Hana, seorang anak yang tertukar pada saat dilahirkan, akhirnya bisa kembali kepada keluarganya. Namun, ia tak pernah menyangka, perasaan bahagia, kehidupan manis dengan orang tua, semuanya hanya harapan palsu semata. Ia diambil hanya untuk reputasi orang tua. Diabaikan, ditindas, bahkan mati pun tidak dipedulikan.
Jiwanya tidak menerima kematian, ia menoreh takdir pada langit, meminjam jiwa yang kuat.
Jiwa seorang Ratu hebat dari kerajaan Amerta, terpanggil untuk membalaskan dendam Hana. Jiwa leluhur yang terusik oleh derita sang penerus. Pewaris kehormatan dari kerajaan agung Amerta.
Nasib semua orang pun berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
"Tuan, kabar buruk!" ucap asisten Tuan Haysa dengan wajah tak sedap dipandang.
"Kabar buruk apa?" Laki-laki tua itu emosi, menatap tajam pada asistennya.
"Tuan Alan mengatakan, nona Hana tidak dibawa ke rumah ini. Beliau sudah menanyakannya kepada para pelayan di rumah ini, dan para pelayan juga mengatakan bahwa mereka tidak melihat siapapun datang sejak pagi," ucap asisten Tuan Haysa membuat semua orang tertegun.
Shopia memberengut kesal, ia kira Alan tidak akan lolos dari kemarahan ayahnya. Ternyata dia sudah lebih dulu menyelidikinya.
"Tuan Muda Alan juga memanggil sebagian orang-orangnya dari kota. Entah apa yang sedang dilakukannya. Saya tidak mendapatkan informasi apa-apa lagi. Mereka hanya mengatakan mengejar seorang pengkhianat di perusahaan," sambungnya semakin membuat mereka diam.
"Sial! Bawa dua orang satpam itu ke sini!" titah Tuan Haysa penuh emosi.
Sang asisten pergi kembali ke gedung pesta mencari kedua orang satpam yang membawa Hana keluar. Shopia duduk di samping sang ibu, memeluknya dengan sedih.
"Bagaimana kalau Hana tidak ditemukan? Bagaimana kalau kedua satpam itu menculik Hana? Ibu, semua ini salahku. Seharusnya kita membiarkan saja Hana di pesta," rengek Shopia sama seperti sebelum-sebelumnya. Penuh kepura-puraan.
"Sudahlah. Mereka tidak akan berani melakukan itu. Tunggu saja asisten Riker datang, kita akan tahu kebenarannya," ucap sang ibu menepuk-nepuk tangan Shopia.
"Membiarkan Hana di pesta dalam kondisi seperti itu sungguh memalukan. Itu akan menjadi karma untuk keluarga kita. Pesta pertunangan dikotori oleh darah di tubuhnya," sengit wanita tua di sana benar-benar kesal.
"Nenek benar. Hana benar-benar merusak kebahagiaan hari ini. Dia memang ingin menghancurkan keluarga kita, membuat malu keluarga kita," timpal Ethan seraya meringis merasakan sakit di pipi.
Mereka menunggu cukup lama sampai Riker membawa satpam itu ke hadapan mereka.
"Tuan, saya menemukan mereka terikat di gedung belakang. Mereka mengatakan seseorang membuat mereka tak sadarkan diri dan membawa Hana pergi. Mereka tidak tahu siapa orang itu," ucap Riker sebelum Tuan Haysa bertanya.
"Be-benar, Tuan. Jika Anda tidak percaya, Anda bisa memeriksa cctv gedung pesta. Kami benar-benar tidak berbohong," ucap salah satunya dengan terbata-bata ketakutan.
Semoga Tuan Alan sudah merusak semua rekaman di sana.
Ia membatin, berharap rekaman di halaman gedung pesta telah musnah. Tuan Haysa menganggukkan kepala, memberi perintah untuk Riker menemukan rekaman tersebut. Riker pergi memeriksa cctv gedung pesta.
"Kalian yakin tidak berbohong?" tanya Shopia menyelidik.
"Be-benar, Nona. Kami tidak berbohong, jika kami berbohong mana mungkin kami berani diperiksa. Saat itu kami baru saja keluar dari gedung, tapi tiba-tiba seseorang memukul kami hingga membuat kami tak sadarkan diri. Ketika sadar, kami sudah terikat di belakang gedung. Beruntung asisten Riker menemukan kami. Jika tidak, kami akan tetap di sana entah sampai kapan," jawab mereka dan memang begitu keadaannya.
Shopia menghela napas, diam dan berpikir. Bertanya-tanya siapa yang membawa Hana. Alan? Tidak mungkin! Alan pergi saat mereka sedang melangsungkan makan malam setelah pesta berakhir, sedangkan Hana pergi sejak pagi.
"Kita tunggu hasil rekaman cctv saja, saat itu kita akan tahu kebenarannya," ucap Ethan diangguki semua orang.
Kedua satpam itu masih berlutut dengan tubuh bergetar ketakutan. Mereka harus tetap mendapatkan kepercayaan Tuan Haysa untuk menjadi mata-mata di rumah itu. Beberapa saat kemudian, asisten Riker datang membawa laporan.
"Tuan, cctv di depan gedung telah dirusak sehingga rekamannya tidak ada. Sepertinya memang sudah direncanakan," ucap asisten Riker seraya menyerahkan sebuah tab kepada majikannya.
Tuan Haysa menatap kesal layar di mana semua rekaman tersedia kecuali kamera depan gedung dan sekitarnya.
"Sial!"
Brak!
Ia membanting tab itu hingga hancur berserakan.
"Asisten Riker, apakah Anda tahu siapa yang melakukannya?" tanya Shopia penasaran.
"Saya ingat. Sebelum pingsan, saya sempat melihat seseorang yang berpakaian hitam dan memakai topi hitam. Ia menutupi wajahnya dan hanya terlihat matanya saja. Dia yang membawa nona Hana pergi," ucap salah satu satpam mengarang cerita.
"Kau yakin?" selidik Tuan Haysa tak percaya begitu saja.
"Yakin, Tuan! Saya sangat yakin. Sepertinya orang itu bukanlah orang sembarangan, Tuan," katanya lagi meyakinkan.
Tuan Haysa manggut-manggut dan menjatuhkan tubuh pada sandaran kursi. Ia mengusap dagu, berpikir panjang.
"Itu bagus. Artinya dia tidak akan datang lagi ke rumah ini, bukan? Dan tidak akan lagi mengganggu cucu kesayanganku," ucap Nenek tersenyum lebar.
"Benar juga. Kita bisa memberikan villa itu juga kepada Shopia. Hana sudah dibawa pergi oleh orang misterius, maka biarkan saja. Jika media bertanya, kita akan mengatakannya seperti itu," timpal Nyonya Haysa penuh semangat.
Mereka menyetujui ide itu, biarkan saja Hana dan jangan mencarinya. Shopia tersenyum sinis, villa senilai miliaran rupiah itu akan menjadi miliknya. Juga bisnis teh keluarga yang sudah menjadi turun temurun.
hai jalang gk tau diri lo