Georgio Cassano adalah antagonis paling menyedihkan yang pernah Selin baca. Dimana sedari kecil dia tidak pernah mendapat perhatian keluarganya,cinta pertamanya malah menikah dengan rivalnya, dan istrinya berselingkuh. Sang Antagonis mendapat akhir trangis, Perusahaan yang dibangun dengan hasil kerja kerasnya sendiri bangkrut, dan dia meninggal dibunuh protagonis pria.
"Andai saja aku yang menjadi istri antagonis. Pasti aku akan membuat dia bahagia." Kata-kata yang diucapkan Selin malah membuatnya memasuki tubuh Cassandra, istri antagonis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lailararista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perayaan yang mematikan
Pesta perayaan kembalinya Jordan akhirnya diadakan dua minggu setelah nya. Di adakan di salah satu hotel termewah milik Cassano Grup. Segala sesuatu dirancang untuk memamerkan kekayaan dan kekuasaan Georgio. Lampu kristal, musik orkestra, dan lautan wajah-wajah penting dari dunia bisnis.
Jordan berdiri di sudut, dikelilingi oleh orang-orang yang dulu menghindarinya. Ia mengenakan tuksedo paling mahal, tampak berwibawa dan sukses. Di sebelahnya, Annabella memegang lengannya, matanya memancarkan kehangatan dan dukungan yang tulus.
"Semua ini terasa salah, Anna, harusnya aku bahagia, tapi kenapa rasanya tidak." bisik Jordan.
Annabella meremas lengannya. "Tidak apa-apa. Kamu tidak sendirian."
Jordan mengangguk lalu mencium kening Annabella sekilas.
Dari kejauhan, Georgio dan Cassandra melangkah ke panggung utama. Georgio tampak seperti raja, memancarkan aura yang dingin. Cassandra, mengenakan gaun merah menyala, tampak memukau dan berbahaya. Disusul Albert didekat mereka.
Albert meraih mikrofon. "Hadirin sekalian, selamat datang! Malam ini, kita merayakan kebangkitan yang luar biasa. Malam ini kita merayakan kembalinya salah satu nama terbesar di industri kita, bapak Jordan!"
Tepuk tangan membahana. Jordan dipaksa tersenyum, melambaikan tangan. Georgio meraih microphone.
"Jordan adalah bukti bahwa dengan kemauan yang kuat, dan tentu saja... sedikit bantuan dari teman yang tepat, siapa pun bisa kembali dari jurang," ucap Georgi "Saya bangga telah membantu saudara saya berdiri di kakinya lagi." Lanjutnya
"Baiklah, kami mengundang Pria yang kita rayakan malam ini, untuk mengucapkan sepatah dua patah kata."ujar Albert lagi.
Jordan melangkah ke atas panggung. Ia berdiri di samping Georgio, sementara Albert mundur kebelakang, Jordan menatap kerumunan. Lampu sorot utama menyinari dirinya.
"Terima kasih, Gio," ujar Jordan, suaranya mantap. Ia memaksakan senyumnya. "Saya berdiri di sini malam ini, bukan hanya karena kerja keras, tetapi karena dukungan luar biasa. Dan saya berjanji, bahwa kesempatan kedua ini, tidak akan saya sia-siakan."
Sonia dan Adrian yang berada dibawah panggung menepuk tangannya bangga. Adrian membuang nafas lega, akhirnya dia bisa melihat kedua anaknya benar-benar akur.
Georgio melirik Cassandra. Cassandra yang paham pun mengangguk. Saat itulah, Cassandra menjauh dari Georgio, iya melangkah ke belakang panggung, berdekatan dengan panel kontrol audio-visual.
Jordan baru saja akan melanjutkan pidatonya, saat tiba-tiba, musik orkestra berhenti mendadak. Layar LED raksasa di belakang panggung, yang seharusnya menampilkan logo SkyLine Corp, tiba-tiba menampilkan vidio khusus.
Jordan menoleh, bingung.
"Sepertinya ada kejutan kecil untukmu, Jordan," ujar Georgio, suaranya tenang, penuh ancaman.
Layar itu berkedip, dan video buram itu mulai diputar. Video Sonia yang melakukan hubungan seksual dengan seorang pria, tapi bukan Adrian. Juga vidio Sonia yang bertengkar dengan pria itu dengan menyebut kalau Jordan bukan anak Adrian, melainkan saat pergi dari hidup Adrian, Sonia hidup dengan selingkuhannya dan berakhir hamil anak selingkuhannya. Tapi ternyata selingkuhannya itu juga menyelingkuhi Sonia, sejak itu dia hidup hanya berdua dengan Jordan. Hidup dalam kemiskinan, suatu hari dia mendapat kabar kalau Adrian sudah sukses lagi, tapi ternyata dia sudah menikah dan memiliki anak.
Sonia tidak terima dengan semua itu, yang membuatnya tidak terima lagi, tenyata yang menikah dengan Adrian adalah Clara. Adik angkatnya. Sejak itu dia semakin bertekad untuk mengambil kembali apa yang menurutnya miliknya.
Jordan membeku di atas panggung. Kerumunan berbisik, lalu bisikan itu berubah menjadi gumaman kaget. Annabella di bawah panggung, menutup mulutnya dengan tangan, matanya melebar tak percaya.
Sedangkan Sonia hampir saja terjatuh, kakinya lemas seketika, antara malu dan takut, dia menatap Adrian yang tampak syok. Tidak bisa berkata apa-apa.
Georgio menoleh menatap Jordan dengan penuh kemenangan. "Jordan, saya sengaja memberikan mu panggung, dan kini saya tujukan kebenaran. Kamu bukan siapa-siapa, Jordan."
Jordan diam, dia tidak bisa marah atau membenci Georgio. Kebenaran yang pahit itu menghantam dirinya. Selama ini dia dendam kepada Georgio karena di anggap telah mengambil miliknya, tapi ternyata dia salah, dia yang telah mengambil semua milik Georgio.
Jordan melangkah turun dari atas panggung, mendekati ibunya dengan raut wajah kecewa. "Selama ini aku percaya sama mama. Mama selalu mendorong aku untuk mengambil kembali hak aku."Jordan terkekeh miris.
"Tapi ternyata aku salah. Semua ini bukan hak aku, apa yang aku miliki selama ini bukan milik ku." Jordan menengadah menatap ke langit-langit sambil tertawa, tawa perih yang mengeluarkan air matanya.
Sonia menggeleng keras, dia meraih tangan Jordan. "Mama melakukan semua ini demi kamu, biar kamu tidak menderita, nak!"
Jordan menghempas kasar tangannya yang digenggam Sonia. "Biar kita bahagia? Lalu biarin orang lain menderita?" Jordan menggeleng kepalanya tidak habis fikir.
"Aku tidak menyangka mama akan sejahat ini."
Sonia menggeleng keras, dia beralih menatap Adrian yang sedari tadi hanya diam. Menatap lurus kepada Georgio. Anak yang dulu selalu dia salah kan, demi anak orang lain dia rela menelantarkan anaknya sendiri. Membiarkannya berkembang sendirian.
Adrian menampar keras wajah Sonia saat wanita itu memohon maaf kepadanya, terlihat kekecewaan yang begitu mendalam dimatanya.
"Bertahun-tahun aku kamu bohongi. Anak yang seharusnya aku jaga malah aku sakiti demi kalian, gara-gara kamu juga Clara meninggal."ujar Adrian pelan namun tajam. "Sonia! Kamu keterlaluan!" Ucapnya dan mendorong Sonia hingga terjatuh.
Georgio turun dari atas panggung, mendekati Jordan dan menepuk bahunya pelan.
"Permainan selesai, Jordan. Sekarang, bayar harga untuk kesuksesan pinjamanmu. Kamu kehilangan nama, kehilangan segalanya," bisik Georgio, seringai tajam menghiasi wajahnya. "Semua saham itu, SkyLine Corp dan Immanuel corp, adalah milikku. Nikmati status baru kalian, menjadi gelandangan." Georgio tertawa kecil, lalu mengulurkan tangannya yang seakan tau tangan itu akan disambut oleh tangan seseorang. Benar saja Cassandra datang dan langsung menyambut uluran tangan Georgio.
Georgio dan Cassandra meninggalkan mereka yang berdiri sendiri di bawah sorotan lampu. semua tamu ikut bersorak dan pergi dari sana, meninggalkan mereka yang tengah menangisi penyesalan masing-masing.
"Ma, aku harap kita tidak bertemu lagi."ujar Jordan dan melangkah pelan, menjauh dari sana. Sonia menggeleng dan dengan cepat menghampiri Jordan. Menahannya agar tidak pergi.
"Jangan tinggalin mama, mama tau mama salah, mama terpaksa melakukan semua itu."
"Cukup ma! Aku muak liat mama."bentak Jordan dan dengan kasar melepaskan tangan Sonia yang menggenggam tangannya.
Annabella yang masih disana diam tidak berkutik, semua kenyataan tentang Jordan membuat bingung. Bingung harus berbuat apa. Annabella menatap lama Jordan yang melangkah pelan menuju pintu keluar. Dia harus berbuat apa sekarang? didepan matanya sendiri dia melihat Jordan hancur.
Annabella mengusap air matanya yang tiba-tiba jatuh, dia berlari menghampiri Jordan. Jordan sendiri tidak berniat menoleh sama sekali saat Annabella memanggilnya.
"Jordan! Kamu kenapa ninggalin aku gitu aja?" Dilorong, Jordan menghentikan langkahnya, menatap Annabella sayu.
"Jangan ikut aku, aku tidak mau kamu ikut menderita."Annabella menggeleng pelan,
"Kamu biarin aku ninggalin kamu?"Jordan mengangguk.
"Asal kamu bahagia, aku sudah hancur, Anna. Tapi aku sadar, ini semua pantas aku dapatkan." Jordan hendak kembali pergi, tapi Annabella lagi-lagi menahannya.
"Aku sudah janji, aku akan selalu ada disamping mu."Annabella sudah memutuskan, dia akan tetap bersama Jordan walaupun saat ini Jordan sudah kehilangan segalanya.
Jordan tertawa lirih."kamu tidak akan sanggup, Anna. jangan seperti ini, aku benar-benar merasa tidak berguna." Annabella menggeleng keras, air matanya tiba-tiba luruh melihat keputus asaan Jordan. Dia tidak pernah melihat Jordan yang benar-benar hancur seperti ini sebelumnya.
"Tidak! Ini semua bukan salah kamu, kalau aja mama kamu tidak berbohong, ini semua tidak akan terjadi. Jangan salahin diri kamu sendiri, Jordan."Jordan tersenyum kecil, lalu membawa Annabella kedalam dekapannya.
"Terimakasih, Anna."