Di balik gerbang kemewahan keluarga terpandang, Putri tumbuh sebagai bayangan. Terlahir dari rahim yang tak pernah diinginkan, ia adalah noda bisu atas sebuah perasaan yang tak terbalaskan.
Warisan pahit dari ibu yang pergi sesaat setelah melahirkannya, ia dibesarkan di bawah tatapan dingin ibu tiri dan kebisuan sang ayah, Putri tak pernah mengenal apa itu kasih sayang sejati. Ia hanyalah boneka yang kehadirannya tak pernah diinginkan, namun keberadaannya tak bisa disingkirkan.
Ketika takdir kembali bermain kejam, Putri sekali lagi dijadikan tumbal. Sebuah skandal memalukan yang menimpa keluarga besar harus ditutup rapat, dan ia, sang anak yang tak pernah diinginkan dan yang tak berarti, menjadi kepingan paling pas dalam permainan catur kehormatan.
Ia dijodohkan dengan Devan, kakak kelasnya yang tampan dan dingin, pria yang seharusnya menikah dengan kakaknya, Tamara.
Di sanalah penderitaan Putri berlanjut, akankah ia menyerah pada takdir yang begitu pahit, atau bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝑹𝒊𝒂𝒏𝒂 𝑺𝒂𝒏, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maaf Untuk Mama
Setelah sesi makan selesai dan perut sudah kenyang, mereka berpindah duduk santai di gazebo. Teh hangat dan kopi tersaji di meja, Rian sudah masuk ke dalam rumah untuk tidur karena besok sekolah.
Tawa yang tadi riuh perlahan mereda, digantikan oleh obrolan yang lebih tenang dan mendalam.
Pak Brahma menyesap teh jasminenya, lalu menghela napas panjang sambil menatap langit malam.
"Rasanya... sudah puluhan tahun papa tidak merasakan makan malam sehangat ini," ucap Brahma pelan, "dulu, meja makan kita selalu penuh dengan ketegangan. Anggun sibuk dengan ponselnya, Tamara sibuk komplain soal makanan... papa sibuk dengan ego papa."
Putri mengusap punggung tangan ayahnya yang mulai terlihat keriput. "Yang lalu biar berlalu, Pa. Sekarang kan kita udah kumpul lagi."
Keheningan sejenak menyelimuti mereka. Angin malam berhembus pelan, membawa pertanyaan yang ada di benak semua orang namun ragu untuk diucapkan.
Akhirnya, Devan yang membuka suara.
"Pa," panggil Devan pelan, "apa ada kabar... soal dia? Soal Tamara?"
Mendengar nama itu disebut, suasana ceria tadi sedikit memudar. Nindi menunduk, memainkan ujung taplak meja, Arga menatap Brahma serius.
Pak Brahma meletakkan cangkirnya perlahan, wajah tuanya terlihat lelah.
"Hilang," jawab Brahma singkat.
"Hilang?" ulang Putri kaget, "maksud Papa?"
"Sejak kejadian di rumah sakit itu... sejak dia kabur dari parkiran..." Brahma menggeleng pelan. "Tidak ada yang tau dia ke mana. Papa sudah suruh orang untuk cek apartemen temannya, hotel-hotel, bahkan papa cek data imigrasi kalau-kalau dia ke luar negeri. Nihil."
"Mamanya? Tante Anggun nggak tau?" tanya Arga.
"Anggun..." Brahma tersenyum miris. "Anggun sekarang tinggal di kontrakan kecil di pinggiran kota. Dia juga sama, dia diam dan tidak menghubungi papa. Sempat papa tanya, di mana Tamara, tapi Anggun juga nggak tau. Katanya, Tamara sempat mampir ke kontrakan Anggun, minta uang, tapi karena Anggun nggak punya apa-apa, Tamara ngamuk dan pergi lagi. Dia bilang dia mau cari jalan hidupnya sendiri."
Putri merinding. Kakaknya yang dulu hidup bak putri raja, kini entah berada di mana, tanpa uang, tanpa teman, dan dibenci banyak orang.
"Reno juga udah cuci tangan," tambah Nindi pelan. Ia menatap pak Brahma. "Aku denger dari temen-temen lama, Reno sekarang malah pindah ke Bali. Dia bener-bener mutusin semua kontak, termasuk sama Tamara setelah tau Tamara nggak punya apa-apa, dan kecewa karena dia cuma dimanfaatin aja."
"Tamara menuai apa yang dia tanam," ucap Devan dingin, tangannya merangkul bahu Putri protektif. "Dia punya banyak kesempatan buat berubah, tapi dia selalu pilih jalan yang salah."
Pak Brahma mengangguk setuju, meski ada gurat kesedihan seorang ayah di matanya.
"Papa sudah ikhlas. Papa sudah memberi dia pilihan terakhir waktu itu, bertobat atau pergi. Sayangnya, dia memilih pergi dengan kesombongannya. Sekarang, biarkan dunia luar yang mendidik dia. Mungkin... kemiskinan dan kesendirian adalah guru terbaik yang dia butuhkan saat ini."
Brahma menatap Putri dengan lembut.
"Yang penting sekarang, kalian fokus sama bayi ini. Papa nggak mau cucu papa kena dampak stres. Soal Tamara, kalau dia masih punya hati, suatu saat dia akan pulang dengan kepala tertunduk. Tapi kalau tidak... biarlah dia menjadi kenangan pahit yang mendewasakan kita."
Malam itu berakhir dengan perenungan. Di balik tawa dan kebahagiaan mereka, ada satu kursi kosong yang ditinggalkan oleh keserakahan.
Tamara telah pergi, menghilang ditelan kerasnya ibukota, membawa serta egonya yang belum juga runtuh.
***
Hujan gerimis membasahi jendela kamar Putri, Perutnya kini sudah sangat besar, menunggu hari H kelahiran sang buah hati.
Kakinya bengkak, membuatnya sulit berjalan jauh, namun wajahnya memancarkan ketenangan seorang calon ibu.
Siang itu, pak Brahma datang berkunjung. Ia sedang duduk di sofa ruang tamu, menemani Putri yang sedang melipat baju-baju bayi mungil berwarna pastel.
"Pa..." panggil Putri pelan, menghentikan aktivitasnya.
Brahma menoleh, tersenyum hangat. "Kenapa, Nak? Kakinya kram lagi? Mau papa panggilkan Devan?"
Putri menggeleng, ia menatap ayahnya lekat-lekat.
"Pa, Putri mau minta satu hal. Boleh?"
"Apapun buat kamu dan cucu papa," jawab Brahma mantap. "Kamu mau apa? Kamar bayi baru? Atau rumah sakit yang lebih bagus?"
"Bukan materi, Pa." Putri menarik napas panjang. "Putri mau... Papa jemput mama Anggun. Ajak mama pulang ke rumah."
Senyum di wajah pak Brahma seketika lenyap, wajah tuanya mengeras, gurat trauma dan kemarahan kembali muncul.
"Putri, kamu sadar apa yang kamu minta?" nada bicara Brahma meninggi sedikit. "Wanita itu hampir membunuh cucu papa! Dia yang bikin hidup kamu menderita selama dua puluh tahun. Dia racun, Nak. Meski papa juga bersalah, dan lebih bersalah dari mereka, tapi papa mau berubah, karena papa ingin yang terbaik untuk kamu."
"Putri tahu, Pa," jawab Putri tenang, "tapi Putri juga tahu, mama Anggun adalah wanita yang menemani Papa dari nol. Sebelum ada Putri, sebelum ada ibunya Putri... mama Anggun adalah istri pilihan Papa, kan?"
Brahma terdiam, matanya menerawang. Memang benar, Anggun adalah cinta pertamanya. Wanita yang rela hidup di kos-kosan sempit saat Brahma masih merintis usaha, sebelum keserakahan akan warisan mengubah segalanya.
"Kekejaman mama Anggun itu lahir dari rasa sakit hati, Pa," lanjut Putri bijak, "sakit hati karena Papa menduakan dia demi harta. Kita semua punya andil dalam menciptakan 'monster' itu. Papa yang mulai, mama yang memelihara dendam, dan Putri... Putri hanyalah pemicunya."
Putri meraih tangan ayahnya.
"Sebentar lagi cucu Papa lahir. Putri nggak mau anak ini lahir di tengah keluarga yang terpecah belah. Rian juga butuh ibunya, Pa. Kasihan Rian, setiap malam diam-diam nangis kangen mamanya."
"Tapi, Put... apa kamu nggak sakit hati?" tanya Brahma lirih.
"Sakit, Pa. Tapi kebencian itu berat bawanya. Putri mau melepaskan beban itu. Beri mama satu kesempatan lagi. Bukan sebagai nyonya Besar yang sombong, tapi sebagai istri dan ibu yang belajar menebus kesalahan. Kalau Papa masih cinta sama mama... tolong jemput dia."
Pertahanan Brahma runtuh melihat ketulusan hati putrinya. Anak yang paling ia sakiti, justru menjadi anak yang paling pemaaf.
***
Sore harinya, mobil mewah Brahma berhenti di depan sebuah petak kontrakan sederhana di gang sempit daerah pinggiran kota.
Brahma turun dengan hati berkecamuk, ia mengetuk pintu kayu yang catnya sudah pudar.
"Sebentar!" suara seorang wanita terdengar dari dalam, serak dan lelah.
Pintu terbuka.
Brahma terpaku, di hadapannya berdiri Anggun. Namun, bukan Anggun yang glamor dengan berlian dan make-up tebal. Wanita di depannya mengenakan daster lusuh, rambutnya diikat asal-asalan, dan wajahnya tirus tanpa riasan, memperlihatkan kerutan penuaan dan penderitaan.
Anggun terbelalak melihat siapa tamunya. "Mas Brahma?"
Wajah Anggun memucat. Ia mundur selangkah, malu setengah mati terlihat dalam keadaan menyedihkan seperti ini oleh suami yang mengusirnya.
"Boleh aku masuk?" tanya Brahma datar.
Anggun mengangguk kaku, membuka pintu lebar-lebar. Di dalam ruangan itu sempit dan panas, hanya ada kasur lipat di lantai dan kompor kecil di sudut.
"Ngapain kamu ke sini, Mas? Mau ngetawain aku?" tanya Anggun defensif, meski suaranya bergetar menahan tangis. "Atau mau kasih surat cerai? Mana? Sini aku tanda tangan."
Brahma menatap sekeliling ruangan itu, lalu menatap mata istrinya yang kehilangan binarnya.
"Bereskan barang-barangmu," perintah Brahma.
"Apa?"
"Putri yang minta," ucap Brahma, menekankan nama itu. "Anak yang kamu benci, anak yang kamu panggil haram, anak yang mau kamu racuni... dia yang memohon sama saya untuk jemput kamu pulang."
Anggun membeku. Mulutnya terbuka sedikit, tak percaya. "Putri...?"
"Iya. Dia bilang, bagaimanapun juga, kamu adalah wanita yang menemani aku dari nol. Dia mau anaknya lahir dengan nenek yang lengkap. Dia mau Rian punya ibu lagi."
Air mata Anggun tumpah seketika, pertahanannya hancur lebur. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan yang kasar karena mencuci baju sendiri, ia menangis meraung-raung di lantai kontrakan.
Rasa malu yang luar biasa menghantamnya, ia merasa lebih hina daripada sampah, anak yang ia injak-injak justru yang mengangkat derajatnya kembali.