NovelToon NovelToon
Ketika Sahabatku, Merebut Suamiku

Ketika Sahabatku, Merebut Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Pelakor jahat / Nikah Kontrak
Popularitas:9.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Dalam dunia bisnis yang kejam, Alara Davina—seorang desainer berbakat—terjebak dalam pernikahan kontrak dengan Nathan Erlangga, CEO dingin yang menyimpan luka masa lalu. Yang Alara tidak tahu, wanita yang selama ini ia anggap sahabat—Kiara Anjani—adalah cinta pertama Nathan yang kembali untuk merebut segalanya.

Ketika pengkhianatan datang dari orang terdekat, air mata menjadi teman, dan hati yang rapuh harus memilih. Bertahan dalam cinta yang menyakitkan, atau pergi dengan luka yang tak pernah sembuh.

*Cinta sejati bukan tentang siapa yang datang pertama, tapi siapa yang bertahan hingga akhir.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Naura yang Memberitahu Nathan

Pagi itu Naura bangun dengan perut mual parah, lebih parah dari biasanya. Dia lari ke kamar mandi, muntah sampe ga ada yang keluar lagi, tapi tetep aja rasanya mau muntah terus.

Kehamilan sembilan minggu emang masa masa terberatnya. Morning sickness yang bikin Naura ga bisa makan apa-apa.

Tapi pagi ini ada yang beda, Naura pengen makan sesuatu yang spesifik. Rujak mangga muda, dengan bumbu kacang yang pedes banget.

Naura ngidam, ia turun ke dapur jam tujuh pagi, Nathan masih ada, lagi sarapan sendirian sambil baca koran. Jarang banget Nathan sarapan di rumah.

"Nathan," Naura manggil dengan suara pelan.

Nathan mengangkat wajahnya, menatao Naura sekilas. "Apa?"

"Aku, pengen makan rujak mangga muda." Naura bilang sambil mengelus perutnya yang sedikit melilit.

"Terus apa hubungannya denganku? Minta saja sama bi Ijah." Nathan balik baca koran.

"Bi Ijah lagi ke pasar, belum kembali, aku pengen sekarang Nathan, perutku gak enak banget." Naura melangkah lebih deket.

Nathan menaruh korannya kasar. "Naura, aku lagi gak mood dengerin kemauan kamu, kalau kamu pengen rujak ya tunggu bi Ijah balik atau beli sendiri."

"Tapi Nathan, aku lagi ngidam."

"NGIDAM?!" Nathan berdiri, mukanya merah. "Kamu pikir aku peduli kamu ngidam atau engga?!"

Naura mundur selangkah, kaget karena Nathan tiba-tiba marah. "A-aku cuma minta tolong."

"Minta tolong buat apa? Buat anak yang gak aku rencanakan?! Buat anak yang kamu bilang, hasil dari malam yang aku bahkan gak inget?!" Nathan jalan mendekat, suaranya naik. "Kamu tau gak Naura, sampe sekarang aku masih ragu itu anak aku atau bukan!"

Kata-kata Nathan kayak tamparan keras.

Naura menatap Nathan dengan mata berkaca kaca. "Kamu ragu kalo itu anak kamu?"

"Iya aku ragu! Gimana aku gak ragu, aku gak inget malam itu! kamu bisa aja bohong! kamu bisa aja hamil dari pria lain terus ngaku itu anak aku biar dapet uang lebih!" Nathan berteriak makin keras.

"NATHAN!" Naura juga ikut berteriak, emosinya meledak. "Gimana kamu bisa ngomong kayak gitu?! Aku gak pernah sama pria lain, aku cuma sama kamu! Cuma kamu yang pernah sentuh aku!"

"Aku gak percaya!"

"Kenapa kamu gak percaya?! Apa karena kamu terlalu sibuk sama Mahira, sampai gak peduli sama istri kamu sendiri?!" Naura nangis keras sekarang. "Kamu tau gak Nathan, waktu aku bilang aku hamil, kamu langsung kabur ke pelukan Mahira! Kamu tidur sama dia di hotel! kamu lebih pilih dia daripada istri yang lagi mengandung anak kamu!"

Nathan menggenggam meja keras. "Aku tidur sama Mahira, karena aku cinta dia, bukan kamu!"

"Dan itu bikin kamu jadi suami yang baik?! bikin kamu jadi calon ayah yang baik?!" Naura mendekati Nathan, tangannya menunjuk dada Nathan. "Bayi ini ada Nathan! mau kamu percaya atau engga, bayi ini darah daging kamu! dan kamu ga punya hak ngomong aku bohong!"

"AKU MABUK MALAM ITU!" Nathan berteriak. "Aku ga sadar! aku ga sengaja! aku pikir kamu itu Mahira!"

Kata kata terakhir Nathan bikin Naura berhenti napas. Dia pikir Naura itu Mahira, jadi Nathan bahkan waktu menyentuh Naura, yang dia bayangin itu Mahira.

"Kamu menjijikkan," Naura berbisik dengan suara bergetar. "Kamu bener-bener menjijikkan Nathan."

"Terserah kamu mau bilang apa." Nathan ngambil kunci mobil. "Aku gak mau dengerin ini lagi, aku mau pergi."

"KAMU SELALU PERGI!" Naura berteriak. "Setiap ada masalah kamu lari! kamu pengecut Nathan! pengecut yang gak berani bertanggung jawab!"

Nathan berbalik, menatap Naura dengan tatapan dingin yang bikin Naura merinding. "Aku gak pernah minta tanggung jawab ini, kamu yang maksa masuk ke hidup aku dengan pernikahan kontrak sialan ini!"

"AKU YANG MAKSA?! KAMU YANG BUTUH ISTRI BUAT WARISAN!" Naura jalan mendekat lagi. "Jangan balikin fakta Nathan! kamu yang butuh aku! bukan sebaliknya!"

Nathan menggenggam gagang pintu keras. "Aku udah bosen ngomong sama kamu."

BRAK!

Nathan keluar dan banting pintu keras banget sampe kaca di dinding bergetar. Naura jatuh berlutut di lantai ruang makan, menangis sambil memeluk perutnya.

"Maafkan mama, Sayang," dia berbisik. "Papa kamu jahat, papa kamu gak mau kamu."

***

Nathan nyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tangannya gemetar di setir, otaknya penuh dengan kata-kata Naura.

Hamil.

Ngidam.

Anak kamu.

Semuanya bikin Nathan pusing, dia gak mau mikirin itu. Gak mau hadapi kenyataan, bahwa dia bakal jadi ayah, dari wanita yang gak dia cintai.

Nathan sampai di kantor jam delapan pagi, masuk ke ruangannya dan langsung kunci pintu.

Duduk di kursi dengan kepala ditundukkan, napasnya berat. Tiba-tiba pintu di ketuk pelan.

"Nathan? kamu di dalam?" suara Mahira dari luar.

Nathan langsung mebuka pintu, Mahira masuk dengan dress merah ketat yang nunjukin lekuk tubuhnya, makeup perfect, rambut terurai, wangi parfum mahal menyebar.

"Sayang, kamu keliatan stress." Mahira nutup pintu dan kunci dari dalam. "Ada apa?"

"Naura, dia ngomel, dan pagi-pagi sudah ngidam, soal bayi, aku capek Mahira." Nathan duduk lagi di kursi, ngusap wajahnya kasar.

Mahira jalan ke belakang kursi Nathan, tangannya mulai pijit pundak Nathan dari belakang.

"Kasian banget kamu, Sayang," Mahira berbisik di telinga Nathan. "Kamu pasti capek banget ya."

Tangan Mahira turun dari pundak ke dada Nathan, mengelus pelan lewat kemeja.

Nathan menegang. "Mahira, ini kantor."

"Aku tau," Mahira mencium leher Nathan dari belakang, bibirnya bergerak pelan di kulit Nathan. "Tapi pintunya udah dikunci, gak ada yang tau."

Mahira terus cium leher Nathan, tangannya mulai buka kancing kemeja Nathan satu per satu.

"Mahira," Nathan berbisik tapi gak nolak.

"Sssttt..." Mahira memutar kursi Nathan supaya menghadapnya, dia duduk di pangkuan Nathan dengan kaki mengangkang. "Hidangkan semua kerisauan mu hari ini, aku milikmu."

Mahira mencium bibir Nathan, lidahnya masuk eksplorasi mulut Nathan yang langsung bales ciuman dengan sama laparnya.

Tangan Nathan memeluk pinggang Mahira, menarik tubuhnya lebih deket.

Mahira menggelinjang di pangkuan Nathan, merasakan kejantanan Nathan yang mulai mengeras di bawah sana.

"Hmmmm.... Sayang, udah siap nih." Mahira menggigit bibir bawah Nathan main main.

Nathan mengangkat Mahira dan bawa ke meja kerjanya, barang barang di meja disapu jatuh ke lantai, laptop, dokumen, semua berantakan tapi Nathan gak peduli.

Mahira duduk di pinggir meja, kaki terbuka, Nathan berdiri di antaranya.

"Kunci pintu nya udah kan?" Nathan bertanya sambil napas berat.

"Udah sayang," Mahira menarik Nathan lebih deket dengan kaki yang melingkar di pinggang Nathan.

Nathan mencium Mahira lagi, lebih agresif, tangannya meremas bokong Mahira lewat dress tipis itu.

Mahira mendesah dalam ciuman, tangannya sibuk buka ikat pinggang Nathan. Nathan menarik dress Mahira ke atas, ternyata Mahira ga pake celana dalam.

"Nakal," Nathan berbisik dengan senyum tipis.

"Aku sengaja ga pake buat kamu sayang." Mahira menarik Nathan untuk cium lagi.

Tangan Nathan turun ke antara kaki Mahira, jarinya mulai bermain di sana, masuk perlahan.

"Ahhhh Nathan," Mahira mendesah keras, kepalanya menengadah.

Nathan terus mainkan jarinya, keluar masuk dengan ritme yang bikin Mahira menggelinjang keenakan.

"Kamu udah basah banget," Nathan berbisik di telinga Mahira sambil gigit pelan daun telinga.

"Karena... ahhh... karena aku udah membayangkan ini dari tadi pagi." Mahira terisak nikmat.

Nathan menarik jarinya keluar, menjilat jarinya sendiri sambil menatap mata Mahira.

"Manis," Nathan bilang dengan suara yang serak penuh gairah.

Mahira menarik celana Nathan turun beserta celana dalamnya, kejantanan Nathan yang udah keras banget, kini keluar dengan bebas.

"Besar banget, Sayang," Mahira memegang dengan kedua tangan, menggerakkan naik turun perlahan.

"Fuckk!" Nathan menggeram, pinggulnya bergerak maju mundur mengikuti gerakan tangan Mahira.

Mahira turun dari meja, berlutut di depan Nathan, memasukkan kejantanan Nathan ke mulutnya.

"Shittt... Mahira," Nathan memegang kepala Mahira, menggerakkan pinggul lebih cepat.

Mahira mengulum dengan sempurna, lidahnya bergerak nakal, tangannya meremas bola kembar Nathan.

Nathan menarik Mahira berdiri lagi sebelum dia klimaks di mulut Mahira.

"Naik," Nathan duduk di kursi besarnya.

Mahira naik ke pangkuan Nathan, memposisikan dirinya di atas kejantanan Nathan yang berdiri tegak. Perlahan Mahira turun, memasukkan kejantanan Nathan ke dalam dirinya.

"Ahhhhhhh!" Mahira menjerit nikmat, tangannya mencengkram pundak Nathan.

"Fuckk kamu ketat banget." Nathan menggeram, tangannya memegang pinggang Mahira keras.

Mahira mulai bergerak, naik turun dengan ritme yang mulai cepat, payudaranya bergoyang goyang di depan wajah Nathan.

Nathan mencium dan mengulum payudara Mahira bergantian, lidahnya bermain di puting yang sudah mengeras.

"Ahhh... Nathan.. lebih cepat, Sayang... ahhh..." Mahira meminta sambil terus bergerak.

Nathan membantu gerakan Mahira dengan menggerakkan pinggulnya ke atas, meeting setiap gerakan turun Mahira.

Kursi berderit keras, suara tubuh mereka yang bertabrakan memenuhi ruangan.

"Ahhh aku... aku mau keluar..." Mahira mendesah keras.

"Tahan... Kita keluar bareng..." Nathan berbisik sambil napas tersengal.

Beberapa gerakan lagi mereka klimaks bersamaan, Mahira menjerit nama Nathan, Nathan menggeram sambil mengeluarkan semuanya di dalam Mahira.

Mahira kolaps di dada Nathan, napas mereka sama-sama berat. Tapi Nathan belum puas, dia mengangkat Mahira dan merebahkannya di meja, kali ini Nathan yang di atas.

"Belum selesai sayang," Nathan berbisik dengan senyum nakal.

Dia memasukkan lagi kejantanannya yang masih keras ke dalam Mahira.

"Ahhh... Nathan..." Mahira menggelinjang.

Nathan bergerak lebih cepat kali ini, lebih keras, meja bergoyang goyang, barang barang jatuh ke lantai tapi mereka ga peduli.

Nathan mengangkat kaki Mahira ke bahunya, penetrasi jadi lebih dalam.

"AHHHHH NATHAN!" Mahira menjerit keenakan, tangannya mencakar meja.

"Kamu suka sayang?" Nathan bertanya sambil terus bergerak cepat.

"Sukaaaa... ahhh... aku suka banget," Mahira menjawab di antara desahannya.

Nathan terus bergerak sampai mereka klimaks lagi untuk kedua kalinya.

Nathan mengeluarkan lagi di dalam Mahira. Mereka berbaring di meja sebentar, napas tersengal.

"Lagi.." Nathan berbisik.

"Apa?" Mahira melirik dengan mata setengah terbuka.

"Aku mau lagi..." Nathan sudah keras lagi.

Mahira tersenyum, memeluk leher Nathan. "Ayo sayang... aku siap."

Mereka berpindah ke sofa di sudut ruangan, kali ini dengan posisi berbeda, Mahira menungging, Nathan di belakang.

Nathan memasukkan dari belakang, tangannya memegang pinggang Mahira keras.

"Ahhhh... lebih dalam Nathan. Lebih dalam." Mahira meminta.

Nathan menuruti, bergerak lebih dalam, lebih cepat, sampai akhirnya mereka klimaks untuk ketiga kalinya.

Nathan mengeluarkan lagi di dalam Mahira, semuanya tumpah di dalam. Mereka kolaps di sofa, tubuh berkeringat, napas berat. Nathan tiba-tiba sadar apa yang dia lakukan.

"Shit... aku keluar di dalam tiga kali." Nathan panik. "Kamu bisa hamil Mahira."

Mahira tertawa pelan, memeluk Nathan. "Tenang sayang, aku lagi gak di masa subur jadi aman."

"Kamu yakin?"

"Iya, aku udah hitung, masa subur ku masih seminggu lagi." Mahira mengecup bibir Nathan. "Lagian kalau aku mau lagi, kamu siap kan?"

Nathan menatap Mahira, kejantanannya yang baru saja lemas mulai bereaksi lagi.

"Kamu serius?"

"Sangat serius." Mahira tersenyum nakal.

Dan mereka melakukannya lagi, di ruangan kantor yang terkunci. Sementara di mansion, Naura masih menangis sendirian. Dengan bayi di perutnya, yang tidak diakui ayahnya.

Dengan hati yang semakin hancur, dengan harapan yang semakin menipis. Dan tidak tahu bahwa suaminya sedang bercinta panas dengan wanita lain.

Tanpa rasa bersalah, tanpa memikirkan istrinya yang sedang hamil. Tanpa memikirkan bayi yang tidak bersalah.

Nathan tenggelam dalam kenikmatan sesaat dengan Mahira. Melupakan segalanya, melupakan tanggung jawabnya.

Melupakan Naura yang menunggu, dan Mahira tersenyum di dalam hati. Rencananya berjalan sempurna, Nathan semakin terikat padanya, dan tidak bisa lepas. Bahkan, Nathan semakin jatuh ke dalam perangkapnya.

1
Sumiyatun Martoyo
aassssw
Queen of Mafia: Apaan tuh?🤔
total 1 replies
Masitoh Masitoh
rsjin2 upnya thor
Queen of Mafia: iya, siap kak🙏🙏
total 1 replies
Alina Bams
ceweknya terlalu lemah thor dan mudah di bodohin
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
Isma Nayla
kenapa sih naura gk pergi aja thor
ada laki2 lain yg perhatian dn menjaga,kenapa gk sm laki2 itu
lagian nathan jg selingkuh lbh baik naura pergi menjauh dari nathan.
Queen of Mafia: rintangan dikit kak/Shy/
total 1 replies
Isma Nayla
klu sdh tau suami kayak gtu,mendingan tinggalin sj.
daripd sakit hati tiap hari.
suami yg blm lepas dr masa lalunya gk akn percaya sm omongan istri sah nya.
buat apa tetap cinta dn bertahan.
pergi,cari kebahagiaanmu bersama anakmu sj
Fitri Yani
saraff memang Mahira
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
Masitoh Masitoh
kasihan bumil terlalu rapuh masih bertahan
Masitoh Masitoh
semangat authorr💪💪
Queen of Mafia: mkasih kak🙏
total 1 replies
Fitri Yani
sering sering up
Queen of Mafia: siap kak☺🙏
total 1 replies
Masitoh Masitoh
rajin up dong author..kelamaan nunggu
Queen of Mafia: hehe maaf ya kak☺
total 1 replies
Masitoh Masitoh
semoga Naura baik2 saja..pergi mulakan hidup baru..buat nathan menyesal
Queen of Mafia: jangan bertahan dengan laki2 seperti Nathan ya kak🤭
total 1 replies
falea sezi
pergi jauh naura
Esma Sihombing
cerita kehidupan yg sangat menarik
Queen of Mafia: mkasih kak🙏
total 1 replies
Fitri Yani
pergi aza Naura untuk menjaga kewarasan mu,dan bayi mu, buat Nathan menyesal
falea sezi
minta cerai aja dan pergi jauh biarkan penghianat bersatu nanti jg karma Tuhan yg berjalan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!