NovelToon NovelToon
Keluarga Meninggalkanku, CEO Itu Memilihku

Keluarga Meninggalkanku, CEO Itu Memilihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Menantu Pria/matrilokal / Selingkuh / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / CEO
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: richa dhian p.

Keputusan itu telah final. Keluarga besar Hartono menemukan anak kandung mereka yang tertukar selama 21 tahun. Tanpa ragu, Mama Linda nyonya Hartono menjemput Rhea dan membawanya pulang ke rumah megah Hartono. Kepulangan Rhea disambut hangat, bahkan Reno kakak tertua, memeluknya penuh kasih. Namun tanpa disadari, mereka melupakan Aresha anak yang telah dibesarkan sejak bayi. Sejak saat itu, Rhea memperlakukan Aresha dengan kejam, menyiksa bahkan menyiksa demi memvalidasi statusnya. Hingga sebuah perjamuan investor berakhir tragedi, Rhea mendorong Stefani adik dari Samba CEO terkaya di negara M hingga koma dan menuduh Aresha. Nyonya Linda mengetahui kebenaran, menghapus semua bukti tetap memilih mengorbankan Aresha demi melindungi anak kandungnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon richa dhian p., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penjara..

Penjara tingkat berat negara M, dilorong tahanan yang panjang dan gelap  dengan kanan kiri sel tahanan terpidanan kasus berat , Aresha bergelut dengan kejamnya dunia hitam.

"Bag...srakkkkk" Tendangan ketua sel mengenai tubuh Aresha.

"Ahhkk...Brakk" Aresha tersungkur, tertunduk menahan rasa sakit.

"ha...ha...ha.." Tahanan lain yang mengelilingi Aresha tertawa puas.

"Brak...brak..brak"  Gebrakan meja tahanan lain menambah irama tawa mereka.

"Apakah, kamu masih berfikir kamu adalah putri keluarga Hartono?" Tanya ketua  geng sembari tertawa menyeringai.

"Kamu hanya putri palsu yang tidak diinginkan siapapun!" Teriak ketua geng berjalan mendekati Aresha.

Aresha dengan wajah babak belur penuh luka, masih tertunduk menahan sakit , hanya bisa mengepalkan tangan menahan amarah.

"Beraninya kamu mendorong adik CEO Samba dari lantai 2?" Tambah ketua geng  semakin mendekati Aresha yang bersimpuh sembari tertunduk lemah didepanya.

"Seseorang memerintahkan kami untuk menghibur kamu dengan baik." Tahanan lain ikut maju tanganya mengelus rambut Aresha dengan nada mengejek.

"Ha...ha...Ha...ha." tawa serentak semua tahanan dengan suara lantang.

"Menggonggonglah seperti anjing, cepat!" Teriak ketua geng.

"Berteriak! berteriaklah!" Bentak tahanan lain.

"Guk..guk..guk..guk." Suara Aresha lirih.

"Lebih keras!" Teriak ketua Geng

"Ha..ha...ha, keras!" Teriak Tahanan lain.

"Guuuuuuk....guuuukkkkkkk.....gukkkk!"  Teriak Aresha semakin keras, dengan dada ssesah menahan amarah dan tangis.

"Nomor  221097."  Suara sipir wanita dari luar jeruji besi.

Aresha menoleh dengan tatapan penuh luka, wajah pasrah dengan mata penuh kesedihan menahan tangis.

"Seseorang telah mengeluarkanmu dari penjara." Tambah sipir dengan  nada datar.

"Krakk, ngek...Keluar" Sipir penjara membukakan pintu tahanan.

"Jalan ikuti saya." Tambah sipir.

Aresha dibawa keruangan gelap, penuh dengan aroma amis darah, gelap dan penuh dengan alat peniksaan, dikejauhan terlihat sorang pria dengan tubuh tinggi gagah membelakangi Aresha.

"Duduk!" Bentak sipir sembari mendudukan Aresha.

Pria di depan berbalik berjalan menuju Aresha, sembari memilih alat penyiksaan yang diinginkanya. Dia mengambil tongkat meletakan di perut Aresha, menggerakan keatas kemudian  berhenti didagu membuat Aresha mendongak ketas melihat wajah Pria didepanya.

"Samba." Ucap lirih Aresha.

"Tampaknya Nona Aresha sangat menderita di penjara?" Tanya Samba dengan Nada dingin.

"Apakah ada yang menindasmu?" Tambah samba.

"Terimakasih aku ucapkan padamu, CEO samba atas hadiah ini." Jawab Aresha dengan nada penuh amarah, matanya memancarkan seribu kebencian.

Samba dengan kilat mendekat meraih dagu Aresha dengan kasar.

"Karena kamu, adiku berbaring di kasur selama 4 tahun." Jawab samba dengan marah menatap tajam mata Aresa yang tepat di depan matanya.

"Kakakmu bahkan berani meminta belas kasihan neneku." Tamba Samba semakin mendekat.

"Sungguh pesona yang sangat luar biasa, kamu bisa meluluhkan hati neneku, Aresha." mata Samba melihat semua wajah Aresha yang datar cengkeramanya semakin erat penuh kebencian.

"Lima tahun lalu diperjamuan investor, Adiku jatuh dari lantai dua, berlumuran darah terbaring di lanntai yang dingin gara - gara kamu!' Teriak Samba.

Flasback lima tahun yang lalu.

"Stefani!" Teriak Samba histeris, berlari menuju Stefani yang terbaring belumuran darah.

"Stefani," Teriak Aresha di depan Samba.

"Siapa yang mendorong adiku dari tangga? jawab!" Teriak Samba.

Semua tamu mundur mendengar teriakan Samba, Ayah dan Ibu angkat Aresha ikut takut dan mundur mencari tempat yang aman, sedangkan kakak angkat Arshena hanya berdiri dan terdiam memangu.

"Anda kepala keluarga Hartono seharusnya memberikan saya penjelasan!" Teriak Samba sambil menunjuk pak Hartono dengan mata merah.

"Kakak, kenapa kamu mendorong nona Stefani dari tangga? aku melihatmu melakukanya." Tuduh Rhea adik tiri Aresha.

"Kakak kenapa kamu mendorong nona Stefani dari tangga? aku melihatmu melakukanya." Tuduh Rhea adik tiri Aresha.

Tatapan semua tamu tertuju melihat Aresha yang menangis di sampinge Stefani.

"Tidak bukan aku, Stefani itu sahabatku."Jawab Aresha, sembari menoleh kesana kemari dengan berlinang air mata.

"Bagaimana bisa itu aku?" Tambah Aresha

“Kamu pernah bilang padaku,” Ucap Rhea pelan, seolah mengingat sesuatu yang menyakitkan.

“bahwa kamu membenci Nona Stefani… karena dialah yang melarangmu menikah bahkan sekadar bertunangan dengan Tuan Samba.” Rhea menatap lawan bicaranya dengan wajah polos yang dibuat-buat.

Namun di balik tatapan itu terselip kesedihan yang sengaja ia jual, memanipulasi pikiran semua orang.

"kak, kamu seharusnya tidak balas dendam dengan cara seperti ini"  Mendekati Aresha yang masih duduk di samping Stefani.

“Satpam! Bawa penjahat ini pergi!” teriak Samba penuh amarah.

Beberapa petugas keamanan segera berdatangan, mengepung Aresha. Tangan-tangan kasar mencengkeram lengannya, lalu menyeretnya tanpa ampun.

“Samba, percayalah padaku!” teriak Aresha putus asa. Ia berusaha meronta. suaranya bergetar.

“Aku tidak mendorongnya!”suaranya bergetar.

Wajah Aresha basah oleh air mata yang terus mengalir. Tatapannya penuh permohonan, mencari sedikit saja kepercayaan dari pria yang dulu ia harapkan berdiri di sisinya.

“Bawa dia pergi!” ucap Samba tegas. Ia menoleh ke arah Aresha tanpa benar-benar menatapnya, seolah tak ingin memberi ruang untuk bantahan. Saat itu Aresha merasa dunianya runtuh, tidak ada dukungan dari siapapun.

Ruang penyiksaan. Tangan Samba belum juga melepaskan dagu Aresha, cengkeramannya tegas namun dingin. Tatapannya menusuk, beradu dengan mata Aresha yang redup, mata yang memendam luka dan kesedihan yang tak  terucap.

“Bukan aku yang mendorong adikmu dari tangga,” Jawab Aresha lirih.

“Berapa kali harus kukatakan?” Lanjutnya, kini dengan nada tegas tanpa sedikit pun penyesalan.

Sikap itu justru membuat Samba semakin kesal.

“Empat tahun tidak bertemu, dan kamu masih saja keras kepala,” Ucapnya dingin semakin mendekat. Tangannya menarik kepala Aresha lebih dekat, memaksanya menatap wajahnya.

Samba akhirnya mengalah. Ia melepaskan cengkeramannya.

“Stefani besok siuman,” Ucapnya singkat sambil berbalik menjauh. Tangannya meraih kunci borgol yang tergeletak di dekatnya.

“Jika kamu benar-benar difitnah,” Lanjut Samba dengan suara lebih tenang

“aku akan memberimu keadilan atas empat tahun yang terbuang ini.” Tambahnya.

Ia pun membuka borgol yang mengikat tangan Aresha.

“Lagipula, kamu masih tunanganku,” Ucap Samba dengan tatapan dingin.

Ia meraih tangan Aresha dan memasangkan sebuah gelang di pergelangan tangannya.

Aresha terdiam, kebingungan. Tatapannya tertuju pada Samba, seolah mencoba memahami maksud di balik tindakannya.

Tanpa sepatah kata pun, Samba berbalik dan meninggalkan Aresha.

“Coba cek siapa yang begitu buta sampai tega menindasnya seperti itu,” Ucap Samba kepada pengacaranya yang telah menunggu di luar ruang penyiksaan.

“Baik, Pak,” Jawab sang pengacara sambil melangkah mengikuti Samba menyusuri lorong sel penjara.

“Empat tahun… akhirnya kebenaran akan terungkap,” Ucap Aresha lirih sambil menatap punggung Samba yang menjauh meninggalkan ruang itu.

“Mama, Ayah, Kakak, dan adik tiriku… hari ini aku memutuskan hubungan dengan kalian,” bisiknya penuh kepahitan.

“Cepat keluar! Mandi dan kemasi barangmu!” Teriak seorang sipir wanita dari luar ruangan.

Aresha melangkah keluar dengan langkah tertatih, kakinya digeret menahan rasa perih dari luka-luka yang belum sembuh. Tatapannya tajam dan kosong—seperti seseorang yang telah kehilangan harapan, juga hatinya.

“Pergi!” Bentak sipir penjara sambil mendorong Aresha keluar gerbang.

Sebuah tas kecil milik Aresha—kumal dan usang—dilemparkan begitu saja hingga mengenainya. Tubuh Aresha terhuyung dan tersungkur ke tanah.

Deru suara mobil memecah keheningan. Sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti tepat di hadapan Aresha.

***

1
Nina Erwina
saya suka.... tqpi gmn.kelanjutannya
sunflower
😭semangat kk thor
Trj Bader
baguss banget
Trj Bader
sukaa, pengen banget gampar muka Reno rasanyaa. sumpah kesel banget.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!