NovelToon NovelToon
MENAKLUKAN HATI SI JENIUS DINGIN

MENAKLUKAN HATI SI JENIUS DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Idola sekolah / Enemy to Lovers / Cintapertama
Popularitas:126
Nilai: 5
Nama Author: alfphyrizhmi

"Kamu emang jenius, kenapa dingin banget sih?"
"Gapapa."
"Gapapa apanya? kamu tuh dingin kayak... Es krim ini."
"Iya. Es krim itu juga kan.... manis."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alfphyrizhmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB — 07

BAB 07 — Sabotase

Pagi itu hujan turun rintik-rintik di Jakarta, menciptakan suasana melankolis di SMA Pelita Bangsa. Kaca-kaca jendela kelas berembun. Suhu AC sentral terasa menusuk tulang.

Mayang datang lebih pagi dari biasanya. Dia meletakkan payung lipat murahnya di rak depan kelas. Payung itu berwarna biru norak, hadiah dari toko sabun colek, kontras dengan payung-payung transparan estetik milik siswa lain.

Dia duduk di bangkunya, membuka buku catatan kas kecil yang selalu dia bawa. Buku tulis bersampul batik yang ujungnya sudah melengkung.

Dia menghitung sisa uang di dompetnya. Ongkos pulang: 5.000. Beli LKS Biologi: 35.000. Sisa: 2.000.

Mayang menghela napas. Dia harus puasa hari ini. Tidak ada jatah makan siang.

Di seberang ruangan, Vivie sedang berbisik-bisik dengan Sarah. Matanya sesekali melirik tajam ke arah Mayang. Sejak insiden tinta kemarin, Vivie menjadi paranoid. Setiap kali pintu kelas terbuka, dia takut Vino masuk dan menyeretnya ke ruang BK.

Tapi Vino tidak melakukan apa-apa. Dan diamnya Vino itu jauh lebih menakutkan bagi Vivie. Itu seperti menunggu bom waktu.

“Lo yakin rencana ini aman, Vie?” bisik Sarah ragu. “Kalau Vino tahu lagi gimana?”

“Vino nggak bakal tahu,” desis Vivie. “Ini ranah Tata Usaha. Bukan ranah OSIS. Lagian, gue nggak ngapa-ngapain fisiknya. Gue cuma melaporkan keresahan masyarakat sekolah.”

Vivie tersenyum miring. Dia melihat jam tangan Michael Kors-nya. “Tunggu aja. Lima menit lagi.”

Benar saja. Tepat pukul 07.15, seorang staf Tata Usaha berseragam biru masuk ke kelas X-1.

“Permisi. Mayang Sari?”

Mayang mengangkat tangan. Jantungnya berdesir. “Saya, Pak.”

“Dipanggil Bu Ratna, Kepala Bagian Keuangan. Sekarang.”

Kelas seketika hening. Panggilan dari Bagian Keuangan bagi murid beasiswa adalah sinyal bahaya level satu.

Naufal menoleh, wajahnya khawatir. “May? Ada apa lagi?”

“Nggak tahu,” jawab Mayang pelan. Dia membereskan bukunya, berdiri, dan berjalan mengikuti staf itu.

Saat melewati meja Vivie, Mayang mendengar gumaman pelan. “Bye-bye, Parasit.”

Mayang tidak menoleh. Dia terus berjalan. Kakinya terasa berat, seolah ada batu yang diikatkan di pergelangan kakinya.

Ruang Tata Usaha (TU) Keuangan berbau kertas uang dan pengharum ruangan aroma lemon yang menyengat. Di balik dinding kaca, Bu Ratna duduk. Wanita paruh baya dengan sanggul tinggi dan kacamata yang melorot di hidung. Wajahnya judes, tipikal birokrat yang memegang kunci brankas.

“Duduk,” perintah Bu Ratna tanpa basa-basi.

Mayang duduk di kursi hadapan Bu Ratna. AC di ruangan ini lebih dingin dari kelas. Mayang merapatkan jaket almamaternya.

Di meja Bu Ratna, ada sebuah amplop cokelat. Dan selembar foto.

“Mayang Sari. Penerima Beasiswa Prestasi Kategori C (Ekonomi Lemah),” Bu Ratna membaca data di layar komputernya. “Ayah meninggal. Ibu tidak ada. Wali: Budhe Sumiati. Pekerjaan: Pedagang Kaki Lima.”

“Benar, Bu,” jawab Mayang.

Bu Ratna melepaskan kacamatanya. Dia menatap Mayang dengan tatapan menyelidik.

“Kamu tahu aturan utama beasiswa Kategori C?”

“Mempertahankan nilai rata-rata 85, berkelakuan baik, dan...” Mayang ragu sejenak, “...kondisi ekonomi belum membaik.”

“Tepat,” potong Bu Ratna. “Kondisi ekonomi belum membaik. Artinya, jika kamu tiba-tiba kaya, atau ternyata kamu memalsukan data kemiskinan kamu, beasiswa dicabut sepihak. Dan kamu harus mengembalikan dana yang sudah terpakai. Totalnya sekitar lima puluh juta rupiah.”

Lima puluh juta. Dunia Mayang terasa berputar. Angka itu mustahil. Jualan bubur sepuluh tahun pun belum tentu terkumpul segitu.

“Saya tidak memalsukan data, Bu. Saya masih... seperti dulu,” suara Mayang serak.

Bu Ratna mendengus. Dia mendorong selembar foto di mejanya ke arah Mayang.

“Lalu jelaskan ini.”

Mayang mengambil foto itu. Itu foto candid. Foto Mayang sedang dibonceng Naufal naik Vespa kuning sepulang sekolah kemarin (saat Naufal memaksanya mengantar ke depan gang karena hujan). Di foto itu, Mayang terlihat tertawa memegang helm mahal Naufal.

Lalu ada foto lain. Mayang sedang makan Lasagna di kantin (yang ditraktir Naufal sebelum insiden siram jus).

“Ada laporan masuk dari wali murid,” kata Bu Ratna dingin. “Katanya ada siswa beasiswa miskin yang gaya hidupnya hedon. Naik motor Vespa seharga 60 juta, makan menu kantin harga 70 ribu. Orang tua murid yang bayar SPP penuh merasa keberatan subsidi mereka dipakai untuk gaya-gayaan anak beasiswa.”

Mayang ternganga. Fitnah ini begitu rapi. Konteksnya dipelintir habis-habisan.

“Bu, itu salah paham,” Mayang mencoba membela diri. “Motor itu punya Naufal. Saya cuma nebeng sampai depan gang karena hujan. Makanan itu... Naufal yang beli karena kelebihan, dia kasih ke saya.”

“Naufal, Naufal, Naufal,” Bu Ratna mengetuk-ngetuk meja. “Selalu ada alasan. Tapi bukti visual ini menunjukkan kamu menikmati fasilitas mewah. Kami curiga kamu punya sugar daddy atau pendapatan tersembunyi yang tidak dilaporkan.”

Kata sugar daddy membuat wajah Mayang merah padam karena marah dan malu.

“Saya jualan bubur, Bu! Tiap pagi! Ibu bisa cek!”

“Bisa saja itu cuma kedok. Buktinya kamu bisa jajan mahal,” Bu Ratna tidak mau kalah. “Kami perlu audit. Kalau kamu tidak bisa membuktikan aliran dana kamu hari ini juga, saya akan bekukan status siswa kamu sementara.”

Mayang gemetar. Audit? Bagaimana caranya dia membuktikan dia tidak punya uang? Bukankah kemiskinan itu sendiri sudah bukti?

Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka.

“Bu Ratna, tanda tangan pencairan dana proposal Science Club.”

Suara itu. Datar. Tanpa emosi.

Vino masuk. Dia membawa map biru. Dia tidak melihat ke arah Mayang, langsung menuju meja Bu Ratna.

“Sebentar, Vino. Saya lagi interogasi kasus penyalahgunaan beasiswa,” kata Bu Ratna, nada suaranya berubah manis pada anak pemilik yayasan itu.

Vino meletakkan mapnya. Dia melirik sekilas ke foto-foto di meja.

“Foto resolusi rendah. Angle diambil dari jarak 15 meter. Sepertinya diambil pakai iPhone 13 ke atas. Siapa pelapornya?” tanya Vino santai.

“Anonim. Lewat kotak saran,” jawab Bu Ratna.

Vino mengambil foto Mayang di atas Vespa. “Ini Vespa Naufal. Plat nomor B 45 KET. Naufal itu boros bensin, tapi pelit helm. Kalau dia kasih pinjam helm ke cewek, berarti itu kondisi darurat atau dia lagi pedekate.”

Vino melempar foto itu kembali ke meja. “Itu bukan aset Mayang. Itu aset Naufal. Ibu menuduh Mayang kaya karena dia dibonceng orang kaya? Kalau saya bonceng kucing liar pakai Ferrari bapak saya, apa kucing itu jadi wajib bayar pajak?”

Bu Ratna terdiam, skakmat oleh logika Vino. “Ta-tapi... makanannya? Dia makan Lasagna.”

Vino menatap Mayang. Kali ini tatapannya tajam.

“Lo beli Lasagna itu?” tanya Vino pada Mayang.

“Nggak, Kak. Dikasih,” jawab Mayang menunduk.

“Punya bukti lo nggak punya duit buat beli itu?” kejar Vino.

Mayang diam. Bagaimana membuktikan ketiadaan?

“Buka tas lo,” perintah Vino.

“Apa?”

“Buka tas lo. Keluarin semua isinya. Sekarang.”

Mayang ragu. Tapi tatapan Vino tidak memberi pilihan. Dengan tangan gemetar, Mayang membuka resleting tasnya. Dia menumpahkan isinya ke meja kaca Bu Ratna.

Buku paket lusuh. Kotak pensil plastik. Botol air minum bekas yang sudah baret-baret. Dan... Buku Kas Kecil bersampul batik.

Vino tidak menyentuh buku paket. Dia langsung mengambil Buku Kas Kecil itu.

“Apa ini?” tanya Bu Ratna jijik melihat buku yang agak berminyak itu.

“Buku Kas Bubur Ayam Barokah,” jawab Mayang pelan. “Saya catat semua di situ. Pemasukan, pengeluaran. Sampai uang parkir dua ribu perak pun saya catat.”

Vino membuka buku itu.

Halaman demi halaman penuh dengan tulisan tangan Mayang yang rapi dan kecil-kecil.

Tanggal 10 Juli: Masuk: 250.000 (Jual 25 porsi) Keluar: 100.000 (Belanja ayam & beras) Keluar: 50.000 (Setor Budhe) Keluar: 20.000 (Listrik token) Keluar: 5.000 (Angkot) Saldo: 75.000

Tanggal 11 Juli: Masuk: 180.000 (Hujan, sepi) Keluar...

Vino membalik halaman terus menerus. Dia membaca dengan cepat. Matanya yang biasa bosan, kini terlihat... kagum.

Dia berhenti di halaman hari ini.

Tanggal 15 Juli: Sisa Saldo: 2.000 rupiah. Catatan: Puasa senin-kamis (hemat).

Vino menutup buku itu. Bunyinya plak pelan.

Dia menatap Bu Ratna.

“Ibu tahu apa definisi akuntansi yang baik?” tanya Vino.

“Pencatatan yang... rapi?” jawab Bu Ratna ragu.

“Transparansi,” koreksi Vino. “Dan akuntabilitas.”

Vino mengangkat buku lecek itu tinggi-tinggi.

“Buku ini lebih rapi daripada laporan keuangan OSIS yang sering dikorup divisi perlengkapan. Arus kasnya jelas. Cash flow-nya positif meski margin tipis. Dan yang paling penting...”

Vino menunjuk angka '2.000' di halaman terakhir.

“...tidak ada transaksi pembelian Lasagna atau bensin Vespa di sini. Kalau dia beli Lasagna 70 ribu, neracanya bakal minus. Dan dia bakal mati kelaparan besoknya.”

Vino meletakkan buku itu kembali ke depan Mayang.

“Matematika tidak pernah bohong, Bu Ratna. Gadis ini miskin. Sangat miskin. Tapi dia jujur. Dia manajer keuangan yang lebih baik dari separuh staf Ibu.”

Bu Ratna wajahnya memerah. Malu bukan main. Dia baru saja diajari audit oleh anak SMA.

“Jadi... laporannya tidak terbukti?” tanya Bu Ratna pelan.

“Laporannya sampah. Fitnah,” kata Vino tegas. “Saya sarankan Ibu shredder foto-foto ini. Dan cari tahu siapa yang kirim. Kalau ketahuan, saya yang akan lapor ke Yayasan soal pencemaran nama baik siswa.”

Bu Ratna buru-buru membereskan foto-foto itu. “Baik, Vino. Terima kasih masukannya. Mayang, kamu boleh kembali ke kelas.”

Mayang memasukkan kembali barang-barangnya ke dalam tas. Tangannya masih gemetar, tapi hatinya lega luar biasa. Dia mendekap buku kas batiknya. Buku itu—saksi bisu perjuangannya—baru saja menyelamatkan hidupnya.

“Terima kasih, Bu,” ucap Mayang sopan.

Dia berjalan keluar. Vino mengikuti di belakangnya setelah melempar map proposal ke meja Bu Ratna.

Di koridor luar TU yang sepi.

“Kak Vino,” panggil Mayang.

Vino berhenti berjalan, tapi tidak berbalik.

“Apa?”

“Makasih. Kakak selalu muncul di saat yang tepat. Kayak... malaikat pencabut nyawa tapi versi baik,” kata Mayang, mencoba bercanda untuk menutupi rasa gugupnya.

Vino berbalik perlahan. Dia memasukkan kedua tangan ke saku celana.

“Gue nggak nyelamatin lo,” kata Vino, mantra andalannya. “Gue cuma nggak suka data yang tidak valid. Tuduhan Bu Ratna tadi logical fallacy. Cacat logika.”

“Tetap saja. Kalau nggak ada Kakak, beasiswa saya mungkin dicabut.”

Vino menatap buku batik di pelukan Mayang.

“Buku itu,” tunjuk Vino dengan dagu. “Lo catat sendiri setiap hari?”

“Iya.”

“Lo nggak pernah tergoda buat mark-up? Misal, lapor ke Budhe lo beli ayam 50 ribu padahal cuma 40 ribu, sisanya buat jajan?”

Mayang menggeleng tegas. “Nggak akan. Itu uang haram. Nanti buburnya nggak barokah. Yang makan sakit perut.”

Vino terdiam. Alasan yang sangat tidak ilmiah: Barokah. Tapi hasilnya nyata: Integritas.

Vino melangkah maju satu langkah. Jarak mereka kini hanya satu meter. Mayang bisa mencium aroma parfum mahal Vino—Sandalwood dan Citrus.

“Mayang Sari,” panggil Vino. Suaranya rendah.

“Iya, Kak?”

“Lo punya bakat. Orang miskin biasanya cuma punya dua pilihan: jadi kriminal karena terdesak, atau jadi sangat teliti karena takut. Lo pilih yang kedua.”

Vino mengeluarkan dompet kulitnya. Dia mengambil selembar uang lima puluh ribu.

Dia menyodorkan uang itu ke Mayang.

Mayang mundur selangkah, tersinggung. “Saya nggak minta sedekah, Kak.”

“Bukan sedekah. Ini investasi,” kata Vino. Dia meraih tangan Mayang, memaksa meletakkan uang itu di telapak tangan gadis itu.

“Gue beli saham Bubur Ayam Barokah lo. 0,01 persen.”

“Hah? Saham?” Mayang bingung.

“Uang itu buat modal beli LKS Biologi yang lo tulis di buku tadi. Gue nggak mau nilai lo turun gara-gara nggak punya buku.”

“Tapi...”

“Anggap aja Angel Investor. Kalau lo sukses nanti, lo balikin uang ini plus dividen 10 persen per tahun. Deal?”

Mayang menatap uang biru di tangannya. Lalu menatap mata Vino. Tidak ada rasa kasihan di mata itu. Yang ada adalah tatapan bisnis. Tatapan percaya.

Mayang meremas uang itu. “Deal. Saya akan balikin 55 ribu tahun depan.”

“Bagus. Bunga berjalan mulai hari ini,” kata Vino.

Dia berbalik dan berjalan pergi menuju kelasnya.

Mayang menatap punggung tegap itu. Jantungnya berdetak dengan irama yang aneh.

Di balik tembok koridor, Vivie mengintip dengan napas tertahan. Dia mendengar semuanya. Dia melihat Vino memberikan uang ke Mayang. Dia melihat Vino membela Mayang di TU.

Rencana sabotase-nya gagal total. Malah membuat hubungan Vino dan Mayang semakin aneh dan kuat.

“Sialan,” desis Vivie. Air mata kemarahan menetes. “Lo pake dukun apa sih, Mayang?”

Siang harinya, di kantin.

Mayang tidak makan. Dia duduk di perpustakaan, membaca LKS Biologi yang baru saja dia beli di koperasi. Plastiknya baru dibuka. Baunya wangi buku baru.

Naufal datang, membawa roti.

“May, lo nggak apa-apa tadi di TU? Gue denger dari anak-anak lo dilaporin?”

Mayang menutup bukunya. Dia tersenyum tipis pada Naufal.

“Nggak apa-apa, Fal. Cuma salah paham data.”

“Syukur deh. Gue takut banget lo kenapa-napa. Nih roti. Makan ya.”

Mayang menerima roti itu. “Makasih, Fal.”

“Sama-sama. Eh, nanti sore jadi belajar bareng kan?”

“Jadi.”

Mayang memakan roti itu. Tapi pikirannya tidak pada Naufal yang duduk di depannya dengan senyum manis.

Pikirannya melayang pada cowok dingin yang tadi memaksanya menerima uang 50 ribu dengan dalih "Investasi Saham".

Di kejauhan, di meja pojok perpustakaan, Vino sedang membaca buku Financial Management for Dummies. Dia sesekali melirik ke arah Mayang.

Dia membuka ponselnya, mengetik di Notes PROJECT: M.S.

Observasi Hari 4: Integritas subjek teruji. Kemampuan akuntansi dasar: Excellent. Potensi: High Risk, High Return. Status: Aset yang perlu dilindungi.

Vino menutup ponselnya. Dia tidak sadar, dia sudah melanggar aturan utamanya sendiri: Jangan melibatkan perasaan dalam investasi. Karena yang dia lakukan barusan bukan investasi bisnis. Itu kepedulian.

Dan kepedulian adalah variabel paling tidak logis dalam matematika cinta.

Bersambung.......

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!