Sejak dilahirkan, hidup tak pernah memberinya ruang untuk merasa bahagia. Luka, kehilangan, dan kesendirian menjadi teman tumbuhnya. Saat orang lain menemukan kebahagiaan dengan mudah, ia hanya bisa bertanya dalam diam: kapan kebahagiaan itu datang?
Sebuah kisah tentang hati yang lelah menunggu, namun belum sanggup berhenti berharap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ikat Pinggang Dan Adzan Magrib
Aku masih kecil saat itu. Terlalu kecil untuk memahami mengapa ayah berubah begitu drastis, dan terlalu polos untuk mengerti bahwa kemarahan orang dewasa sering kali lahir dari rasa putus asa yang tak mampu mereka ucapkan. Yang aku tahu, sejak kecelakaan itu, rumah kami tak pernah benar-benar tenang lagi.
Sejak kaki ayah patah, ayah bukan lagi ayah yang kukenal. Suaranya lebih sering meninggi, wajahnya mudah mengeras, dan amarahnya seolah selalu mencari tempat untuk dilampiaskan. Kami, anak-anaknya, hidup dalam waspada. Takut salah bicara, takut salah melangkah, takut pulang terlambat meski hanya beberapa menit.
Abang yang paling sering menjadi sasaran kemarahan ayah adalah abang Ari—abang pertamaku, anak ketiga dari ibu dan ayah. Bagiku, abang Ari adalah sosok yang selalu tersenyum meski lelah. Setiap pagi ia ikut membantu berjualan sebelum berangkat sekolah, dan sore harinya ia masih sempat bermain dengan teman-temannya. Ia anak laki-laki, dan dunia baginya adalah lapangan luas untuk berlari, memanjat, dan jatuh berkali-kali.
Namun bagi ayah, keterlambatan abang Ari pulang ke rumah adalah sebuah dosa besar.
Hampir setiap kali abang pulang bermain, ayah sudah menunggu dengan ikat pinggang di tangan. Aku sering bersembunyi di balik pintu, memeluk lututku sendiri, menahan napas saat suara sabetan itu terdengar. Aku tak berani menangis keras-keras. Aku takut ayah mendengarku, lalu kemarahannya beralih kepadaku.
Yang paling melekat dalam ingatanku adalah sore itu. Langit mulai gelap, dan suara azan magrib menggema pelan dari kejauhan. Abang Ari baru saja melangkah masuk ke halaman rumah. Wajahnya tampak lelah, bajunya penuh debu, tapi senyumnya masih ada. Namun senyum itu lenyap seketika saat ayah berdiri di hadapannya.
Tanpa banyak kata, ayah melepaskan amarahnya. Ikat pinggang melayang, mengenai punggung, lengan, dan kaki abang. Aku melihat tubuh abang meringkuk, tapi ia tak menangis. Ia hanya menggigit bibirnya, menahan sakit, seolah menangis adalah kemewahan yang tak boleh ia miliki.
Aku gemetar di sudut rumah. Tanganku dingin. Dadaku sesak. Aku ingin berteriak, ingin menghentikan ayah, tapi kakiku tak mampu melangkah. Aku hanya anak kecil yang bahkan tak mengerti mengapa pulang saat magrib bisa membuat seseorang dipukul sekejam itu.
Saat itu ibu baru pulang dari warung. Keranjang belanja masih tergantung di lengannya ketika ia melihat apa yang terjadi. Ibu menjerit—jeritan yang sampai sekarang masih terngiang di telingaku. Ia berlari, memeluk tubuh abang Ari yang penuh luka.
“Mas, pukuli saja aku… jangan kau pukuli anakku,” suara ibu bergetar. Aku melihat bahunya naik turun menahan tangis.
“Kau selalu membela anak sialan itu!” bentak ayah. “Kerjanya cuma main ke sana kemari, tidak tahu waktu, tidak tahu pulang!”
Aku melihat wajah ibu basah oleh air mata.
Tapi suaranya tetap lembut ketika menjawab,
“Mas, itu wajar. Ari anak laki-laki. Ini masanya bermain. Lagipula setiap pagi dia sudah membantu berjualan, membantu kita bertahan hidup.”
Hatiku seperti diremas saat melihat ibu memeluk abang erat-erat, seolah ingin menyerap semua rasa sakit itu ke tubuhnya sendiri. Aku ingin berlari ke pelukan ibu juga, tapi kakiku masih kaku. Aku hanya bisa menangis diam-diam, merasa tak berguna, merasa kecil dan tak berarti.
Sejak hari itu, aku tahu—ayah tak pernah benar-benar kembali seperti dulu. Hal-hal kecil mampu memicu kemarahannya. Nada bicaranya selalu keras, bahkan kepada ibu. Rumah kami dipenuhi ketegangan yang tak kasat mata, tapi terasa begitu berat di dada.
Namun ibu tetap ibu. Dalam diam, ia berjuang. Ia mencari tukang urut ke sana kemari demi kesembuhan kaki ayah. Dari hasil menjual gorengan dan kue, dari keringat kami anak-anaknya yang ikut berjualan, ibu menyisihkan uang sedikit demi sedikit. Ia menabung bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk orang yang kerap melukainya.
Padahal setiap bulan Kak Rini mengirim uang. Tapi uang itu selalu dikirimkan kepada ayah, bukan kepada ibu. Dan ayahlah yang memegang kuasa atas semuanya. Ibu hanya menerima sisa—jika ada sisa.
Sebagai Senja kecil, aku tak mengerti soal uang, soal kuasa, atau soal luka batin orang dewasa. Yang aku tahu, malam-malamku sering diisi ketakutan. Aku belajar terlalu dini bahwa rumah tak selalu menjadi tempat paling aman. Dan sejak saat itu, aku tumbuh dengan satu keyakinan kecil dalam hatiku—bahwa aku harus kuat, meski tak ada yang mengajarkanku caranya.