Axlyn mengira ia akan selamanya menjadi sosok yang terlupakan oleh seorang Kayvaran Cano Xavier sejak kejadian 5 tahun yang lalu di Kota Xennor. Namun, siapa sangka takdir malah mempertemukan mereka kembali hingga tanpa sengaja bibit kembar Kay kini tumbuh di dalam perutnya.
Dimana Axlyn malah terjebak menjadi pengawal pribadi dari gadis kecil yang ia kira sebagai putri kandung Kay. Axlyn dituntut untuk melindungi anak dari pria yang menjadi ayah dari dua janin yang tengah dikandungnya.
“Kay, apa yang harus aku lakukan dengan dua janin yang tidak berdosa ini? Haruskah aku kembali memasuki hidupmu demi anak kita atau tetap menjadi yang terlupakan?”
Akankah Axlyn memberitahukan tentang kehamilannya? Ataukah Kau yang lebih dulu mengingat kembali tentang Axlyn? Atau mungkin takdir kembali mempermainkan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 02
Dua Bulan yang lalu….
Lampu-lampu kristal di aula hotel tua di Praha memantulkan kilau emas di gelas anggur yang berderet rapi. Kayvaran Cano Xavier berdiri di dekat jendela tinggi, jasnya rapi, pikirannya kusut oleh jadwal pertemuan dan jet lag yang belum tuntas. Ia tidak menyadari bahwa sejak ia melangkah masuk, sepasang mata telah mengamatinya dengan niat yang tidak sesederhana urusan bisnis.
Adam Vallon, sang pengusaha property itu tersenyum terlalu ramah. Putrinya yang bernama Leora Vallon berdiri di sampingnya dengan penampilan cantik, anggun, dan… dijaga ketat oleh Clauretta Axlyn.
Ya, Kini bukan lagi seragam polisi yang Axlyn kenakan melainkan seragam pengawal menempel rapi di tubuhnya, menutupi bekas-bekas kehidupan yang pernah ia miliki. Lima tahun cukup lama untuk belajar berjalan tanpa menoleh ke belakang. Setidaknya, itu yang selalu ia katakan pada dirinya sendiri.
“Leora, lihatlah! Target kita sudah tiba. Kau sudah mempersiapkan rencananya dengan baik, bukan?” bisik Adam kepada putrinya.
“Ayah tenang saja. Aku sudah mengatur semuanya dengan baik dan rapi,” balas Leora penuh percaya diri.
“Pastikan malam ini dia menjadi milikmu dan keluarga Vallon sepenuhnya,” ucapnya lagi.
Pembicaraan ayah dan anak itu membuat pandangan mata Axlyn tertuju pada sosok yang sedang dibicarakan oleh kedua Tuannya yang harus ia lindungi. Langkahnya terhenti, nyaris tanpa suara. Di seberang, di antara kilau lampu kristal dan aroma parfum mahal, berdiri seorang pria yang wajahnya pernah menjadi rumah. Rahangnya sedikit lebih tegas, matanya lebih tenang bahkan terlalu tenang. Tatapan itu meluncur melewatinya tanpa mengenali apa pun.
“Kay?”
Jantungnya memukul tulang rusuk, menyebut namanya tanpa suara. Lima tahun lalu, ia berpisah pria itu dengan janji-janji yang tak sempat dijelaskan. Lima tahun kemudian, pria itu berdiri di hadapannya dengan kekosongan dari ingatan tentang dirinya.
Sudah jelas Axlyn akan langsung mengenali Kay dalam hitungan detik. Cara ia berdiri. Garis bahunya. Cara ia mengusap pelipis saat lelah. Lima tahun berlalu, dan tubuhnya masih mengingat pria itu lebih baik daripada hatinya sendiri yang ia paksa lupa. Meski semua itu berakhir sia-sia, sebab sampai detik ini nama itu masih terukir jelas di hatinya.
“Pengawal,” suara tajam memanggil dari belakang. Putri pengusaha itu, Leora, melangkah mendekat dengan senyum yang selalu terlihat manis di depan umum. “Pastikan tamu kita nyaman malam ini.”
Pengawal lain disisi Axlyn mengangguk singkat, kembali mengenakan wajah profesionalnya. Namun telinga Axlyn lagi-lagi menangkap sesuatu yang lain, bisikan yang tidak ditujukan untuknya, namun cukup dekat untuk terdengar.
“Sudah siap semuanya, bukan?” Leora bertanya pelan pada asistennya, menepi di balik pilar marmer.
“Asalkan dia meminumnya,” jawab suara itu. “Tak akan lama, dia akan menjadi milik Nona sepenuhnya.”
Darah Axlyn seketika membeku. Pembicaraan itu jelas bermaksud ingin menjebak Kay selama pesta itu berlangsung.
“Bagus,” Leora tertawa kecil, rapuh dan berkilau.
“Aku lelah ditolak. Kali ini, dia tak akan bisa pergi.”
Kata-kata itu menusuk lebih dalam daripada pisau mana pun. Pandangannya menyelinap ke arah pria itu, pria yang pernah ia lindungi dan pernah melindunginya dengan nyawanya, yang kini menjadi sasaran rencana licik. Tangannya mengepal di balik sarung tangan, kuku menekan kulit.
...****************...
Axlyn seharusnya tetap diam. Seorang pengawal tak boleh melampaui batas. Tapi ada batas lain yang tak tertulis, batas yang ditarik oleh ingatan dan rasa bersalah. Pria itu menoleh lagi, kali ini bertemu pandang dengannya. Sekejap. Tidak ada pengenalan. Tidak ada nyala. Hanya sopan santun seorang tamu pada petugas keamanan.
Dan entah mengapa, itu lebih menyakitkan. Axlyn menarik napas, menegakkan bahu. Lima tahun lalu Kay dibawa pergi tanpa penjelasan. Meski begitu malam ini, Axlyn tak akan pergi tanpa bertindak. Jika ingatannya tak kembali, tak apa. Yang penting, ia bisa melindungi Kay lagi dari rencana licik ayah dan anak itu.
Langkahnya mantap saat ia bergerak, menggeser posisi, memutus jalur. Di bawah gemerlap pesta dan senyum-senyum palsu, keputusan itu mengeras di dadanya. Axlyn mungkin telah dilupakan. Namun ia tidak akan berhenti untuk melindungi pria yang masih mengisi hatinya hingga detik ini.
Ketika gelas Kay hampir disentuh pelayan, insting Axlyn menegang. Ada sesuatu yang salah. Bau samar yang asing. Gerakan terlalu terencana. Ia melangkah cepat, cukup cepat untuk menjatuhkan nampan itu dengan dalih kecerobohan. Namun gelas itu sudah berada di tangannya ketika ia menyadarinya… bahwa ia sudah terlambat setengah detik, terlambat satu tarikan napas.
“Jangan—” suaranya tenggelam oleh denting musik dan tawa.
Cairan keemasan itu sudah melewati bibir pria itu, ditelan tanpa curiga. Mata mereka bertemu. Ada jeda kecil, lalu senyum sopan yang membuat dadanya runtuh.
“Gagal? Aku gagal menghentikannya?”
Axlyn segera bergerak cepat, terlalu cepat untuk terlihat wajar. Menyelinap di antara tamu, menutup jarak, menempatkan tubuhnya sebagai penghalang dari tatapan Leora yang sedang sibuk menyambut pujian. Tangannya menyentuh lengan pria itu sekilas, professional namun ia merasakan getaran halus di balik kain jasnya.
“Sial, ada apa dengan tubuhku?” umpat Kay saat mulai menyadari ada sesuatu yang salah dengan minumannya. Matanya mulai berkunang-kunang, tubuhnya lemah dan kepalanya perlahan terasa semakin pusing.
“Kau tidak enak badan?” tanyanya. Suaranya serak, hangat. Terlalu hangat.
“Kita keluar dulu dari tempat ini,” katanya datar, nada pengawal.
Tak memberi ruang bantahan. Ia menuntunnya melewati pintu samping, menuruni tangga darurat yang dingin dan sunyi. Di sana, di bawah cahaya lampu darurat, ia melihat perubahan itu: pupil yang melebar, napas yang sedikit terburu, jarak yang mengecil tanpa disadari.
“Ada apa denganku?” tanya Kay ingin menolak bantuan tersebut. “Kenapa kau—kenapa aku merasa… begini? Apakah kau yang telah memasukan sesuatu ke dalam minumanku tadi?”
“Berhenti bicara,” katanya lembut namun tegas. “Aku sedang membantumu. Sebaiknya kita pergi dulu dari sini, sebelum mereka menyadarinya.”
Mereka menghilang dari pesta seperti bayangan segara masuk ke dalam taxi, melaju menembus malam. Kota menjadi garis-garis cahaya yang kabur. Di kursi penumpang, pria itu menyandarkan kepala, keringat dingin di pelipis. Tangannya meraih udara, lalu menemui pergelangan tangannya. Genggaman itu tidak kuat, tapi cukup untuk membuatnya berhenti bernapas.
“Jangan pergi,” katanya lirih, bukan perintah, lebih seperti permintaan yang lupa cara berdiri sendiri.
Axlyn hanya bisa menelan ludah. “Bukan aku yang pergi, tapi kau yang melupakan semua tentangku. Aku selalu berada di tempat yang sama untuk menunggumu, tetapi… kau tidak pernah datang sekalipun.”
Bersambung ….
𝘔𝘢𝘢𝘧 𝘺𝘢𝘩 𝘒𝘢𝘬, 𝘳𝘦𝘢𝘥𝘦𝘢𝘳𝘴 𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶𝘯𝘺𝘢... 🤭😭
slalu menyimpulkan sendiri,,jgn sampai anak mu knp knp Baru kamu nangis nangis,dan bilang maafkan mamah yg tidak bisa menjaga kalian,, padahal dirimu yg slalu salah paham dan bisa di egois
malah si dispenser yang duluan nemuin siapa wanita yang selama ini di cari keluarga Xavier🤭🤭
𝘛𝘢𝘱𝘪, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘚𝘱𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘪𝘥𝘪𝘬𝘪𝘯𝘺𝘢? 🤔
𝘒𝘦𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘵𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘣𝘶𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘌𝘷𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘪𝘴𝘢, 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘤𝘶𝘯𝘺𝘢..
𝘏𝘶𝘩, 𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 😌😌😌