NovelToon NovelToon
Lu Daimeng: Diluar Jalan Kultivasi

Lu Daimeng: Diluar Jalan Kultivasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Fantasi Timur / Balas Dendam / Epik Petualangan / Iblis
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: EGGY ARIYA WINANDA

⚠️MC NON MANUSIAWI‼️

Langit memberinya takdir kejam, dibenci Oleh Qi, tidak memiliki dantian, bahkan tidak memiliki meridian.

Dibuang oleh ayahnya sendiri.
Sifat lembut Lu Daimeng hilang tak tersisa, digantikan oleh sifat iblis yang mengerikan.

Dia adalah anti dao, sebuah jalan yang tercipta karena perlawanan kepada langit.

Dia tidak di takdirkan untuk naik menuju puncak.
Dia di takdirkan untuk menghancurkan puncak itu sendiri.

Ini adalah kisah dari apa yang mereka sebut

ANTI DAO.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lembah Kematian 6: Duel Saudara

Lembah Kematian, yang sebelumnya bergemuruh oleh auman monster dan benturan energi spiritual, kini tenggelam dalam keheningan yang memekakkan telinga. Itu adalah jenis keheningan yang tertinggal setelah badai kosmik menyapu bersih segalanya.

Pasukan ekspedisi raksasa yang masuk dengan kebanggaan, kini hanya tersisa segelintir manusia yang bernapas putus-putus.

Empat dari Keluarga Lu: Lu Huang, Lu Zhuxin, dan dua tetua yang wajahnya sepucat mayat.

Tiga dari Keluarga Lei: Lei Zuan dan dua tetuanya.

Tiga dari Keluarga Qin: Qin Chen dan dua tetuanya.

Dan satu orang yang berdiri di luar hitungan: Lu Daimeng.

Sisanya lenyap. Sebagian mati karena tercabik Binatang Darah, sebagian lagi mati sebagai kerusakan kolateral dari aura Iblis Es Bing Shan dan hempasan energi Sang Dewi Penghubung Langit. Jiwa-jiwa kuat yang dikultivasikan selama puluhan tahun dihapus tanpa jejak, menyisakan trauma absolut bagi mereka yang masih hidup.

Qin Chen mengusap darah dari sudut bibirnya, matanya memindai sekeliling. "Kita harus pindah. Fluktuasi energi tadi... bahkan formasi penekan lembah ini rusak sementara. Monster-monster dari zona yang lebih dalam akan segera datang untuk menyelidiki."

Tidak ada yang membantah. Bahkan Lu Huang, yang arogansinya nyaris tak terbatas, mengangguk diam. Arogansi fana tidak ada artinya setelah kau melihat sebutir pasir (Iblis Es) dihapus oleh kekuatan semesta (Sang Dewi).

Mereka menyeret tubuh mereka yang kelelahan, bergerak menjauh dari area Pohon Darah Bodhi. Sekitar sepuluh kilometer ke arah barat, mereka menemukan sebuah jaringan gua raksasa yang dindingnya terbuat dari basal hitam pekat. Area itu sepi, tidak ada tanda-tanda kehidupan atau sisa-sisa Beast.

Para tetua dari ketiga keluarga segera bekerja sama dengan sisa-sisa energi mereka untuk memasang formasi penyembunyi aura dan pertahanan di mulut gua.

Di dalam gua yang remang-remang itu, batas antara tiga keluarga kembali terlihat jelas. Mereka duduk di sudut yang berbeda, mulai mengeluarkan pil pemulihan kelas atas dari cincin penyimpanan mereka, menelannya, dan bermeditasi untuk menyerap energi spiritual alam yang merembes masuk.

Namun, Lu Huang tidak sepenuhnya memejamkan mata.

Meskipun dia sedang bermeditasi, aura persepsinya terkunci rapat pada satu sosok yang duduk bersandar di dinding gua, tak jauh dari kelompok Keluarga Qin.

Lu Daimeng.

"Dia pasti akan menyerangku lagi secara tiba-tiba!," pikir Lu Huang, urat di dahinya berdenyut menahan amarah yang mulai kembali mendidih seiring energinya pulih. "Dia menggunakan Qin Chen dan Lei Zuan sebagai perisai gertakan. Dan tebasannya tadi... jika fisikku bukan fisik bawaan, mungkin lenganku sudah putus. Sampah ini... dia tumbuh menjadi ancaman mutlak bagi Keluarga Lu."

Lu Huang tahu, di dalam gua ini, Qin Chen dan Lei Zuan tidak akan sudi mempertaruhkan nyawa mereka yang sudah melemah untuk melindungi Lu Daimeng. Aliansi sementara itu telah berakhir bersamaan dengan insiden Iblis Es.

Di sudutnya, Lu Daimeng menyadari tatapan membunuh kakaknya. Dia hanya tersenyum tipis.

Sementara ahli kultivasi lain memulihkan diri dengan elegan—menelan pil beraroma wangi dan bernapas selaras dengan alam—Lu Daimeng melakukan hal yang membuat semua orang di dalam gua membuka mata mereka karena terkejut.

Lu Daimeng mengeluarkan sebuah batu dari cincin yang dia dapat di gua naga.

Itu bukan batu biasa. Itu adalah Batu Spiritual Emas tingkat tinggi, jarahan murni dari tumpukan harta karun sarang Naga Hitam di Alam Rahasia Lembah Gunung Jinting. Batu itu sangat padat, seukuran kepalan tangan, dan memancarkan Qi murni yang menyilaukan mata.

Bagi kultivator normal, batu spiritual digunakan untuk diekstraksi energinya perlahan-lahan dengan meletakkannya di telapak tangan, atau digunakan sebagai sumber tenaga formasi. Menelannya adalah bunuh diri; usus manusia akan hancur oleh kepadatan mineral dan ledakan Qi di dalamnya.

Tapi Lu Daimeng mendekatkan batu emas yang kerasnya melampaui baja itu ke bibirnya.

KRAK.

Suara gigitan itu bergema keras di dinding basal gua.

Rahang semua orang, termasuk Qin Chen yang tenang, sedikit turun.

Lu Daimeng menggigit sepotong batu spiritual emas itu, mengunyahnya dengan gigi-giginya yang telah dilapisi Dark Null transparan. Suara kunyahannya terdengar berderak, persis seperti seseorang yang sedang memakan kerupuk tebal.

Krek... Krek...

Asam lambung dari Anti-Dao-nya bekerja menghancurkan mineral itu, mengubahnya menjadi bahan bakar instan untuk menutrisi tulangnya yang lelah dan menyembuhkan luka-luka mikroskopis di ototnya.

Sambil mengunyah batu keras itu, Lu Daimeng menoleh ke arah kelompok Keluarga Lu.

Mata Triple Pupil gandanya—enam pupil hitam yang berputar di lautan iris emas pucat—mengunci pandangan Lu Zhuxin.

Lu Daimeng tidak mengatakan sepatah kata pun. Dia hanya mengunyah batu itu, lalu menelan serpihannya. Namun, tatapan dingin dan apatis itu mengirimkan pesan psikologis yang lebih keras dari teriakan manapun:

"Setelah aku selesai memakan batu ini, dagingmu adalah hidangan penutupku."

Tubuh Lu Zhuxin bergetar secara instingtual. Dia mundur hingga punggungnya menabrak dinginnya dinding gua. Keringat dingin membasahi punggungnya. Pria di seberang sana bukanlah adiknya. Dia adalah pemangsa puncak yang kelaparan.

Melihat adiknya gemetar karena tatapan seorang anak buangan, kewarasan Lu Huang akhirnya putus.

Persetan dengan kelelahan. Persetan dengan formasi lembah.

"Jika aku tidak membunuhnya sekarang, iblis ini akan memburu kami satu per satu di kemudian hari!"

Lu Huang berdiri tiba-tiba. Zirah emasnya bergemerincing tajam.

"MATI KAU, BINATANG!" raung Lu Huang.

Dia tidak menggunakan senjata. Dia melesat menggunakan ledakan Qi dari telapak kakinya, mengubah dirinya menjadi peluru meriam manusia. Tangan kanannya ditarik ke belakang, mengumpulkan Qi emas murni dari Dantiannya, memadatkannya hingga udara di sekitar tinjunya terdistorsi.

Kecepatannya mengerikan. Dalam jarak kurang dari seratus meter di dalam gua, itu setara dengan teleportasi jarak pendek.

Lu Daimeng tidak panik. Otak hibridanya telah memprediksi serangan ini sejak dia memakan gigitan batu pertama.

Dia langsung menelan sisa batu spiritual itu. Dalam seperseribu detik, dia memompa energi dari tujuh Singularitas Anti-Dao di perutnya, melapisinya dengan Aura Naga dari jantung kanannya. Seluruh tubuh Lu Daimeng seketika diselimuti oleh aura hitam dan ungu yang memancarkan tekanan absolut.

Lu Daimeng menyilangkan kedua lengannya di depan dada untuk menangkis.

BAMMMM!

Tinju emas Lu Huang menghantam pertahanan Lu Daimeng.

Dampak benturannya tidak menghasilkan ledakan visual yang menyilaukan, melainkan transfer energi kinetik yang murni dan brutal.

Lu Daimeng mengertakkan gigi. Lapisan Dark Null miliknya melahap sebagian besar Qi spiritual dari tinju itu, dan Aura Naga-nya menahan rasa sakit dari benturan fisik. Dia tidak terluka parah parah.

Namun... dia kalah secara berat. Meski keduanya memiliki tinggi yang sama, postur tubuh Lu Huang lebih besar, apalagi dia mengenakan artefak armor, memiliki tubuh kuno bawaan dan ditambah momentum dorongan murni dari ahli Ranah Roh Tahap 5. Kekuatan dorongnya terlalu besar.

Pertahanan Lu Daimeng bertahan, tapi tubuhnya tidak.

Kakinya terseret, menghancurkan lantai batu basal. Dalam sekejap, tubuh Lu Daimeng terpental ke belakang sejauh seratus meter seperti bola meriam hitam.

CRAAASHHH!

Punggung Lu Daimeng menabrak dinding ujung gua dengan kekuatan yang meremukkan batu. Seluruh gua bergetar hebat. Stalaktit berjatuhan dari langit-langit, mengancam untuk mengubur Lei Zuan dan Qin Chen yang segera mundur.

Debu tebal menutupi titik tabrakan Lu Daimeng.

Lu Huang berdiri kokoh, wajahnya dingin, tinjunya masih mengepulkan asap. Dia bersiap untuk melesat lagi, menyusul serangannya untuk menghancurkan kepala adiknya selagi terjebak di dinding.

Di dalam kepulan debu, Lu Daimeng tidak terkapar. Tulangnya sakit, tapi utuh. Jantung naganya memompa darah dengan ritme perang.

Dalam kepalanya Lu Daimeng menganalisis dan mencari solusi dari berbagai kemungkinan yang ada, Lu Huang unggul. Jika dia bertarung mati-matian itu hanya menguntungkan Lu Huang.

Keputusan logis telah dibuat.

Lu Daimeng membalikkan badannya menghadap dinding gua yang retak akibat tabrakannya.

Dia mengepalkan tinju kanannya, menyalurkan ledakan Dark Null, dan memukul dinding basal yang sangat keras itu.

DOOOOOM!

Batu basal hitam itu hancur berkeping-keping. Pukulan Lu Daimeng menciptakan lubang raksasa, sebuah pintu keluar darurat yang mengarah langsung ke jurang dan tebing di luar lembah kematian. Angin kencang yang membawa bau belerang langsung masuk ke dalam gua.

SREET... KLANG!

Dari punggung Lu Daimeng, Pedang Jiwa Surgawi mencair keluar, menyebar dan memadat menjadi sepasang sayap logam tajam sepanjang empat meter.

Tanpa menoleh, Lu Daimeng melesat keluar dari lubang yang baru dibuatnya, terbang ke langit Lembah Kematian yang mendung.

"KAU TIDAK AKAN BISA LARI, PENGECUT!" jerit Lu Huang, suaranya dipenuhi amarah yang membakar paru-parunya.

Lu Huang menghentakkan kakinya, lantai gua hancur, dan dia melesat keluar melalui lubang yang sama, mengejar bayangan hitam adiknya melintasi langit kelabu.

Qin Chen menutup wajahnya dengan kipas dari puing-puing batu yang berjatuhan. Dia melirik Lei Zuan. Keduanya tidak memiliki niat untuk mengejar. Energi mereka belum mencapai 30%. Terlibat dalam pertempuran udara antara dua orang itu sama dengan mencari mati. Mereka hanya melangkah keluar ke mulut lubang gua, menjadi penonton dari sebuah eksekusi—entah siapa yang mengeksekusi siapa.

Di udara, kejar-kejaran terjadi.

Sayap baja Lu Daimeng membelah angin dengan kecepatan supersonik, namun dia tidak terbang ke arah luar lembah, melainkan bermanuver di antara pilar-pilar batu raksasa yang menjulang. Dia mencoba memecah konsentrasi musuh.

Tapi Lu Huang, yang didorong oleh kemarahan berdarah, melepaskan segala batasan.

"Manifestasi Roh: Kura-kura Penopang Langit!" teriak Lu Huang di udara.

Di atas kepala Lu Huang, siluet raksasa dari kura-kura emas beraura mistis memadat. Ukurannya kini tidak hanya empat meter, melainkan meluas hingga mencakup radius dua puluh meter. Manifestasi roh ini tidak hanya untuk pertahanan; kura-kura itu membuka mulut spiritualnya, menciptakan pusaran gravitasi yang menekan ruang di depannya.

Lu Daimeng merasakan daya angkat udara di bawah sayapnya menghilang. Gravitasi di sekitarnya meningkat sepuluh kali lipat. Laju terbangnya melambat drastis.

Tepat di saat itu, kura-kura emas raksasa itu mengayunkan kaki depannya yang sebesar bangunan, menghantam lurus ke arah Lu Daimeng dari udara.

Lu Daimeng tidak punya waktu untuk menghindar. Dia melipat sayap pedang surgawinya ke depan, menyatukannya menjadi perisai logam hitam berbentuk kerucut yang menutupi seluruh tubuhnya.

TENGGG!

Pukulan spiritual kura-kura emas itu menghantam perisai sayap baja Lu Daimeng. Suaranya seperti lonceng kuil raksasa yang dipukul oleh godam dewa.

Lu Daimeng terdorong ke bawah puluhan meter, telinganya berdenging. Logam sayapnya bergetar hebat, tapi Dark Null yang melapisinya menyerap energi roh itu sebelum bisa meremukkan tubuhnya.

Melihat pukulannya ditahan, Lu Huang semakin gila.

Dia menarik tinjunya. Dari dalam cincin penyimpanannya, dia mengeluarkan tiga lembar jimat berwarna merah darah. Itu adalah Jimat Penguat Esensi (artefak peningkat ranah sementara), barang sekali pakai yang merupakan Jimat kuno pemberian Patriark Lu Daihong, memiliki efek samping rasa sakit yang mengerikan setelah menggunakannya.

Dia menempelkan ketiga jimat itu ke dadanya.

WUSSS!

Aura emas di sekitar tubuh Lu Huang berubah menjadi kemerahan. Otot-ototnya membengkak, merobek sisa zirahnya. Tingkat kultivasinya melonjak secara artifisial, mematahkan batas tahap 5, menembus tahap 6, 7, dan berhenti di Ranah Roh Tahap 8.

"HANCUR KAU!" raung Lu Huang.

Dia tidak menggunakan trik atau teknik pedang. Dia menggunakan energi mentah dan murni. Dia memadatkan seluruh auranya yang setara Tahap 8 ke dalam tinju kanannya, lalu melepaskan pukulan ke arah Lu Daimeng yang sedang menstabilkan sayapnya di bawah.

Sebuah bola energi emas seperti matahari miniatur meluncur turun.

BOOOOOOOOOOOOOOM!

Bola emas itu meledak di udara sebelum mengenai tanah. Gelombang kejut eksponensial menyapu radius ratusan ribu meter. Udara terkompresi hingga membentuk riak-riak putih yang terlihat jelas. Awan mendung di atas Lembah Kematian tersapu bersih. Hutan batu di bawah mereka rata dengan tanah, hancur menjadi debu vulkanik halus.

Dari mulut gua yang jauh, Qin Chen dan kelompoknya harus mundur kembali ke dalam, mengaktifkan sisa formasi pertahanan mereka dengan wajah pucat pasi.

"Kekuatan Ranah Roh Tahap 8..." bisik seorang tetua Lei, suaranya bergetar. "Anak itu... Si Daimeng, tidak mungkin selamat dari ledakan pusat itu."

Namun, di tengah badai debu yang mengepul di langit, sebuah bayangan raksasa terbentuk.

Bayangan hitam legam, setinggi tiga meter, tanpa ciri wajah, dengan mata ungu yang menelan cahaya.

Avatar Ketiadaan.

Di balik Avatar itu, Lu Daimeng melayang dengan sayapnya. Jubahnya telah hangus, ujung rambut yang mulai terbakar, tapi matanya dingin. Dia telah memanggil Avatarnya tepat pada detik terakhir untuk menahan pusat ledakan tinju Lu Huang.

Avatar hitam itu mengulurkan kedua tangannya, mencengkeram pusaran energi sisa ledakan Lu Huang, dan secara harfiah mengisapnya, mengubah Qi murni yang merusak menjadi Dark Null.

Wajah Lu Huang berkerut tak percaya. "Kau menahan kekuatan Tahap 8?!"

Lu Daimeng tidak menjawab dengan kata-kata.

Dia mengaktifkan otaknya. Kedelapan Singularitas di dalam perut dan otaknya bekerja sinkron.

Sayap logam di punggung Lu Daimeng tiba-tiba terpecah. Namun tidak menjadi delapan.

Hanya dua pedang hitam yang melesat keluar, menembus asap ledakan dengan kecepatan yang tidak bisa ditangkap mata telanjang. Sisa sayapnya tetap berada di punggung untuk menahan tekanan kaki kura-kura di udara.

Dua pedang itu menggunakan teknik pedang Mata 8 Mata Angin: Tusukan dari tenggara.

Slaash! Slaash!

Lu Huang, yang sedang dalam kondisi di mana auranya membesar secara artifisial, memiliki sedikit kelambatan dalam perisai pelindungnya.

Dua pedang hitam legam itu berhasil menembus celah energi emas Lu Huang. Satu menggores pinggang kirinya, satu lagi menancap tipis di bahu kanannya sebelum Lu Huang berhasil menghancurkannya dengan gelombang Qi.

Luka itu tidak fatal. Tidak lebih dalam dari satu inci. Tapi itu adalah penghinaan absolut. Fisik Berliannya terluka lagi.

Lu Huang mencabut sisa pedang bayangan di bahunya, darah merahnya mendidih.

Sementara itu, Lu Daimeng di seberang udara mulai merasakan efek samping.

Perbandingan ranah ini terlalu besar. Menahan ledakan setara Tahap 8 dan mengendalikan Avatar Ketiadaan secara bersamaan telah menguras cadangan energi mentahnya. Kepalanya pening. Mual yang luar biasa menyerang lambungnya.

"Sialan Tubuh Bawaannya kuat sekali," batin Lu Daimeng. "Jika aku terus bertarung dengan bajingan ini, hanya ada kerugian."

Lu Daimeng menutup matanya sebentar. Saat dia membukanya, Triple Pupil ganda di matanya tidak lagi berwarna emas pucat, melainkan memerah seperti darah naga yang marah.

Di dada kanannya, Jantung Naga berdegup dengan ritme yang melampaui batas biologis.

DUM. DUM. DUM. DUM!

Tubuh Lu Daimeng memancarkan uap panas. Asap tipis menguar dari pori-pori kulitnya. Dia meng-overclock fisiologi monsternya.

Sayap di punggungnya dan Avatar Ketiadaan ditarik masuk secara paksa. Dia mengumpulkan semua bahan pembunuhannya ke satu titik: lengan kanannya.

Pedang Jiwa Surgawi tidak dibentuk menjadi pedang, melainkan mengalir menutupi tangan kanannya dari ujung jari hingga siku, membentuk sebuah sarung tangan baja hitam yang bergerigi tajam.

Lu Daimeng melapisi sarung tangan itu dengan Aura Naga murni dan Dark Null dari ketujuh singularitasnya.

Energi di tangan Lu Daimeng sangat padat, hingga memanas dan mengeluarkan uap panas, udara di sekitarnya terdistorsi, memvisualisasikan kepala seekor Naga Hitam yang sedang membuka rahangnya lebar-lebar di atas kepalan tangannya.

"MATILAH, KOTORAN!" Lu Huang melesat turun, tinjunya yang bercahaya emas diarahkan seperti palu godam surga. Manifestasi kura-kura emas membungkus tangan dan tubuhnya menjadi armor berlian yang absolut.

Lu Daimeng tidak menghindar. Dia menggunakan sisa dorongan Roket Ketiadaan di kakinya, melesat naik menyongsong Lu Huang.

Crash of the Titans.

Di tengah udara Lembah Kematian, Tinju Naga Hitam (Lu Daimeng) beradu langsung dengan Armor Kura-Kura Emas (Lu Huang).

DOOOOOOOOOMMM!

Waktu terasa berhenti sedetik. Suara itu begitu keras hingga menghilangkan kemampuan mendengar siapapun dalam radius sepuluh kilometer. Hanya ada dengingan bernada tinggi.

Langit terbelah. Awan-awan tersapu dalam pola melingkar.

Visual cangkang kura-kura emas Lu Huang retak.

Retakan itu menyebar, memancarkan cahaya silau, sebelum akhirnya... HANCUR BERKEPING-KEPING.

Armor roh kebanggaan ahli Ranah Roh itu dipecahkan oleh tinju fisik yang dilapisi Elemen Pedang Roh Surgawi.

Pukulan Lu Daimeng menerobos pecahan armor itu. Lu Huang secara refleks menyilangkan kedua lengannya yang dilapisi Fisik Berlian untuk menahan sisa tenaga naga hitam tersebut.

Tubuh Lu Huang bergetar hebat. Kekuatan kinetik dari pukulan itu sangat mematikan.

Lu Huang kehilangan momentum. Tubuhnya terlempar ke belakang, melesat ke bawah seperti komet emas yang jatuh dari orbit.

Dia meluncur ribuan meter di udara, sebelum akhirnya menghantam sebuah bukit batu basal hitam.

BLAAARRR!

Bukit itu hancur berantakan, mengubur Lu Huang di bawah ton-ton batu.

Di udara, Lu Daimeng tidak merayakan kemenangannya.

Matanya berkunang-kunang. Dunia di sekitarnya berputar. Menggunakan energi sebesar itu dengan meng-overclock jantung naganya sungguh menguras mental dan fisiknya hingga ke batas paling sulit untuk ditahan. Rasa mual yang parah membuatnya nyaris muntah empedu.

Lengan kanannya... sarung tangan baja surgawinya perlahan mencair. Tangan aslinya bergetar hebat, kulitnya robek, dan darah mengalir dari sela-sela jarinya karena menahan gaya reaksi dari ledakan benturan antara Dark Null, zirah, dan Fisik Berlian Lu Huang. Lengannya mati rasa.

SREEEK.

Jauh di bawah sana, puing-puing bukit bergeser.

Lu Huang berdiri menyingkirkan batu-batu raksasa dari tubuhnya.

Sisa armor dan jubah di tubuh atasnya telah hancur total, menampakkan otot-ototnya yang bersinar dengan kilau kristal samar—bukti dari kekuatan Tubuh Berlian Kristal warisan leluhurnya. Jika bukan karena fisik bawaan itu, lengan Lu Huang pasti sudah hancur menjadi bubur.

Lu Huang memuntahkan seteguk darah kotor. Tulang rusuknya ada yang retak. Lengan yang dia gunakan untuk menangkis tampak memar parah dan berdarah.

Namun... Lu Huang tertawa.

Tawa yang kasar, gila, dan penuh adrenalin. Dia menyeka darah dari bibirnya dengan ibu jari.

"Hahaha... Luar biasa, Daimeng! Luar biasa!" raungnya ke langit. "Tapi serangan seperti itu... kau tidak akan bisa melakukannya dua kali!"

Lu Huang benar. Cadangan energi Ranah Roh (terutama yang di-boost ke Tahap 8) jauh melampaui kapasitas Lu Daimeng. Daya tahan cadangan energi mereka berbeda.

Visual Kura-kura Penopang Surga milik Lu Huang yang tadi hancur, perlahan terbentuk lagi di belakangnya. Visual kura-kura itu kembali memadat, memeluk tubuh Lu Huang dan membentuk armor roh yang lebih pas di badannya.

Dia menekuk lututnya, bersiap untuk lompatan fatal terakhir untuk menghabisi Lu Daimeng yang sedang kelelahan di udara.

Lu Daimeng tahu ini adalah batasnya. Mengadu tinju ini dengannya sama saja mati konyol.

"Lari!!," otaknya memutuskan.

Dia membentuk kembali sayap bajanya, meskipun kali ini lebih lambat dan lebih berat.

Saat Lu Huang hendak melompat ke atas, Lu Daimeng menggunakan sisa energi mentalnya untuk melancarkan serangan psikologis pamungkas.

Mata Triple Pupil berputar liar, mengirimkan teknik mental berupa jarum ketiadaan.

Dia memfokuskan seluruh Dark Null dari Singularitas Psikis otaknya menjadi satu proyektil pikiran yang tak terlihat, dan menembakkannya lurus menembus lautan kesadaran Lu Huang.

Lu Huang, yang sedang memusatkan seluruh Qi-nya ke kakinya, mengabaikan pertahanan jiwanya.

ZING.

Mata Lu Huang seketika memutih.

Kesadarannya terputus. Otaknya berhenti memproses informasi. Tubuhnya membeku dalam posisi setengah jongkok.

Sengatan mental itu tidak membunuhnya, tapi cukup untuk melumpuhkan fungsi kognitif ahli Ranah Roh yang sedang buffed itu selama 2 detik.

Di pertarungan tingkat tinggi, 2 detik adalah jarak antara hidup dan mati. Jarak antara tertangkap dan lolos.

Lu Daimeng membalikkan badannya di udara, memacu sayap logamnya, dan melesat menjauh menuju awan yang mendung, bersiap untuk menghilang.

Pikirannya rileks selama sepersejuta detik. Papan catur sudah diamankan.

Namun.......Tiba-tiba.

Lu Zhuxin.

Sebagai kultivator cerdas Ranah Roh Tahap 1, saat dia melihat Lu Daimeng dan Lu Huang beradu kekuatan yang menghancurkan lembah, dia tidak menonton seperti orang bodoh. Dia menebak arah angin. Dia menebak bahwa Lu Daimeng, yang licik, pasti akan mencari rute pelarian udara begitu dia kehabisan trik melawan kekuatan mentah Lu Huang.

Lu Zhuxin telah terbang dan bersembunyi di balik gumpalan awan asam tebal, menekan auranya secara ekstrem, menunggu momen yang tepat. Menunggu mangsa yang kelelahan itu lewat.

Dan mangsa itu baru saja berbalik dan terbang ke arahnya.

Lu Daimeng menembus awan tebal itu dengan kecepatan tinggi, fokusnya tertuju ke depan.

Tiba-tiba, intuisi naganya menjerit dengan tingkat bahaya mutlak.

Dari samping kanannya, awan terbelah.

Seorang wanita dengan jubah ungu muncul dengan kecepatan penuh, wajahnya dipenuhi kebencian murni. Di tangannya, sebilah pedang giok yang dilapisi oleh Manifestasi Roh berbentuk Bunga Teratai Ungu melesat bagaikan kilat.

Lu Daimeng terkejut. Matanya melebar. Lengan kanannya yang masih mati rasa tidak bisa diangkat untuk menangkis. Kelelahannya menunda refleks sayapnya.

Tidak ada waktu. Tidak ada ruang.

BLUSSSSHHH!

Suara daging dan otot yang ditembus logam bergema dingin di udara.

Pedang giok Lu Zhuxin, yang diperkuat oleh ketajaman mutlak dari manifestasi roh miliknya, berhasil menembus lapisan pertahanan pasif kulit abu-abu Lu Daimeng.

Pedang itu menembus dadanya, tepat di sebelah kiri, dan menancap dalam.

Menembus jantung manusianya.

Waktu seakan melambat.

Lu Zhuxin menatap mata adiknya yang membelalak. Senyum kemenangan yang sinis, gila, dan lega merekah di bibirnya. Dia telah melakukannya. Dia telan membunuh iblis yang mungkin akan menjadi ancaman untuknya.

"Matilah!!, Sampah!!, ibu pelacur mu itu menunggumu di neraka!!" desis Lu Zhuxin di depan wajah Lu Daimeng, tangannya masih memegang gagang pedang yang menembus dada adiknya.

"Arrgghh"

Rasa sakit yang membakar menjalar ke seluruh saraf Lu Daimeng. Jantung kirinya terkoyak. Darah hangat menyembur dari mulutnya. Kematian terasa sangat dekat, merangkul punggungnya. Bagi manusia normal, ini adalah akhir dari cerita.

Tapi Lu Daimeng bukan manusia normal. Dan dia menolak mati sendirian.

Ekspresi terkejut di wajah Lu Daimeng menghilang dalam sekejap, digantikan oleh kedinginan yang mematikan dan absolut.

Matanya yang berdarah menatap lurus ke dalam jiwa Lu Zhuxin.

Senyum tipis yang selalu menjadi mimpi buruk Keluarga Lu itu kembali.

Lu Zhuxin menyadari ada yang salah. Jantung yang dia tusuk memang hancur, tapi mengapa pusat energi di perut pria ini masih berputar dengan gila? Kenapa jantung nya masih memompa seperti genderang perang?

"Tebasan yang bagus, Jalang," bisik Lu Daimeng, darah menyembur dari sela-sela giginya.

Sebelum Lu Zhuxin sempat melepaskan pedangnya dan mundur, Lu Daimeng mengambil tindakan yang melampaui batas kewarasan.

Alih-alih mundur untuk melepaskan tusukan, Lu Daimeng memajukan tubuhnya, membiarkan pedang itu menembus punggungnya lebih dalam, agar dia bisa mendekat ke jarak nol.

Dengan sisa 1% energi Dark Null dan Aura Naga yang dia peras langsung dari nyawanya sendiri, Lu Daimeng mengangkat tangan kirinya (yang masih berfungsi).

Dia tidak menggunakan senjata. Dia menggunakan tinju murni yang dilapisi ketiadaan.

BAM!

Lu Daimeng memukul telak tepat di sisi kepala Lu Zhuxin.

KRAK!

Barier pelindung Qi Lu Zhuxin hancur berkeping-keping. Perwujudan roh Teratai Ungunya padam seketika. Suara tulang tengkorak yang retak terdengar mengerikan.

"Arghhhh"

Lu Zhuxin menjerit, darah menyembur dari telinga, hidung, dan mulutnya. Pukulan fatal itu mengakhiri kesadarannya seketika.

Tubuh Lu Zhuxin terlepas dari pedangnya, terpental seperti boneka rusak, melesat ribuan meter ke udara sebelum akhirnya mulai jatuh bebas dengan luka yang sangat parah di kepalanya.

Namun, harganya terlalu mahal bagi Lu Daimeng.

Pukulan terakhir itu adalah sisa kepingan tenaganya. Jantung manusianya hancur. Sayap logam di punggungnya kehilangan pasokan energi mental dan langsung mencair, larut ke udara sebagai debu hitam.

Gravitasi mengambil alih.

Tubuh Lu Daimeng, dengan pedang giok yang menancap menembus dadanya, jatuh dari langit. Di bawahnya bukanlah dataran lembah, melainkan sebuah jurang raksasa yang tertutup kabut tebal berwarna hitam pekat, tak berdasar.

Lu Daimeng melesat ke bawah jurang, matanya perlahan menutup seiring kesadarannya yang ditarik ke dalam kegelapan.

Di bawah, Lu Huang tersadar dari stun mental 2 detik-nya.

Dia mendongak ke langit. Matanya melebar ngeri.

Dia tidak melihat Lu Daimeng karena pandangannya hanya berfokus pada kondisi adik perempuannya, Lu Zhuxin, yang jatuh bebas dari awan dalam keadaan tak sadarkan diri, darah menyembur dari kepalanya hingga membanjiri kepala dan pakaiannya.

Dan tak jauh dari sana, dia melihat sekilas bayangan tubuh Lu Daimeng yang jatuh ke dalam jurang yang dalam, dengan pedang giok pusaka milik Zhuxin menancap jelas menembus dada kirinya.

Bagi logika dunia kultivasi: jantung yang hancur ditambah jatuh ke jurang maut sama dengan kematian absolut yang tak bisa dibantah. Iblis itu sudah mati.

Tapi Lu Huang tidak punya waktu untuk merayakan. Nyawa adiknya yang jatuh berada di ujung tanduk.

"ZHUXIN!"

Lu Huang melesat ke udara, menangkap tubuh Lu Zhuxin tepat sebelum dia menghantam tanah.

Lu Huang memeriksa nadinya. Sangat lemah. Tengkoraknya retak, Qi di Dantiannya kacau balau, dan dia koma. Jika tidak segera diobati oleh tabib dan alkemis tingkat tinggi, dia akan mati dalam satu jam.

Lu Huang mendarat di dekat dua tetua Keluarga Lu yang masih hidup (yang sedari tadi bersembunyi di gua).

"Kita pulang! Sekarang!" teriak Lu Huang panik. Dia mengabaikan cincin penyimpanan di leher Lu Daimeng yang jatuh ke jurang. Harta tidak ada artinya jika adik kesayangannya mati, adik kandungnya (satu ibu), mati di pelukannya. Nyawa Zhuxin adalah prioritas absolut.

"Bukankah formasi teleportasi akan memperburuk kondisi fisik nona Zhuxin!" bantah seorang tetua.

"KITA TIDAK PUNYA WAKTU LAGI!! GUNAKAN FORMASI PELINDUNG DARAH! PATAHKAN RUANGNYA! LAKUKAN SEKARANG ATAU KUPENGGAL KEPALA KALIAN!" raung Lu Huang.

Kedua tetua itu gemetar. Mereka segera mengeluarkan pelat formasi kuno, mengorbankan seteguk darah esensi mereka ke atas pelat itu untuk menstabilkan koordinat.

Cahaya emas berdarah menyelimuti kelompok Keluarga Lu.

Dalam hitungan detik, ruang terlipat, menelan Lu Huang, Lu Zhuxin yang koma, dan kedua tetua itu. Mereka menghilang dari Lembah Kematian, kembali ke Kota Jinting, namun dengan meninggalkan sebuah Beacon (penanda koordinat) spasial yang dipagari sihir, agar mereka bisa kembali nanti.

Di mulut gua yang jauh, Lei Zuan dan Qin Chen muncul dari tempat persembunyian mereka, menatap langit yang kini kosong dan jurang hitam di kejauhan.

"Sialan..." maki Lei Zuan, meludah ke tanah. "Lu Huang melarikan diri dan mengunci koordinat pelarian mereka."

Dengan kondisi mereka saat ini—kehabisan energi, kehilangan banyak pasukan, dan lembah yang semakin tidak stabil setelah pertarungan besar tadi—melanjutkan ekspedisi ke pusat lembah adalah tindakan bunuh diri.

"Kita harus mundur," kata Qin Chen tenang, meskipun wajahnya lelah. "Kita tidak punya cukup kekuatan tempur atau dukungan logistik untuk terus maju. Lu Daimeng... telah jatuh."

Qin Chen menatap jurang gelap itu. Entah mengapa, instingnya mengatakan bahwa cerita monster itu tidak mungkin berakhir sesederhana ini.

"Dengan berat hati, kita akhiri ekspedisi ini," putus Qin Chen. "Gunakan segel teleportasi cadangan keluarga masing-masing."

Lei Zuan mendengus kesal, tapi mengangguk setuju. Mereka mungkin mengami kerugian besar dari sumber daya pasukan dan belum bisa memetakan seluruh tempat di Lembah Kematian, tetapi setidaknya... di dalam cincin mereka, tersimpan core darah dan buah Darah Bodhi yang harganya sangat mahal. Pengorbanan hari ini, cukup bebanding.

Satu per satu, kilatan cahaya teleportasi menerangi gua tersebut, membawa pulang sisa-sisa pasukan ekspedisi.

Lembah Kematian kembali sunyi, menyimpan rahasianya, dan menelan sang raksasa ketiadaan ke dalam jurang hitamnya yang abadi.

Bersambung...

1
M Rijal
😍💪 semangat thor
EGGY ARIYA WINANDA: Siap😁
total 1 replies
M Rijal
gw tunggu up nya thor
EGGY ARIYA WINANDA: Sipp 😂😂
total 1 replies
M Rijal
ini benar2 novel yang menarik. 👹😈
EGGY ARIYA WINANDA: Thank u😈👍
total 1 replies
EGGY ARIYA WINANDA
Ini bukan cerita tentang protagonis yang menyelamatkan dunia, ini adalah kisah villain yang berhasil melahap dunia.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!