NovelToon NovelToon
Fattah Possessive Badboy

Fattah Possessive Badboy

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Kapten cantik

DI LARANG MENJIPLAK CERITA INI!!!

"Jangan pernah berpikir buat bisa keluar dari dunia gue! Kalau sampai lo nekat kabur, berantakan hidup lo.

Ngerti?"

"Who are you? Siapa lo berani ngancam gue?"

"Kalau lo nggak amnesia, gue suami lo sekarang. Gue cuma mau lo nurut. Gampang, kan?"
_____________________________________

Fattah Andara Fernandez-badboy utama SMA Taruna Jaya Prawira yang memegang bidak king. Di kenal kasar dengan karisma menindas.

Fattah memiliki segalanya. Membuat dia dengan mudah mengikat sesuatu dan menghancurkan apapun yang dia mau.

Kecuali satu...

Aqqela Calista.

Karena pembalasan dendam atas kematian Sandrina -kekasihnya, ayah Aqqela tewas. Tidak puas, Fattah justru menarik Aqqela dan menjeratnya dalam ikatan pernikahan yang sama sekali tidak dia inginkan.

Membawa Aqqela ke Jakarta Selatan dan meninggalkan segalanya di Jakarta Pusat termasuk Oliver Glenn Roberts-pacarnya sekaligus musuh Fattah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kapten cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 Fattah Andara Fernandez

Fattah Andara Fernandez - cowok berseragam SMA, 17 tahun, berkulit putih dengan tinggi 180 cm tampak melangkah keluar lift sambil mencantelkan ransel di bahu kiri. Sebagian wajahnya terdapat lebam dan plester luka akibat tawuran tadi siang.

"Sore tuan muda!"

Alis Fattah terangkat melihat ajudan ayahnya di depan pintu apartemennya.

"Ada apa?"

"Di tunggu bapak di dalam," katanya sopan membuat Fattah masuk ke dalam apartemen.

Dia menaruh tas ranselnya ke sofa, lalu menghampiri sosok pria ber-jas hitam yang berdiri membelakanginya sambil memegang segelas wine.

"Tumben papi ke sini? Ada masalah?"

Pria itu membalikkan tubuh, memandang putra sulungnya sebelum akhirnya mendekat dan melemparkan tiga lembar foto ke atas meja.

"Ini apa?"

"Pria ini pelakunya. Dia pembunuh Sandrina pacar kamu," kata Jordan datar dengan aura dingin.

Ekspresi wajah Fattah langsung berubah menggelap. Meraih satu foto dengan rahang yang mengeras.

"Donny Michael, seorang Hakim. Namanya terkenal karena sering menangani kasus-kasus besar yang sulit. Salah satunya kasus pembunuhan yang melibatkan Jendral polisi bintang dua. Dia tinggal di Jakarta Pusat," kata Jordan menerangkan.

Fattah terus memperhatikan foto di tangannya dengan tatapan dingin dan tajam. Sebuah foto pria paruh baya yang memakai toga tengah tersenyum lebar.

"Lo nggak akan bisa senyum selebar ini lagi setelah ini," desis Fattah tajam.

Sudah satu tahun berlalu Fattah mencari pembunuh Sandrina- kekasihnya. Fattah masih ingat bagaimana hancurnya dia saat menemukan Sandrina tewas di depan matanya saat orang tak di kenal menabraknya dengan sengaja.

Jordan memilih duduk di sofa sambil menghisap rokoknya tenang, "menghancurkan Michael itu mudah. Ini nggak seberapa. Papi tau caranya," ujarnya tenang.

"Apa motifnya?"

Jordan mengepulkan asapnya sambil tersenyum samar, Sandrina adalah saksi kunci tentang kasus pelecehan seksual yang melibatkan anak pejabat tinggi. Dia ada di lokasi waktu pelecehan itu terjadi. Michael di bayar mahal supaya tersangka memenangkan kasus ini. Karena Michael gagal membuat Sandrina mau bekarja sama, jadi dia membunuhnya."

Garis wajah Fattah semakin dingin dan kaku.

"Brengsek!" umpatnya menendang meja kasar.

Hingga matanya tak sengaja jatuh ke dua foto lainnya di meja. Fattah mengambilnya cepat.

Alisnya terangkat memandangi gadis cantik berseragam SMA di foto itu.

"Siapa dia?" tanya Fattah menunjukkan foto di tangannya.

"Aqqela Calista, putri tunggal Michael. Dia seumuran sama kamu."

Fattah melebarkan mata sesaat dan melihat papanya, "Kita ke Jakarta Pusat minggu depan," putusnya final.

'Donny Michael, gue bersumpah, akan ngehancurin hidup lo! Sampai lo berpikir kalau kematian adalah hadiah paling istimewa."

***

Aqqela Calista- gadis cantik 17 tahun, berkulit putih dengan rambut panjangnya. Dia siswi kelas 11 di salah satu sekolah elite di Jakarta Pusat- SMA Starlight, jurusan MIPA. Terkenal pintar, berbakat, ceria dan aktif di organisasi OSIS.

Dia terlihat menuruni tangga dan menghampiri ayahnya yang lagi duduk di meja makan.

"Morning, pa!" sapa Aqqela sambil mencium pipi ayahnya.

"Morning, sayang!" Michael tersenyum.

"Lagi ngerjain apa?" tanya Aqqela sambil mengambil roti dan mengoleskan selai coklat.

"Ada kasus baru lagi nih yang lagi papa pelajari. Oh ya, kamu lagi sibuk apa di sekolah?"

"Nggak ada. Mungkin cuma sibuk ngurusin OSIS sama dance karena bentar lagi mau ada festival." Aqqela mengunyah roti di mulut lalu meneguk susu hangatnya.

"Hari ini jangan pulang telat, ya! Kita ada acara makan malam sama tante Zen," kata Michael.

Aqqela jadi mendengus. Zen adalah seorang artis yang berkiprah di dunia acting sejak lama. Sudah dua tahun ini menjalani hubungan dengan ayahnya yang seorang single parent. Aqqela tak perna menyukai wanita itu karena sering membintangi film horor erotis.

"Tinggal nanti, ya! Soalnya aku ada latihan dance juga." Aqqela berdiri dari duduknya membuat Michael menatapinya memprotes.

"Loh-loh, gimana sih kam- "

"Aqqela berangkat dulu pa, udah telat. Bye-bye!" Aqqela berlari riang keluar dari rumahnya menuju mobil Brio putih yang parkir di depan rumah.

Michael yang melihat itu hanya tersenyum sambil geleng-geleng kecil.

Drrrtt drrttt...

Ponselnya berdeting. Sebuah nama muncul di layar.

"Ya?"

"CCTV di lokasi meninggalnya Sandrina bocor. Rekaman itu nggak perna benar-benar di hilangkan dulu. Ada pria yang mau membayar mahal. Kita udah di tipu sama pemilik restorannya," terang seseorang di sebrang telpon.

"The Fuck?!" umpat Michael.

***

Tiga gadis berseragam SMA berdiri memandang pagar belakang sekolah yang menjulang di depan mereka dengan tatapan ragu.

"Udahlah, balik aja, yuk! Lo berdua tuh ngajak gue sesat terus," omel Aqqela.

"Ya elah, elo cemen banget sih, Qel? Sekali-kali bolos nggak papa. Encok pala gue gara-gara pelajarannya bu Yuni," cerocos Jolina.

"Benar anjir. Mending kita ngopi di warungnya teh indah. Biasanya kan cowok lo nongkrong di sana," balas Vicky menyenggol lengan Aqqela.

"Masalahnya image gue tu harus classy ya ampun. Gue ini ketua OSIS panutan," katanya percaya diri.

"Halah kambing. Nggak bakalan ketauan lah, orang ini udah jam dua belas. Dua jam lagi waktunya pulang," kata Jolina sambil menarik tangan Aqqela, " Buruan naik dulu!"

Jolina dan Vicky mulai membantu Aqqela untuk naik pagar.

"Lompat aja, Qel! Gue otw!" seru Jolina saat Aqqela sampai atas.

"Wait, ini kalau gue lompat terus mati,bunuh diri nggak namanya?" tanya Aqqela serius.

Jolina yang sudah berhasil naik ke atas langsung mengumpat.

"Nggak bakalan mati oon. Lebay lo!"

Sahabat-sabahatku, apa aku sudah bisa menyusul?" tanya Vicky memandang atas.

"Tunggu dulu sahabatku! Aku harus lompat," kata Aqqela yang masih jongkok di atas pagar.

"HEH, NGAPAIN KALIAN PADA DI SANA? MAU BOLOS, YA?" Koar pak Budi galak.

Aqqela dan dua temannya membelalak.

"Pak Budi anjir. Mati gue Jolina!" kata Aqqela histeris.

"MENCAR GAES!!!" Aba-aba Jolina membuat Vicky berlari kabur, sementara Aqqela melompat di susul Jolina.

BRUKK!!!

"Atah-atah pantat gue!" ringis Aqqelaa saat nyungsep di rerumputan.

"Ouhh bestieee, are you okay?" tanya Jolina dramatis.

"Oke-oke gigi lo, nyungsep nih gue," kata Aqqela berdiri.

"Heh, terus Vicky gimana? Ketangkap pak Budi nggak, ya?"

"Dia atlet lari. Aman kayaknya lawan pak Budi doang. Kuy, ke warung teh Indah. Haus gue."

"EHHH QEL!" tahan Jolina membuat Aqqela tertarik kaget.

"Apa?"

"Itu, cowok lo tawuran!" Jolina menunjuk lapangan bola belakang sekolah, tak jauh dari mereka.

Aqqela memicingkan mata melihat lapangan bola ramai di penuhi murid SMA yang tawuran.

"Oh," katanya tak kaget lagi.

" Nonton, kuy!" ajak Jolina semangat menyeret tangannya pergi. Keduanya melongok mengintip tawuran dari balik pohon.

"Yang gue dengar, lawan Oliver hari ini Fattah tau. Anak Jaksel. Gue sih Follow instagram-nya dan cakep gitu hihi," kata Jolina mulai kecentilan.

Aqqela memutar bola matanya malas. Memandang kegaduhan di depannya. Terdengar bunyi pukul sana sini dan suara patah kayu yang mereka pakai sebagai alat tempur.

"Tuh cowok...kapan tobatnya, sih?" dumel Aqqela memandang Oliver.

"Ihh, kok tobat? Cowok badboy tuh gemesin tau. Elo bakalan ngerasa selalu aman karena di jagain."

"Basi"

Oliver Glenn Roberts-cowok tampan berkulit putih yang kini sedang bertempur melawan murid sekolah lain yang tak Aqqela kenal.

"Itu Fattah anjir, itu Fattah! Ganteng banget, nggak kuat..." rengek Jolina mengguncang lengan Aqqela heboh.

BRUGH!!!

"Akh!" Oliver terlempar keras ke tanah, membuat Aqqela memekik panik.

"Udah nggak usah panik! Jangan di samperin juga, bahaya!"

Cowok gue sekarat gimana gue nggak panik?" omel Aqqela.

" Sabar, nyai! Tuh-tuh lihat, anaknya bangun lagi!"

BUGH!!

"Anjing lo!" Gantian Oliver yang melayangkan pukulan keras ke rahang Fattah.

Adegan baku hantam masih belum terselesaikan di antara mereka.

Aqqela masih menontonnya. Kepalanya mengintip bersamaan dengan Fattah tak sengaja melihat ke arahnya.

DEG!

Tubuh Aqqela membeku saat cowok asing itu menatapnya intens dan dingin.

Kenapa dia?

"Udah yuk, mual gue." Jolina langsung membawanya pergi.

***

"Jo, dompet gue mana?" kata Aqqela baru sadar.

"Mana gue tau anying?"

"Mati gue, ada KTP sama ATM gue dong," kata Aqqela panik dan berdiri.

Jolina mengunyah baksonya, "Jatuh di pohon tadi kali, pas kita ngumpet."

Aqqela langsung bergerak ke sana. Matanya menatap lapangan yang masih ramai, walau tak separah tadi.

"Mana, ya?" gumamnya mencari, lalu merekah menemukan dompetnya tergeletak di antara dedaunan yang berguguran, "Aaaaa selamet gue dompet masih ket-"

"Aaghhrrr!"

"Eh?"

Aqqela menoleh kaget mendengar suara ringisan seseorang. Di balik semak-semak, cowok berseragam SMA tampak meringis kesakitan memegangi lengan kirinya yang berdarah.

"Tolongin nggak, ya? Eh jangan deh, kan nggak kenal."

Apalagi dia musuhnya Oliver.

Aqqela kembali melirik cowok itu. Darahnya makin banyak yang keluar. Wajahnya juga tampak pucat.

Tolongin aja deh, takutnya mati di situ kan nggak lucu.

Walau agak cemas dan ragu, tapi Aqqela memutuskan mendekat.

"Kok bisa gitu tangannya?"

Fattah menoleh kaget.

Ekspresinya langsung berubah melihat siswi SMA Starlight berjongkok di depannya.

"Kena pisaunya Oliver," jawab Fattah serak.

Aqqela merogoh saku mencari sapu tangan.

"Nih ambil, buat luka lo!"

Fattah merapatkan bibir, menatap sapu tangan itu, "Tolong pakain...!Gue nggak bisa," pintanya.

Aqqela mendelik, walau menurut dengan mengikatkan sapu tangan ke lengannya yang terdapat goresan pisau lumayan dalam.

Fattah merintih kesakitan sambil melirik nametag gadis itu.

Aqqela Calista.

'Dia?'

"Mendingan lo buruan ke klinik atau rumah sakit, deh! Takutnya darahnya makin banyak," saran Aqqela.

"Thanks!" kata Fattah singkat.

Aqqela mengangguk sambil berdiri dan keluar dari semak-semak.

"Oliver!" panggil Aqqela setengah mengomel, membuat Fattah jadi tersentak dan mendongak di balik semak-semak.

Alis Fattah terangkat sebelah melihat Oliver yang wajahnya tak kalah babak belur menghampiri Aqqela.

"Sayang, kok di sini? Kamu bolos, ya? Siapa yang ngajarin?" omel Oliver.

"Ngaca ya, ngaca!" kata Aqqela sambil menekan sudut bibir Oliver yang luka pakai tangannya.

"Aaghrr sakit-sakit!" Oliver merintih.

"Makanya nggak usah sok jagoan! Tawuran terus. Ayo balik, aku obatin lukanya!" Dengan wajah mengeruh, Aqqela berbalik cepat, dengan Oliver mengejarnya.

"Marah?"

Aqqela langsung melotot, "Masih nanya lo, ya? Lo janji buat tobat ya kemarin."

Oliver terkekeh dan langsung merangkul pundak Aqqela sambil mengacak-acak rambutnya gemas, "Udah dong marahnya! Iya maaf! Nggak lagi deh tawuran-tawuran. Ini yang terakhir. Aku janji. Oke?"

Aqqela mencibir sinis, "Jangan suka bikin masalah! Aku capek ngurusin kasus kamu terus."

Oliver semakin tertawa.

Di sisi lain, Fattah terus memperhatikan keduanya.

Tak menyangka bahwa anak pembunuh itu adalah kekasih Oliver musuhnya.

Senyum samar Fattah tersungging, "Now, let the games begini..."

***

1
Amanda Safira
Mirip cerita Natusa&Rhysaka di pf sebelah kak, Aku termasuk followers penulisnya 😂
Langit Biru
kamu terinspirasi dari sinet agz ya? semangat menulis nya, ntar kalau udh tamat aku kemari lagi😍
Kapten Cantik: Terima kasih kk suportnya🙏😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!