NovelToon NovelToon
Sistem Dua Kekasih

Sistem Dua Kekasih

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Teen School/College / Sistem
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Yapari

Saat Jepang berada diambang kepunahan karena krisis populasi, cinta bukan lagi pilihan, melainkan tugas negara yang menekan. Pemerintah membuat ulang kurikulum SMA bernama Sistem Dua Kekasih. Semua murid dipaksa berpasangan dengan lawan jenis, duduk berdampingan, tinggal bersama, dan semuanya dihitung berdasarkan poin.

Cerita berfokus pada Naruse Takashi, seorang remaja tanpa tujuan hidup yang hanya ingin mengabdi kepada seorang gadis biasa, yang dia percaya sebagai belahan jiwanya.

Kira-kira, siapakah yang akan menjadi belahan jiwa Naruse?

Genre: Drama, Psychological, Romance, School, System.

Catatan:
1. Cerita ini fiktif belaka.
2. Update satu Minggu 3-5 Kali.
3. Ada BAB Spesial tiap 20 BAB.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yapari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 — Pelukan Sebagai Bukti —

Di tengah banyaknya murid yang frustasi karena tidak menemukan cara membuka pintu, aku menyeret Miyazaki untuk hal lain.

Tanganku masih menyentuh tangannya. Sentuhannya terasa hangat, agak kontras dengan keadaan sekitar.

"Miyazaki-san, boleh aku tanya beberapa hal?"

"Tadi kau menyuruhku diam."

"Maksudku, jangan bergerak terlalu jauh dariku. Lalu aku tidak ada melarangmu buka mulut."

"Oke, kau ingin tanya apa?"

Karena Miyazaki sudah menghadap ke arahku sepenuhnya, aku melepaskan tangannya.

Kami terpaksa bicara empat mata, walau keadaan di sekitar tidak sepenuhnya mendefinisikan itu.

"Begini, Miyazaki-san. Bisa ceritakan secara singkat pengalaman romansamu?"

"Untuk apa?"

"Jawab saja dulu."

"Kalau aku tidak mau?"

"Tidak apa-apa sebenarnya, hanya saja aku agak kerepotan nanti."

Gadis ini memang sudah merepotkan dari awal, apalagi aku tidak bisa memahaminya. Ekspresinya, nada bicaranya, kedua hal itu berhasil membuat temboknya makin kokoh.

Sebenarnya, apa yang dia sembunyikan? Apa yang dia pertahankan? Lalu dia bertahan dari apa?

Ada begitu banyak pertanyaan. Tapi, mari kita fokus pada situasi saat ini.

Mataku menatap wajah Miyazaki yang sama sekali tak bergeming. Sejauh ini aku hanya berhasil membuat seringai tipis dan juga mengangkat alis.

"Akan kuganti pertanyaannya. Miya—"

"Maaf, Takashi-kun. Aku hanya bercanda."

Kata-kataku terpotong, dan dia tiba-tiba meminta maaf.

Aku pun menarik napas pendek, merasa bingung atas balasannya itu. Jadi, dia sedang bercanda? Dengan nada sedatar itu?

Ah, sulit sekali memahaminya.

"Jawabannya nol. Tidak ada laki-laki yang tertarik padaku, jadi otomatis tidak ada pengalaman romansa. Aku juga tidak pernah menyukai seseorang."

"Oh, begitu ya? Kau benar-benar tidak pernah menyukai siapa pun?"

"Tidak ada yang menarik dariku. Tubuhku kecil, wajahku tidak cantik, bahkan kepintaranku hanya rata-rata. Dan juga, dadaku kecil."

"Tiba-tiba bahas dada?"

"Kau suka yang besar, kan?"

"Tidak juga."

"Apa susahnya tinggal jujur?"

"..."

Tunggu dulu, topiknya malah melenceng. Aku harus mengembalikannya.

"Ehem..."

Aku berdeham, memberi isyarat bahwa pembahasannya harus segera diganti.

"Bisa ke pertanyaan terakhir?"

"Silakan."

Pandangan gadis ini terpaku padaku. Entah kenapa, dia begitu serius sekarang. Mata kami jadi terikat karenanya.

"Miyazaki-san, apa tujuanmu ketika bersekolah di sini?"

"Maksudmu?"

"Misal seperti ingin mendapat peringkat satu, mencapai puncak, jadi ketua OSIS, atau jadi murid biasa-biasa saja. Yang mana tujuanmu?"

"Oh, aku mengerti. Karena aku tipe yang tidak suka menarik perhatian, mungkin yang biasa saja."

"Lumayan klise, ya?"

"Bagaimana denganmu sendiri, Takashi-kun?"

Dia bertanya balik. Wajahku refleks beralih karena tidak tahan melihat tatapan matanya yang begitu intens.

"Takashi-kun? Kenapa diam? Padahal aku menjawab semuanya dengan jujur."

"Ma-maaf. Alasanku akan lebih konyol dari yang kau kira."

"Memangnya apa alasanmu?"

Kedengarannya dia begitu penasaran. Aku jadi tidak bisa melarikan diri sekarang. Tidak setelah aku yang memulai semua ini.

Aku pun memberanikan diri untuk kembali menatapnya.

"Sama sepertimu, aku tidak punya tujuan besar."

"Oh, lalu konyolnya di bagian mana?"

"Aku hanya ingin mencari belahan jiwaku. Setelah itu, aku akan mengabdikan hidupku sepenuhnya."

Mendengar jawabanku, ekspresi Miyazaki berubah. Kepalanya sedikit menunduk, dan dahinya berkerut. Dia seperti menunjukkan wajah sedihnya.

Kenapa tiba-tiba seperti ini?

Jelas ada yang tidak beres. Kami seolah terbawa aura negatif dari lingkungan sekitar asrama ini.

"Takashi-kun, mau batalkan hubungan pasangan kita?"

"Eh?"

Bahuku naik begitu mendengar Miyazaki mengatakan itu. Perasaanku jadi tidak enak.

"Kau bercanda, kan?"

"Tidak. Dari awal aku sudah merasa tidak layak untukmu. Kurasa kau berhak menemukan yang lebih baik."

"Aku sudah bilang kalau aku menginginkanmu, kenapa masih mengungkit itu?"

"Entahlah, kenapa ya?"

"Kau tiba-tiba jadi begini."

Tubuhku gemetar, membuat sesuatu di dalam diriku bergejolak hebat. Rasanya panas, begitu panas sampai perasaanku ingin meledak.

"Lumayan sulit bersama denganmu, Takashi-kun. Aku jadi merasa bersalah karena memberimu harapan."

"Ke-kenapa?"

"Kau masih menanyakan itu?"

"Kumohon, Miyazaki-san. Beritahu semua hal yang mengganggumu."

Sebelum mendengar alasannya, aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Tubuhku memang masih berdiri, tapi rasanya begitu lemas.

Aku tidak berani menatap Miyazaki, karena keringatku semakin banyak ketika melakukannya. Kalau begini, aku bisa tumbang kapan saja.

"Singkatnya, aku tidak memercayaimu."

"Hah? Apa maksudmu?"

"Takashi-kun... kau itu hebat, tampan, dan sudah menarik perhatian sejak di aula tadi. Banyak gadis yang mengincarmu sedari awal."

"Lalu apa hubungannya denganmu?"

"Karena kau lumayan mencolok, aku merasa bahwa kau hanya akan mempermainkanku."

Melihat kondisinya, aku yakin kalau Miyazaki berada di tahap pesimisme akut. Tapi, apa penyebabya?

Aku sama sekali tidak mengerti.

"Tidak apa-apa, Takashi-kun. Lagipula aku menolongmu bukan karena ingin, tapi hanya terpaksa."

Dia kedengarannya tidak memercayaiku dari awal. Dia memandang tinggi diriku, sementara dirinya sendiri direndahkan.

Itu berarti, satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah membuatnya percaya. Aku harus menunjukkan kalau aku serius ingin bersamanya.

Tapi, bagaimana caranya?

Aku tidak pernah memiliki pengalaman romansa dengan siapa pun. Bahkan, dulu aku selalu menjaga jarak dengan para gadis.

Apa boleh buat, aku harus memutuskannya sendiri. Entah akan seperti apa reaksinya saat melihat tindakanku nanti.

"Miyazaki-san, bukankah sudah terlambat? Kita tidak bisa membatalkannya, apalagi sampai berganti pasangan."

"Pasti ada cara, mungkin melalui poin atau semacamnya."

"Kau serius ingin melakukannya?"

"Ya, ini demi kita bersama."

Nadanya memang terdengar datar dan serius, tapi ada getaran kecil yang membuatku sadar akan satu hal.

Bibirnya juga kesulitan mengatup. Gadis ini jelas mengharapkan sesuatu dariku. Dia menginginkan bukti kalau aku memang tidak main-main dengannya.

Ini hanya asumsi, dan aku ingin memercayainya.

"Dasar pembohong."

Akhirnya aku mengatakannya. Nadaku sedikit menekan, tapi berusaha tidak mengintimidasi.

Perasaanku jadi campur aduk. Tubuhku begitu panas, dan kurasa ini bisa meledak kapan saja.

"Hah?"

Dia hanya merespons satu kata.

"Kubilang kau pembohong."

"Aku seri—"

"SUDAH CUKUP!"

Aku malah berteriak tanpa sadar. Perhatian mereka jadi sepenuhnya teralihkan ke tempatku dan Miyazaki berada.

Sementara yang lain berkonflik karena tidak bisa membuka pintu kamar, kami malah benar-benar bertengkar seperti pasangan.

Miyazaki tersentak ketika sadar bahwa aku meneriakinya.

Ah, sial. Aku tidak bermaksud menarik perhatian, apalagi sampai membentaknya.

Emosiku yang tertahan sebelumnya benar-benar pecah. Ada beberapa alasan yang membuatku begini.

Satu hal yang pasti, aku akan bertanggungjawab penuh atas apa yang akan terjadi nantinya. Jelas bahwa aku juga harus meminta maaf.

Tanpa peduli dengan keadaan di sekitar, aku mulai menatap Miyazaki lagi.

Kali ini matanya sedikit berkaca, dan bibirnya bergetar hebat. Ekspresi wajahnya terlihat berbeda walau hanya sedikit.

Meski dipenuhi perasaan bersalah, aku tetap mendekat perlahan.

Harusnya Miyazaki sadar akan hal ini, tapi dia tetap diam. Begitu jarak kami hanya tersisa beberapa inci, aku langsung menariknya ke dalam pelukanku.

Aku melingkarkan tanganku ke tubuh mungil ini, menghimpitkan kehangatan yang meresap melalui kain seragam kami. Wajahnya kini terbenam di dadaku.

Awalnya dia begitu terkejut. Aku bisa merasakan tubuhnya menegang di awal. Bahunya naik sedikit, napasnya tertahan.

Untungnya dia tidak menolakku. Dia juga tidak mendorongku. Tidak memintaku berhenti. Tidak melangkah mundur.

Aku melakukan ini bukan tanpa alasan. Aku ingin menunjukkan ketulusanku, dan pelukan ini adalah bukti awalnya.

Agak memalukan sebenarnya, karena masih ada banyak murid baru di sekitar. Tapi aku tidak peduli, aku harus membuatnya percaya padaku.

"Miyazaki-san, berapa kali aku harus mengatakannya? Aku tidak ingin gadis lain."

"..."

"Karena ini pertama kalinya aku memeluk seorang gadis, maaf jika rasanya tidak nyaman."

Aku tidak tahu apakah kata-kataku tersampaikan, tapi tak lama, tangannya kini ikut melingkari punggungku. Gerakannya ragu-ragu di awal, lalu semakin erat.

[Selamat, Pintu Kamar Nomor 25 Terbuka!]

1
Ftomic
rill 3 season ga ni?
Yapari Napa: semoga/Bye-Bye/
total 1 replies
Apa Cuba
makan nih jejak
🦊 Ara Aurora 🦊
Eh nggak jadi deh mau jam tangan kek gitu /Frown/ ribet menurutku aturan jam tangan nya terlalu banyak aturannya /Sob//Sob/
🦊 Ara Aurora 🦊
Jam tangan yg unik itu thor gue juga mau jam tangan kek gitu donc thor❓😭 /Grievance/thor balik mampir di ceritaku yg berjudul: Lampu Ajaib & Cinta Albino 🙏
🦊 Ara Aurora 🦊
kok seperti ribet itu yah... Masa di tempatkan Zona Transisi tdk ada tempat tidur pribadi... suhu di kontrol pada 16°C ... Pencahayaan tdk dimatikan penuh... Total Kapasitas 150 murid dalam satu ruangan gitu maksudnya? 🤔 aish ribetnya terdengar sulit 🙃😭
🦊 Ara Aurora 🦊: Waduh... wkwkwk 😂😂
total 3 replies
🦊 Ara Aurora 🦊
Mmm.. Aish belum ada sih bisa di koment bagian ini thor... Gue udah mampir yah thor 🙏
🦊 Ara Aurora 🦊: Sama2 kak 😊
total 2 replies
Ftomic
Very interesting. Sistemnya di dunia nyata dan realistis, trus premisnya oke. Keep it up bro!
Yapari Napa: wah makasih ya reviewnya/Smirk/
total 1 replies
Apa Cuba
alurnya kek classroom of the elite ni cuma versi tinggal bareng cewek
Ftomic: mana pacingnya sama lagi agak lambat
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!