Alceena harus menelan kekecewaan saat pernikahannya dibatalkan secara sepihak oleh calon suami, karena ada rumor yang beredar jika dirinya mandul.
Alceena tidak merasa jika dia seperti yang diberitakan pun berniat untuk membuktikan pada seluruh orang bahwa dirinya bisa memiliki keturunan. Dia melakukan program hamil dengan metode inseminasi buatan, memasukkan sel dari bibit kehidupan seorang pria misterius yang bersedia mendonorkan sedikit cairan penting tersebut, tanpa melakukan hubungan badan.
Namun, tanpa Alceena ketahui bahwa pendonor bibit kehidupan tersebut adalah Dariush Doris Dominique, seorang pengusaha muda di Eropa sekaligus musuh dan orang yang selalu dia hindari sejak dahulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NuKha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 23
Dariush sudah memberikan cairannya untuk dilakukan pengecekan di laboratorium rumah sakit. Dia meminta agar diutamakan. Ingin cepat mengetahui hasil apakah layak atau tidak miliknya didonorkan pada Alceena.
Padahal, Alceena yang mengajukan program hamil. Tapi, justru Dariush yang tak sabar ingin membuat wanita itu mengandung anaknya, walaupun hanya Melalui inseminasi.
Sampai sore, pria itu tetap di rumah sakit. Melupakan pekerjaannya untuk hari ini. Selagi ada kesempatan emas, tak boleh dilewatkan sedetik pun. Dan setelah menunggu seluruh pasien yang mengantri untuk bertemu Dokter Hillary, akhirnya dia bisa leluasa duduk di hadapan wanita berjas putih itu.
“Apakah hasilnya sudah keluar?” tanya Dariush.
“Sudah, Tuan. Sedang diambil asisten saya.”
Dariush mengulas senyum puas. “Bagus.”
Tak lama, pintu ruangan Dokter Hillary pun terbuka dari luar. Asistennya masuk ke dalam dengan membawa selembar kertas. “Ini hasilnya, Dok.” Dia memberikan benda di tangannya.
Dokter Hillary menerima kertas itu. Membaca dengan seksama sebelum menjelaskan pada Dariush.
“Jadi, bagaimana?” Dariush ini sungguh tak sabaran. Belum juga dokter selesai membaca.
“Cairan Anda bagus, Tuan. Yang dikeluarkan sebanyak empat mililiter, dan sel aktifnya mencapai enam puluh juta, kental yang menandakan bahwa subur. Jadi, Anda bisa mendonorkannya pada Nona Alceena,” jelas Dokter Hillary. Dia memperlihatkan kertas hasil uji laboratorium kepada Dariush.
“Oke, aku percaya padamu. Jadi, kapan inseminasinya dilakukan?”
Dokter Hillary tidak langsung menjawab. Namun, melihat kalender menstruasi yang diberikan oleh Alceena. “Bulan ini, untuk sekarang, Nona Alceena sedang saya pantau perkembangan sel telurnya.”
Dariush mengangguk seolah dia paham. “Kabari aku kalau akan dilakukan inseminasi, jangan pernah berikan pendonor lain selain milikku.” Dia sedikit menekan agar dokter tak teledor.
“Baik, Tuan. Satu hari sebelumnya akan saya hubungi, karena cairan Anda harus dikeluarkan dua jam sebelum waktu inseminasi dilakukan. Dan selama proses menunggu, mohon jangan terlalu sering membuangnya agar menjaga kualitas.”
“Beres. Ada lagi yang harus aku lakukan?”
“Tidak. Ini ada sedikit titipan dari Nona Alceena untuk Anda.” Dokter Hillary mengeluarkan uang berjumlah sepuluh ribu euro. “Dia menjanjikan uang sebanyak ini untuk siapa saja yang bersedia mendonorkan cairannya.”
Dariush hanya melihat lembaran itu, tidak tertarik untuk mengambil. “Untukmu saja, aku tak butuh. Anggap sebagai uang terima kasih karena kau sudah membantuku,” tolaknya.
“Satu lagi, tolong kau jangan terlalu cepat memberikan kabar padanya jika sudah mendapatkan pendonor. Aku tak ingin dia curiga.” Dariush kembali mengajukan permintaan agar rencananya tak gagal karena Alceena terlalu mudah mencurigainya.
...........
Dua hari berlalu, Alceena masih di ruang kerja. Dia melanjutkan melakukan evaluasi karyawan secara satu persatu yang belum selesai sampai sekarang. Namun, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dia memberikan isyarat pada karyawan yang saat ini sedang presentasi untuk keluar.
Segera mengangkat telepon tersebut karena tertulis jelas di layar ponselnya bahwa Dokter Hillary yang menghubungi. “Ya?”
“Nona, saya ingin memberikan informasi kalau sudah ada pendonor yang cocok untuk Anda.”
“Orangnya sesuai kriteriaku?”
“Ya, Nona. Saya sudah memastikan secara langsung.”
“Di mana kau mendapatkannya? Sudah dipastikan bibit unggul?”
“Sudah, Nona. Saya mengecek cairannya di laboratorium. Kebetulan ada pengunjung rumah sakit yang memenuhi kriteria dan bersedia mendonorkan cairannya.”
“Kau tidak memberitahukan identitasku padanya, ‘kan?”
“Tidak, Nona. Semua sesuai yang Anda inginkan.”
“Siapa namanya? Berasal dari mana?”
“Maaf, Nona. Dia tak mengizinkan untuk memberikan identitasnya karena Anda juga tak memberikan izin akan hal itu. Sehingga pendonornya menginginkan agar saling tak mengetahui identitas satu sama lain.”
Alceena menaikkan sebelah alis. Sudahlah, tak masalah juga. Yang terpenting ada pendonor bagus. “Oke, jadwalkan segera inseminasinya.”
...*****...
...Jangan lupa like, komen, vote, dan hadiahnya ya bestie...