NovelToon NovelToon
Mengejar Mauren

Mengejar Mauren

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Gangster / Teen School/College / Persahabatan / Romansa / Kegiatan Olahraga Serba Bisa
Popularitas:807
Nilai: 5
Nama Author: jeffc

Novel ini berkisah tentang kehidupan SMA yang sarat dengan cinta- cintaan, persahabatan, persaingan antar geng di sekolah, dll. dengan latar belakang olah raga bela diri seperti karate, tinju, kick boxing, muathai dsb

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejadian-kejadian yang Tak Terduga

Mat Kojak tersungkur dan menimpa kursi dan meja di dekatnya akibat tendangan maut Mauren yang jatuh tepat di dada.

“Kurang ajar!” kata Mat Kojak sambil memegang dadanya yang memar akibat tendangan Mauren, lalu maju mau menerjang Mauren.

Dengan sigap Mauren melakukan teknik sapuan ke pergelangan kaki (ashi barai) dan membuat Mat Kojak hilang keseimbangan dan terjatuh lagi.

Para lansia, guru, murid-murid bertepuk tangan atas kepiawaian Mauren yang bertubuh kecil namun beberapa kali membuat roboh Mat Kojak yang bertubuh besar. Rommy dan para petugas panti wreda membantu Mauren dan bersiap-siap dengan tali untuk mengikat Mat Kojak.

Mereka mencoba menangkap Mat Kojak, tapi dengan sekali hentakan saja, Mat Kojak berhasil melepaskan diri, namun salah seorang lansia melakukan tendangan terbang (tobi mae geri) yang mengenai dada Mat Kojak lagi. Akhirnya Rommy dan para petugas Panti Wreda meringkus Mat Kojak dan mengikatnya dengan tali sambil menunggu kedatangan polisi.

Mauren takjub melihatnya. “Opa karateka juga?”

Opa Lardo menjawab, “Dulu saya waktu muda karateka nasional. Pernah berlatih di Pelatnas. Tapi opa sudah lama nggak pernah melakukan ini lagi.”

“Oh pantas. Itu tendangan tobi mae geri adalah salah satu teknik yang sulit dalam karate. Omong-omong di Pelatnas kenal Pingkan Lontoh, Opa?” tanya Mauren.

“Oh kenal, opa waktu itu sudah senior, Pingkan masih muda dan baru masuk Pelatnas,” jawab Opa Lardo. “Omong-omong Pingkan siapamu?”

“Dia mama saya, Opa,” jawab Mauren.

“Ah, pantesan,” kata Opa Lardo antusias. “Salam buat mamamu.”

“Kapan-kapan Mauren ajak Mama ke sini, Opa,” kata Mauren sambil tertawa.

Karena takjub, beberapa lansia minta diajari karate kepada Mauren. Dengan senang hati, Mauren mengajari para lansia itu gerakan dalam karate yang cocok untuk lansia seperti Goju-Ryu yang lembut dan menekankan pada kuda-kuda.

Akhirnya semua lansia, Pak Sajit dan Bu Catarina, para murid, panitia, dan para pegawai panti mengikuti gerakan karate lembut yang diperagakan Mauren.

Axel hanya bisa memandang nanar ketika polisi membawa Mat Kojak yang terikat dan diborgol ke kantor polisi.

“Baik, Rom. Lu menang sekarang, tapi tunggu balasanku!” ujar Axel sambil menyeringai.

Rommy dan beberapa karyawan panti, dibantu beberapa murid, membereskan kursi dan meja yang berantakan akibat duel Mauren vs Mat Kojak tadi, tapi matanya nggak bisa lepas dari Opa Lardo dan Mauren yang tampak akrab.

“Terakhir Opa melakukan tendangan tobi mae geri 50 tahun lalu saat kejuaraan nasional karate, dan lawan opa terjengkang waktu itu,” kata Opa Lardo. “Opa nggak nyangka masih bisa melakukan itu di umur 80 sekarang.”

“Moga-moga Mauren masih bisa sehebat opa ketika tua nanti,” kata Mauren sambil memegang tangan Opa Lardo seperti cucu yang sedang mengagumi kakeknya.

Rommy merasa napasnya sesak, apakah ini yang namanya cemburu? Dia aneh saja melihat Mauren bisa demikian akrab sama Opa Lardo. Kenapa pula senyum Mauren bisa demikian lebar kala di dekat Opa Lardo dibanding ama dia?

“Gile lo, Rom. Masak lu bisa cemburu sama kakek-kakek usia 80 tahun gitu?” kata Rommy dalam hati.

Akhirnya Rommy berusaha memisahkan mereka agar tidak terlalu akrab sambil pura-pura memberi mereka dua gelas air mineral. “Ini untuk Mauren dan Opa. Opa jangan banyak cerita, ya. Nanti Opa capek.”

“Capek apanya? Opa berasa muda lagi deket cucu opa yang baru kenal yang jago karate ini,” balas Opa Lardo.

Rommy jadi makin sesak napas mendengar ucapan Opa Lardo itu.

Mauren menambahkan, “Sini, Rom, ikut denger cerita Opa Lardo yuk. Seru-seru pengalamannya, kayak waktu Opa Lardo memukul KO karateka Jepang waktu kejuaraan Asia di Hiroshima.”

Rommy diam saja sejenak, lalu berkata, “Baiknya Mauren istirahat dulu aja gih. Kan habis duel juga sama preman itu.”

Mauren bisa membaca sebenarnya Rommy cemburu karena dia dekat-dekat sama Opa Lardo, makanya dia mau ngerjain Rommy biar dia makin cemburu.

Mauren lalu menggandeng tangan Opa Lardo dan dengan gaya merajuk dia berkata, “Opa Lardo ajarin Mauren tendangan tobi mawashi geri dong. Mauren paling belum bisa itu.”

Rommy pura-pura melihat ke arah lain ketika lihat Mauren menarik-narik tangan si opa.

Mauren tersenyum melihat Rommy yang nggak bisa nyembunyiin rasa cemburunya.

“Perlu latihan lama untuk menguasai tobi mawashi geri. Yang pertama harus dilatih adalah keseimbangan. Nggak bisa sekali-dua kali belajar langsung bisa. Menguasai tobi mawashi geri perlu latihan berbulan-bulan,” ujar Opa Lardo.

Rommy pura-pura nggak mendengar dan nggak melihat Opa Lardo dekat-dekat Mauren mengajari tendangan dahsyat itu dan pura-pura berbicara dengan HT dengan Axel.

“Bagaimana, Xel? Di luar aman terkendali?” tanya Rommy.

“Aman, Rom. Cuma satu case preman itu tadi yang gua info dan sekarang sudah diamankan polisi,” jawab Axel.

Rommy tidak tahu bahwa preman bernama Mat Kojak itu sejak awal memang suruhan Axel. Bagi Axel sendiri, kekacauan kecil tadi hanyalah sekadar uji nyali, dan Mauren baru saja lulus ujian tanpa dia sadari.

Akhirnya acara kegiatan sosial di Panti Wreda Surya Kencana harus berakhir, karena hari sudah semakin sore. Rommy yang pertama ngasih kata-kata perpisahan, “Opa dan Oma sekalian, saya atas nama SMA Tunas Bangsa mengucapkan terima kasih atas sambutan opa dan oma, termasuk ada pengalaman seru tadi, yang mungkin akan sulit terjadi lagi dalam hidup kami.”

Selanjutnya giliran Pak Sajit dan akhirnya Opa Lardo yang memberikan kata perpisahan mengatasnamakan semua penghuni panti. Akhirnya mereka bersalam-salaman, dan Mauren sengaja ngomong keras-keras saat ngomong sama Opa Lardo biar Rommy cemburu, “Opa Lardo, sampai ketemu ya. Mauren bakal sering-sering ke sini belajar tendangan tobi mawashi geri. Sekalian kapan-kapan Mauren mau ajak Mama ke sini, biar bisa reuni sama Opa.”

Rommy pura-pura nggak dengar dan sibuk menyalami opa dan oma yang lain.

Ketika anak-anak berjalan pulang menuju sekolah, Erick menunjukkan pesan WhatsApp kepada Rommy. Isinya:

“Guys, Mat Kojak kabur dari tangkapan polisi ketika dibawa ke kantor polisi tadi.”

Muka Rommy berubah saat membaca pesan itu. Yang dia khawatirkan adalah keselamatan Mauren jika Mat Kojak dendam sama dia, lalu dia segera memberitahu Mauren soal itu dan agar dia berhati-hati.

Mauren deg-degan dengar kabar lepasnya Mat Kojak, tapi sebenarnya Mauren lebih concern dengan keselamatan Opa Lardo daripada keselamatan dirinya, karena tadi Opa Lardo dengan tendangan mautnyalah yang mengakhiri Mat Kojak.

Sesampainya di rumah, Mauren menceritakan pengalaman hari itu ketika dia harus berduel melawan Mat Kojak dan akhirnya berhasil melumpuhkan Mat Kojak setelah bekerja sama dengan seorang kakek tua yang ilmu karatenya masih hebat.

“Namanya Opa Lardo, Ma. Katanya dia kenal Mama waktu di Pelatnas Karate dulu,” ujar Mauren berapi-api.

“Opa Lardo?” Langsung mata mama Mauren berkaca-kaca, ingatannya melayang ke 30 tahun lalu, ketika dia muda bertemu dengan karateka senior bernama Lardo.

“Kamu harus berhati-hati dengan Opa Lardo, Ren,” ujar mama Mauren.

“Kenapa, Ma? Dia orangnya baik, kok,” jawab Mauren.

1
bartolomeus marsudiharjo
Gue banget
bartolomeus marsudiharjo
Seru banget. Menjanjikan.
jc: terimakasih
total 1 replies
Noname
Karya Ai ?
jc: bukan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!