Dalam dunia bisnis kelas atas, pernikahan bukan tentang cinta, melainkan tentang penaklukan. Maximilian Alfarezel adalah pria yang terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan melalui tekanan dan kalkulasi dingin. Namun, Vivien bukan sekadar pion yang mudah digerakkan. Di balik pembawaannya yang tenang dan aristokratis, Vivien menyimpan api dendam atas kematian misterius ayahnya yang ia yakini melibatkan keluarga Maximilian.
Tinggal dalam satu atap sebagai dua musuh, mereka terjebak dalam permainan psikologis yang berbahaya. Maximilian berusaha mematahkan harga diri Vivien dengan dominasi dan obsesi yang menyesakkan, sementara Vivien menggunakan kecerdasan mentalnya untuk memancing sisi kemanusiaan Maximilian yang paling rapuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BADAI DI SELAT MELAKA
Langit di atas Singapura yang tadinya cerah mendadak berubah menjadi kanvas kelabu yang menakutkan. Awan kumulonimbus bergulung-gulung rendah, seolah hendak menyentuh puncak-puncak gedung pencakar langit di kawasan Marina Bay. Di bawah sana, di jalanan yang basah karena hujan rintik-rintik, SUV hitam yang membawa Maximilian dan Vivien melesat bagaikan peluru perak menuju arah Barat Daya. Suara sirene polisi Singapura terdengar sayup-sayup di kejauhan, namun ancaman yang lebih nyata berada tepat di belakang mereka: tiga mobil sedan hitam tanpa plat nomor yang terus melakukan manuver agresif untuk memojokkan mereka.
Di dalam mobil, suasana terasa sangat sesak oleh bau mesiu yang terbawa dari gedung bank, aroma kulit jok yang mahal, dan ketegangan yang nyaris mencapai titik pecah. Maximilian duduk dengan punggung tegak, mengabaikan rembesan darah yang mulai membasahi kemeja putihnya lagi. Luka operasinya telah terbuka akibat perkelahian di brankas tadi, namun fokusnya tidak beralih dari hardware wallet yang digenggamnya.
"Gideon, berapa lama lagi sampai Jurong?" tanya Maximilian. Suaranya rendah, namun memiliki nada urgensi yang tajam.
"Tujuh menit, Tuan, jika kita bisa melewati blokade di depan West Coast Highway," jawab Gideon sambil memutar kemudi dengan kasar, menghindari sebuah bus tingkat yang hampir mereka tabrak.
Vivien duduk di samping Maximilian, tangannya masih gemetar. Ia menatap telapak tangan Maximilian yang memegang perangkat kecil itu. "Max, kau harus menekan lukamu. Kau kehilangan terlalu banyak darah."
Maximilian menoleh ke arah Vivien. Matanya, yang biasanya sedingin es, kini menunjukkan kilatan tekad yang membara. "Darah ini tidak ada artinya dibandingkan apa yang ada di dalam perangkat ini, Vivien. Ayahmu dan ayahku... mereka memberikan segalanya untuk memastikan data ini sampai ke tangan kita. Ini bukan sekadar angka atau kode. Ini adalah bukti bahwa hidup kita tidak dihancurkan sia-sia."
Mereka tiba di kawasan industri Jurong saat hujan mulai turun dengan lebat, menghapus pandangan mata. Kontainer-kontainer raksasa bertumpuk seperti bukit baja di sekeliling mereka. Gideon mengarahkan mobil menuju Dermaga 4, sebuah dermaga pribadi yang tersembunyi di balik gudang logistik milik perusahaan cangkang Alfarezel.
Sebuah kapal speedboat taktis berwarna hitam dop dengan mesin ganda berkekuatan tinggi sudah menunggu, mesinnya menderu rendah seperti binatang buas yang sedang menggeram.
"Keluar! Sekarang!" perintah Maximilian.
Saat mereka melompat turun dari SUV, rentetan tembakan menyambut mereka. Para pengejar dari Obsidian Circle telah tiba. Peluru-peluru menghantam kontainer di sekitar mereka, menciptakan suara denting logam yang mengerikan. Bara segera mengambil posisi berlindung di balik ban mobil, melepaskan tembakan balasan dengan senapan serbu ringkasnya.
"Bawa Nyonya ke kapal, Tuan! Saya akan menahan mereka di sini!" teriak Bara di tengah desingan peluru.
Maximilian menarik tangan Vivien, berlari melintasi dermaga yang licin. Vivien bisa merasakan tetesan hujan yang dingin bercampur dengan panasnya hawa mesiu. Begitu mereka melompat ke atas kapal, Maximilian langsung mengambil alih kemudi.
"Max, bagaimana dengan Bara dan Gideon?" teriak Vivien saat kapal mulai melesat meninggalkan dermaga.
"Mereka punya rencana evakuasi sendiri, Vivien! Kita adalah target utamanya. Jika kita pergi, mereka akan aman!" Maximilian mendorong tuas gas ke posisi maksimal. Kapal itu terangkat, membelah ombak Selat Melaka yang mulai bergejolak.
Selat Melaka di tengah badai adalah tempat yang tidak kenal ampun. Gelombang setinggi tiga meter menghantam lambung kapal, membuat Vivien harus berpegangan erat pada kursi navigator. Di belakang mereka, dua kapal pengejar muncul dari balik kabut hujan, membelah air dengan kecepatan yang tak kalah tinggi.
"Mereka tidak akan berhenti!" teriak Vivien saat melihat kilatan cahaya dari moncong senjata di kapal pengejar.
Maximilian tidak menjawab. Ia fokus pada radar dan kemudi. "Buka laci di bawah kursimu, Vivien! Ambil perangkat pengacak sinyal!"
Vivien dengan cepat melakukan apa yang diperintahkan. Ia menemukan sebuah kotak hitam kecil dengan antena pendek. "Apa yang harus kulakukan dengan ini?"
"Aktifkan tombol merahnya! Itu akan mengganggu sistem navigasi dan komunikasi mereka dalam radius satu mil! Kita harus menghilang sebelum kita masuk ke perairan internasional!"
Vivien menekan tombol itu. Seketika, layar navigasi di kapal mereka sendiri berkedip-kedip, namun Maximilian tampak sudah hafal jalur ini di luar kepala. Di belakang mereka, salah satu kapal pengejar tampak kehilangan kendali dan hampir terbalik karena dihantam gelombang besar setelah sistem stabilisasinya terganggu.
Namun, kapal kedua tetap bertahan. Pengejar itu tampaknya memiliki sistem manual yang lebih tangguh. Jarak di antara mereka semakin menyempit. Seorang pria berpakaian taktis berdiri di haluan kapal pengejar, membidikkan peluncur granat ke arah mereka.
"MAX! TIARAP!" jerit Vivien.
BOOM!
Ledakan terjadi hanya beberapa meter di samping kapal mereka, menciptakan dinding air yang besar dan mengguncang kapal hingga hampir terbalik. Vivien terlempar ke lantai kabin, kepalanya menghantam pinggiran kursi. Dunia seolah berputar sejenak.
Maximilian melepaskan kemudi sejenak, meraih Vivien dan memastikan istrinya masih bernapas. "Vivien! Tetaplah bersamaku!"
Ia kemudian meraih sebuah senapan laras panjang yang tersimpan di samping kursi kemudi. Dengan satu tangan menahan kemudi dan tangan lainnya membidik, Maximilian melepaskan serangkaian tembakan ke arah tangki bahan bakar cadangan di kapal pengejar.
DUAARR!
Kapal pengejar itu meledak dalam bola api raksasa yang menerangi kegelapan badai. Sisa-sisanya tenggelam dengan cepat ke dalam perut Selat Melaka.
Setelah memastikan tidak ada lagi pengejar, Maximilian memperlambat kecepatan kapal. Mereka kini berada di tengah laut lepas, dikelilingi oleh kegelapan dan suara hujan yang menenangkan. Maximilian terduduk lemas di kursi kemudi, wajahnya sangat pucat. Kemejanya kini hampir seluruhnya berubah menjadi merah tua.
Vivien segera merangkak mendekatinya, air mata mengalir di pipinya. "Max, kumohon... jangan mati. Kita sudah sampai sejauh ini."
Maximilian tersenyum lemah, tangannya yang gemetar meraih hardware wallet dan menghubungkannya ke tablet taktis yang ada di dasbor kapal. "Kita harus membukanya sekarang, Vivien. Sebelum aku... sebelum aku kehilangan kesadaran."
Ia menempelkan pergelangan tangannya yang memiliki chip biometrik ke sensor tablet. Sebuah bar kemajuan muncul di layar: Decrypting... 10%... 40%... 80%... Access Granted.
Layar tablet itu meledak dengan informasi. Ribuan dokumen, rekaman audio, dan video muncul dalam folder-folder yang rapi. Folder utamanya berjudul: "The Obsidian Circle: The Architects of Global Shadow."
Vivien menatap layar itu dengan ngeri. Di sana terdapat daftar nama yang mencakup tidak hanya politisi di Indonesia dan Singapura, tapi juga petinggi perbankan di Eropa dan bos kartel di Amerika Selatan. Namun, yang paling mengejutkan adalah sebuah rekaman video berlabel: "Final Meeting - September 2016."
Vivien menekan tombol putar.
Dalam video itu, terlihat ayah Vivien, Aksara, dan ayah Maximilian, Alaric, sedang duduk di sebuah ruangan yang sangat mewah. Mereka tampak lelah namun bertekad.
"Alaric," suara Aksara terdengar berat. "Jika video ini ditonton oleh anak-anak kita, artinya kita sudah gagal mempertahankan hidup kita. Tapi kita tidak gagal mempertahankan masa depan mereka."
Alaric mengangguk, ia menatap langsung ke kamera. "Maximilian, Vivien... kalian mungkin dibesarkan dalam kebencian yang sengaja diciptakan oleh orang-orang ini agar kalian tidak pernah bersatu. Mereka takut pada persatuan Alfarezel dan Aksara. Karena gabungan kekuatan logistik dan finansial kita adalah satu-satunya hal yang bisa meruntuhkan sistem mereka."
Aksara melanjutkan, "Maximilian, aku mencintaimu seperti anakku sendiri. Dan Alaric mencintai Vivien. Pernikahan yang kami rencanakan sejak kalian kecil bukan tentang penggabungan perusahaan, tapi tentang penggabungan jiwa yang bisa melawan kegelapan ini. Jangan biarkan dendam yang mereka tanamkan memisahkan kalian."
Video berakhir dengan kedua pria itu berjabat tangan erat.
Vivien terisak hebat. Seluruh fondasi kebenciannya, seluruh alasan pernikahan kontrak ini, semuanya terasa begitu tragis namun indah di saat yang sama. Maximilian, yang mendengar kata-kata ayahnya, memejamkan mata. Air mata jatuh dari sudut matanya yang lelah.
"Mereka mencintai kita, Vivien," bisik Maximilian. "Mereka merencanakan ini semua untuk melindungi kita."
"Dan kita menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk saling menyakiti," sahut Vivien sambil memeluk Maximilian erat.
Tiba-tiba, sebuah cahaya lampu sorot yang sangat terang muncul dari kejauhan. Sebuah kapal besar mendekat. Vivien panik, ia mengira itu adalah musuh yang baru. Namun, melalui interkom kapal, terdengar suara yang sangat ia kenal.
"Tuan Maximilian, ini Gideon. Kami sudah mengamankan perimeter. Tim medis sudah siap di atas kapal induk. Kami datang untuk menjemput kalian."
Vivien bernapas lega. Ia membantu Maximilian berdiri saat kapal besar itu merapat di samping speedboat mereka. Saat tim medis mengangkat Maximilian ke atas tandu, pria itu tidak melepaskan tangan Vivien.
"Vivien..." panggil Maximilian lemah.
"Ya, Max? Aku di sini."
"Benang merahnya... sekarang aku mengerti," Maximilian tersenyum sebelum akhirnya matanya terpejam karena kelelahan dan kehilangan darah.
Di atas dek kapal induk, di tengah hujan yang mulai mereda, Vivien berdiri menatap ke arah Selat Melaka. Di tangannya, ia memegang tablet yang berisi seluruh kebenaran dunia. Ia tahu bahwa perang melawan Obsidian Circle baru saja dimulai, dan kali ini, mereka bukan lagi dua anak manusia yang tersesat dalam dendam.
Mereka adalah Alfarezel dan Aksara. Dua kekuatan yang tidak bisa lagi dipisahkan oleh kebohongan apa pun.
Vivien menatap fajar yang mulai menyembul di ufuk Timur. Cahaya merahnya menyinari permukaan laut yang tenang, seolah-olah alam sedang memberikan restu bagi perjalanan baru mereka. Perjalanan untuk meruntuhkan kegelapan dan membangun kembali masa depan yang telah lama dicuri dari mereka.