"AYA!! Ingat kamu cuma istri formalitas. Kamu tak punya hak mengatur dengan siapa aku berhubungan, " teriak Rama.
BLAMM!!
Aya terduduk di sisi ranjang dengan air mata yang berderai.
"Aku tahu, aku hanya pelarian buatmu. Setidaknya, jangan buat aku merasa semakin hina dengan menemui wanita itu terang-terangan, " gumam Aya lirih.
Cahaya Insaniah, seorang wanita yang mendapat amanah menjadi istri seorang pemuda penerus perusahaan sawit di Kalimantan bernama Rama.
Rama yang jatuh hati dengan seorang Model lokal, terpaksa menikahi Cahaya karena pesan terakhir mamanya yang tak sadarkan diri akibat kecelakaan mobil.
Mampukah Cahaya menjalankan amanah menjadi istri Rama? Akankah Rama berpaling dari Model lokal itu?
Ikuti kisah mereka dalam Karya HANYA WANITA PELARIAN
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hasrat
"Nggak Aya, aku nggak akan ceraikan kamu. Kalau kamu nggak yakin, aku bakal putusin Amel malam ini juga."
"Cih, aku nggak semudah itu termakan janji. Yang sebelumnya juga kamu ingkar kan? Aku bakal pastikan bisa menjalankan peranku jadi istri palsumu. Ayolah, ini harusnya jadi tawaran menarik kan buat mu?"
"Nggak akan mudah menjalaninya, Ya. Bisa-bisa terbongkar begitu saja. Aku nggak mau ambil resiko. Mamaku bakal sakit lagi."
Rama memutar stir masuk ke perkarangan rumah mewahnya setelah menekan tombol khusus membuka pagar.
Aya lelah terus mengoceh meyakinkan Rama.
BRUUK
Aya berjalan ke dalam setelah menutup pintu mobil.
Rama menghela nafas, sambil menggeleng heran dengan kerasa kepalanya Aya. Ia mengambil tas pakaian Aya di bagasi belakang.
Aya menunggu Rama di depan pintu utama.
"Masuk saja, kamu sudah jadi bagian tuan rumah di sini."
"Nggak, aku masih tamu, " sahut Aya ketus.
Rama menghela nafas lagi.
CEKLEK
Aroma lemon terasa segar menelisik penciuman Aya. Hawa dingin dari luar masuk dan berkumpul di dalam ruangan melalu celah ventilasi khusus dengan design rumah yang apik dan unik.
Lampu ruang tamu mati, hanya cahaya dari lampu ruang tengah yang menyinari seisi ruangan.
Rumah itu sepi-- tenang. Penghuni utamanya masih berada di rumah sakit. Asisten rumah tangga hanya datang pagi-pagi sekali dan pulang saat isya setelah makan malam selesai. Ini yang membuat Aya selalu khawatir di tinggal sendirian saat malam hari di rumah ini karena dia sudah pernah merasakannya.
Mereka melenggang menuju kamar Rama di lantai dua. Sepanjang menyusuri tangga, hati Aya makin gundah. Ia masih kesal dengan percakapan sepanjang perjalanan tadi.
CEKLEK
CTEK
Kamar Rama yang tadinya gelap kini begitu terang. Luas kamar ini dua kali lebih besar dari ruang tengah di rumahnya. Di tambah kamar mandi kecil di sudut ruangan.
"Aku sudah kosongkan bagian lemari ini untuk bajumu. Nanti kita keluar beli baju tambahan untukmu, jadi yang di rumah tidak perlu di bawa lagi."
Aya hanya diam memandang lemari itu, entah apa yang ia pikirkan.
"Aya, aku tinggal dulu ya sebentar. Hanya sebentar."
Tak ada reaksi apapun dari Aya, dia masih mematung di dekat pintu kamar.
Rama mendekat, dan merangkul Aya dari belakang. Sontak Aya terkejut dan berusaha melepaskan rangkulan itu.
"Lepas Bang. Kamu mau ngapain?" tanya Aya geram.
"Kamu kan cuma menolak hubungan badan, harusnya ini tidak termasuk, kan?"
"Tapi ini sama sa--, "
"Aya, aku nggak akan sentuh kamu sesuai permintaan mu saja. Yang lain masih boleh, dong."
Aya terdiam, memang yang dikatakan Rama benar.
"Aku pergi dulu, kamu istirahat saja duluan, ya! "
CUP
Rama dengan santai mencium pipi Aya yang mulai memanas.
'Santai sekali dia, seenaknya cium orang begitu, ' gerutu Aya dalam hati.
Aya membuka lemari, lalu memasukkan tas bajunya ke dalam lemari paling bawah di bawah kemeja Rama yang tergantung.
"Nggak usah lah di susun, biar nggak repot masukin lagi ke dalam tas," gumam Aya.
Ia menarik selimut Bedcover di atas lemari dan selimut tipis di dalam lemari.
Aya menggelar Bedcover sebagai alas di samping ranjang, mengambil satu bantal dan satu guling untuknya.
Aya ke kamar mandi, meletakkan perkakas mandinya masih di dalam pouch. Begitu juga dengan perkakas make up dan parfumnya ia biarkan masih di dalam pouch khusus. Ia tak berniat sama sekali menata satu-satu seolah tak berniat tinggal lama di rumah itu.
Aya berganti pakaian piyama tidur yang ia bawa tadi. Handphone ia letakkan di sisi bantal, ia berbaring beralas bedcover tanpa beban sama sekali. Membiarkan ranjang size king itu tetap dingin.
Ia menatap jam di dinding yang menunjuk ke angka sebelas.
"Sebentar apanya, paling menginap di sana. Hhhh...."
Aya berusaha memejamkan matanya dan akhirnya perlahan tertidur.
Aya tertidur bukan hanya mengantuk, tapi lelah karena emosinya terkuras sejak tadi bersama Rama.
***
Deru mobil terdengar dari luar. Amel bergegas memeriksa lewat balik tirai.
"Mas Rama," gumamnya.
BRUK
CEKLEK
"Mas, akhirnya kamu datang, " seru Amel buru-buru memeluk Rama yang sedikt kesal.
Tadinya ia berniat memarahi wanita-nya itu, tapi melihat kemesraan yang ia sajikan membuat Rama luluh dan balik memeluknya.
"Ayo masuk, di luar dingin, " ajak Rama.
Mereka berjalan masuk lalu menutup pintu. Di sofa ruang tengah, mereka duduk meluapkan kerinduan. TV masih menyala menemani obrolan ringan mereka.
"Sayang, nginap ya malam ini."
"Maaf, nggak bisa sayang, aku harus kembali cepat. Kalau Bi Sri lihat aku baru pulang pagi, bisa-bisa aku dilaporkan ke supir Papa. Apalagi, Aya sudah tinggal di rumah mulai malam ini."
"Ku pikir dia masih menolak tinggal di sana, kenapa jadi tinggal lebih cepat? " tanya Amel gusar.
Ia melepas tangan Rama dari tubuhnya, lalu berbalik melengos sambil menyilangkan tangan ke dada.
"Mama ku sudah sadar, dan yang di tanya saat itu soal Aya tinggal di rumah. Kamu tahu kan mata-mata orang tuaku ada di mana-mana. Papa juga tahu sesuatu tentang mu."
DEG
Ekspresi Amel seketika menegang, Rama melihatnya.
"Kenapa? kamu punya sesuatu yang aku tak tahu?"
"Oh.. tidak ada, memangnya apa yang aku sembunyikan dari mu? Aku selalu cerita semua kan?" elak Amel berusaha mengendalikan emosi dan ekspresi di wajahnya.
Amel duduk berpangku dengan Rama, melingkarkan lengannya ke leher pacarnya itu. Ia tahu bagaimana cara mengalihkan pembicaraan dan membuat Rama tak mencurigainya lagi.
Rama tersenyum sambil merangkul pinggang Amel.
"Iya, aku tahu kamu tak pernah berbuat yang aneh-aneh. Aku tahu Papaku hanya tidak setuju dengan hubungan kita, makanya berbicara seperti itu."
"Syukurlah, itu yang membuat aku tak bisa lepas darimu. Kamu begitu mencintai ku tanpa syarat."
CUP
Amel mengecup bibir Rama menggodanya, Rama tersenyum.
"Aku tahu, kecupan mu itu pasti ada permintaan yang ingin kamu sampaikan. Ya, kan? "
Amel tersipu, "Kamu selalu mengerti aku, " sahutnya sambil membelai pipi Rama dengan satu jari.
Sentuhan itu turun ke lehernya, ke dadanya hingga perlahan hasrat Rama bangkit.
"Katakan saja, jangan terus menggoda ku?"
Sentuhan jari itu terhenti tepat di atas pusar Rama. Amel menatap Rama penuh keheranan.
"Kamu tak mau melakukannya malam ini? "
Rama menggeleng, tak ada keinginan dari ekspresinya meski hasrat itu sudah terlihat bangkit dari gerak jakun dan degup jantung yang terlalu cepat.
"Apa dia sudah melayani mu sampai kamu tak berminat lagi padaku?"
Rama tertawa kecil, "Kamu lupa, aku ada dimana malam itu? bahkan besoknya dia pulang ke rumah orang tuanya."
Amel mengernyit, "Oh iya, kamu disini malam itu, " sahutnya terkekeh.
"Oke, aku katakan saja. Alya mengajakku liburan minggu depan, ke Eropa. Bisa kah kamu memberiku uang saku?"
"Liburan? Berapa lama?"
"Hanya sebulan, Bagaimana?"
Rama tertegun, 'Sepertinya waktu yang pas untuk resepsi, ' batin Rama.
"Oke, donatur segera transfer ke rekeningmu."
Amel tersenyum puas, "Terima kasih ya Sayang, aku makin cintaaaaa deh sama kamu."
Amel memeluk gemas tubuh Rama dengan sedikit bersorak.
"Tunggu, aku memang tak mau melakukannya, bagaimana kalau kamu membayarku dengan ciuman maut mu? " bisik Rama.
Amel tertegun, lalu melepas pelukannya.
"Gendong aku ke kamar. "
Rama tiba-tiba bersemangat. Dengan dekapan erat ia berdiri sambil menggendong tubuh mungil Amel lalu memboyongnya ke dalam kamar.
Bahkan Amel begitu bergairah, mengisap leher Rama dengan kuat dalam gendongan hingga meninggalkan kissmark yang begitu banyak di lehernya.