Humairah Liandra, mahasiswi 20 tahun yang terkenal nakal, keras kepala, ceplas-ceplos, dan anti diatur, tiba-tiba dijodohkan oleh bundanya sendiri dengan seorang tentara dingin dan disiplin—Haikal Fero, anak dari sahabat lama sang bunda.
Perjodohan yang awalnya ditentang mati-matian justru perlahan mengubah hidup Humairah… dan Haikal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Nung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Mahasiswa baru
Kampus pagi itu lebih ribut dari biasanya.
Spanduk penyambutan mahasiswa baru terbentang di beberapa sudut gedung. Langkah-langkah tergesa, tawa riuh, dan suara senior yang sibuk mengatur kegiatan orientasi memenuhi udara. Kampus yang biasanya terasa biasa saja, kini hidup—terlalu hidup.
Lian duduk di bangku kelas paling belakang, satu tangan memegang botol minum, tangan lainnya menopang dagu. Seragam kampusnya rapi, rambut panjangnya diikat sederhana. Perutnya yang mulai membentuk tertutup jaket tipis—nyaris tak terlihat, kecuali bagi mereka yang tahu harus melihat ke mana.
“Katanya hari ini ada mahasiswa pindahan,” ujar salah satu temannya, antusias.
“Dari luar negeri lagi.”
“Biasanya pindahan mah gitu-gitu aja,” sahut temannya yang lain.
“Tapi ini beda, Lin. Katanya tampan, kaya, dan… aduh, pokoknya paket lengkap.”
Lian hanya mengangguk malas.
“Oh.”
Ia tidak terlalu peduli. Pikirannya lebih tertuju pada pesan Haikal pagi tadi—pesan singkat, kaku, khas suaminya: Jangan lupa makan. Jangan capek.
Itu saja sudah cukup membuat sudut bibirnya terangkat.
Tiba-tiba, kelas mendadak berisik.
Bukan ribut biasa—ini ribut versi terkendali yang gagal. Bisik-bisik cepat menyebar, disusul desahan kagum yang bahkan tidak berusaha ditutupi.
“Eh… itu dia?”
“Ya Allah…”
“Gila, tinggi banget.”
“Liat bajunya deh… jam tangannya asli itu.”
Langkah kaki terdengar mendekat.
Ringan. Tenang. Tidak tergesa.
Dosen yang masuk lebih dulu tampak tersenyum tipis, diikuti seorang pria di belakangnya.
Dan benar saja.
Pria itu tampan—bukan tampan ramai, tapi tampan yang rapi. Tubuhnya tinggi, bahunya lebar, rambutnya hitam tersisir sempurna. Kemeja putih yang ia kenakan jatuh pas di tubuhnya, jam mahal melingkar di pergelangan tangan seolah hanya aksesoris biasa.
Wajahnya tenang. Senyumnya tipis. Tatapannya menyapu kelas dengan santai—seperti seseorang yang terbiasa menjadi pusat perhatian, namun tidak membutuhkannya.
Beberapa gadis nyaris lupa bernapas.
Lian akhirnya melirik.
Hanya sekilas.
Matanya bertemu dengan sosok itu sepersekian detik—lalu berpaling lagi.
Tidak ada detak berlebih. Tidak ada rasa penasaran. Tidak ada ketertarikan.
B aja, pikirnya.
Dalam hatinya, satu nama lain terlintas.
Haikal.
Suaminya.
Ayah dari anak yang sedang ia kandung.
Pria yang wajahnya mungkin tak seramai ini—tapi jauh lebih berarti.
“Namanya…” dosen itu mulai berbicara, “Raka.”
Pria itu melangkah ke depan kelas, mengangguk sopan.
“Saya Raka,” ujarnya dengan suara tenang.
“Mahasiswa pindahan.”
Nada suaranya rendah, terkontrol, enak didengar. Beberapa gadis langsung saling sikut.
Lian menguap kecil, menutup mulut dengan punggung tangan.
Bosen.
Ia menunduk, membuka catatan, sama sekali tidak menyadari—
Bahwa sejak tadi, pria bernama Raka itu tidak sedang menatap seluruh kelas.
Tatapannya tertahan.
Bukan pada gadis-gadis yang menatapnya dengan mata berbinar.
Bukan pula pada dosen.
Melainkan… pada satu sosok di bangku belakang.
Wanita dengan rambut panjang terikat sederhana.
Wajah yang tenang.
Sorot mata yang dingin tapi hidup.
Lian.
Sudut bibir Raka terangkat sangat tipis—nyaris tak terlihat.
Jadi ini dia, batinnya.
Wanita yang menarik pelatuk.
Wanita yang membuat operasinya gagal.
Wanita yang kini duduk tenang… seolah dunia tak pernah menyentuhnya dengan kekerasan.
Ia mengalihkan pandangan, kembali bersikap normal.
Tak ada yang curiga.
Tak ada yang tahu—
bahwa bahaya kini duduk di ruangan yang sama, mengenakan wajah paling sempurna, dan sedang menunggu waktu yang tepat untuk mendekat.
Sementara Lian—
masih tidak tahu apa-apa.
Kelas perlahan kembali tenang setelah dosen mulai menjelaskan silabus.
Namun suasana tak pernah benar-benar kembali seperti semula. Beberapa pasang mata masih mencuri-curi pandang ke arah mahasiswa baru itu, seolah takut melewatkan satu gerakan kecil saja.
Raka berdiri sebentar di depan kelas, mendengarkan penjelasan dosen dengan sikap santai. Setelah dipersilakan duduk, ia menoleh, memindai bangku kosong.
Bangku di sebelah Lian… masih kosong.
Tanpa ragu, Raka melangkah ke sana.
Langkahnya ringan, percaya diri, tidak terburu-buru. Beberapa gadis menatap punggungnya dengan tatapan kecewa saat ia melewati mereka.
Lian menyadari ada seseorang yang duduk di sebelahnya.
Ia melirik sekilas—dan kembali fokus ke catatan.
Raka duduk, meletakkan tasnya dengan rapi, lalu membuka buku tulis. Ia tidak langsung bicara. Diam sejenak, menyesuaikan diri dengan suasana.
Lalu, dengan nada rendah dan sopan, ia membuka percakapan.
“Halo.”
Lian menoleh.
“Halo,” jawabnya singkat.
Raka sedikit terkejut.
Ia mengira wanita ini akan mengangguk dingin, atau bahkan pura-pura tidak mendengar. Tapi tidak—jawaban Lian jelas, netral, dan tidak bermusuhan.
“Aku Raka,” lanjutnya, menyodorkan tangan.
“Mahasiswa pindahan.”
Lian menatap tangan itu sepersekian detik.
Ia tidak suka basa-basi berlebihan, tapi ia juga bukan orang yang mengabaikan etika.
Ia menjabat tangan Raka dengan singkat. Tidak lemah, tidak berlebihan.
“Lian,” katanya.
“Jurusan teknik mesin.”
Alis Raka terangkat tipis.
“Teknik mesin?” ulangnya, ada ketertarikan nyata di suaranya.
“Jarang perempuan di jurusan itu.”
“Bukan berarti nggak ada,” jawab Lian datar.
Raka terkekeh kecil.
“Benar juga.”
Ia menatap Lian lebih saksama kali ini—bukan dengan tatapan menggoda, melainkan menilai. Ada sesuatu dalam diri wanita ini yang… berbeda. Tenang, tapi tidak kosong.
“Kamu kelihatan nggak terlalu tertarik sama hal-hal heboh,” ujar Raka.
Lian menulis sesuatu di bukunya sebelum menjawab.
“Aku ke kampus buat kuliah, bukan buat nonton orang.”
Jawaban itu membuat Raka tersenyum lebih lebar—tulus, atau setidaknya terlihat seperti itu.
“Jujur,” katanya.
“Aku suka.”
Lian meliriknya sebentar.
“Itu bukan pujian.”
“Buatku, iya.”
Kelas kembali hening saat dosen mulai menerangkan materi. Raka berhenti bicara, menghormati suasana. Ia mencatat dengan cepat, tangannya cekatan—tanda seseorang yang cerdas dan terbiasa disiplin.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan.
Raka kembali bersuara, lebih pelan.
“Kamu kelihatan capek.”
Lian menghela napas kecil.
“Semua orang capek.”
Raka mengangguk pelan.
“Aku cuma memastikan kamu baik-baik saja.”
Lian menoleh, menatap Raka lebih lama kali ini. Tatapannya tajam, membaca batas.
“Aku baik,” katanya tegas namun tidak kasar.
“Dan aku sudah menikah.”
Kalimat itu diucapkan ringan. Bukan untuk pamer. Bukan untuk menantang. Hanya pernyataan fakta.
Beberapa gadis di depan menoleh refleks. Raka sedikit terdiam—hanya sepersekian detik.
Lalu ia tersenyum lagi.
“Beruntung sekali suamimu,” ujarnya tenang.
“Punya istri yang jujur sejak awal.”
Lian mengangguk kecil.
“Dia memang beruntung.”
Dalam hati, ia menambahkan: dan aku juga.
Raka kembali diam. Namun di balik sikap santainya, pikirannya bergerak cepat.
Wanita ini tidak seperti yang ia bayangkan.
Tidak defensif.
Tidak sok kuat.
Tidak mudah dibaca.
Dan yang paling menarik—
Ia tidak mencoba menarik perhatian siapa pun.
Raka menatap ke depan kelas, tapi dalam kepalanya satu nama bergaung pelan.
Humairah Liandra.
Wanita yang seharusnya takut.
Namun justru duduk tenang di sebelahnya, tanpa sedikit pun curiga.
Dan di situlah Raka tahu—
permainan ini akan jauh lebih menarik dari yang ia rencanakan.