaan itu kita sudah sampai dititik ini Dali. Aku tidak pernah merasa menyesal, Dali. Ini masih awal, awal kehancuran mereka."
Dali mengisi kembali kendi air yang kosong. "Benar, Nona. Mereka memang pantas mendapatkan ini semua. Tapi ... kenapa akhir-akhir ini pangeran tidak datang, ya? Apa terjadi sesuatu dengannya."
Zhen Yi yang sedang menyiram bunga tiba-tiba berhenti. "Benar apa katamu, Dali. Itu terakhir dia kesini, apa dia sakit?"
Walau tak begitu tampak, namun ada sedikit guratan cemas di wajahnya. Dali melangkah dekat memperhatikan Nonanya dengan seksama.
"Nona khawatir dengan Pangeran, ya?" ledeknya sambil cengengesan.
"Jangan ngawur kamu Dali. Itu tidak mungkin terjadi, jangan sembarangan!" sentak Zhen Yi hingga membuat Dali menutup mulutnya rapat-rapat.
Tak ingin terus memikirkan Zihan, Zhen Yi kembali menenggelamkan dirinya dengan kesibukannya. Ia memetik beberapa bunga segar dan membawanya ke Ting (Gazebo). Di dalam vas porselen yang cantik ia mulai merangkai bunga-bunga yang indah, membuatnya merasakan ketenangan.
"Dali ... " panggilnya.
Dali segera mendekat. "Iya Nona."
"Apa sudah ada kabar tentang tabib itu?"
Dali menggeleng. "Belum ada kabar, Nona. Mungkin sebentar lagi mereka kembali. Saya juga heran kenapa tabib itu bisa tiba-tiba menghilang tanpa jejak."
"Terus kirim mata-mata kita untuk mencari. Bagaimana pun dia saksi kunci kematian ibunda. Aku yakin seseorang pasti sudah menyembunyikannya," ucapnya penuh keyakinan, tangannya dengan telaten merangkai tangkai demi tangkai bunga krisan putih.
"Baik Nona, saya pasti akan terus pantau perkembangannya."
Zhen Yi baru saja meletakkan tangkai krisan terakhir ketika seorang pria berpakaian gelap muncul dan berlutut di bawah tangga Ting. Ia adalah salah satu mata-mata kepercayaan yang dikirim Dali.
"Lapor, Selir Agung," suara pria itu rendah dan parau.
Zhen Yi tidak menoleh, ia hanya merapikan kelopak bunga di depannya. "Bicaralah. Apa yang kau temukan tentang Tabib Lu?"
"Kami menelusuri kediamannya. Beberapa saksi mengatakan Tabib Lu terakhir terlihat di sekitar rumahnya saat malam hari, beberapa hari yang lalu. Namun, setelah malam itu, ia seolah lenyap ditelan bumi. Tak ada satu pun warga atau penjaga gerbang yang melihatnya keluar dari kediaman."
Tangan Zhen Yi yang sedang memegang gunting bunga terhenti. "Lenyap di rumahnya sendiri?"
"Benar, Nona," sambung mata-mata itu sembari mengeluarkan sebuah bungkusan kain sutra kecil. "Para pelayan di rumahnya melakukan pembersihan dan mereka menemukan ini tergeletak di atas meja kamarnya. Hanya ini satu-satunya jejak yang tertinggal."
Dali mengambil bungkusan itu dan memberikannya kepada Zhen Yi. Saat kain dibuka, sebuah cincin giok hijau tua berkilau di bawah cahaya matahari yang masuk ke gazebo.
Zhen Yi mengambil cincin itu, merasakannya di antara ibu jari dan telunjuk. "Seorang tabib terhormat tidak akan pernah meninggalkan cincin gioknya begitu saja. Giok adalah martabat mereka."
Wajahnya yang tenang kini berubah dingin. Kilat amarah muncul di matanya. "Dia tidak melarikan diri, Dali. Dia dipaksa pergi."
"Maksud Nona ... dia diculik?" bisik Dali dengan wajah pucat.
Zhen Yi mengepalkan tangannya, menyembunyikan cincin itu dalam genggamannya. "Atau dibungkam. Seseorang merasa terancam dengan keberadaannya. Cincin ini bukan tertinggal, melainkan sebuah pesan atau mungkin ... pertanda perlawanan terakhirnya."
Ia menatap ke arah kediaman utama istana, tempat di mana kekuasaan dan rahasia kelam saling beradu. "Cari tahu siapa saja yang mengunjungi kediaman Tabib Lu dalam satu bulan terakhir. Dan Dali, cari tahu apakah cincin ini memiliki pasangan atau ukiran khusus di bagian dalamnya. Kita harus tahu siapa yang dia temui sebelum malam itu."
"Baik, Nona!"
Zhen Yi kembali menatap krisan putih di depannya. Ketenangan yang tadi ia rasakan kini menguap, berganti dengan amarah yang semakin membara. "Permainan ini semakin berbahaya, dan musuhku mulai merasa tidak tenang."
takutnya kacau nnti
mancing sesuatu yaaa
gass aja balas dendam nya💪💪💪
sorry ya keskip bab 3, karna iklan nya tuh😭 maaf aja dah lama ga baca di novel 🙂↕️🙏