Satu kontrak, dua keluarga, dan ribuan rahasia. Bagi Bhanu Vandana, Selena Arunika adalah aset yang ia beli. Bagi Selena, Bhanu adalah tirani yang harus ia taklukkan. Di aula yang beraroma cendana, mereka tidak memulai sebuah pernikahan, melainkan sebuah peperangan. Saat fajar bertemu dengan matahari yang beku, siapa yang akan bertahan ketika topeng-topeng kekuasaan mulai retak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sangkar emas yang berduri
Vila di pesisir utara itu berdiri seperti monumen keangkuhan. Bangunan bergaya arsitektur brutalism itu didominasi oleh beton ekspos dan kaca-kaca besar yang menghadap langsung ke arah laut Jawa yang bergolak. Di sekelilingnya, pagar besi setinggi tiga meter dialiri arus listrik, dijaga oleh barisan pria bersetelan safari yang berkomunikasi melalui earpiece. Bagi publik, ini adalah tempat peristirahatan romantis bagi pasangan paling berpengaruh tahun ini. Namun bagi Selena Arunika, setiap inci bangunan ini adalah sel penjara yang dilapisi sutra dan aroma kemewahan yang palsu.
Mobil sedan hitam yang membawa mereka berhenti dengan sentakan halus. Pelayan berseragam putih segera membukakan pintu. Selena melangkah keluar, merasakan angin laut yang asin menghantam wajahnya, menerbangkan helai-helai rambutnya yang tertata rapi. Di sampingnya, Alka Bhanu Vandana turun dengan gerakan yang begitu tenang, seolah-olah ia adalah penguasa alam semesta.
"Tiga puluh hari, Selena," ucap Bhanu tanpa menoleh padanya. Suaranya rendah, nyaris teredam oleh deburan ombak di bawah tebing. "Tiga puluh hari kamu akan diawasi oleh Dahayu. Setiap gerakmu, setiap telepon yang kamu terima, bahkan setiap helai rambut yang jatuh dari kepalamu akan dicatat dalam laporan harian."
Selena tidak menjawab. Ia melangkah masuk ke dalam aula utama yang dingin. Sepatunya berdentang di atas lantai marmer, menciptakan gema yang kesepian. Ia melemparkan tas tangan Hermès miliknya ke atas sofa kulit Italia tanpa rasa hormat sedikit pun, sebuah tindakan pembangkangan kecil yang membuat para pelayan menahan napas.
Selena berbalik, melipat tangan di dada, dan menatap Bhanu yang baru saja masuk. "Kamu tidak sedang mencari seorang istri, Bhanu. Jangan membohongi dirimu sendiri dengan retorika perjodohan ini. Kamu sedang mencari tahanan politik. Katakan padaku, apa yang sebenarnya begitu ditakuti keluarga Vandana dari seorang wanita sepertiku hingga kalian harus mengerahkan satu batalyon penjaga hanya untuk mengawasiku?"
Bhanu melepaskan jas hitamnya, menyerahkannya pada pelayan tanpa melihat, dan melangkah mendekat. Auranya sangat menekan, jenis dominasi yang biasanya membuat orang-orang di dewan direksi gemetar. Ia berhenti tepat di depan Selena, jarak mereka begitu dekat hingga Selena bisa mencium aroma kayu cendana dan peppermint dari tubuh pria itu.
Bhanu mengulurkan tangan, jemarinya yang dingin menarik dagu Selena ke atas agar mata mereka terkunci. "Yang kami takuti bukan kamu, Selena. Kamu hanyalah seorang gadis dengan gaun mahal. Yang kami takuti adalah apa yang tersimpan di dalam kepalamu tanpa kamu sadari. Kamu adalah pemegang sandi terakhir dari aset rahasia kakek kita—aset yang bisa menjatuhkan atau membangunkan imperium ini. Dan aku tidak akan membiarkan musuh-musuhku mendapatkan akses itu, meskipun itu artinya aku harus mengunci kamu di ruang bawah tanah terdalam sekalipun."
Selena tidak berkedip. Ia tidak memalingkan wajahnya. Sebaliknya, ia menyentak tangan Bhanu dengan kasar. Ia melangkah satu langkah lebih maju, justru menantang ruang pribadi Bhanu.
"Kalau begitu, bersiaplah untuk kecewa, Tuan Vandana yang terhormat," desis Selena, suaranya setajam belati. "Karena aku bukan kunci. Aku bukan benda mati yang bisa kamu simpan dalam brankas dan kamu periksa setiap pagi. Aku adalah badai. Dan jika kamu terus memperlakukanku seperti barang dagangan, aku pastikan badai ini akan meruntuhkan setiap beton beton angkuh rumah ini hingga tidak ada yang tersisa untuk kamu wariskan."
Di sudut ruangan, Alka Dahayu Indurasmi berdiri menyandar pada pilar, memperhatikan interaksi itu dengan senyum miring yang sulit diartikan. Ia mencatat dalam benaknya: Selena Arunika bukan sekadar api, dia adalah api abadi.
"Kamar kalian ada di lantai atas," potong Dahayu, suaranya memecah ketegangan yang nyaris meledak. "Dan Selena, aku sudah menyiapkan jadwal harianmu. Kita akan mulai dengan 'pelatihan tata krama Vandana' besok pagi pukul lima. Jangan terlambat, karena Bhanu tidak suka menunggu, dan aku... aku lebih tidak suka lagi."
Selena menoleh pada Dahayu, lalu kembali pada Bhanu. Ia memberikan senyum paling sinis yang bisa ia bentuk. "Pukul lima? Sempurna. Aku selalu suka melihat bagaimana matahari terbit sebelum aku menghancurkannya."
Bhanu terdiam, matanya menyipit memperhatikan punggung Selena yang berjalan menjauh menaiki tangga dengan angkuh. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Alka Bhanu Vandana merasa bahwa ia mungkin telah salah menilai lawan bicaranya. Pintu sangkar telah tertutup, namun ia baru menyadari bahwa yang ia kurung di dalam sana mungkin bukan seekor burung kenari, melainkan seekor macan tutul yang sedang menunggu waktu untuk menerkam lehernya.
Malam itu, di kamar yang luas dan dingin, Selena berdiri di balkon, menatap pagar listrik yang membatasi dunianya. Ia mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih.
"Kalian ingin bermain sandi?" bisiknya pada kegelapan laut. "Mari kita lihat, siapa yang akan hancur lebih dulu saat sandi itu benar-benar terungkap."
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...