NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib Sang Istri Terbuang

Ruang Ajaib Sang Istri Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Angel Abilla

Pernikahan yang kukira pelabuhan cinta, ternyata hanyalah jerat maut yang dirancang suamiku sendiri. Namaku Aruna, putri keluarga Adiwangsa yang dicap lugu oleh dunia. Namun di malam pengantinku yang penuh duri, aku menyaksikan pengkhianatan Tristan dan selingkuhannya tepat di depan mataku.
​Tristan ingin hartaku, ia ingin membuangku ke desa terpencil hingga aku membusuk. Namun, ia melakukan satu kesalahan besar: membiarkan Aruna Adiwangsa pergi dengan liontin warisan ibunya.
​Sebuah Ruang Ajaib terbuka dari tetesan darah rasa sakitku. Di sana, aku membangun kekuatan, mengumpulkan harta, dan menyusun strategi yang tak terduga. Tristan, nikmatilah sisa kejayaanmu, karena saat aku kembali, aku akan memastikan kau berlutut memohon ampun di bawah kakiku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Angel Abilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Pesan di Ambang Kabut

Lubang di bawah kaki Baron tertutup dengan suara dentum tanah yang berat, menelan teriakan terakhir sang 'Pembersih' ke dalam perut bumi Sanubari. Seketika, suasana hutan kembali hening. Akar-akar yang tadinya mengamuk tanpa ampun kini perlahan tenggelam kembali ke balik lumut perak, seolah pertarungan hidup dan mati itu tidak pernah terjadi.

Dada Aruna masih naik-turun dengan cepat, ia berusaha mengatur napasnya yang tidak keruan. Tangannya perlahan turun seiring pudarnya cahaya di kristal lehernya. Ia menoleh ke arah ibunya. Lidya berdiri di sana, namun tubuhnya mulai terlihat samar, seperti bayangan yang menyatu dengan kabut perak.

"Ibu..." Aruna melangkah maju. Kakinya masih terasa lemas dan gemetar, namun ia terus memaksakan diri. Tangannya terulur, berusaha menggapai sosok itu seolah ingin memastikan bahwa ibunya benar-benar ada di sana, bukan sekadar bayangan yang akan hilang tertiup angin.

Lidya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung kehangatan sekaligus kesedihan yang mendalam. Ia meletakkan tangannya di pipi Aruna. Dingin, namun terasa nyata di kulit Aruna.

​​"Waktuku di sini sudah hampir habis, Aruna. Hutan ini telah melindungiku, tapi aku sudah menjadi bagian dari akarnya," bisik Lidya. Suaranya terdengar seperti desir angin di pucuk pohon. "Dengarkan Ibu, Sayang. Baron hanyalah satu dari banyak bayangan yang mengejar warisan Adiwangsa. Di luar sana, dunia tidak akan menjadi lebih mudah hanya karena satu ancaman telah pergi."

Lidya melirik Rian yang berdiri tak jauh di belakang Aruna, lalu kembali menatap putrinya. "Berhati-hatilah. Ke depan, tidak akan ada yang tahu ancaman apa lagi yang muncul dari kegelapan. Jangan pernah lepaskan kristal itu, dan percayalah pada nalurimu sendiri."

​​"Ibu, jangan pergi lagi," isak Aruna.

​​"Ibu tidak pernah benar-benar pergi, Aruna. Selama jantungmu berdetak seirama dengan hutan ini, Ibu ada di sana." Lidya perlahan mundur, tubuhnya kian transparan hingga akhirnya menjadi butiran cahaya yang ditiup angin, meninggalkan aroma melati yang lembut.

Rian mendekat, menyentuh pundak Aruna dengan ragu. "Aruna... kita harus pergi. Gerbang dimensi ini mulai menutup."

Aruna menghapus air matanya, menatap tempat ibunya berdiri untuk terakhir kali, lalu mengangguk dengan yakin. Bersama Rian, ia berlari menembus kabut perak yang kian tebal, mengikuti tarikan energi kristalnya yang menuntun mereka kembali.

​Sensasi dingin mendadak berganti dengan udara lembap dan debu. Cahaya perak perlahan menghilang, digantikan oleh cahaya lampu bohlam yang redup dan kekuningan, berkedip-kedip di langit-langit gudang tua yang pengap. Mereka kembali. Di hadapan mereka, hanya ada tumpukan kayu dan mesin tua. Seolah perjalanan ajaib tadi hanyalah sebuah mimpi buruk yang nyata.

Rian menatap Aruna dengan tatapan yang sulit diartikan; antara kagum, takut, dan lega. "Semuanya sudah berakhir?"

Aruna menggenggam kristalnya yang kini kembali dingin. "Belum, Rian. Ini belum berakhir."

***

Rian tidak banyak bicara saat mereka melangkah keluar dari gudang tua itu. Ia segera menyalakan mesin motornya, suara knalpotnya terdengar sangat keras di jalanan yang sudah sepi. Aruna naik ke boncengan, melingkarkan tangannya di pinggang Rian sambil terus menggenggam kristal di lehernya. Motor itu melesat cepat, menembus dinginnya angin malam menuju pusat kota.

Saat motor Rian berhenti di lobi apartemen mewah milik Aruna, suasana terlihat berbeda dari biasanya. Tiga mobil SUV hitam terparkir rapi di depan pintu masuk. Beberapa pria berjas gelap dengan tubuh tegap berdiri siaga di sana; mata mereka terus bergerak mengawasi setiap sudut, memperhatikan siapa pun yang mendekat dengan penuh selidik.

​​​"Sepertinya tamu-tamumu sudah tiba," bisik Rian pelan dari balik helmnya sambil menatap deretan pengawal itu. Aruna tidak menjawab, ia hanya mengeratkan pegangannya pada kristal di balik bajunya.

​Aruna turun dari motor, merapikan rambutnya yang berantakan terkena angin. "Terima kasih untuk malam ini, Rian. Kamu menyelamatkan nyawaku... lagi."

​"Jangan dipikirkan. Masuklah, mereka sudah menunggumu," jawab Rian dengan anggukan kecil. Tak lama kemudian, ia kembali menarik gas dan melaju pergi, meninggalkan lobi apartemen yang kini terasa dingin bagi Aruna.

​Begitu Aruna melangkah masuk ke dalam unit apartemennya yang luas, aroma kayu cendana langsung menyambutnya. Di ruang tamu yang luas, sosok pria paruh baya dengan kacamata berbingkai tipis dan setelan jas yang sangat rapi duduk menunggu. Pak Baskara, pengacara keluarga Adiwangsa sekaligus orang kepercayaan yang memegang seluruh dokumen rahasia mereka.

Baskara segera berdiri saat melihat Aruna masuk. Wajah pria itu terlihat lebih pucat dari biasanya, dan ada bekas luka kecil yang masih memerah di keningnya. Sisa benturan saat ia dan para pengawal dipaksa pingsan oleh anak buah Siska sebelumnya. Di belakangnya, tiga pengawal berdiri tegak dengan sikap sempurna, meski balutan perban putih terlihat mengintip dari balik kerah kemeja mereka.

​"Aruna," suara Baskara berat dan sedikit bergetar. Ia melangkah mendekat, matanya menatap intens ke arah Aruna yang terlihat berantakan karena debu. "Maafkan ketidakberdayaan kami. Begitu kami sadar di gudang itu, Anda dan Rian sudah tidak ada. Kami hanya menemukan Siska yang sudah tidak sadarkan diri, tapi pria yang mengendalikan semuanya sudah menghilang."

Baskara terdiam sejenak, wajahnya menunjukkan rasa penasaran yang besar. "Siapa sebenarnya pria itu, Aruna? Mengapa dia memiliki teknologi yang bisa melumpuhkan sistem keamanan kita dalam sekejap?"

Aruna melepaskan mantelnya yang kotor, memberikannya kepada salah satu pelayan. Ia duduk di hadapan pengacaranya dengan punggung tegak, memancarkan aura pemimpin yang jauh lebih dingin.

​"Namanya Baron," ucap Aruna pendek. "Pria yang sepuluh tahun lalu mencoba memusnahkan keluarga kita."

Baskara terdiam, wajahnya menunjukkan keterkejutan yang nyata. "Baron? Si 'Pembersih' itu? Jadi dia masih hidup?"

Aruna mengangguk pelan, tatapannya kosong namun tajam. "Dia sudah mati sekarang, Pak Baskara. Untuk selamanya. Hutan Sanubari sudah mengambil apa yang menjadi haknya. Dia tidak akan pernah kembali lagi untuk mengusik Adiwangsa."

Baskara refleks membetulkan letak kacamatanya, mencoba menutupi kegelisahan yang mendadak muncul. Sebagai orang hukum yang terbiasa bicara soal bukti dan pasal, jawaban Aruna yang begitu dingin barusan membuatnya sadar bahwa anak majikannya ini bukan lagi gadis kecil yang rapuh. Ada sesuatu yang sangat berat dalam nada suara Aruna, seolah ia baru saja melintasi batas yang tidak seharusnya disentuh manusia.

​​Ia menarik napas panjang untuk menguasai diri, lalu mengangguk perlahan. Baskara memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh soal nasib pria seberbahaya Baron. Ia tahu, ada rahasia di Hutan Sanubari yang lebih baik tetap terkubur di sana.

​​"Begitu rupanya," jawab Baskara dengan suara yang sedikit serak. Ia menjernihkan tenggorokannya sejenak, mencoba mengembalikan wibawa profesionalnya. "Jika demikian, fokus kita sekarang adalah membereskan sisa-sisa kekacauan yang ditinggalkan Siska dan Tristan."

Aruna menatap ke arah jendela besar yang memperlihatkan pemandangan lampu kota di bawah sana. "Benar. Baron hanya pembuka jalan. Sekarang, saatnya kita melakukan pembersihan besar-besaran di dalam perusahaan. Pastikan tidak ada satu pun orang Baron yang masih memegang jabatan di Adiwangsa. Aku ingin mereka semua keluar paling lambat besok sore."

Baskara menundukkan kepalanya. Kali ini, rasa hormat yang ia tunjukkan bukan lagi sekadar formalitas, melainkan bentuk pengakuan bahwa Aruna adalah penguasa Adiwangsa yang baru.

​"Baik, Aruna. Saya akan segera mengurus semuanya."

1
Ida Kurniasari
seruu bgt thorr😍
Angel: Wah, makasih banyak ya Kak Ida! 🥰 Senang banget kalau ceritanya menghibur. Bagian mana nih yang paling bikin nagih?
total 1 replies
Angel
keren
Nadira ST
💪💪💪💪💪💪☕☕☕☕🥰🥰🥰🥰☕
Angel: Wuih, deretan semangatnya sampai sini nih! Terima kasih ya, Nadira ST. Menurut kamu, apa bagian paling menarik dari bab ini? Ditunggu komentarnya lagi ya! 💪🔥
total 1 replies
Murni Dewita
💪💪💪💪
Angel: Aruna emang makin tangguh nih, Kak! 💪 Tapi kira-kira dia sanggup nggak ya ngadepin Paman Hendrawan yang jauh lebih licik? Pantau terus kelanjutannya ya, Kak Murni!
total 1 replies
Lala Kusumah
good job Aruna 👍👍👍👍
Angel: Terima kasih Kak Lala! Aruna emang pantes dapet apresiasi setelah semua pengkhianatan itu. Tapi ujian sebenarnya baru aja dimulai nih. Stay tuned ya! ✨
total 1 replies
Murni Dewita
👣👣
Angel: Wah, jejak Kak Murni sudah sampai sini nih! Menurut Kakak, apa yang bakal terjadi sama Aruna setelah ini? Stay tuned ya! ✨
total 1 replies
Lala Kusumah
astaghfirullah 😭
Angel: Jangan nangis dulu, Kak! Habis ini Aruna bakal kasih kejutan yang jauh lebih besar buat Tristan. Kira-kira apa yang bakal Aruna lakukan selanjutnya ya? Pantau terus besok jam 7 malam ya! 🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!