Setelah mengetahui pengkhianatan sang kekasih, serta ada masalah di pabriknya, Rayyan memutuskan untuk healing sejenak ke sebuah desa, tempat salah seorang sahabatnya berada.
Tapi, nasib justru mempermainkannya. Rayyan terjebak dalam sebuah kondisi, yang mana ia harus menikahi Lilis, seorang janda kembang.
Suatu hari, Rayyan pamit harus kembali ke Ibu Kota demi menyelesaikan urusannya. Tapi lama waktu berlalu, Rayyan tak kunjung kembali, hingga Lilis makin gelisah menanti.
Bagaimanakah lika-liku perjalanan mereka selanjutnya?
Apakah Rayyan akan tetap mempertahankan Lilis sebagai istri, dan menetap di desa tersebut?
Lantas apa yang sebenarnya terjadi pada Rayyan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bantahan dan Keputusan
#11
Beruntunglah Rayyan dan Lilis, karena mereka tak diarak ke balai desa setelah sempat menimbulkan kesalahpahaman, hingga berujung membuat seisi desa geger.
Tapi tetap saja, para sesepuh desa berkumpul di rumah Pak Kades, guna mengambil tindakan selanjutnya. Di tubuh Lilis memang tidak tertinggal jejak penganiayaan, karena si Karman belum sempat mengeksekusi Lilis. Jadi selain pakaian yang koyak, semuanya terlihat baik-baik saja.
Tapi, hal itu justru hal yang paling krusial dan memicu kesalahpahaman. Karena mereka justru berpikir bahwa Rayyan dan Lilis sudah sama-sama ngebet, karena itulah pakaian Lilis buru-buru ditarik hingga robek persis mengikuti lajur pertengahan dada hingga ke bawah.
Ketika mereka berjalan menuju rumah Pak Kades, Lilis sempat mengatakan agar jangan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, karena ia akan merasa lebih malu lagi. Menjadi Janda, lalu hampir diperlakukan dengan tidak hormat oleh pria tak bertanggung jawab. Rasa malunya mungkin akan ia bawa sampai ke liang lahat.
Rayyan sendiri dalam dilema, jika tak mengatakan sebab musababnya, pasti salah paham akan terus berlanjut. Iya kalau sanksinya hanya berupa sanksi sosial, kalau sanksi logis semacam dilempari batu, ya bisa binasa sebelum waktunya tiba.
“Jadi apa yang sebenarnya kalian lakukan di sana?”
“Pak, saya bisa menjelaskan kejadian yang sebenarnya.” Untuk kesekian kali, Rayyan berusaha bicara, walau sebenarnya masih putar otak bagaimana cara mengatakan hal yang cukup logis agar para warga percaya. “Jadi kambing-kamb—”
Namun, ucapannya selalu di sela bahkan dibantah. “Hallah, kambing lagi kamu jadikan alasan, benar-benar tak masuk akal.”
“Mau kasih penjelasan apa lagi? Nanang bilang, kamu pamit pergi, tapi tak jelas hendak pergi kemana. Itu saja bisa dijadikan bukti bahwa kalian sengaja janjian di sana pada malam buta, supaya tidak ketahuan, kan?”
Rayyan merapatkan kain sarung yang menutupi tubuh bagian atasnya sambil menatap Nanang, tapi Nanang tak banyak berkata-kata untuk membela. Karena ia juga tak melihat sendiri kejadian yang sebenarnya, sumpah, Nanang sebenarnya sangat malu, walau tidak dituding sebagai pelaku.
Tapi biar bagaimanapun juga, Rayyan adalah kawan baiknya.
“Nang, kamu tahu, kan, gimana aku?” kata Rayyan dengan wajah sangat memelas.
Akhirnya Nanang tak tega, karena ia pun yakin Rayyan tidak bersalah. “Begini, bapak-bapak semua, saya pun sebenarnya menyangsikan apa yang bapak-bapak tuduhkan.”
“Menyangsikan apa, wong kami bertiga melihat sendiri mereka keluar dari gubuk kecil di peternakan, Lilis pakai baju temanmu, dan temanmu malah gak pake baju, cuma pakai celana kolor. Bahkan cara jalan Lilis terlihat aneh, seperti— seperti— kesakitan habis annu-annu begitu.”
Belum sempat Nanang, melanjutkan kalimatnya, salah seorang hansip sudah mengeluarkan bantahan dengan ekspresi berapi-api.
“Astaghfirullahalazim!”
“Astaghfirullahalazim!”
Ucap para warga bersama-sama, sungguh paduan suara yang kompak, walau tanpa latihan.
“Tolong dengarkan dulu,” kata Nanang santun.
Pak Kades mengangguk, meminta para warga tetap bersikap tenang, sekaligus memberi tanda untuk Nanang melanjutkan pembelaannya.
“Kita semua tahu seperti apa Lilis, kan? Dia sopan, tidak jelalatan atau kegenitan, tidak pernah pula macam-macam. Yang dia lakukan setiap hari, hanya berbelanja ke pasar, atau berjualan di warung sendirian.”
Pak Kades dan para tetua mengangguk, membuat Rayyan sedikit lega, sementara Lilis tetap setia menunduk dalam diam, tanpa berkata apa-apa. Bermacam-macam pikiran buruk tengah menghampirinya.
“Saya pun, yang sudah lebih dari 7 tahun mengenal Rayyan, pun juga kedua orang tuanya. Saya yakin seribu persen bahwa dia adalah pria yang baik. Saya berani sumpah demi Allah, Pak!”
Nanang memberi penjelasan semampunya, walau belum tahu alasan Rayyan yang sebenarnya, kenapa keluar rumah malam-malam. Kenapa juga pakaiannya bisa dipakai Lilis? Tapi itu urusan nanti, yang penting masalah selesai lebih dulu.
Karena sejak tadi para tetua ini tetap tak mau menerima penjelasan dari Rayyan dan juga dirinya.
Di teras rumah, para warga masih berkerumun, bisik-bisik dengan spekulasi masing-masing. Ada yang mendukung tudingan para hansip, ada juga yang mendukung ucapan Nanang, mengingat reputasi baik pria itu.
Apalagi para netizen nopeltun, sudah mendukung Rayyan dikawinkan dengan Lilis saat ini juga. Tapi Rayyan, adalah orang asing di Desa Kembang Turi, apa iya mereka akan percaya begitu saja, terlebih Rayyan seperti berbelit-belit dengan ucapannya.
“Iya, baiklah, anggap saja temanmu memang orang baik. Tapi kita juga tak mengetahui ada apa yang sebenarnya terjadi, karena dua orang tersangka ini tak mengisahkan kejadian yang sebenarnya.” Mbah Sarjono salah satu tetua mulai bicara.
“Jadi, daripada nanti desa kita terkena sial, karena kita mempercayai ucapan mereka. Dan ternyata mereka bohong, alangkah baiknya jika mereka kita nikahkan saja.”
“Setuju!”
“Setuju, Mbah!
“Monggo, Mbah, langsung saja.”
“Daripada desa kita tertimpa sial, karena ada yang zina, tapi bohong. Mana musim panen sebentar lagi tiba.”
Salah seorang warga langsung mengaitkan peristiwa ini dengan hukum sosial serta agama yang mungkin terjadi bila ada perzinahan.
“Kok, jadi merembet ke pernikahan, sih?” elak Rayyan, niat hati ingin liburan, tapi berujung ke pernikahan. Ini namanya sial atau keberuntungan?
“Iya, daripada kami semua kena sial gara-gara ulah kalian?!”
Rayyan berdiri dari tempatnya, “Kok nyolot, sih, Pak? Kan saya nggak berbuat apa-apa? Jangan khawatir kena sial.”
“Iya, sekarang, bilang jangan khawatir, kalau kejadian beneran? Semua sawah di desa ini di serang wereng, atau wabah penyakit menular? Siapa yang kami salahkan?”
“Tapi, kan, saya tak berbuat apa-apa,” ungkap Rayyan sekali lagi.
“Mana buktinya?! Kenapa juga Lilis hanya diam, pasti malu karena ketahuan, tuh, huuuuu!”
Mendadak para warga saling bersorak, mengolok-olok Rayyan dan juga Lilis yang semakin terpojok, tak bisa bergeser kemana-mana.
“Gimana Mas Rayyan? Lis?” tanya Pak Kades.
“Gimana apanya, Pak! Ya, sudah jelas saya tidak mau!” sahut Rayyan tegas, tanpa menunggu Lilis bicara, wanita itu sudah jelas tak akan buka suara.
“Saya mau, Pak! Nikahkan saja kami! Saya akan senang punya suami seorang penggembala ternak!”
Secara tiba-tiba, Lilis bicara, hingga membuat semua orang menoleh padanya. Jelas keberanian Lilis itu membuat semua orang melongo, termasuk Rayyan yang kini posisinya semakin terpojok.
Susah payah ia menjelaskan dan menolak, sejak awal pertemuan. Tapi ketika usahanya nyaris menuai hasil, Lilis tiba-tiba meruntuhkannya begitu saja.
“Baiklah, jika demikian. Panggilkan penghulu desa sekarang juga.”
•••
Ray, apesmu. Tapi Lilis bisa membantumu mengusir ulat bulu, loh. Dijamin hidupmu aman sentosa, jauh dari jangkauan ulat bulu. 🤣🤭
setelah Rayyan liat apa akan langsung ehem ehem ya🤭