NovelToon NovelToon
Gerhana Sembilan Langit

Gerhana Sembilan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi ke Dalam Novel / Masuk ke dalam novel / Fantasi Timur
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Kokop Gann

Seorang pembaca muak dengan novel bacaannya yang dimana para antagonis jenius dengan latar belakang tragis selalu kalah konyol oleh Long Tian, protagonis yang menang hanya bermodal "Keberuntungan Langit".

Saat bertransmigrasi ke dalam novel, dia menjadi Han Luo, NPC tanpa nama yang ditakdirkan mati di bab awal, ia menolak mengikuti naskah. Berbekal pengetahuan masa depan, Han Luo mendirikan "Aliansi Gerhana". Ia tidak memilih jalan pahlawan. Ia mengumpulkan para villain yang seharusnya mati dan mengubah mereka menjadi senjata mematikan.

Tujuannya satu: Mencuri setiap peluang, harta, dan sekutu Long Tian sebelum sang protagonis menyadarinya.

"Jika Langit bertindak tidak adil, maka kami akan menjadi Gerhana yang menelan Langit itu sendiri." Ini adalah kisah tentang strategi melawan takdir, di mana Penjahat menjadi Pahlawan bagi satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Transaksi dengan Iblis

Suara gemuruh air terjun mendominasi indra pendengaran, menutupi suara langkah kaki dan napas yang memburu. Di balik tirai air yang deras itu, terdapat sebuah gua alami yang sempit dan lembap, tersembunyi dari pandangan dunia luar.

Di dalam gua itu, seorang pemuda berjubah merah darah sedang bersandar lemah pada dinding batu. Wajahnya yang tampan kini pucat pasi, bibirnya membiru karena racun, dan ada luka sayatan panjang melintang di dadanya yang terus meneteskan darah hitam.

Ini adalah Fang Yu, Tuan Muda Sekte Iblis Darah. Sosok yang biasanya angkuh dan kejam, kini tampak seperti anjing yang terpojok.

"Sialan... Tetua Gui..." Fang Yu terbatuk, memuntahkan gumpalan darah. "Kau berani mengkhianatiku demi harta warisan itu..."

Dia mencoba mengalirkan Qi untuk menekan racunnya, tapi dantian-nya terasa seperti ditusuk jarum. Dia tahu waktunya tidak banyak. Para pengejarnya—sisa-sisa pengkhianat sektenya sendiri yang bekerja sama dengan pihak luar—pasti sudah dekat.

Tiba-tiba, telinganya menangkap suara yang berbeda dari gemuruh air.

Tap. Tap. Tap.

Suara langkah kaki yang tenang. Bukan langkah terburu-buru para pengejar, melainkan langkah santai seseorang yang sedang berjalan-jalan di taman.

Fang Yu memaksa matanya terbuka. Dia mencengkeram pedang merahnya dengan tangan gemetar.

"Siapa di sana?! Keluar!"

Dari balik bayang-bayang mulut gua, sesosok tubuh muncul. Jubah hitam legam yang menyapu lantai, topeng putih polos tanpa fitur wajah, dan aura yang... kosong.

Itu adalah Han Luo, dalam persona Sarjana Mo.

Dia tidak menjawab. Dia hanya berdiri di sana, menatap Fang Yu dengan topeng kosongnya. Keheningan itu jauh lebih menekan daripada ribuan kata ancaman.

"Aku bertanya siapa kau!" teriak Fang Yu, mencoba menggertak meski nyawanya di ujung tanduk. Dia mengayunkan pedangnya, melepaskan gelombang Qi merah yang lemah.

Han Luo tidak bergerak. Dia tahu serangan itu tidak akan sampai.

Zing.

Gelombang Qi itu bubar menjadi asap merah tiga meter di depan Han Luo, kehabisan tenaga.

"Menyedihkan," suara Han Luo terdengar berat dan serak, hasil manipulasi otot tenggorokan menggunakan Sutra Seribu Wajah. "Tuan Muda Sekte Iblis Darah, pewaris Teknik Sungai Darah, kini tak lebih dari seekor tikus yang sekarat."

Mata Fang Yu membelalak. "Kau... tahu siapa aku?"

"Aku tahu lebih dari itu," Han Luo melangkah maju satu langkah. "Aku tahu Tetua Gui memasukkan 'Racun Peluruh Tulang' ke dalam tehmu tiga hari lalu. Aku tahu kau melarikan diri ke sini membawa Kunci Gudang Harta Sekte. Dan aku tahu... di luar sana, Liu Ming dari Sekte Pedang Awan sedang memimpin tim untuk 'membersihkanmu' atas tipuan anonim yang dikirim oleh pamanmu sendiri."

Setiap kalimat Han Luo adalah palu yang menghantam mental Fang Yu. Bagaimana orang ini bisa tahu detail sedalam itu? Bahkan Fang Yu baru menyadari racun itu kemarin!

"Siapa kau sebenarnya?" suara Fang Yu bergetar, kali ini bukan karena marah, tapi karena takut. "Apakah kau dikirim oleh Paman?"

"Jika aku dikirim untuk membunuhmu," Han Luo menjentikkan jarinya, dan sebilah belati Baja Dingin tiba-tiba muncul di tangannya, berputar lincah, "Kepalamu sudah jatuh sebelum kau menyadari kehadiranku."

Han Luo menyimpan kembali belatinya. Dia berjalan mendekat hingga jarak aman lima langkah.

"Namaku Sarjana Mo. Aku mewakili Aliansi Gerhana."

"Aliansi... Gerhana?" Fang Yu mengerutkan kening. Dia belum pernah mendengar nama itu. Apakah ini organisasi kuno dari Benua Tengah?

"Kami adalah bayangan yang menyeimbangkan cahaya dan kegelapan," Han Luo mulai membual dengan naskah yang sudah dia siapkan semalam. "Kami melihat potensi dalam dirimu, Fang Yu. Takdirmu seharusnya berakhir hari ini, mati di tangan Liu Ming, dan kuncimu diambil oleh musuhmu. Tapi... Tuan kami merasa itu terlalu membosankan."

Han Luo merogoh jubahnya. Bukan mengeluarkan senjata, melainkan sebuah peta kasar yang dia gambar di atas kain.

Dia melemparkan peta itu ke kaki Fang Yu.

"Liu Ming dan anjing-anjingnya mengepung dari Utara dan Barat. Pamanmu menunggu di Timur."

Fang Yu menatap peta itu. "Selatan? Itu Rawa Tulang Busuk. Itu jalan mati!"

"Itu jalan mati bagi orang bodoh," potong Han Luo dingin. "Rawa itu memiliki pola pasang surut gas beracun. Dalam waktu satu dupa dari sekarang, angin akan berubah ke arah Utara, membuka celah aman di sisi kiri rawa. Jalan itu akan membawamu langsung ke perbatasan wilayah netral."

Fang Yu terdiam. Informasi ini... terlalu spesifik.

"Kenapa?" tanya Fang Yu, menatap topeng putih itu. "Kenapa kalian menolongku? Apa harganya?"

Han Luo tertawa pelan di balik topengnya. Tawa yang membuat bulu kuduk Fang Yu berdiri.

"Tidak ada yang gratis di dunia ini, Tuan Muda. Harganya sederhana. Hutang Budi."

Han Luo berbalik badan, jubah hitamnya berkibar.

"Hidupmu hari ini adalah investasi kami. Kelak, ketika Aliansi Gerhana membutuhkan pedang atau emasmu... kami akan datang menagih. Dan saat itu terjadi, kau tidak memiliki hak untuk menolak."

Han Luo mulai berjalan keluar gua.

"Tunggu!" teriak Fang Yu. "Bagaimana aku bisa mempercayaimu?! Bagaimana jika peta ini jebakan?"

Han Luo berhenti sejenak, tapi tidak menoleh.

"Kau punya dua pilihan, Fang Yu. Percaya padaku dan ambil risiko hidup, atau tetap di sini dan mati pasti. Orang pintar tahu bagaimana cara bertaruh."

Sosok hitam itu kemudian melesat, menghilang di balik tirai air terjun seperti hantu yang tak pernah ada.

Fang Yu tertinggal sendirian di dalam gua yang dingin. Dia menatap peta di tangannya, lalu menatap jalan keluar.

Matanya yang tadi putus asa kini perlahan terbakar oleh api dendam dan tekad.

"Aliansi Gerhana..." bisiknya, menggigit bibirnya hingga berdarah. "Baik. Jika aku selamat hari ini, aku akan membalas budi ini. Tapi jika aku mati, aku akan menjadi hantu dan menghantuimu, Sarjana Mo!"

Fang Yu menelan pil penahan rasa sakit terakhirnya, berdiri tertatih-tatih, dan berlari menuju arah Selatan—Rawa Tulang Busuk.

Satu Jam Kemudian.

Di bagian lain hutan, Han Luo—yang sudah kembali ke wujud murid luar yang lemah dan ketakutan—sedang berlari tergopoh-gopoh keluar dari semak belukar.

"Kakak Senior! Kakak Senior Liu Ming!" teriak Han Luo dengan wajah pucat yang meyakinkan.

Liu Ming dan Nona Su sedang berdiri di atas bangkai seekor Serigala Angin. Mereka menoleh.

"Kau masih hidup?" Liu Ming tampak sedikit kecewa, tapi dia menutupinya dengan senyum tipis. "Di mana dua temanmu yang lain?"

"S-Saya tidak tahu! Kami terpisah saat dikejar babi hutan!" Han Luo berbohong dengan lancar. Dua murid lain itu sebenarnya mati dimakan tanaman karnivora karena salah jalan, tapi Han Luo tidak punya kewajiban menyelamatkan mereka.

"Apa kau menemukan jejak target?" tanya Nona Su tidak sabar.

"I-Iya! Saya melihat jejak darah mengarah ke Utara, menuju tebing!" lapor Han Luo, menunjuk arah yang berlawanan dengan jalur pelarian Fang Yu.

Mata Liu Ming berbinar. "Utara? Bagus! Itu jalan buntu. Dia pasti terperangkap di sana."

Liu Ming segera memberi isyarat pada pasukannya. "Ayo! Kita sergap dia sebelum matahari terbenam!"

Rombongan itu bergerak cepat ke Utara, penuh semangat untuk mendapatkan hadiah. Han Luo mengikuti di belakang, memanggul tas berat sambil menundukkan kepala.

Di balik poninya, dia tersenyum.

Dia baru saja mengirim Liu Ming ke area sarang Laba-laba Muka Manusia. Liu Ming tidak akan mati (dia cukup kuat), tapi dia akan sangat sibuk dan menderita, memberikan waktu yang cukup bagi Fang Yu untuk lolos sepenuhnya.

"Transaksi selesai," batin Han Luo. "Sekarang aku punya satu calon Boss jahat yang berhutang nyawa padaku, dan satu musuh sekte yang akan pulang dengan wajah babak belur."

Hari yang produktif.

1
Jeffie Firmansyah
👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪
Budi Andrianto
g8
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Hentooopz 🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Cerdik🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Iyeeeees 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Jlebz 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yuhuuuuu 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Iyeeeees 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
🔥🌽Yuhuuuuu 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yeaaah 🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Njoooooost 🔥🌽
Jeffie Firmansyah
Ahhhh.... lagi seru seru nya .... abis cerita nya... tunggu update.. terimakasih Thor 💪💪💪💪
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yeaaah 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yuhuuuuu 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Jlebz 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yuhuuuuu 🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yup yup yup 🔥🌽
Jeffie Firmansyah
jadi tdk sabar tunggu update nya 😄👍💪
Jeffie Firmansyah
kasian amat Han luo..... pendekar miskin ,dan terpaksa menjarah kekayaan cincin orang 2 kaya🤣🤣🤣
Efendi Riyadi
cerita macam apa ini guru, season 1-3 sangat menarik knapa season ke 4 jdi gini ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!