NovelToon NovelToon
A Love That Grows

A Love That Grows

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / Nikahmuda / CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:917
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Yura, 23 tahun, adalah seorang wanita cerdas, cantik, dan tulus. Setelah kehilangan ayahnya yang selalu menjadi inspirasinya, Yura memutuskan untuk mewujudkan mimpi lama mereka membuka toko kue Prancis yang pernah ayahnya impikan.
Namun, langkahnya tak semulus yang ia kira. Di dunia bisnis, ia bertemu Arkan, CEO tajir, dingin, dan terlalu posesif. Pria yang selama ini menutup hati dari semua wanita tiba-tiba tertarik pada Yura bukan karena bisnis, tapi karena ketulusan dan keberanian yang jarang ia temui.
Pertemuan pertama mereka di restoran biasa berubah menjadi serangkaian kejadian tak terduga: mulai dari pertolongan Yura pada orang tua dan ibu hamil, hingga pertemuan bisnis yang membuat batas profesional mereka teruji.
Bisnis, mimpi, dan rasa kehilangan bercampur menjadi satu, ketika Yura harus memilih antara menjaga mimpinya, menghadapi masa lalunya, dan… menghadapi seorang pria yang mulai terlalu ingin memilikinya.
Apakah Yura akan menyerah pada bisnis dan mimpi ayahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 Permainan Berbahaya di Balik Layar Kantor Arkan Malam Itu

Arkan duduk di balik meja kerjanya, menatap layar laptop dengan ekspresi dingin.

Di depannya, Bagas berdiri dengan tablet di tangan wajahnya tegang."Pak… ada informasi penting," kata Bagas hati-hati.

Arkan mengangkat kepala. "Bicara."

Bagas menarik napas. "Seseorang… sedang menyelidiki Anda. Mengakses arsip lama. Termasuk… laporan tahun 2019."

Arkan terdiam. Rahangnya mengeras."Siapa?"

Bagas menunjukkan layar tablet foto Adrian dengan data lengkap.

Adrian Mahesa

Inspektur Polisi Divisi Investigasi Kriminal

Relasi dengan Yura: Teman dekat

Arkan menatap foto itu lama.

Lalu ia tertawa kecil pendek, dingin. "Jadi… dia yang sering mampir ke toko Yura."

Bagas mengangguk. "Iya, Pak. Sepertinya… dia mencoba melindungi Nona Yura dari Anda."

Arkan menutup laptop dengan pelan, lalu bersandar ke kursi tatapannya gelap, tapi tenang. "Dia mencari apa?"

"Laporan lama. Kasus yang… Anda buat sendiri, Pak," jawab Bagas hati-hati.

Arkan mengangguk pelan. "Laporan palsu."

Bagas terdiam. Ia tahu semua laporan itu memang rekayasa.

Flashback Singkat Mengapa Arkan Merekayasa Laporannya Sendiri

Beberapa tahun lalu, Arkan menyadari satu hal: Terlalu banyak orang yang tertarik padanya. Bukan karena cinta. Bukan karena ketulusan. Tapi karena uang. Kekuasaan. Status.

Wanita-wanita yang mendekatinya hanya ingin menjadi "Nyonya Mahendra". Mereka tidak peduli siapa dirinya hanya peduli apa yang bisa mereka dapatkan.

Dan Arkan… muak.

Jadi ia membuat rencana. Ia merekayasa beberapa laporan palsu tentang dirinya laporan yang cukup menakutkan untuk membuat orang berpikir dua kali sebelum mendekatinya. Laporan pelecehan. Laporan intimidasi. Laporan obsesi. Semua palsu. Semua dibuat dengan sengaja.

Agar orang-orang yang hanya mengincar hartanya… menjauh. Dan itu berhasil.

Tidak ada lagi wanita yang berani mendekatinya dengan niat murahan. Tapi… ada satu efek samping yang tidak ia perhitungkan:

Wanita yang benar-benar jujur… juga menjauh.

Seperti Yura.

Arkan membuka laci mejanya, mengeluarkan sebuah dokumen tebal. Dokumen asli bukti bahwa semua laporan itu adalah rekayasanya sendiri. Ia menatap dokumen itu lama, lalu menatap Bagas. "Urus dia," kata Arkan dingin. "Tapi jangan sampai Yura tahu."

Bagas menelan ludah. "Pak… maksud Anda…?"

Arkan menatapnya tajam. "Aku tidak mau dia terluka. Tapi aku juga tidak mau dia terus dipengaruhi oleh pria itu."

Bagas mengangguk pelan. "Baik, Pak. Saya akan… bicara dengan Inspektur Adrian. Secara… profesional."

Arkan tersenyum tipis dingin. "Bagus. Pastikan dia mengerti… kalau dia tidak boleh ikut campur."

Keesokan Harinya Adrian Dipanggil ke Kantor Pusat Polisi Adrian sedang duduk di mejanya saat atasannya memanggilnya."Adrian, ke ruanganku. Sekarang."

Adrian mengerutkan dahi, tapi ia mengikuti.

Begitu masuk, ia melihat seorang pria berjas hitam berdiri di samping atasannya Bagas.

"Inspektur Adrian," sapa Bagas dengan senyum sopan tapi matanya dingin. "Saya Bagas, asisten pribadi Pak Arkan Mahendra."

Adrian menegang. "Ada apa?"

Atasannya Komisaris Joko menatap Adrian dengan ekspresi serius. "Adrian, kau… sedang menyelidiki seseorang tanpa izin resmi?"

Adrian terdiam. "Saya… hanya mencari informasi untuk melindungi teman saya."

Bagas tersenyum tipis. "Inspektur Adrian, saya mengerti kekhawatiran Anda. Tapi… informasi yang Anda akses itu… tidak akurat."

Adrian menatapnya tajam. "Tidak akurat? Itu laporan resmi!"

Bagas mengeluarkan sebuah dokumen dari tas kerjanya, lalu meletakkannya di meja. "Ini… dokumen asli. Semua laporan yang Anda temukan… adalah rekayasa yang dibuat oleh Pak Arkan sendiri. Untuk tujuan… perlindungan privasi."

Adrian melongo. "Apa?"

Bagas mengangguk. "Pak Arkan… sering menjadi target orang-orang yang hanya mengincar hartanya. Jadi beliau membuat beberapa laporan palsu agar orang-orang yang tidak tulus… menjauh."

Adrian menatap dokumen itu ada stempel resmi, ada tanda tangan notaris, ada bukti bahwa laporan-laporan itu memang direkayasa dengan sengaja.

"Jadi… semua ini… bohong?" tanya Adrian tidak percaya.

Bagas tersenyum tipis. "Ya. Semua bohong. Dan Pak Arkan… tidak pernah melakukan apa yang Anda pikir dia lakukan."

Adrian terdiam.

Pikirannya kacau.

Jadi… Arkan tidak berbahaya?

Jadi… aku salah?

Bagas melanjutkan dengan nada halus tapi mengancam. "Inspektur Adrian… saya harap Anda bisa… menghentikan penyelidikan ini. Karena kalau tidak… Pak Arkan bisa menuntut Anda atas pencemaran nama baik."

Adrian menegang. "Anda… mengancam saya?"

Bagas tersenyum dingin.

"Bukan ancaman. Hanya… peringatan. Pak Arkan sangat menghargai privasi. Dan saya yakin… Anda juga tidak ingin karir Anda terganggu karena… kesalahpahaman."

Komisaris Joko menatap Adrian dengan tatapan memperingatkan. "Adrian. Hentikan penyelidikan ini. Itu perintah."

Adrian mengepalkan tangannya frustrasi, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. "Baik… Pak," jawabnya akhirnya.

Bagas tersenyum puas, lalu berdiri.

"Terima kasih atas pengertiannya, Inspektur. Semoga… kita tidak perlu bertemu lagi dalam konteks seperti ini." Lalu ia pergi meninggalkan Adrian yang berdiri sendirian dengan pikiran penuh.

Di Toko Yura Yura Memutuskan untuk Tidak Ikut Campur

Sore itu, Yura duduk sendirian di tokonya yang sudah tutup.

Ia menatap cangkir teh di tangannya, pikirannya penuh dengan semua yang Adrian katakan kemarin.

Arkan berbahaya.

Dia punya masa lalu yang gelap.

Aku harus menjauh.

Tapi… kenapa ia tidak bisa berhenti memikirkan ekspresi Arkan kemarin?

Kenapa ia masih merasa… ada sesuatu yang jujur di balik semua itu?

Yura menarik napas panjang, lalu berbisik pada dirinya sendiri. "Aku… tidak berhak ikut campur atas masa lalu seseorang." Ia menatap langit-langit."Aku juga punya masa lalu. Hal-hal yang tidak ingin aku ungkit. Hal-hal yang… membentukku jadi seperti ini."

Ia menutup matanya."Dan hubungan aku dengan Arkan… tidak akan pernah lebih dari ini."

Ia membuka matanya tatapannya tegas. "Aku tidak akan jatuh cinta padanya. Aku tidak akan terjebak lagi dalam dunia yang pernah membuatku lelah."

Tapi meski ia bilang begitu... Ada sesuatu di dadanya yang terasa… berat. Sesuatu yang ia coba abaikan. Sesuatu yang mungkin… sudah terlambat untuk dihentikan.

Malam Itu Arkan Menatap Toko Yura dari Jauh

Arkan duduk di mobilnya, menatap toko Yura yang sudah gelap. Ia tahu Yura sudah pulang. Ia tahu Adrian sudah diberi peringatan. Tapi… ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa pulang. Ia hanya… ingin tahu kalau Yura baik-baik saja.

Bagas duduk di depan, diam-diam melirik kaca spion. "Pak… kita sudah di sini hampir satu jam."

Arkan tidak menjawab.

Bagas menarik napas. "Pak… apa Anda yakin… ini cara yang benar?"

Arkan akhirnya bicara pelan, tapi tegas. "Aku tidak tahu cara yang benar, Bagas. Aku hanya tahu… aku tidak bisa kehilangan dia."

Bagas terdiam.

Lalu Arkan tersenyum tipis pahit. "Dan aku akan melakukan apa pun… untuk memastikan tidak ada yang mengambilnya dariku."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!