*Update tiap hari*
Dia pikir adiknya sudah mati 7 tahun lalu. Dia salah.
Zane Elian Kareem kehilangan segalanya dalam satu malam: Rumah, Orang tua, dan Serra, adiknya.
Namun, sebuah benda di toko berdebu mengubah takdirnya. Serra masih hidup.
Kini, Zane bukan lagi bocah lemah. Dia adalah seorang Tarker—pemeta wilayah liar yang berani menembus zona maut demi uang. Persetan dengan intrik politik kerajaan atau diskriminasi ras. Masa bodoh dengan Hewan Buas Kelas E yang mengintai di hutan.
Zane akan membakar siapapun yang menghalangi pencarian "jalan pulangnya" menuju Serra. Bahkan jika harus melawan satu republik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Murdoc H Guydons, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14 - Sekutu di Paleside
Aku menatap Percival, pemuda yang kini memikul beban seluruh desa di pundaknya yang tampak terlalu muda.
"Ceritanya panjang," kataku.
"Aku punya waktu," balasnya tegas. Matanya yang merah dan lelah menatapku dengan intensitas yang dipaksakan, menuntut jawaban.
Maka aku pun mulai menceritakan.
Dengan nada seorang Tarker yang melaporkan temuan lapangan, aku berbicara secara singkat dan faktual. Aku menjelaskan tentang perjalanan kami dari Wayford.
"Awalnya kami diserang oleh tujuh ekor Mist Panther," jelasku.
Wajah Percival yang sudah pucat menjadi semakin tegang. "Tunggu," potongnya, suaranya sedikit bergetar. "Kalian juga diserang Mist Panther? Di mana? Kapan?"
"Dua hari yang lalu, saat siang, di jalur lama menuju Paleside," jawabku.
Percival mengusap wajahnya dengan kasar. "Itu waktu yang sama. Kami juga diserang di sini. Gerombolan besar. Kami kehilangan enam orang hanya dalam sepuluh menit pertama. Mereka datang begitu saja dari kabut, bahkan ada yang menabrak Pohon Palliton seperti dikejar setan"
Ia terdiam, matanya menatap kosong ke arah para korban yang terbaring di balai desa. Trauma dari pertempuran itu jelas masih sangat segar di benaknya.
"Itu bukan kebetulan," kataku pelan, menarik kembali perhatiannya. " Mist Panther itu menyerang bukan untuk berburu, tapi karena panik."
"Maksudmu?"
"Ada sekelompok bandit di hutan," ungkapku. "Mereka merusak sarang Mist Panther, lalu menggiring gerombolan yang marah itu ke jalur perjalanan—dan tampaknya, sebagian besar malah berlari ke arah desa ini."
Matanya membelalak ngeri saat mencerna implikasinya. "Jadi... serangan hewan itu... ulah manusia?
“Benar. Aku mendengarnya sendiri ketika ada perdebatan diantara mereka. Kemudian mereka berencana menjarah harta dari rombongan yang sudah porak-poranda."
Percival mengepalkan tangannya hingga buku-bukunya memutih. "Bajingan."
Melihatnya yang masih sangat muda, memimpin sebuah krisis di daerah terpencil, aku penasaran. "Jadi, apa yang terjadi jika Decurion-mu tidak ada di kondisi seperti ini?" tanyaku.
Wajah Percival mengeras. "Sesuai protokol, komando jatuh pada prajurit dengan pangkat tertinggi yang tersisa. Di tempat ini... orang itu adalah aku."
"Tanggung jawab yang berat, Percival Ironhelm," sahutku datar, mencoba bersimpati pada posisinya saat ini.
Ia berhasil tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya. "Panggil aku Percy saja."
Tiba-tiba, ia teringat sesuatu. "Kalian adalah rombongan logistik dari Wayford, kan?" tanyanya, "Apa ada yang tersisa dari barang bawaan kalian? Makanan? Elixir?" Ada nada penuh harap dalam suaranya.
Aku menggeleng pelan, memupuskan harapan terakhirnya. "Mereka menjarah semuanya setelah kami pingsan. Gerobak dihancurkan, semua perbekalan diambil. Kami dibawa ke kamp mereka."
Aku berhenti sejenak, menimbang informasi apa yang perlu kubagikan. Aku memutuskan untuk menyembunyikan identitas Ewan demi Fiora.
"Dengar, Percy. Kelompok bandit itu awalnya terpecah dua. Ada dua pemimpin. Tapi saat kami kabur, terjadi perebutan kekuasaan. Pemimpin yang satu tewas."
Aku menatap mata Percy lekat-lekat.
"Sekarang, yang tersisa hanya satu pemimpin: seorang Gora bernama Urgon. Dia kejam, kuat, dan sekarang dia memegang kendali penuh atas seluruh kelompok bandit itu tanpa ada yang menahannya lagi."
Wajah Percy semakin kelabu. Ia adalah komandan tanpa sumber daya, memimpin pasukan tak berpengalaman, melawan alam dan kini... bandit yang dipimpin monster. Otaknya yang lelah jelas sedang berputar keras, beralih dari satu krisis ke krisis berikutnya.
"Jadi bandit-bandit itu masih di luar sana," katanya, kini nadanya murni taktis. "Menurutmu... apakah mereka akan menjadi ancaman bagi Paleside?"
"Aku tak tahu," jawabku jujur. "Ia menyerang habitat Mist Panther hanya untuk mempermudah penjarahan, kurasa ia tidak punya pemikiran yang panjang sebelum mengambil keputusan.”
Seorang prajurit junior menghampiri dan memberikan dua potong kue kering pada Percy, mungkin jatah terakhir mereka. Tanpa ragu, ia mematahakan dan menyodorkan separuhnya padaku.
Aku menerimanya. Percy terdiam cukup lama sebelum memulai bicara kembali.
"Ini semua jadi masuk akal," lanjut Percy sambil mengunyah perlahan. "Sangat aneh segerombolan Mist Panther tiba-tiba menyerbu desa yang dikelilingi Pohon Palliton."
"Ada cara melawan mereka, para panter itu," ujarku. "Mata mereka akan menyala hijau sesaat sebelum menerkam. Itu satu-satunya celah untuk menyerang mereka di dalam kabut. "
Percy berhenti mengunyah. Ia menatapku, mencerna informasi taktikal itu.
Ia menghela napas berat, penuh penyesalan. "Kalau saja informasi itu kami miliki kemarin..." Ia terdiam sejenak
"Aku sudah mengirim Sillian Flutterwing tercepat kami ke Adam dan Bregen untuk meminta bantuan. Aku harap besok pagi atau lusa paling lama bantuan akan datang."
Sillian Flutterwing— tupai bersayap selaput yang bisa meluncur cepat di antara pepohonan. Mereka adalah standar pengiriman pesan cepat Pemerintah. Jika ada yang bisa menembus hutan dan sampai di Adam dengan cepat, itu adalah mereka.
"Untuk sekarang," kata Percy sambil menepuk bahuku, sebuah gerakan yang terasa canggung namun tulus. "Beristirahatlah, Zane. Kau tamu kami malam ini."
Aku mengangguk, dan kemudian berjalan mencari sudut yang lebih tenang.
Sejurus kemudian, suara itu memanggilku.
“Zane, disini saja.”
apa di sana gak ada makanan lain gitu thor misal buah atau cemilan lain atau apa gitu
Pas kita lari, dia datang
Mau betumbuk kah mereka?😭