Saat Jepang berada diambang kepunahan karena krisis populasi, cinta bukan lagi pilihan, melainkan tugas negara yang menekan. Pemerintah membuat ulang kurikulum SMA bernama Sistem Dua Kekasih. Semua murid dipaksa berpasangan dengan lawan jenis, duduk berdampingan, tinggal bersama, dan semuanya dihitung berdasarkan poin.
Cerita berfokus pada Naruse Takashi, seorang remaja tanpa tujuan hidup yang hanya ingin mengabdi kepada seorang gadis biasa, yang dia percaya sebagai belahan jiwanya.
Kira-kira, siapakah yang akan menjadi belahan jiwa Naruse?
Genre: Drama, Psychological, Romance, School, System.
Catatan:
1. Cerita ini fiktif belaka.
2. Update satu Minggu 3-5 Kali.
3. Ada BAB Spesial tiap 20 BAB.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yapari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 — Hasil Duel —
Babak kelima dimulai dengan tangan Sera Nanashi yang gemetaran menjalankan pion putih.
Gadis itu masih mengikuti instruksi yang ada di ponsel, jadi dia meliriknya sesekali... kadang ke papan, kadang ke ponsel. Ekspresinya tak lagi menunjukkan keangkuhan.
Di sisi lain, Elena tampak jauh lebih tenang. Dia merespons langkah lawannya dengan konsisten. Malahan dia seperti menerapkan Mirroring, karena apa yang Sera Nanashi gerakkan, hampir semuanya diikuti.
"Hei, sialan! Kenapa kau malah menyamaiku?"
Mengetahui bahwa langkahnya ditiru, Sera Nanashi semakin frustasi. Dahinya mengerut, dan wajahnya mulai memerah. Tampak sekali dia ingin marah, tapi dia mengurungkan niatnya karena masih di dalam permainan.
Elena tidak membalas apa-apa, fokusnya benar-benar hanya ke papan catur. Dia tidak menatapku, apalagi Sera Nanashi.
Dua menit sudah berlalu di waktu Elena, tersisa tiga menit lagi. Jantungku mulai berdetak tak karuan.
Semakin kuseka keringat di dahiku, malah makin banyak keringat yang keluar. Padahal ruangan ini ber-AC. Jadi, bohong rasanya jika aku tidak merasa gugup.
"Aduh, kepalaku panas sekali."
Di tengah perasaanku yang begitu gelisah, Elena tiba-tiba bersuara, lalu dia berdiri.
Eh? Tunggu dulu!
Kenapa dia melakukannya?
Aku tidak menduga ini. Bahkan yang lainnya juga langsung melirik ke arah Elena.
"Kenapa gadis itu berdiri?"
"Apa dia sudah menyerah?"
"Itu tidak mungkin, dia bisa bermain imbang melawan master sekolah ini."
Suara bisik-bisik terdengar, mereka jelas keheranan.
"Hei, Miyazaki-san. Kau kenapa?"
Hal yang sama juga berlaku pada Sera Nanashi. Dengan tangan kirinya yang memegang ponsel, dia berusaha menyembunyikan itu. Mungkin dia takut Elena bisa melihat tampilan layarnya.
Dan gadis kepang dua yang menjadi wasit ini hanya diam sembari menatapnya. Dia tahu kalau pemain bebas melakukan apa saja selama waktunya berjalan di pemain itu, jadi dia tidak bisa mengelak.
Sementara itu, Elena mengabaikan semuanya dan kini dia berdiri menghadapku.
"Umm... ada apa, Elena?"
Aku tidak bisa membaca ekspresinya. Hanya saja, wajahnya sedikit pucat. Dia telah memainkan empat babak penuh sebelumnya, tentunya hal itu pasti membebani otaknya.
"Naruse-kun, bolehkah aku mengisi daya?"
"Mengisi? Apa maksudmu?"
Dia bertanya sesuatu yang sama sekali tidak kupahami dengan wajah datarnya.
Apakah otaknya terlalu panas hingga tidak bisa berpikir lagi? Kalau benar, maka situasinya akan gawat. Dia punya dua setengah menit lagi.
"Ayolah, Naruse-kun. Jangan bilang kau menolaknya? Kau tidak mau membantuku?"
"Ti-tidak, bukan begitu. Aku hanya tidak menge—"
Hah? Apa ini?
Sesuatu menabrak tubuhku pelan, lalu ada kedua tangan yang mengikat pinggangku. Rasanya lumayan hangat. Tapi, detak jantungku semakin tidak beraturan.
Bagaimana tidak, Elena tiba-tiba memelukku. Dia membiarkan waktunya berjalan di tengah permainan.
Aku tidak tahu harus apa kalau begini. Jadi ini maksudnya mengisi daya? Tidak kusangka aku bisa melihat sisi manja Elena di saat seperti ini.
Bau tubuhnya yang manis semakin tercium di hidungku, apalagi aroma rambutnya yang begitu khas. Wangi bunga lavender membuat tubuhku semakin memanas. Tanganku bergerak mengelus rambutnya yang seperti biasa terasa halus.
Di momen ini, dunia di sekelilingku terasa berhenti. Waktu berjalan lambat. Aku hanya bisa melihat dan merasakan keberadaan seorang gadis yang kucintai, Elena Miyazaki.
"Naruse-kun, beritahu aku kalau waktunya sisa satu setengah menit."
Suaranya terdengar pelan karena wajahnya terbenam di dadaku.
"Kau bisa melakukannya, kan?"
"Entahlah, kepalaku sangat pusing. Tapi aku tidak ingin mengecewakanmu."
"Elena..."
Aku memanggilnya, lalu membuat kepalanya mendongak.
Sekarang aku bisa melihat wajahnya. Matanya sedikit berkaca, dan dia tampak lebih baik ketimbang sebelumnya.
"Apa pun yang terjadi, aku tidak akan kecewa padamu. Bisakah kau percaya padaku?"
Dia terdiam lama. Tangannya semakin erat melingkari pinggangku.
Sangat disayangkan, karena waktu Elena tersisa satu setengah menit... sesuai permintaannya, aku terpaksa harus melepas pelukannya.
"Terima kasih, Naruse-kun. Kau memang sangat baik padaku, pada seseorang yang biasa ini."
"..."
Kali ini aku yang diam. Bukan karena kata-kata Elena, tapi karena senyumnya begitu cerah.
Entah kenapa, aku merasa kalau senyumnya saat ini adalah senyuman terbaiknya. Bukan berarti senyum sebelumnya buruk, hanya saja yang sekarang tampak lebih memiliki emosi.
Sebelum benar-benar kembali duduk, Elena sempat menatap Satoshi Akanji. Dia seperti ingin mengatakan sesuatu padanya.
"Kau... karena telah melukai Naruse-kun, aku tidak akan memaafkanmu!"
Ternyata memang benar.
Sadar Elena sedang berbicara padanya, Satoshi Akanji menyeringai.
"Memangnya kau bisa apa? Kami punya pengaruh kuat di sekolah ini, apalagi ayahku salah satu investor terbesar."
"Peduli apa aku? Itu kan ayahmu, bukan kau sendiri."
"Sialan kau!"
Mengabaikan Satoshi Akanji yang tampak kesal, apalagi suaranya terdengar meninggi... Elena kembali duduk di tempatnya menghadap Sera Nanashi. Hal itu membuat seringai di wajahnya cuma bertahan sebentar.
Permainan pun dimulai lagi dengan waktu Elena yang tersisa satu menit lebih sedikit.
Dia langsung mengorbankan kudanya, membuat Sera Nanashi tersentak.
"Hah?! Bagaimana bisa?"
"Ya, memang bisa. Ngomong-ngomong, Kau tidak bicara apa-apa saat aku berdiri tadi selain bertanya, kan? Kenapa begitu?"
"Berisik! Aku tidak peduli dengan drama percintaan, pedulikan saja waktumu!"
Elena berhasil menggoyahkan mental Sera Nanashi. Gadis itu terpancing emosi hanya dengan satu pertanyaan. Itu berarti, dia sudah sadar kalau ada sesuatu yang tidak beres.
Waktu Sera Nanashi tersisa lebih banyak daripada waktu Elena, tapi dia tidak menunjukkan keangkuhan sedikit pun. Padahal biasanya, dia pasti akan berbicara dengan penuh keyakinan seolah sudah memenangkannya.
Keadaan berbalik. Intensitas meninggi.
Elena melangkah begitu cepat sampai Sera Nanashi kebingungan menyesuaikan langkahnya. Kedua tangan gadis itu gemetar, lebih parah dari saat awal permainan babak kelima.
Di waktu Elena yang tersisa lima puluh detik, langkahnya malah semakin cepat. Meski begitu dia tetap konsisten dan tidak melakukan kesalahan.
Lalu...
PRASK!!
Sera Nanashi menghempaskan ponselnya begitu kencang ke lantai, membuat bunyi yang cukup keras mengisi ruangan. Kelihatannya dia begitu frustasi karena sisa waktunya malah berbalik.
"PONSEL SIALAN, aku tidak ingin memakainya lagi!"
Dia setengah berteriak, tapi suaranya agak tertahan karena dia tidak bisa menunjukkan imejnya lebih buruk lagi. Pada akhirnya, gerakannya tidak mengikuti instruksi lagi.
Untungnya Elena tidak terpengaruh. Dia tetap fokus ke permainan. Dan benar saja, Sera Nanashi langsung keteteran.
"Skak mat. Aku menang, Nanashi-san!"
"Sial! Sial! SIAL!!"
Dia langsung menggebrak meja, menciptakan bunyi keras kedua yang kembali mengisi ruangan. Bidak catur yang sebelumnya hanya diam di meja kini beterbangan kesana-kemari.
Meski berusaha menyembunyikan emosinya, tapi apalah daya, gadis itu telah kalah secara memalukan. Dia sebenarnya sudah melakukan kecurangan, dan lucunya dia masih saja tidak bisa menang.
Tak lama layar hologram muncul, menengahi mereka berdua.
[Elena Miyazaki vs Sera Nanashi]
[Skor Akhir (Menang/Imbang/Kalah):
- Elena Miyazaki (3/1/1)
- Sera Nanashi (1/1/3)]
[Pemenang: Elena Miyazaki!]
"Apa? Sera Nanashi kalah?!"
"Aneh sekali! Siapa gadis itu sebenarnya?"
Aku bisa mendengar suara bisik-bisik tak percaya dari beberapa orang di ruangan ini, tapi aku tidak mempedulikannya.
Satu-satunya fokusku sekarang adalah menatap Elena Miyazaki dengan penuh kebanggaan. Tubuhnya gemetar hebat, sepertinya dia sudah mencapai batasnya.