Arinta adalah seorang pria, suami, juga ayah yang telah melakukan perselingkuhan dengan teman sekantornya bernama Melinda dari istri sah nya, Alena setelah menjalani bahtera rumah tangga hampir tujuh tahun pernikahan hanya karena kekhilafan.
Ketika semua rahasianya terbongkar oleh sang istri, semuanya dianggap terlambat, Alena seolah menutup ruang untuknya kembali sekalipun ia berusaha memperbaiki.
Sesakit itukah yang dirasakan oleh Alena? Harapannya untuk bersama Alena pupus ketika wanita itu mantap untuk bercerai dan sepertinya ia mulai dekat dengan seorang pengusaha kaya raya bernama Aditya.
Arinta harus melepaskan Alena meski ia masih mencintai sang istri dan tampak menyesal, tapi kehidupan terus harus berjalan....
Bagaimana cara Arinta memulai kembali semuanya dari awal sementara penghakiman atas dirinya akan terus melekat entah sampai kapan....
"Apakah aku tak pantas dengan kesempatan kedua...?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16 : Tertangkap mata
Sesuai janjinya kepada Alea, pagi itu Alena mengajak putri kecilnya untuk mendatangi kantor Arinta. Gadis itu tampak antusias, sejak tadi ia terus bernyanyi dan bertepuk tangan. Suasana hatinya sangat cerah bagai mentari hanya karena dia tau akan pergi menemui sang ayah.
Namun, pagi itu akan terjadi hal buruk kepada Arinta. Dia masih berani bermain api meski sudah berada di antara dua pilihan. Mempertahankan rumah-tangga atau terbawa arus dengan Melinda.
"Mel, aku ingin bicara sama kamu sebentar," ucap Arinta saat keadaan kantor masih sepi dan baru ada beberapa karyawan saja yang terlihat sudah berada di bangkunya, sedang merapihkan meja kerja masing-masing.
"Mmm, tunggu sebentar ya, aku lagi mau beresin mejaku dulu sama buat kopi," balas Melinda yang baru saja tiba di kantor.
"Oke, aku tunggu ya...." Arinta pun hanya mengangguk, tak menuntut cepat. Ia kembali masuk ke dalam ruangan kantornya.
Sementara Alena sudah bersiap dengan Alea untuk pergi. Tempat mereka berada di jantung kota dan bisa dikatakan cukup dekat dengan posisi kantor Arinta bekerja sekarang yang bisa ditempuh dengan waktu 30-35 menit saja.
Alea dengan wajah cerah melompat-lompat sambil berteriak, "horeee mau ketemu Papih!" Kedua tangan mungilnya terangkat ke atas. Gigi-gigi mungilnya berjejer rapih.
"Bi, jaga rumah ya, ga usah ikut. Bibi kalau mau makan semua bahan ada di kulkas," ucap Andini sesaat sebelum pergi. "Oh ya itu mesin pembersih lantainya nanti nyalakan saja, sudah bisa 'kan pakainya?" Lanjutnya hampir kelupaan.
"Iya, sudah tau, kemarin diajarin sama Ibu," jawab wanita itu sambil mengangguk.
"Ya sudah, kami berangkat dulu," balas Andini yang kemudian berjalan menyusul keluar pintu.
"Dadah, Bibi!" Alea yang berada dalam gendongan Alena melambai-lambai ke arah Yani sambil tertawa ringan.
"Hati-hati ya, Bu!" Ucapnya setengah berteriak.
Ketiganya pun perlahan berjalan memunggungi semakin jauh hingga masuk ke dalam lift apartemen. Yani yang melihat ketiganya sudah tak ada bergegas menutup pintu.
.
.
Di kantor suasana mulai terlihat banyak aktifitas dengan banyaknya para karyawan yang berdatangan untuk bekerja hari itu.
Melinda masih ada di ruangan pantry sedang mencecap rasa manis dari kopi susu yang baru saja dibuatnya. Ia tersenyum tipis saat menikmati minuman tersebut sebelum akhirnya memutuskan untuk membawa kopi susu itu ke meja kerjanya.
Ia berjalan santai dengan langkah yang memang menggoda. Sejujurnya Melinda adalah wanita yang cantik. Masih muda, cerdas dan memiliki semangat kerja yang tinggi dan sebenarnya dia sangat supel. Banyak sesama rekan prianya yang menyukai Melinda yang baik secara frontal atau masih dalam diam.
Tapi wanita itu tampaknya tidak tertarik dengan satu pun di antara mereka. Dia justru memilih untuk mendekati Arinta, sang bos. Mereka tau kalau keduanya sedang menjalin hubungan gelap, karena jelas mereka tau kalau Arinta sudah menikah dan memiliki seorang anak perempuan.
Melinda duduk di meja kerjanya sambil meletakkan kopi susu hangat yang ia buat. Mengeluarkan beberapa berkas pekerjaan, lalu menyalakan layar monitor.
Melinda kembali menyeruput minumannya dan menatap layar monitor yang mulai menampilkan data untuk dia cocokkan kembali.
Arinta yang menunggu Melinda di dalam ruangan merasa agak kesal karena wanita itu tak kunjung datang.
Lama sekali sih..., gerutunya dalam hati dan segera bangkit dari tempat duduk untuk mengecek keluar.
Ia melihat Melinda yang sepertinya agak sibuk dengan pekerjaannya.
"Mel, sibuk banget...?" Tanyanya persis dari depan pintu karena meja kerja Melinda pas banget di depan ruangannya langsung saling berhadapan.
"Iya, nih Pak. Saya mau buat laporan dulu, gak lama kok," jawabnya dengan tangan yang terampil mengetik pada papan keyboard.
"Oh, nanti langsung ke ruangan saya ya, sama tolong buatkan saya kopi susu," balas Arinta yang memang udah gak sungkan lagi sama Melinda. Dia memang selalu minta minuman yang dibuatkan oleh wanita itu. Melinda memang jago meracik minuman hingga buatannya terasa lebih nikmat.
"Beres deh, Pak! Saya bakal cepat kelarin!" Ia pun melirik sambil tersenyum nakal ke arah Arinta.
Arinta tak menanggapi tatapan menggoda dari Melinda dan bergegas masuk kembali ke ruangannya.
Hanya sekitar 30 menit lebih sedikit Melinda sudah selesai mengecek data laporannya. Ia pun bersiap untuk memberikannya pada Arinta. Namun, terlebih dahulu dia pergi ke dapur kantor untuk membuatkan segelas kopi susu hangat pesanan Arinta tadi.
Tak butuh waktu lama bagi Melinda untuk berjalan kembali dari pantry lalu menuju ke ruangan Arinta.
Tok
Tok
Tok
Ia mengetuk pintu ruangan yang sudah tertutup itu.
"Masuk," ucap Arinta dengan cepat.
Melinda masuk ke dalam sambil memasang senyuman yang menggoda. Ia berjalan dengan gaya memikat ke arah meja kerja Arinta dan meletakkan gelas kopi tersebut di atasnya.
"Ngomong-ngomong tadi mau bicara apa sih? Maaf ya, malah sibuk. Habisnya lagi nanggung," ujarnya dengan nada merayu.
"Iya, aku mau bicara soal hubungan kita...," balas Arinta dengan ekspresi datar dan serius, membuat Melinda langsung berpikiran curiga.
Tumben banget dia begini? Apa jangan-jangan dia ingin mengakhiri hubungan?
Mendadak saja Melinda langsung merasa cemas setelah memikirkan kemungkinan itu.
"Mau bahas apa?" Tanya Melinda merasa sedikit tak tenang.
"Mel, aku ingin hubungan kita berakhir...," ujar pria itu dengan mantap.
Pernyataan itu seolah membuat dunia Melinda terasa membeku dalam detik jarum jam yang terus bergerak.
Ini serius? Arinta ingin semuanya berakhir begitu saja?
Ada gurat kekecewaan pada wajah cantiknya.
"Kamu tau 'kan, Mel. Sejak awal hubungan kita ya cuma seperti ini, gak bakal ada proses," ucap Arinta seperti ingin mengingatkan kembali komitmen awal mereka menjalin hubungan cuma buat have fun.
"Ya, aku tau kok," balas Melinda berusaha terlihat tegar dengan keputusan Arinta. "Aku juga tidak berharap banyak dari hubungan ini," imbuhnya cukup sadar diri dan memberi kesan kalau dirinya orang yang pengertian.
"Baguslah kalau kamu mengerti...." Arinta langsung menghela napas dengan lega. Awalnya dia berpikir kalau Melinda sulit diajak kompromi. "Makasih ya, Mel...," ujarnya sambil berdiri.
Arinta awalnya ingin meraih tangan Melinda yang sedang berdiri di hadapannya. Tapi, karena terlalu fokus menatap wanita itu, dia jadi tidak sadar kalau tangannya tanpa sengaja menyenggol gelas kopi di atas meja.
Tuk...
Gelas itu jatuh pelan menggelinding di atas meja dan hampir saja jatuh ke lantai. Melinda dengan sigap menangkap gelas tersebut. Akan tetapi, air dari dalam gelas itu berceceran keluar hingga mengenai kemeja dan rok yang sedang dikenakan oleh Melinda.
"Aduh, maaf Mel!" Arinta langsung panik begitu melihat baju dan rok Melinda menjadi basah oleh cairan manis dan lengket.
Arinta reflek bergerak mengambil sapu tangan miliknya sendiri dan mencoba mengelap bagian baju dan rok Melinda yang sudah basah dan lengket.
"Udah gak apa-apa..., kayaknya aku harus pulang deh buat ganti baju, lagipula pekerjaan aku sudah selesai kok," ujar Melinda jadi merasa tak enak tapi sebenarnya cukup menikmati perhatian dari Arinta.
"Gak usah, nanti aku belikan baju ganti buat kamu. Sekarang diem dulu, biar aku lap, oke?" Nada suara Arinta sedikit memerintah. Tangannya masih fokus mengelap sisa cairan lengket yang masih tertinggal di kemeja dan rok Melinda.
Namun, saat itu tanpa diduga pintu ruangan kantornya terbuka dan terlihat Alena sudah berdiri di sana bersama dengan Alea. Sontak saja wanita itu berteriak marah.
"Apa maksud dari semua ini??!!" Suaranya seakan menggelegar. Arinta langsung terdiam tiba-tiba. Tubuhnya seakan membeku saat melihat istri dan terutama putri kecilnya ada di sana.
"Len, kok kamu kemari gak bilang?" Tanya Arinta langsung panik dan buru-buru memasukkan kembali sapu tangan miliknya ke saku dan membetulkan posisinya, menjauh dari Melinda.
"Alea, ayo pergi sama Mamih!" Tanpa menjawab Alena langsung menggendong Alea dan memutar tubuhnya kembali.
Apa yang akan dilakukan Arinta? Apa dia akan pergi mengejar dan mencoba memberi penjelasan, atau semua sudah terlambat baginya?
.
.
Bersambung....
hemmmm jarang deh mungkin ada 1000/1 yg betul" sadar, sodara ku aja berhentinya ajal menjemput selingkuh Mulu susah kalau hati udah pernah bercabang