Alek seorang remaja SMA nakal beragama kristen sering bertanya soal kebenaran tentang hidup ini hingga datang seorang yang menjadi jawaban bagi Alek, Masya Khansa azza Nabila menjadi awal perubahan kehidupan Alek cahaya di kegelapan,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon abangku_ss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 24
BAB 24: Surat Tanpa Alamat( bagian dua)
Pagi itu, langit di atas Lapas Bandung Timur tampak abu-abu, seolah-olah awan sengaja berkumpul untuk menahan sinar matahari agar tidak menyentuh dinding-dinding kusam itu. Alek baru saja selesai membantu petugas kesehatan membagikan jatah vitamin terakhir bagi para narapidana yang baru pulih dari wabah. Tubuhnya letih, namun ada binar ketenangan di matanya—binar yang segera meredup saat seorang petugas memanggil namanya dengan nada datar.
"Alexander Panjaitan! Ada kunjungan untukmu di ruang besuk."
Alek tertegun. Ibunya baru saja berkunjung minggu lalu, dan ayahnya... Alek sudah berhenti berharap ayahnya akan datang dalam waktu dekat. Jantungnya berdegup dengan irama yang tak menentu saat ia melangkah menyusuri koridor menuju ruang kaca itu.
Di balik kaca pembatas, bukan sosok anggun ibunya yang menunggu, melainkan Riki. Sahabatnya itu duduk dengan bahu yang merosot, wajahnya terlihat jauh lebih dewasa dan lelah dibandingkan terakhir kali mereka bertemu. Di samping Riki, terletak sebuah bungkusan kecil yang dibungkus kertas cokelat rapi.
Alek duduk dan mengangkat gagang telepon. "Rik," sapanya singkat.
"Lex," Riki membalas, suaranya parau. "Gimana kabar lo? Gue dengar lo jadi pahlawan di sini pas ada wabah?"
Alek tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak sampai ke mata. "Gue cuma berusaha nggak jadi sampah lagi, Rik. Ada apa? Muka lo kayak habis lihat hantu."
Riki terdiam lama. Ia menatap bungkusan cokelat di depannya, lalu menatap Alek dengan tatapan yang penuh rasa simpati—jenis tatapan yang paling tidak diinginkan Alek. "Gue ke sini mau kasih ini. Titipan dari Khansa. Dia nggak bisa datang sendiri. Keadaannya... nggak memungkinkan."
Darah Alek seolah berhenti mengalir saat mendengar nama itu. Ia memperhatikan Riki mendorong bungkusan itu ke arah petugas untuk diperiksa sebelum nantinya diserahkan pada Alek.
"Dia baik-baik saja, kan? Pesantren nggak apa-apa, kan?" tanya Alek bertubi-tubi.
"Dia aman, Lex. Tapi..." Riki menarik napas panjang. "Keluarganya mutusin buat mindahin dia. Fitnah di luar sana masih kencang, meski lo udah di sini. Orang-orang tua di kampungnya mulai dengar berita yang nggak-nggak. Buat jaga nama baik dia dan pesantren, dia dikirim ke pondok lain."
"Ke mana?"
Riki menggeleng perlahan. "Gue nggak tahu, Lex. Maryam juga nggak dikasih tahu. Semuanya dirahasiain rapat-rapat. Dia berangkat tadi subuh."
Dunia Alek seolah runtuh di tempat ia duduk. Jeruji besi di sekelilingnya tiba-tiba terasa sepuluh kali lebih sempit. Khansa adalah cahaya kecil di ujung terowongan gelapnya, satu-satunya alasan kenapa ia rela mendekam di sini tanpa penyesalan. Dan sekarang, cahaya itu dipadamkan secara paksa.
"Di dalam bungkusan itu ada buku catatan baru buat lo. Dan... ada surat. Dia bilang, lo cuma boleh baca saat lo udah di sel," tambah Riki pelan.
Sisa waktu kunjungan itu terasa seperti mimpi buruk bagi Alek. Ia hampir tidak mendengar cerita Riki tentang sekolah atau tentang Venom Crew yang mulai bubar karena banyak anggotanya yang ketakutan. Pikirannya hanya tertuju pada bungkusan cokelat itu.
Satu jam kemudian, Alek duduk di pojok selnya yang remang-remang. Teman-teman satu selnya sedang berada di lapangan, memberinya privasi yang jarang terjadi. Dengan tangan gemetar, ia membuka bungkusan itu.
Sebuah buku catatan bersampul biru tua dengan kertas yang tebal dan wangi. Dan di selipannya, sebuah amplop putih bersih. Alek bisa mencium aroma parfum melati yang lembut dari kertas itu—arama yang selalu terpancar dari cadar Khansa.
Ia membuka surat itu dengan hati-hati, seolah kertas itu adalah kaca tipis yang mudah hancur.
> Untuk Mas Alexander,
> Assalamu’alaikum.
> Saat Mas membaca surat ini, mungkin saya sudah tidak lagi berada di tempat yang sama saat kita pertama kali bertemu. Ayah dan Ibu memutuskan bahwa ini yang terbaik. Mereka ingin saya belajar di tempat yang lebih jauh, di mana tidak ada suara-suara sumbang yang bisa melukai hati mereka, atau hati Mas.
> Mas, terima kasih. Terima kasih karena sudah memilih untuk melindungiku malam itu. Terima kasih karena sudah menanggung beban yang seharusnya tidak Mas pikul sendirian. Saya tahu, dinding yang memisahkan kita sekarang bukan hanya tembok penjara, tapi juga keyakinan yang kita pegang teguh. Dan sekarang, jarak fisik pun ikut menjadi dinding ketiga di antara kita.
> Jangan cari saya, Mas. Bukan karena saya tidak ingin ditemui, tapi karena saya ingin Mas fokus pada perjalanan Mas sendiri di sana. Syekh Mansyur adalah orang baik, belajarlah darinya. Jadilah manusia baru yang Mas impikan.
> Mungkin dinding ini terlalu tinggi untuk kita lompati sekarang, Mas. Biarkan doa yang menjadi jembatan. Saya akan selalu membawa nama Mas dalam setiap sujud saya, meminta kepada Pemilik Hati agar Mas selalu dikuatkan. Jika takdir mengizinkan, dunia ini cukup sempit untuk mempertemukan dua orang yang saling mendoakan.
> Selamat tinggal untuk sementara, Mas Alexander. Maafkan saya yang menjadi penyebab penderitaanmu.
> Salam hangat,
>masya Khansa Azza Nabila
>
Alek meremas surat itu di dadanya. Air mata yang selama ini ia tahan sejak malam vonis, akhirnya jatuh juga. Isakannya sunyi, namun badannya bergetar hebat. Ia merasa seperti kehilangan pegangan di tengah samudera. Khansa pergi tanpa alamat, tanpa kepastian kapan akan kembali.
"Kenapa..." bisiknya parau. "Kenapa semuanya harus diambil dariku?"
Ia merasa marah. Marah pada ayahnya yang tidak peduli, marah pada dunia yang memfitnah gadis suci seperti Khansa, dan marah pada dirinya sendiri yang hanya bisa duduk di balik jeruji besi sementara orang yang ia cintai menjauh.
Alek bangkit dengan emosi yang meluap, hendak melempar buku catatan itu ke dinding, namun langkahnya terhenti saat matanya menangkap sosok Syekh Mansyur yang berdiri di ambang pintu sel yang terbuka. Pria tua itu menatapnya dengan kesedihan yang mendalam, seolah ia sudah tahu apa yang terjadi tanpa perlu bertanya.
Alek jatuh terduduk di depan Syekh Mansyur. "Dia pergi, Syekh. Dia pergi dan saya nggak tahu di mana dia."
Syekh Mansyur masuk ke dalam sel yang sempit itu, duduk di lantai semen di samping Alek, dan meletakkan tangannya di bahu pemuda itu.
"Alexander," suara Syekh Mansyur begitu tenang, kontras dengan badai di hati Alek. "Tuhan seringkali mengambil lilin dari tangan kita bukan untuk membiarkan kita dalam kegelapan, tapi untuk memaksa kita melihat bahwa matahari akan segera terbit."
"Tapi saya nggak punya siapa-siapa lagi, Syekh!" tangis Alek pecah. "Ayah saya malu pada saya, Khansa pergi... apa gunanya saya jadi orang baik di sini?"
"Gunanya adalah untuk dirimu sendiri," sahut Syekh Mansyur tegas. "Jika kau menjadi baik hanya karena ingin dilihat ayahmu atau ingin mendapatkan Khansa, maka kebaikanmu itu palsu. Kau akan hancur setiap kali mereka mengecewakanmu. Tapi jika kau menjadi baik karena kau ingin berdamai dengan Tuhan dan dirimu sendiri, maka tidak ada satu pun orang di dunia ini yang bisa menghancurkanmu."
Syekh Mansyur mengambil buku catatan biru dari lantai dan memberikannya kembali ke tangan Alek.
"Tuliskan semuanya di sini. Semua amarahmu, semua rindumu, semua doamu. Biarkan buku ini menjadi saksi bahwa Alexander yang masuk ke sini sebagai pemarah, akan keluar sebagai pria yang memiliki jiwa sekuat batu karang. Khansa tidak pergi, dia hanya pindah ke dalam doamu. Dan doa adalah alamat yang tidak pernah salah kirim."
Alek menatap buku itu. Jemarinya mengusap sampulnya yang halus. Perlahan, isakannya mereda. Ia mengambil pensil pendeknya, membuka halaman pertama buku pemberian Khansa, dan menuliskan satu kalimat dengan huruf yang tegas:
Bab 1: Menunggu Pagi.
Di luar, hujan akhirnya turun membasahi bumi Bandung. Suaranya menderu di atas atap seng penjara, seolah ikut menangis bersama Alek, namun juga sekaligus membasuh luka-luka lama yang mulai mengering. Alek tahu, jalan di depannya masih sangat panjang dan sunyi, tapi setidaknya sekarang ia tahu cara untuk terus berjalan: dengan buku di tangan dan doa sebagai kompas.
hehe semangat bangg
baguss bangett pliasss cerita nyaaa lanjutt dongg