17 Agustus 1996.
Bagi Julian "Lian" Pratama, hari ini seharusnya menjadi titik akhir. Di balik senyum sempurna sang Ketua OSIS, jiwanya telah lama kosong. Ia menaiki rooftop sekolah, siap untuk pergi selamanya.
Namun, alih-alih keheningan, yang terdengar hanya bunyi "KLIK" dari sebuah Walkman tua.
Lian terbangun kembali di pagi yang sama. Upacara yang sama. Kebosanan yang sama. Terjebak dalam loop waktu yang tak berujung, dunia Lian perlahan memudar menjadi hitam-putih. Hingga ia menemukan satu anomali: Kara Anjani.
Gadis pecinta musik grunge itu adalah satu-satunya yang tetap berwarna di mata Lian. Anehnya, setiap kali hari berulang, ada detail kecil pada Kara yang tidak ikut terhapus.
Apa hubungan Kara dengan putaran waktu ini? Dan jika Lian berhasil menekan tombol Stop pada kaset misterius itu, apakah ia akan bebas... atau justru kehilangan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vorlagh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hantu di Pita Kaset
Gerbang SMA Merah Putih baru dibuka setengah.
Lian mematikan mesin motornya di parkiran luar, sengaja tidak masuk ke area sekolah. Dia tidak memakai atribut lengkap. Tidak ada dasi. Tidak ada topi pet.
Lian mengenakan kaos oblong hitam yang dibalut kemeja flanel merah kotak-kotak (gaya grunge yang dilarang keras di sekolah), celana jeans sobek di lutut, dan sepatu bot kulit bekas.
Ini pelanggaran berat. Apalagi di hari sakral 17 Agustus.
Tapi Lian tidak peduli.
Setan di kepalanya sudah diam, digantikan oleh obsesi baru: Pembuktian.
Lian melompati pagar samping sekolah—hal yang dilakukan siswa nakal, bukan Ketua OSIS teladan.
Kakinya mendarat di tanah basah berbau embun.
Napasnya memburu. Dia berlari, menyusup di antara bayangan gedung agar tidak terlihat oleh Pak Surip si guru kedisiplinan yang sedang berkeliling dengan rotan.
Pukul 06:25 WIB.
Lian sampai di koridor mading.
Dia bersembunyi di balik pilar beton. Mengintai.
Dunia di sekelilingnya masih abu-abu. Tembok sekolah terlihat seperti penjara monokrom.
"Ayo datang," batin Lian, meremas Walkman di saku kemejanya. "Lo udah janji. Di timeline mana pun, lo pasti ke sini."
Semenit berlalu. Dua menit.
Hening.
Keringat dingin menetes di pelipis Lian. Bagaimana kalau teori ini salah? Bagaimana kalau "janji" itu terhapus total sampai ke akar-akarnya, dan Kara memutuskan untuk tidak menempel puisi hari ini?
Pukul 06:29 WIB.
Terdengar langkah kaki kecil. Tap. Tap. Tap.
Lian menahan napas.
Dari ujung lorong, sesosok gadis muncul.
Kara.
Masih dengan seragam yang sama. Kuncir kuda dengan pita merah (satu-satunya warna di dunia Lian). Membawa gulungan kertas di tangannya.
Kara berhenti di depan mading. Dia mendongak, menatap kaca papan pengumuman yang kosong di bagian pojok kanan atas. Tempat yang biasa dia tempeli puisi.
Dia bergerak persis seperti kemarin.
Dia berjinjit. Mengangkat kertasnya.
"Kurang tinggi, Ra," suara Lian memecah keheningan pagi.
Kara tersentak hebat. Kertas di tangannya terlepas, melayang jatuh ke lantai.
Dia berbalik, matanya membelalak lebar.
"K-kak Lian?!"
Kara mundur dua langkah saat melihat penampilan Lian. Bukan pangeran sekolah yang rapi, tapi sosok berantakan dengan mata merah kurang tidur dan baju preman.
Ketakutan terpancar jelas di mata Kara.
"K-kenapa Kakak pake baju gi—"
"Lo inget nggak?" potong Lian cepat. Dia maju mendekat, mengabaikan jarak sopan santun.
Lian mencengkram bahu Kara. Sentuhan itu membuat warna di sekeliling mereka kembali meledak. Tembok jadi krem. Langit jadi biru. Lantai jadi putih bersih.
Tapi Lian tidak peduli pada pemandangan itu lagi. Dia menatap mata Kara tajam.
"Lo inget kemarin siang?" desak Lian. "Hutan pinus? Roti selai? Kita janji ketemu di sini jam 6:30. Gue tepatin janji gue, Ra. Sekarang giliran lo. Inget!"
Kara menggeleng panik, berusaha melepaskan diri. "Sakit, Kak! Kakak ngomong apa sih? Aku... aku baru nyampe sekolah. Kita nggak pernah ke hutan!"
Hati Lian mencelos.
Hancur.
Tentu saja. Tatapan Kara itu... tatapan asing. Kara ini adalah Kara versi Factory**Reset. Kara yang belum pernah membolos dengannya. Kara yang masih memuja Lian dari kejauhan dalam diam.
Kara ketakutan setengah mati. Ketua OSIS yang dia kagumi tiba-tiba berubah jadi orang gila yang kasar.
Lian melepaskan cengkeramannya. Dia mundur selangkah, meninju telapak tangannya sendiri dengan frustrasi.
"Sialan! Sistem brengsek!"
Kara mengambil kesempatan itu untuk membungkuk, memungut kertas puisinya, dan bersiap lari. "Aku... aku harus pergi, Kak."
"Tunggu!" Lian menghadang jalan Kara.
Kara mundur lagi, punggungnya menabrak kaca mading. "Kak, tolong... nanti ada guru..."
Lian merogoh saku kemejanya. Dia mengeluarkan Walkman perak itu.
Tanpa bicara, dia memasangkan headphone ke kepala Kara. Menutup telinga gadis itu dari dunia luar.
"Kak?" Kara ingin menarik headphone itu lepas.
Lian menahan tangan Kara. Matanya memohon. Benar-benar memohon seperti orang yang tenggelam butuh pelampung.
"Dengerin ini. Sebentar aja. Gue mohon, Ra. Dengerin suara lo sendiri."
Lian menekan tombol PLAY.
Dia memutar volume ke maksimal.
Kara terdiam. Matanya masih waspada, tapi dia berhenti memberontak.
Hening sejenak. Hanya suara desis kaset.
Lalu... rekaman diputar
Wajah Kara berubah.
Alisnya bertaut bingung. Lalu matanya melebar. Lebih lebar dari sebelumnya.
Mulutnya terbuka sedikit, tapi tidak ada suara yang keluar.
Wajahnya memucat, darah seolah terkuras habis dari pipinya yang merah merona.
Dia mendengar suara itu. Suaranya sendiri.
Sangat jelas. Sangat intim.
"...Sebenarnya aku udah suka sama Kak Lian dari kelas 1 SMA..."
"...Setiap istirahat, aku diam-diam nunggu di koridor cuma buat liat Kakak lewat..."
Tangan Kara gemetar hebat. Dia mengangkat kedua tangannya menutup mulut.
Rekaman itu terus berputar. Suara Kara di dalam kaset terdengar tulus, rapuh, dan penuh cinta.
Di depan mading, Kara menatap Lian dengan horor.
Dia tahu dia tidak pernah mengucapkan kata-kata itu. Tidak kepada siapa pun, apalagi direkam. Itu adalah rahasia tergelap yang dia kubur di buku hariannya.
Bagaimana bisa... suara itu ada di sana?
"I-itu..." Kara tergagap, melepas headphone itu paksa. Napasnya pendek-pendek. "Itu suara siapa? I-itu editan kan? Kakak rekam aku kapan?!"
"Gue nggak ngedit apa-apa, Ra," kata Lian pelan. "Itu suara lo. Kemarin."
"Nggak mungkin! Kemarin aku di rumah seharian! Aku nggak pernah ngomong gitu ke Kakak!" teriak Kara histeris, air mata mulai menggenang. Logikanya berantakan.
Lian maju selangkah lagi. "Lo ngomong itu di Dago Pakar. Kita makan roti selai stroberi. Lo bilang... lo selalu liat gue di rooftop. Lo yang selalu nahan gue supaya nggak lompat."
Deg.
Kara membeku.
Kalimat terakhir itu.
...nahan gue supaya nggak lompat...
Kara tidak pernah menceritakan itu pada siapa pun. Bahwa dia tahu rahasia percobaan bunuh diri Lian. Itu fakta yang mustahil diketahui Lian kecuali Kara sendiri yang memberitahunya.
"Kamu..." Kara mundur, kakinya lemas. Dia merosot, berjongkok di lantai koridor sambil memegangi kepalanya yang mendadak sakit luar biasa.
"Argh!" Kara mengerang.
Dunia di sekitar mereka mulai berkedip.
Warna tembok koridor berubah-ubah cepat: Merah-Abu-Hitam-Putih.
Seperti televisi rusak yang sinyalnya diacak.
Lian merasakan sakit yang sama. Telinganya berdenging tinggi.
NGIIIIIINGGGG.
Semesta marah. Mereka melanggar aturan dengan saling membagi ingatan lintas waktu.
"Hentikan!" jerit Kara. "Sakit, Kak!"
Lian ikut berjongkok, memeluk bahu Kara. Berusaha menjadi tameng dari serangan glitch tak kasat mata ini. "Inget, Ra! Coba inget sedikit aja! Lo harus percaya sama gue!"
Saat Kara mengangkat wajahnya, hidungnya mengeluarkan darah segar. Mimisan.
Tanda fisik dari penolakan memori.
Tapi di mata cokelat gadis itu... ada secercah pengakuan.
Dia tidak ingat kejadian di hutan pinus. Tapi rekaman dan fakta tentang rooftop itu adalah bukti yang tak terbantahkan. Lian mengetahui sesuatu yang seharusnya mustahil.
"Suaranya..." bisik Kara sambil menyeka darah di hidungnya. "Suaranya... sedih banget. Kayak orang yang mau pisah."
Lian tersenyum getir. "Karena waktu itu kita emang mau pisah. Dan gue mati sejam setelah lo ngomong itu."
Belum sempat Kara mencerna kalimat mengerikan itu, suara berat dan penuh amarah menggelegar dari ujung lorong.
"JULIAN PRATAMA!"
Lian dan Kara menoleh.
Pak Surip berdiri di sana. Tapi bukan Pak Surip biasa.
Wajah guru kedisiplinan itu kaku seperti topeng lilin. Matanya tidak berkedip. Dan di belakangnya, berbaris rapi sepuluh anggota OSIS yang mengenakan jas almamater, berdiri tegap seperti tentara mainan.
Mereka semua menatap Lian dan Kara dengan tatapan kosong.
"Siswa dilarang berada di koridor ini sebelum bel," ucap Pak Surip. Nadanya datar, robotik. "Serahkan kaset itu. Benda terlarang."
Mereka bukan manusia, pikir Lian ngeri.
Hari ini, Antagonis-nya bukan cuma waktu. Tapi seluruh sekolah.
Sistem berusaha merebut Walkman itu. *Black Box-*nya.
Lian menarik Kara berdiri kasar.
"Ra, lari!"
"Ke mana?!" Kara panik melihat para OSIS mulai berlari ke arah mereka dengan gerakan serentak yang tidak wajar.
Lian melihat sekeliling. Pintu keluar dijaga Pak Satpam yang juga berdiri kaku seperti manekin.
"Ke mana aja asal bukan di sini!"
Lian menggandeng tangan Kara erat.
Mereka berlari berlawanan arah, menuju pintu belakang kantin yang biasanya tidak dikunci.
Di belakang mereka, derap langkah kaki terdengar seperti pasukan baris-berbaris yang mengejar buronan.
Ini bukan lagi drama romantis SMA.
Ini horor survival.
Saat mereka berlari, Walkman di saku Lian terus berputar di saku kemejanya.
Di Sisi B, masih ada ruang kosong pita kaset yang tersisa.
Dan Lian bersumpah, dia tidak akan membiarkan sekolah terkutuk ini merebut satu-satunya saksi bisu keberadaan mereka.
"Jangan lepasin tangan gue, Ra!" teriak Lian sambil mendobrak pintu gudang kantin. "Kalo kita misah, gue bakal lupa semuanya!"
Dan di detik itu, Kara, gadis penurut itu, membuat pilihan.
Dia tidak melepaskan tangan Lian. Dia justru mencengkram balik, lebih kuat.