“Pokoknya kakak harus nikah sama aku. Jangan sama yang lain.” “Iya, iya. Bawel banget jadi anak. Lagian masih sd udah ngerti nikah nikahan dari mana sih? Nonton tuh Doraemon, jangan nonton sinetron.” “Janji dulu,” Ayunda mengulurkan jari kelingking. “Janji.” Ikrar mereka saat masih kecil, menjadi pegangan untuk ayunda sampai dia remaja. Hanya saja, saat ayunda remaja, Zayan sudah bukan lagi anak kecil seperti dulu. Perjalanan hidupnya mengantarkan Zayan pada banyak kisah. Akankah kisah tentang janji pernikahan itu masih dipegang oleh Zayan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RJ Moms, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CMK#3
“Hati-hati.” Zayan kembali membantu Ayunda turun dari motor.
“Perhatian banget calon imamku ini.”
“Jangan ge-er, kalau kamu jatuh nanti aku juga yang di marahi sama mama dan keluarga kita.”
“Apapun alasannya tapi aku suka.”
“Terserah.”
Ayunda berjalan terlebih dahulu menuju jalan rumahnya, Zayan mengikuti.
“Owalah, ada tamu. Masuk, masuk.”
“Gak usah, tante. Aku langsung pulang salaknya ditunggu sama bapak. Cuma mau anter Ayunda aja. Tadi Ayunda makan siang di rumah.”
“Iya, tadi Pak Herman sudah telpon kok.”
“Aku pamit ya, tante.”
“Ini beneran sama sekali gak mampir?”
“Nanti malam aja, tante.”
Mata ayunda berbinar saat mendengar ucapan Zayan barusan.
“Ya sudah. Nanti malam maen ya sekalian makan malam di sini. Nanti tante masak yang enak.”
“Iya, tante. Aku pamit.”
“Hati-hati di jalan.”
Zayan menganggukan kepala pada Ayunda sebagai tanda bahwa dia berpamitan.
“Itu kenap lagi jidatnya? Jangan bilang habis naik pohon lagi.”
“Hehehe.”
“Ya ampuuun, kamu itu kenapa sih? Bisa gak sih kayak perempuan normal lainnya? Bisa-bisanya kamu pergi ke rumah Pak Herman dalam kondisi seperti itu.”
“Mereka juga gak masalah kok.”
“Iya tapi setidaknya kamu itu berubah toh, Neng. Agak sedikit kalem apa gimana gitu.”
“Gak bisa, Ma. Ini udah bawaan orok.”
Nunung hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah anak gadisnya.
setelah selesai mandi dan bersiap rapi, Amelia menunggu di depan teras rumahnya. Menunggu teman nya untuk sama-sama pergi ke mushola dan bergabung dengan anak remaja mesjid lainnya. Ayunda memang bukan naka remaja mesjid, dia hanya suka iku membantu kegiatan apapun yang ada di desanya. Terlebih pak Mul adalah donatur utama dalam setiap kegiatan.
Mereka rapat sampai azan magrib tiba dan membubarkan diri setelah solat berjamaah.
“Padahal kata aku mah ya, undang aja habib yang terkabul bisa acaranya sukses,” ujar Syifa.
“Atuh habib mah mahal mungkin bayarnya.” Leni ikut berpendapat.
“Eh, Yunda, itu kayaknya pacar kamu datang.” Syifa menunjuk motor yang terparkir di depan rumahnya.
“Aku duluan ya.” Ayunda begitu antusias dan pergi begitu saja meninggalkan kedua temannya.
“Dah balik?”
“Kenap emang? Gak suka banget aku ada di rumah.”
“Emang. Ganggu banget tau.”
“Ih, ganggu apanya coba? Orang baru datang juga.”
“Ayo, mau jajan kan?” Tanya zayan yang langsung meninggalkan permainannya dengan Inggit.
“Apa aku bilang.” Inggit terlihat kesal.
“Aku simpen mukena dulu.”
Setelah berganti pakaian dan mnyimpan mukenanya, zayan membawa Ayunda setelah berpamitan pada Pak Mul dan Nunung.
Butuh waktu sekitar lima belas menit untuk sampai ke tempat yang cukup ramai. Di mana ada banyak pedagang kaki lima yang menjajakan makanan. Meskipun tidak sebanyak di kota besar.
“Mau jajan apa?”
“Gak mau jajan apa-apa.”
“Lho, ngapain kita ke sini?”
“Lah, kan kakak sendiri yang tiba-tiba ngajak jajan. Aku mah gak pengen jajan.”
“Ya tadi kenapa gak nolak aja selagi di rumah.”
“Aku cuma pengen pergi aja berdua sama kakak. hehehe.”
Zayan menghela nafas berat.
“Ya udah, kita ke mini market aja.”
Wajah Ayunda terlihat sumringah karena dari tempat merka berada saat itu, masih butuh waktu sepuluh menit untuk bisa sampai ke mini masrket. Itu artinya dia punya waktu tambahan untuk bisa berdua dengan zayan.
Di tengah perjalanan, Ayunda bergidik karena kedinginan. Zayan bisa merasakan hal itu dari gerakan tangan Ayunda. Dia menepikan motornya.
“Kenapa berhenti? Motornya mogok ya?’
Zayan tidak menjawab. Dia melepaskan jaketnya lalu memberikannya pada Ayunda.
“Nanti kakak kedinginan. Kakak kan duduk di depan. Aku gak apa-apa kok, kakak pakai aja jaketnya.”
“Gak usah, kamu aja yang pakai.”
“Kaka aja. Aku kan di belakang, bisa berlindung di punggung kakak,” ujarnya sambil memeluk zayan.
“Bisa banget nyari kesempatannya. Udah, jangan ngeyel. Buruan pake.”
Ayunda manyun sambil memakai jaket milik Zayan.
“Boleh beli apa aja kan?” Tanya Ayundqa saat nerka sampai di mini market.
“Hmmm.”
“Wuaaaah. Ternyata enak banget ya punya pacar udah kerja. Minta apa aja dikasih.”
“Kayak kamu gak mampu beli aja.”
“Rasanya beda.”
“Memangnya rasa cokelat itu akan berubah pahit kalau beli sendiri?’
“Nggak. Cuma kalau kakak yang beliin rasanya akan dua kali lipat lebih manis. Hehehe”
“Peluang diabetesnya gede dong.”
“Gak apa-apa kalau sama kakak sih, kan nanti kakak juga yang ngobatin aku,” ujarnya sambil memasukkan beberapa makanan ke dalam keranjang.
“Banyak banget ternyata jajan kamu.”
“Kenapa/ bikin kakak bokek ya?’
“Ya enggak lah. Mana mungkin duit aku habis hanya karena beliin kamu beberapa ciki dan cokelat. Masalahnya mau gimana bawanya? Di tenteng pake tangan? Pegel gak?”
Ayunda baru sadar jika merka mengendarai motor gede milik Zayan.
Al hasil sepanjang jalan Ayunda merasa sangat kesal karena dia tidak bisa memeluk Zayan. Jajanan sebanyak dua kantong keresek miliknya menjadi penghalang.
Setelah sampai rumah, zayan berpamitan pada orang tua ayunda. Gadis itu mengantar sampai depan.
“Makasih ya kak untuk malam ini. Stok makanan aku aman sampai beberapa hari ke depan.”
“Yakin sampai beberapa hari?” Tanyanya meledek, mengingat Ayunda sangat suka sekali ngemil.
“Hehehe. Kan kalau udah abis aku bisa minta sama kakak lagi.”
“Besok aku berangkat.”
“Hah? Cepet banget.”
“Aku cuma cuti dua hari aja.”
“Ihhhh, baru juga senengnya sebentar, udah mau ditinggal lagi. Lagian kakak kenapa sih gak nurut sama Om Herman biar bisa kerja di desa kita aja.”
“Nanti ya. Sekarang aku masih butuh waktu untuk belajar. Profesi oktet itu berkaitan dengan nyawa manusia.”
“Enak ya, kak sekolah di kota?”
Zayan hanya bisa diam menatap mata gadis itu yang terlihat penuh harapan dan angan. Zayan tau jika Ayunda sebenarnya ingin kuliah.
“Kamu belajar yang bener, jangan nyolong tanaman orang mulu.”
“Hehehe.”
“Aku pulang nya. Besok mungkin masih sempet anter kamu sekolah.”
“Jangan deh, nanti mood aku rusak. Kalau aku sedih karena kakak akan kembali ke kota, gimana?”
“Ya sudah. Aku pamit ya.”
Ayunda mengangguk.
“Ay, jangan tidur malem-malem.”
“Iya, kak.”
Zayan melambaikan tangan pada gadis imut itu. Ayunda masih berdiri di tempat yang sama saat motor zayan semakin menjauh. Dari kaca spion miliknya, zayan bisa melihat Ayunda menyeka air mata.
“Aku janji akan membawamu ke kota, kelak.”