Greta Oto Wright terlahir sebagai putri dengan mata yang berbeda warna (Heterochromia) sama seperti ayahnya, sebuah tanda yang diyakini membawa nasib buruk. Sejak dalam kandungan, seekor kupu-kupu kaca tembus pandang telah berterbangan di sekitar istana, seolah-olah menjaga dan mengawasinya.
Ketika tragedi menimpa kerajaan, Greta menjadi terisolasi, terperangkap oleh mitos, ketakutan, dan rahasia orang-orang terdekatnya. Dalam keheningan dan keterasingan, ia perlahan menyadari bahwa apa yang disebut kutukan itu mungkin adalah kekuatan yang tersembunyi dari dunia.
Note: Non Romance
Follow ig: gretaela82
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greta Ela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Tuduhan Thaddeus
"Ayah?"
"Ayah dari mana?" tanya Thaddeus, masih mencoba mengatur napas.
"Ruang bawah," jawab Arion singkat.
"Aku menemukan ini."
Ia mengangkat sedikit buku itu. Debu tipis beterbangan.
"Buku apa?" tanya Thaddeus
"Tidak ada judulnya. Hanya tersimpan di peti tua." jawab Arion
Thaddeus langsung tergerak ingin melihatnya. Tangannya hampir menyentuh sampul kasar itu.
Namun Arion menarik buku tersebut menjauh.
"Jangan!" tegas Arion
"Aku hanya ingin melihat–"
"Kau sudah memilih mencari jawaban bersama Hugo, bukan?" potong Arion.
"Kalau kau tidak percaya pada ayahmu sendiri, lanjutkan saja pencarianmu di luar istana."
Kalimat itu seperti tamparan bagi Thaddeus
Thaddeus menatap ayahnya tidak percaya.
"Ini bukan soal percaya atau tidak, ayah. Ini soal Ibu dan Greta."
"Dan aku ayahmu," suara Arion mengeras.
"Aku tahu apa yang harus kulakukan."
Thaddeus terdiam. Tapi didalam pikirannya, semua terasa berantakan. Ayahnya semakin keras kepala, semakin aneh. Seolah apa pun yang datang dari dirinya selalu dianggap ancaman.
"Baik, lakukan saja apa yang Ayah mau." ucapnya tak tenang.
Tak semestinya Ia berkata dengan kasar kepada ayahnya.
Arion tidak menjawab. Ia melangkah pergi, membawa buku tua itu menuju kamar.
...****************...
Di dalam kamar, Chelyne sedang tertidur. Wajahnya terlihat sedikit pucat. Arion berdiri di samping ranjang menatap istrinya tanpa menyentuhnya.
Ia tidak ingin membangunkannya, Ia takut batuk itu akan terdengar lagi.
Namun saat malam semakin larut, Arion tersentak bangun dari kursinya.
Ruangan terlalu sunyi. Chelyne belum bangun sejak sore.
Arion mulai panik, takut terjadi sesuatu dengan istrinya. Ia mendekat ke ranjang.
"Istriku?" panggilnya pelan.
Tidak ada jawaban.
Sebelum ia sempat mengguncang bahu Chelyne, putrinya Greta terlebih dahulu membangunkan ibunya.
"Ibu, bangun." Greta mengguncang ibunya
Arion menoleh.
Chelyne membuka mata perlahan, menatap mereka dengan lemah.
"Apakah aku tertidur terlalu lama?"
Greta mengernyit
"Ibu, ini sudah malam." ujarnya dengan sedikit cemberut
Arion menghembuskan napas panjang. Lututnya hampir lemas karena ketegangan yang tak ia sadari.
"Ibu kenapa?" Greta mendekat, memanjat ranjang.
"Tidak apa-apa," Chelyne tersenyum tipis.
Greta mengerutkan kening lagi
"Ibu, aku bosan."
Kalimat itu sederhana. Tapi ada nada lelah di dalamnya.
Arion menatap putrinya. Usia empat tahun terlalu kecil untuk memahami ketakutan orang dewasa, tapi cukup besar untuk merasakan batasan yang tidak adil.
"Doakan saja supaya ibu cepat sembuh." ujar Arion sambil mengelus kepala Greta
"Berdoa?" tanya Greta
Arion mengangguk.
"Iya. Lipat tangan, tutup mata, dan berdoa." ujar Arion
"Apakah ayah pernah mendoakan ibu?" tanya Greta
Arion mengangguk
"Tentu saja."
"Lalu kenapa ibu belum sembuh? Ibu sudah minum obat." ujar Greta seolah-olah dia sudah cukup dewasa mengerti tentang penyakit ibunya.
"Mungkin obatnya kurang banyak."
Ia hendak memanggil Grace untuk menyiapkan ramuan tambahan. Namun pelayan yang berjaga memberi tahu bahwa Grace sudah pulang lebih awal malam itu.
Arion terdiam.
"Obat hari ini sudah kuminum," kata Chelyne pelan. "Belum ada perubahan."
Arion mengangguk. Tapi kegelisahan kembali menguasainya.
...****************...
Sementara itu, di kamar lain, Thaddeus duduk termenung di tepi ranjangnya. Cahaya lilin menyinari di dinding batu.
Ayahnya tidak mau mendengar. Buku tua itu dirahasiakan. Dan bau aneh itu masih tertancap dipikirannya.
Saat ia hendak berdiri untuk kembali memeriksa lorong belakang, terdengar suara langkah di luar.
Itu adalah Grace.
Thaddeus terdiam sejenak. Ia melihat Grace seperti membawa boto kaca.
Ia menggertakkan gigi. Ada sesuatu yang salah.
...****************...
Pagi harinya, Thaddeus berdiri di halaman latihan memanah. Sudah lama ia tidak menyentuh busur. Tali busur terasa kaku di tangannya.
Ia menarik napas dalam, membidik sasaran kayu, dan melepaskan anak panah.
Tepat di tengah. Suara tepuk tangan kecil terdengar. Tepuk tangan dari adiknya, Greta.
"Kakak, aku mau ikut." ujarnya.
Thaddeus menatapnya. Dalam beberapa hari, wajah Greta terlihat murung, tapi hari ini Ia kembali melihat wajah adiknya yang ceria
"Boleh, Tapi jangan jauh dariku." ujar Thaddeus
Greta mengangguk. Di sekelilingnya, beberapa kupu-kupu kaca beterbangan pelan, memantulkan cahaya pagi.
Saat Thaddeus mengambil anak panah kedua, ia melihat sosok yang tidak ingin ia lihat.
Grace Claw lagi.
Ia berjalan menuju ruang tempat yang biasa Ia membuat ramuan untuk Chelyne. Thaddeus melihat Grace membawa botol kaca kecil di tangannya. Botol itu berisi cairan berwarna gelap seperti warna ungu yang pernah dilihatnya
Jantung Thaddeus berdetak lebih cepat.
Botol itu. Ia pernah melihatnya.
"Greta, tunggu disini sebentar." ujar Thaddeus
"Kakak mau kemana?"
"Ke sana, sebentar saja."
Greta sedang tertawa kecil melihat kupu-kupu, tidak memperhatikan ketegangan kakaknya.
Thaddeus melangkah mendekati ruang ramuan dengan hati-hati. Dari celah pintu yang sedikit terbuka, ia melihat Grace menuangkan cairan berwarna ungu ke dalam mangkuk obat ibunya.
Warna ungu pekat. Tidak seperti warna ramuan biasa.
Seingatnya, tabib tidak pernah menyebutkan campuran seperti itu. Thaddeus menggeram, Ia mendorong pintu hingga terbuka lebar.
Grace terkejut.
"Cairan apa itu?" suara Thaddeus menggema.
Grace mengangkat wajahnya perlahan.
"Pangeran...?"
"Cairan apa yang kau masukkan ke obat ibuku?!"
Grace tersenyum tipis. "Ini adalah ramuan tambahan."
"Tabib tidak pernah menyebut ramuan tambahan." bentak Thaddeus
"Itu inisiatifku."
"Untuk apa?!" Thaddeus melangkah mendekat, suaranya meninggi.
"Kau meracuni ibuku, bukan?!"
Kata-kata itu menggema di ruangan.
Langkah cepat terdengar dari arah lorong. Arion muncul, wajahnya tegang.
"Apa yang terjadi?!"
"Dia meracuni Ibu!" teriak Thaddeus.
Arion langsung menarik lengan putranya.
"Cukup, Thaddeus. Kau sudah keterlaluan!"
"Lepaskan aku!"
"Jangan campuri urusan Bibi Grace!" suara Arion menggema.
Grace menunduk, wajahnya tampak terluka.
"Aku hanya mencoba membantu, Yang Mulia..."
"Belakangan ini kau terlalu keras. Terlalu curiga pada semua orang." ujar Arion
"Karena ada yang salah, ayah!" balas Thaddeus.
Arion menatap Thaddeus tajam. Ia lalu melepaskan tangan putranya dan Thaddeus pergi kembali pada Greta yang menunggunya dihalaman.
Arion tidak mau mendengar penjelasan putranya sendiri.
"Maafkan dia. Thaddeus mungkin hanya terlalu cemas memikirkan ibunya."
Grace mengangguk perlahan.
"Saya mengerti, Yang Mulia." ujar Grace.
Namun saat Arion keluar dari ruang itu dan wajah Grace berubah. Amarah memenuhi matanya.
Thaddeus sudah tahu. Ia tahu lebih banyak dari yang ia duga.
"Untung saja raja tidak percaya," gumamnya pelan.
...****************...
Di rumahnya malam itu, Grace memanggil Hugo.
"Hugo" katanya tenang.
"Mulai sekarang, jaga jarak dengan Thaddeus"
Hugo mengangkat alis. Kenapa, ibu?"
"Kesehatan Ratu memburuk. Kita tidak tahu apa penyakitnya. Bisa saja menular."
Hugo menatap ibunya dengan heran.
Ia bukan anak kecil. Ia tahu penyakit Chelyne tidak menular. Dan ia tahu ibunya jarang berbicara tanpa alasan tersembunyi.
"Iya, bu." jawabnya, meski suaranya terdengar datar.
Grace tidak ingin Thaddeus sering berkunjung ke rumahnya. Bisa-bisanya nanti rencananya dilihat oleh Thaddeus. Untuk berjaga-jaga, Grace memutuskan untuk menyimpan cairan ungu itu didalam kamarnya.
jangan bilang putrinya dikuring atau diasingkan
kesiann 😭