"Kalau kamu mau jadi malaikat, lakukan di tempat lain. Di Kediaman Jati Jajar, akulah ratunya!"
Rosie, seorang manajer sukses di era modern, terbangun di tubuh Kirana Merah Trajuningrat, sosok antagonis yang dibenci seluruh rakyat Kerajaan Indraloka.
Dunia di mana "Citra Diri" adalah segalanya, Merah dikenal sebagai gadis pemarah yang hobi menindas adiknya, Putih Sekar. Namun, Rosie segera menyadari ada yang salah.
Putih yang dianggap "Anak Kesayangan Rakyat" ternyata adalah manipulator ulung yang lihai bermain peran sebagai korban di depan para pelayan dan Pangeran.
Ditambah lagi, Ibu kandung Merah, Nyai Citra, adalah wanita ambisius yang menyiksa Putih demi kekuasaan, tanpa sadar bahwa setiap cambukannya justru memperburuk reputasi Merah di mata Pangeran Ararya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riyana Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hening Rimba
Sinar matahari mulai condong ke arah barat, menciptakan bayangan panjang yang menari di atas jalan setapak berbatu di tepi Sungai Amerta. Rosie berjalan dengan langkah yang masih sedikit pincang, tapi semangatnya jauh lebih baik dibanding saat dia terkurung di kamar apek Kediaman Jati Jajar.
Di belakang mereka, hiruk pikuk Pasar Arcapada perlahan tertinggal. Suara tawar-menawar berubah menjadi gema samar yang larut bersama gemericik air sungai yang mengalir tenang di sisi kanan rombongan.
Di pundak Wira dan Jaka, dua karung lada hitam hasil audit dadakan tadi tampak berat, namun kedua pria itu membawanya tanpa keluhan sedikit pun.
Laras berjalan di samping Rosie dengan wajah yang tidak pernah benar-benar tenang sejak mereka meninggalkan pasar. Jarinya terus memilin ujung selendang sutra, matanya beberapa kali melirik ke arah sungai yang melebar di depan mereka, lalu ke jalur tanah yang membentang memutar mengikuti kontur tebing.
"Nona, bagaimana kalau Nyonya Besar tahu ternyata kita tidak membeli bubuk mutiara atau minyak bunga langka itu?" bisik Laras. Suaranya hampir tenggelam oleh suara air yang menghantam batu-batu besar di dasar sungai. "Uang pemberian Nyonya sudah habis untuk membeli dua karung lada ini. Jika beliau bertanya mana ramuan kecantikan pesanan Nona, apa yang harus kita katakan?"
Rosie menghela napas panjang. Dia membetulkan selendang di bahunya, merasakan sisa bedak dingin di wajahnya mulai mengering dan pecah.
"Ya bilang aja kalau barangnya habis. Atau pedagangnya lagi mudik, atau apalah," jawabnya santai. "Lagian, lada ini jauh lebih penting buat masa depan kediaman kita daripada bubuk mutiara yang paling-paling cuma bikin muka putih pucat kayak tembok. Kita butuh bukti buat evaluasi sistem distribusi, Laras."
"Tapi Nona, Nyonya Besar tidak akan mengerti soal itu. Beliau hanya tahu Nona pergi untuk menjadi cantik," timpal Gendis yang ikut merasa was-was.
"Udahlah, urusan Ibu biar aku yang hadapi nanti. Sekarang yang penting kita pulang dulu. Perutku udah lapar lagi dan jalanan ini membosankan banget," ucap Rosie.
Pandangannya kini tertuju pada jalur utama di depan mereka. Jalan itu menjauh dari sungai, memutar lebar sebelum akhirnya menuju gerbang belakang kediaman. Panjang, terbuka, dan berdebu.
Rosie berhenti melangkah. Dia menoleh ke kiri, ke arah seberang sungai yang mulai menyempit dan deretan pepohonan yang tumbuh rapat di sana. Tajuknya gelap, rindang, menempel di punggung tebing seperti bayangan yang tidak pernah benar-benar tersinari matahari.
"Jaka," panggilnya.
Jaka yang berjalan paling depan segera berhenti. "Iya, Nona?"
"Ada jalan yang lebih dekat enggak? Lewat sini rasanya muter jauh banget," tanya Rosie sambil menunjuk ke arah tepian sungai dan jalur tanah yang mengarah ke pepohonan.
Jaka menatap arah yang ditunjuk Rosie. Wajahnya mengeras. Dia melirik Wira sejenak sebelum menjawab, seolah menimbang risiko dari kata-katanya sendiri.
"Ada, Nona. Jalur setapak lama di tepi sungai itu tembus ke belakang kebun rempah Kediaman Jati Jajar. Tapi jalurnya memotong lereng hutan."
"Hutan Larangan?" sela Gendis cepat, suaranya meninggi tanpa sadar.
Jaka mengangguk pelan. "Iya."
Rosie langsung berseri. "Nah, itu dia. Kenapa enggak dari tadi lewat situ aja?"
"Nona, jangan!" Gendis spontan berseru, membuat beberapa burung di dahan pohon terbang berhamburan. "Orang-orang desa bilang hutan itu tidak suka dilalui ramai-ramai. Banyak yang bilang jalurnya berubah-ubah. Belum lagi hewan buas, dan penghuni yang tidak kasat mata."
Rosie memutar bola mata, sebuah kebiasaan yang tidak pernah hilang meski dia sudah memakai bedak seputih porselen. "Hari masih siang, Gendis. Hewan buas itu biasanya tidur kalau siang, kayak kucing. Dan soal penghuni enggak kasat mata, mereka pasti lebih takut melihat mukaku yang penuh bedak pecah-pecah begini daripada aku takut sama mereka. Ayo, Jaka, jalan!"
Dengan ragu, Jaka akhirnya memimpin rombongan menuruni jalur sempit di tepi sungai. Mereka meninggalkan jalan utama yang berdebu dan mulai menyusuri setapak yang semakin menyempit, hingga pepohonan menutup langit di atas kepala.
Begitu mereka melangkah masuk ke bawah naungan hutan, udara berubah drastis. Sejuk, lembap, membawa aroma tanah basah dan lumut. Cahaya matahari terpecah menjadi garis-garis tipis yang jatuh di antara akar gantung dan daun pakis.
Rosie menarik napas panjang. Beban di pundaknya terasa mengendur.
Ini baru namanya healing, batinnya, menatap sinar keemasan yang menari di lantai hutan.
Namun semakin jauh mereka melangkah, suara sungai di belakang mulai meredam. Kicauan burung satu per satu menghilang. Keheningan turun perlahan, tebal, seolah hutan itu sedang mengawasi.
Rosie menarik napas dalam-dalam, membiarkan paru-parunya terisi oleh udara murni yang tidak tercemar polusi knalpot atau asap industri Jakarta. Dia merasakan beban di bahunya perlahan melonggar.
Enggak perlu ke Bali atau ke puncak kalau udaranya sejuk begini.
"Nona, tolong jangan berjalan terlalu jauh dari kami," bisik Gendis lagi, suaranya terdengar gemetar. Mata pelayan itu terus bergerak waspada, mengamati setiap bayangan di balik batang pohon yang besar. "Suasana di sini terlalu tenang. Biasanya itu pertanda tidak baik."
"Kamu ini parnoan banget sih, Gendis," sahut Rosie sambil terus melangkah. Dia menikmati sensasi sendal kayunya yang menginjak tumpukan daun kering, menciptakan bunyi gemerisik yang menenangkan. "Lihat deh, burung-burung saja masih bernyanyi. Berarti aman, kan?"
Namun, semakin jauh mereka masuk, suasana memang mulai berubah. Pepohonan tumbuh semakin rapat, membuat cahaya matahari yang sampai ke bawah semakin sedikit.
Suara gemericik air sungai di kejauhan mulai terdengar, tapi entah mengapa, suara kicauan burung yang tadi ramai perlahan-lahan menghilang.
Keheningan yang tiba-tiba itu terasa sangat janggal, seolah-olah seluruh penghuni hutan sedang menahan napas secara serentak.
Rosie yang tadinya merasa rileks, kini mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Bulu kuduk di lehernya meremang. Bukan karena dingin, melainkan karena perasaan aneh bahwa ada sepasang mata yang sedang mengamati setiap gerak-gerik mereka dari kegelapan semak-semak.
Jaka tiba-tiba berhenti. Tangannya memberikan isyarat agar seluruh rombongan berhenti bergerak. Wira segera bergeser ke belakang Rosie, tangannya memegang erat tongkat kayu jati dengan posisi siap menyerang.
"Ada apa, Jaka?" tanya Rosie dengan suara yang jauh lebih rendah.
"Diam, Nona," bisik Jaka. Matanya menyipit, menatap ke arah rumpun bambu yang bergoyang. "Ada sesuatu yang mengikuti kita sejak tadi."
Laras dan Gendis langsung merapat ke arah Rosie, wajah mereka pucat pasi. Suasana yang tadinya terasa seperti surga ketenangan bagi Rosie, kini berubah menjadi medan yang penuh dengan ketegangan yang menyesakkan dada.
Rosie mencoba menajamkan pendengarannya. Di tengah keheningan itu, dia mendengar suara gesekan pelan di atas tanah, seperti sesuatu yang ditarik dengan cepat. Lalu, terdengar bunyi krak yang tajam, seperti dahan kayu yang patah terinjak.
"Wira, jaga Nona," perintah Jaka pelan.
Rosie menggenggam erat ujung selendangnya. Detak jantungnya yang tadi tenang kini mulai memacu cepat, memukul-mukul rongga dadanya dengan keras. Dia teringat kembali pada dongeng yang dibaca ibunya. Di dalam hutan seperti inilah biasanya nasib seorang tokoh berubah.
Tiba-tiba, udara di sekitar mereka terasa bergetar. Sebuah suara desisan tajam membelah keheningan, diikuti oleh gerakan kilat di antara dahan-dahan pohon di atas mereka. Rosie mendongak, tapi yang dia lihat hanyalah bayangan gelap yang melintas dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
"Siapa di sana?!" teriak Jaka dengan suara yang menggelegar, berusaha mengusir rasa takut yang mulai menjalar.
Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang semakin berat dan menyesakkan. Rosie merasa kakinya yang tadi ngilu kini mendadak kaku. Dia baru menyadari bahwa Hutan Larangan bukan sekadar nama yang diberikan warga karena takhayul.
Ada sesuatu yang nyata di dalam sana, sesuatu yang sedang menunggu waktu yang tepat untuk menunjukkan dirinya.
Kegelapan di bawah tajuk pohon terasa semakin pekat, seolah hutan itu sendiri sedang mencoba menelan mereka bulat-bulat.
Rosie menatap ke arah depan, ke arah jalan setapak yang semakin kabur, menyadari bahwa perjalanan pulang ini tidak akan semudah yang dia bayangkan dalam rencana auditnya.