Terjerat utang ratusan juta dan ancaman pernikahan paksa, Alisha kehilangan segalanya termasuk kenangan dari kekasihnya. Di tengah keputusasaan, ia bertemu Aruna, wanita kaya berwajah identik yang menawarkan kontrak gila: Bertukar hidup demi pelunasan utang.
Alisha terjun ke dunia mewah yang palsu, namun tantangan sesungguhnya adalah kakak laki-laki Aruna. Pria dingin namun sangat penyayang itu mulai mencurigai perubahan pada "adiknya" sosok yang kini tampak lebih lembut dan tulus. Di balik kemegahan yang dingin, Alisha menyadari bahwa menjadi orang lain jauh lebih berbahaya daripada menjadi miskin saat ia mulai mempertaruhkan hatinya pada pria yang kini menjadi pelindungnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Pertemuan di Titik Buta
Pagi itu, udara di lingkungan rumah Alisha terasa segar, namun tidak bagi Aruna. Ia sedang merapikan tasnya, memastikan tablet penyamarannya sudah siap, ketika ia melangkah keluar dari pintu depan. Ia baru saja berpamitan pada orang tua Alisha dengan sikap semanis mungkin, namun langkahnya langsung terhenti di teras.
Di depan pagar, Rendy sudah berdiri di samping motornya. Pemuda itu mengenakan kemeja flanel rapi dan jeans, wajahnya tampak segar dengan senyum yang merekah lebar. Rendy terlihat lebih tampan dari biasanya, tipe ketampanan sederhana yang jujur.
Aruna mematung. Otaknya yang jenius dalam hal data mendadak mengalami blank selama dua detik. Kenapa dia di sini sepagi ini? batinnya heran.
Namun, sedetik kemudian, sebuah memori dari minggu lalu menghantamnya. Sial. Janji kencan. Aruna baru ingat bahwa Minggu lalu ia menjanjikan waktu khusus untuk Rendy sebagai kompensasi karena sering menolak ajakannya. Dan hari itu adalah hari ini.
"Sudah siap, Sha?" tanya Rendy riang, matanya berbinar penuh semangat.
Aruna segera memulas senyum, mengubah ekspresi bingungnya menjadi binar kebahagiaan palsu yang sempurna. "Tentu saja. Aku baru saja mau mengirim pesan padamu," ucapnya luwes.
Rendy kemudian berpamitan dengan sopan kepada orang tua Alisha yang mengantar sampai depan pintu.
"Pinjam Alishanya sebentar ya, Om, Tante," ucap Rendy santai yang dibalas tawa kecil oleh ibu Alisha.
Aruna naik ke boncengan motor Rendy. Di balik punggung Rendy, jemari Aruna bergerak kilat di atas layar ponselnya. Rencana harus berubah. Ia tidak bisa membawa Rendy ke rumah jahit, dan ia tidak mungkin membiarkan Alisha (yang sedang menyamar jadi Aruna) muncul di sana sementara ia bersama Rendy.
Sementara itu, di dalam mobil mewah Ardiansyah, ponsel Alisha bergetar. Begitu membaca pesan dari Aruna, Alisha merasa seolah oksigen di sekitarnya mendadak menipis.
Aruna: "Kita tidak bertemu di rumah jahit. Nanti aku share lock lokasinya. Aku sedang bersama Rendy. Tunggu instruksiku."
Alisha mematikan layar ponselnya dengan tangan gemetar. Ada rasa nyeri yang menusuk ulu hatinya. Rendy. Kekasihnya yang tulus itu kini sedang membonceng wanita lain yang memiliki wajahnya, bernapas di udara yang sama, dan mungkin sedang tersenyum padanya. Meski ia tahu ini demi misi, membayangkan Rendy memberikan perhatiannya pada "Aruna" membuat Alisha merasa sangat rapuh.
Ia segera mengetik balasan dengan terburu-buru, sesekali melirik Pak Maman yang fokus menyetir di depan.
Alisha: "Rendy?! Kenapa harus hari ini? Aku dalam masalah besar. Gathan tidak mengizinkanku pergi sendiri. Aku pergi bersama Pak Maman, supir kepercayaannya. Dia tidak akan melepaskanku dari pandangannya!"
Aruna, yang sedang duduk di belakang Rendy, merasakan ponselnya bergetar terus-menerus. Ia melirik Rendy dari spion motor, lalu kembali fokus pada pesan Alisha.
Aruna: "Gunakan otakmu, Alisha. Jangan panik. Pak Maman hanya supir, dia bukan pengawal pribadi. Minta dia melewati jalur Taman Kota. Rendy mengajakku ke sana, dia bilang ingin menunjukkan sesuatu."
Alisha: "Taman Kota terlalu terbuka! Pak Maman pasti akan mengikutiku sampai ke bangku taman. Bagaimana caranya kita bertukar flashdisk?!"
Rendy tiba-tiba bersuara di tengah deru angin motor.
"Sha? Kamu kok sibuk terus sama HP dari tadi? Ada apa? Nggak enak lho, kita kan mau jalan-jalan."
Aruna tersentak. Ia langsung memasukkan ponselnya ke saku jaket dan tersenyum dari balik pundak Rendy.
"Maaf, Ren. Ini... ada customer bawel di rumah jahit. Dia tanya-tanya terus soal payet bajunya yang belum datang. Aku harus balas biar dia nggak marah-marah," alibi Aruna dengan nada yang dibuat semanis mungkin.
"Oh, gitu. Ya sudah, tapi setelah ini disimpan ya? Hari ini khusus buat kita," ucap Rendy lembut sembari menepuk pelan tangan Aruna yang melingkar di pinggangnya.
Aruna hanya bergumam pelan. Begitu Rendy kembali fokus ke jalan, ia kembali mengetik dengan satu tangan.
Aruna: "Dengarkan instruksiku. Saat melewati Taman Kota, bilang pada supirmu kalau kamu ingin ke toilet umum karena tidak tahan. Aku akan berada di area toilet wanita dalam 15 menit. Masuk ke bilik paling ujung. Flashdisk itu harus pindah tangan di sana. Cepat!"
Alisha membaca pesan itu dengan napas memburu. Ia menatap punggung Pak Maman.
"Pak Maman... sepertinya saya harus berhenti sebentar di Taman Kota."
"Ada apa, Nona?"
"Perut saya... tiba-tiba sakit sekali. Saya butuh ke toilet umum di sana," ucap Alisha sembari memegang perutnya dengan wajah yang benar-benar pucat, kali ini bukan karena sakit, tapi karena ketakutan setengah mati.
"Baik, Nona. Kita berhenti di depan taman."
Mobil mewah itu perlahan menepi. Di saat yang bersamaan, dari kejauhan, deru motor Rendy terdengar mendekat menuju lokasi yang sama. Alisha meremas flashdisk di dalam tasnya. Detik-detik ini adalah penentuan, apakah rahasia Elena akan terungkap, ataukah penyamaran mereka berdua akan hancur berantakan di tangan seorang supir dan seorang kekasih yang tidak tahu apa-apa.
semoga bisa bertahan sampai akhir ceritanya y thor..
semangat ✊✊