Nirmala Dizan tak pernah menyangka bahwa ia akan mendapatkan ujian yang begitu besar dan tak terduga. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan dan kemudian ia harus menghadapi kekejaman dunia bisnis yang penuh intrik sendirian. Di saat dirinya putus asa terbitlah sebuah asa, pertemuan dengan Aleandra Nurdin seorang mahasiswa yang mampu mengubah hidup Nirmala yang kelam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhir Kisah
Ia berdiri, menyeret langkahnya menuju dinding. Di sana, ia melihat bayangannya sendiri, namun dalam pikirannya, bayangan itu adalah sosok Nirmala yang sedang tersenyum mengejek. Kegilaan yang selama ini menjadi kekuatannya kini berbalik menjadi pedang yang menghujam jiwanya sendiri. Rini tak lagi bisa membedakan antara kenyataan dan halusinasi. Ia merasa ribuan suara korban yang pernah ia hancurkan merayap di dinding, membisikkan kata-kata yang menuntut balas.
"Cukup! Diam kalian semua!" raung Rini. Ia memukulkan kepalanya ke dinding, sekali, dua kali, hingga darah segar mulai mengalir di dahinya.
Dalam puncak delusinya, Rini melihat selendang sutra hitam legendarisnya seolah-olah tergantung di jeruji ventilasi yang tinggi. Dengan gerakan yang liar dan tak terkendali, ia menggunakan sobekan panjang dari gaun merahnya, memintalnya dengan tangan gemetar yang dipenuhi kekuatan kegilaan. Ia tidak lagi takut. Baginya, ini adalah jalan terakhir untuk merebut kembali kendali atas takdirnya.
"Aku tidak akan membiarkanmu melihatku membusuk di sini, Nirmala," bisik Rini dengan senyum miring yang mengerikan. "Aku akan pergi... dan aku akan menunggumu di neraka yang paling dalam."
Saat fajar menyingsing, seorang penjaga yang melakukan patroli rutin menemukan sel itu dalam kesunyian yang abadi. Sang Ratu Iblis telah pergi, meninggalkan tubuhnya yang tergantung kaku, sebuah akhir yang tragis bagi wanita yang menghabiskan hidupnya untuk memuja kebencian.
****
Kabar kematian Rini Susilowati sampai ke telinga Nirmala Dizan saat ia sedang duduk di bangku taman rumah sakit. Ponselnya yang ia pegang hampir terjatuh. Dunia seolah berhenti berputar sejenak.
"Bunuh diri?" suara Nirmala bergetar, nyaris tak terdengar.
Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, menatap langit Jakarta yang mendung. Ada perasaan aneh yang menghantamnya—bukan kebahagiaan, bukan pula kelegaan. Yang ada hanyalah kekosongan yang menyesakkan. Rini adalah musuh terbesarnya, sosok yang menghancurkan keluarganya, namun Rini juga adalah sisa terakhir dari silsilah darah ayahnya.
"Dia pergi tanpa pernah meminta maaf," gumam Nirmala. Air mata mulai mengalir di pipinya, bukan karena rindu, tapi karena duka atas hilangnya kemanusiaan dalam diri bibinya. "Dia membawa semua dendam itu ke liang lahat."
Nirmala merasa shock. Selama ini ia membayangkan saat-saat Rini membusuk di penjara atau mendapatkan keadilan di pengadilan. Ia tak pernah membayangkan bahwa peperangan ini akan berakhir dengan kematian yang begitu sepi dan gelap. Rasa bersalah yang tak beralasan mulai merayap; apakah ia yang mendorong bibinya hingga ke tepian jurang kegilaan itu?
Januar Suteja, yang berdiri tak jauh darinya, melangkah mendekat dan meletakkan tangan di bahu Nirmala. "Jangan salahkan dirimu, Nirmala. Rini sudah menghancurkan dirinya sendiri jauh sebelum kamu melawannya. Ini adalah pilihan yang dia buat."
Nirmala hanya bisa menggeleng pelan, terisak dalam diam, meratapi akhir tragis dari sebuah dinasti yang hancur karena keserakahan.
****
Namun, duka atas Rini segera tergeser oleh ketakutan yang lebih nyata. Nirmala melangkah gontai kembali ke lorong rumah sakit yang berbau karbol. Di sana, di balik pintu kaca ruang intensif, Aleandra Nurdin masih terbaring kaku.
Masa kritis memang telah lewat. Tim dokter berhasil menjahit luka di kepalanya dan menghentikan pendarahan internal di perutnya. Namun, Ale belum juga siuman. Ia tampak seperti patung lilin yang pucat, dikelilingi oleh selang-selang yang mendesing dan monitor jantung yang berbunyi tit... tit... tit... secara monoton.
Nirmala duduk di samping ranjang Ale, menggenggam tangan pemuda itu yang terasa dingin. Di sudut ruangan, Bu Nurdin telah tertidur karena kelelahan, wajah tuanya tampak sangat rapuh dalam tidurnya.
"Ale... bangunlah," bisik Nirmala. Ia mencium punggung tangan Ale, membiarkan air matanya jatuh membasahi sprei putih rumah sakit. "Rini sudah tidak ada. Bahaya sudah lewat. Kau tidak perlu melindungiku lagi dalam tidurmu."
Nirmala menatap wajah Ale yang penuh dengan bekas luka memar. Ia teringat bagaimana Ale selalu berdiri paling depan, bagaimana Ale mengorbankan masa depannya, studinya, bahkan nyawanya hanya untuk memastikan Nirmala tetap aman.
"Jangan tinggalkan aku di saat aku baru saja mulai belajar bagaimana cara mencintai hidup kembali," isak Nirmala. "Aku sudah kehilangan Ayah, aku sudah kehilangan rumahku... aku tidak sanggup jika harus kehilanganmu juga."
Setiap detik penantian itu terasa seperti siksaan. Nirmala memandangi dada Ale yang naik turun dengan bantuan ventilator, berharap melihat kelopak mata itu bergerak sedikit saja. Ia membisikkan cerita-cerita tentang masa depan, tentang rencana mereka untuk melihat matahari terbit di Sukabumi tanpa ada rasa takut, tentang bagaimana ia akan mendukung Ale hingga lulus skripsi.
****
Malam kembali merayap, menyelimuti kamar perawatan itu dalam bayang-bayang. Nirmala tidak beranjak sedikit pun. Ia tetap memegang tangan Ale, seolah-olah denyut nadinya sendiri bisa disalurkan untuk membangunkan pria itu.
Kematian Rini di luar sana mungkin adalah akhir dari sebuah teror, namun di dalam ruangan ini, perjuangan yang sebenarnya baru saja dimulai. Perjuangan melawan ketidakpastian. Perjuangan untuk memanggil kembali jiwa yang sedang berkelana di perbatasan hidup dan mati.
Nirmala menatap monitor jantung. Garis hijau itu masih bergerak, sebuah bukti bahwa Ale masih ada di sana, bertarung di dalam kegelapannya sendiri.
"Aku akan menunggumu, Ale. Berapa lama pun itu," Nirmala menyandarkan kepalanya di tepi ranjang, menutup matanya sejenak sambil terus menggenggam tangan Ale dengan erat. "Bangunlah... kembalilah padaku."
Di luar, hujan mulai turun membasahi Jakarta, seolah-olah langit ikut menangisi kepergian seorang ratu yang gila dan mendoakan kesembuhan bagi seorang pahlawan yang setia. Malam itu, di koridor rumah sakit yang sunyi, hanya ada detak mesin dan isak tangis lirih dari seorang wanita yang kini memegang kendali penuh atas takdirnya, namun merasa sangat kehilangan arah tanpa kehadiran sang pelindung di sisinya.
****
Lorong rumah sakit yang biasanya terasa mencekam kini mulai diterangi cahaya mentari pagi yang hangat, menembus tirai tipis di ruang perawatan. Bau karbol yang tajam seolah memudar, digantikan oleh aroma harapan yang samar. Di atas ranjang, Aleandra Nurdin masih terlelap dalam tidur panjangnya, namun garis di monitor jantung tak lagi bergejolak liar; ia berdetak dengan ritme yang tenang dan pasti.
Nirmala duduk di sisi ranjang, jemarinya tak sedetik pun melepas tangan Ale. Wajahnya yang tirus karena kurang tidur tampak bercahaya saat ia melihat kelopak mata Ale bergerak perlahan. Sebuah erangan lirih keluar dari celah bibir pria itu yang pecah-pecah.
"Ale?" bisik Nirmala, suaranya bergetar antara cemas dan rindu.
Mata Ale terbuka perlahan. Ia mengerjap, mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya ruang yang benderang. Fokus matanya berpindah-pindah, hingga akhirnya terkunci pada wajah wanita di hadapannya—wanita yang menjadi alasan setiap luka yang ia derita.
"N-Nona..." suara Ale parau, nyaris seperti bisikan angin.
Air mata Nirmala tumpah seketika, namun kali ini bukan air mata duka. Ia mencium punggung tangan Ale berkali-kali. "Aku di sini, Ale. Ini aku, Nirmala. Kau sudah aman. Rini sudah pergi... semuanya sudah berakhir."
Ale tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat lemah namun mampu meruntuhkan seluruh beban di pundak Nirmala. "Gue tahu... gue bisa ngerasain lo di sini terus."
Di ambang pintu, Bu Nurdin berdiri dengan air mata yang membasahi keriput pipinya. Ia memanjatkan syukur dalam diam, melihat putra tunggalnya telah kembali dari perbatasan maut. Kebahagiaan itu melengkapi kemenangan Nirmala atas kegelapan masa lalu.
****
Beberapa minggu berlalu. Luka-luka fisik Ale berangsur pulih, meski ia masih harus berjalan dengan bantuan tongkat untuk sementara waktu. Namun, semangatnya tidak pernah padam. Di sela-sela masa pemulihannya, Ale kembali berhadapan dengan tumpukan berkas yang sempat terabaikan: skripsinya.
Nirmala tidak membiarkan Ale berjuang sendiri. Di perpustakaan rumah Dizan yang tenang, ia sering menemani Ale merevisi bab demi bab. Nirmala yang dulu terbiasa memeriksa laporan keuangan raksasa, kini dengan telaten membantu Ale merapikan catatan kaki dan referensi pendidikan olahraga.
"Lo nggak bosan nungguin gue ngetik ginian, Nona?" tanya Ale suatu malam, sambil menatap tumpukan kertas tentang metodologi pelatihan fisik.
Nirmala tersenyum manis, menyandarkan kepalanya di bahu Ale. "Dulu kau melindungiku dengan nyawamu di tengah hujan peluru. Menunggumu mengetik skripsi adalah hal paling damai yang pernah kulakukan."
Hari yang dinanti pun tiba. Dengan setelan kemeja putih dan dasi yang dipasangkan oleh Nirmala, Ale melangkah masuk ke ruang sidang skripsi. Di luar ruangan, Nirmala dan Bu Nurdin menunggu dengan cemas. Sejam kemudian, Ale keluar dengan wajah cerah dan mata berkaca-kaca. Ia dinyatakan lulus dengan nilai memuaskan. Skripsi tentang keamanan infrastruktur dan ketahanan fisik itu menjadi salah satu karya terbaik tahun itu.
****
Beberapa bulan kemudian, gedung pertemuan universitas dipenuhi oleh lautan toga hitam. Suara musik prosesi wisuda bergema megah. Di barisan wisudawan, Aleandra Nurdin berdiri tegak. Saat namanya dipanggil, ia melangkah menuju panggung dengan langkah yang kini sudah tegak kembali.
"Aleandra Nurdin, Sarjana Pendidikan Olahraga," suara dekan bergema.
Dari kursi undangan, Nirmala bertepuk tangan paling keras. Ia melihat sosok pria yang dulu menyelamatkannya di sungai Sukabumi kini telah bertransformasi menjadi seorang pria terpelajar yang mandiri. Bu Nurdin di sampingnya tak berhenti menyeka air mata haru, memegang erat piagam kelulusan putranya.
Usai upacara, di bawah rindangnya pohon beringin di taman kampus, Ale menemui Nirmala. Ale tampak gagah dengan toganya, sementara Nirmala tampil anggun dengan kebaya sutra berwarna biru langit yang sederhana namun mewah.
"Sarjana Pendidikan Olahraga, ya?" goda Nirmala sambil merapikan kalung wisuda Ale.
Ale menatap Nirmala dengan tatapan yang sangat dalam, tatapan yang tak lagi berisi kewaspadaan seorang pelindung, melainkan cinta seorang pria. Ia merogoh saku jubah toganya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil.
"Nirmala Dizan," suara Ale berat dan sungguh-sungguh. Ia berlutut di hadapan wanita itu, mengabaikan kerumunan orang yang mulai memperhatikan mereka. "Gue nggak punya gedung tinggi atau saham milyaran. Yang gue punya cuma ijazah ini sebagai modal masa depan kita, dan nyawa yang pernah gue berikan buat lo."
Ale membuka kotak itu, menampilkan sebuah cincin emas dengan permata mungil yang bersinar di bawah cahaya matahari sore.
"Gue pengen jadi pelindung lo seumur hidup, bukan sebagai pengawal, tapi sebagai suami. Lo mau nikah sama gue?"
Nirmala membeku. Dunianya yang dulu penuh dengan ledakan, pengkhianatan, dan tawa gila Rini, kini telah sepenuhnya digantikan oleh ketulusan Ale. Ia menutup mulutnya dengan tangan, air mata bahagia membasahi pipinya.
"Ya, Ale... Ya! Aku mau!" jawabnya dengan mantap.
Ale memasangkan cincin itu di jari Nirmala, lalu berdiri dan memeluknya erat. Di kejauhan, Bu Nurdin tersenyum bahagia melihat dua jiwa yang telah melewati neraka bersama, kini akhirnya menemukan surga mereka sendiri.
****
Malam itu, mereka berdiri di balkon gedung Dizan Holding. Jakarta tampak seperti hamparan berlian di bawah mereka. Tak ada lagi asap, tak ada lagi sirine, tak ada lagi tawa histeris Rini yang menghantui.
Nirmala menyandarkan kepalanya di dada Ale, mendengarkan detak jantung pria itu yang kuat. "Kita benar-benar menang, ya?"
Ale mencium kening Nirmala dengan lembut. "Bukan cuma menang, Nona. Kita sudah pulang."
Dendam abadi Rini telah terkubur di bawah tanah yang sunyi, namun cinta mereka baru saja dimulai. Di bawah langit Jakarta yang luas, Sang Ratu Dizan dan Sang Sarjana Pelindung memulai babak baru hidup mereka—sebuah cerita tentang ketulusan yang mengalahkan kegilaan, dan kesetiaan yang melampaui kematian.
TAMAT.