NovelToon NovelToon
TAHANAN DI PELUKAN SANG PSIKOPAT

TAHANAN DI PELUKAN SANG PSIKOPAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Psikopat
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Jika aku memang pembunuh yang kau cari, kenapa jantungmu berdetak begitu kencang saat aku menyentuhmu?"
Ghea, seorang detektif hebat, terbangun tanpa ingatan di sebuah villa mewah. Seorang pria tampan bernama Adrian mengaku sebagai tunangannya. Namun, Ghea menemukan sebuah lencana polisi berdarah di bawah bantalnya.
Saat ingatan mulai pulih, kenyataan pahit menghantam: Pria yang memeluknya setiap malam adalah psikopat yang selama ini ia buru. Terjebak dalam sangkar emas, apakah Ghea akan memilih tugasnya sebagai detektif atau justru jatuh cinta pada sang iblis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: TANGAN YANG TERKONTAMINASI

​Udara di lantai bawah tanah villa ini terasa lima derajat lebih dingin daripada di lantai atas. Bunyi tetesan air yang jatuh secara ritmis dari pipa tua menciptakan suasana mencekam, seperti detak jantung seseorang yang sedang menghitung waktu kematiannya.

​Adrian berjalan di depan, langkah sepatunya berbunyi mantap di atas lantai beton. Ia tidak lagi menyeret Ghea; ia hanya mengulurkan tangannya ke belakang, dan Ghea menyambutnya. Jemari Ghea yang dingin bertaut dengan tangan Adrian yang hangat dan kuat.

​"Kau siap melihat apa yang terjadi di balik tirai keadilan yang selama ini kau agungkan, Ghea?" tanya Adrian tanpa menoleh.

​"Aku sudah kehilangan keadilanku semalam, Adrian," jawab Ghea datar. "Tunjukkan padaku apa yang tersisa."

​Adrian membuka sebuah pintu besi berat yang berderit nyaring. Di dalam ruangan sempit yang hanya diterangi satu lampu gantung kusam, seorang pria paruh baya dengan setelan jas mahal yang kini compang-camping tampak terikat di sebuah kursi besi. Mulutnya disumpal, dan wajahnya bengkak akibat hantaman.

​Ghea membelalak. Ia mengenali pria itu. "Tuan Haryo? Bendahara partai yang terlibat kasus korupsi dana bansos itu?"

​"Tepat," Adrian melangkah mendekati pria yang gemetar ketakutan itu. "Dia memakan uang yang seharusnya menjadi jatah makan ribuan rakyat miskin. Tapi pengadilanmu membebaskannya minggu lalu karena 'kurangnya bukti'. Lucu, bukan?"

​Adrian mengambil sebuah pisau bedah dari meja instrumen di sampingnya. Ia memutar-mutar pisau itu di depan mata Tuan Haryo yang membelalak ngeri.

​"Dia menyembunyikan sisa uangnya di rekening luar negeri yang tidak bisa dilacak oleh tim IT-ku," Adrian menoleh pada Ghea dengan senyum miring yang mematikan. "Dia keras kepala. Dia pikir dia bisa membawa rahasia itu sampai ke liang lahat. Bagaimana menurutmu, Detektif? Bagaimana cara membuat orang seperti ini bicara?"

​Ghea berdiri diam di ambang pintu. Jantungnya berdegup kencang. Ini adalah ujian. Adrian ingin melihat apakah ia masih memiliki nurani seorang polisi, atau apakah ia sudah siap menjadi bagian dari kegelapan ini.

​Ghea melangkah maju, mendekati Tuan Haryo. Ia menatap pria itu dengan pandangan dingin yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. Insting interogasinya bangkit, namun kali ini tanpa batasan hukum (SOP) kepolisian.

​"Pisau itu tidak akan membuatnya bicara, Adrian," suara Ghea terdengar tenang namun tajam. "Orang seperti dia lebih takut kehilangan martabat dan hartanya daripada rasa sakit fisik. Dia sudah biasa menghadapi ancaman preman."

​Adrian mengangkat alisnya, tampak tertarik. Ia memberikan ruang bagi Ghea. "Lanjutkan."

​Ghea berjalan mengelilingi kursi Tuan Haryo, persis seperti predator yang mengincar mangsa. Ia menarik sumpalan mulut pria itu. Tuan Haryo langsung terbatuk dan memohon-mohon.

​"Tolong... saya akan berikan apa saja... jangan bunuh saya!"

​Ghea membungkuk, berbisik tepat di telinga Tuan Haryo. "Kau tahu siapa pria di belakangku ini? Dia tidak akan membunuhmu dengan cepat. Dia akan melenyapkan istrimu di Singapura terlebih dahulu, lalu anak gadismu yang sedang kuliah di London. Dia punya akses ke sana. Kau pikir kau bisa melindungi mereka dengan uangmu yang terkunci itu?"

​Tuan Haryo membeku. Wajahnya memucat seketika. "Bagaimana... bagaimana kau tahu..."

​"Aku seorang detektif, Haryo. Aku tahu rahasia kecilmu tentang apartemen rahasia di Kensington," Ghea beralih menatap Adrian. "Adrian, jangan gunakan pisau. Dia punya fobia terhadap ruangan sempit dan gelap. Masukkan dia ke dalam peti mati besi yang kau punya di gudang, lalu alirkan air sedikit demi sedikit sampai hidungnya tersumbat. Secara taktis, itu akan menghancurkan sistem sarafnya dalam waktu kurang dari lima menit tanpa meninggalkan luka luar yang bisa dilaporkan jika—secara ajaib—dia selamat."

​Adrian terpaku sejenak sebelum akhirnya meledak dalam tawa yang puas. Ia menatap Ghea dengan binar kekaguman yang luar biasa. Ghea bukan hanya sekadar memberikan saran; ia memberikan teknik interogasi psikologis tingkat tinggi yang sangat kejam.

​"Luar biasa..." gumam Adrian. Ia mendekati Ghea dan membelai wajahnya. "Kau jauh lebih berbakat dariku dalam hal ini, Sayang. Kau benar-benar mutiara yang terpendam di balik lencana polisi itu."

​Tuan Haryo mulai menangis histeris. "Jangan! Jangan peti mati! Saya akan berikan kodenya! Saya akan berikan semuanya!"

​Hanya dalam waktu dua menit setelah ancaman Ghea, pria itu membocorkan semua akun rahasianya. Adrian segera memberi isyarat pada anak buahnya untuk mengurus sisanya.

​Adrian membawa Ghea keluar dari ruangan itu. Di koridor yang remang, ia menyudutkan Ghea ke dinding, mengurung tubuh wanita itu dengan kedua lengannya. Napas Adrian terasa panas di kulit leher Ghea.

​"Kau melihatnya tadi? Betapa berkuasanya kau saat kau melepaskan beban moralmu?" bisik Adrian. "Kita adalah pasangan yang sempurna, Ghea. Aku adalah pedangnya, dan kau adalah otaknya."

​Ghea menatap mata Adrian, mencoba menyembunyikan rasa mual yang menggelegak di perutnya. "Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan untuk bertahan hidup di sampingmu, Adrian."

​"Dan aku mencintaimu karena itu," Adrian mencium Ghea dengan penuh gairah, sebuah ciuman yang terasa seperti segel perjanjian gelap di antara mereka.

​Namun, di balik mata tertutupnya, Ghea tetap terjaga. Saat Adrian memeluknya erat, Ghea melirik ke arah saku jas Adrian yang sedikit terbuka. Di sana, ia melihat sebuah kunci kecil dengan gantungan berlogo medis.

​Obat bius, batin Ghea.

​Ia tahu Adrian selalu membawa satu ampul penenang darurat untuk berjaga-jaga jika Ghea kambuh dalam serangan panik atau memberontak. Ghea menyandarkan kepalanya di dada Adrian, berpura-pura sangat lelah dan patuh, sementara otaknya mulai menghitung kapan saat yang tepat untuk mengambil kunci itu.

​"Bawa aku kembali ke atas, Adrian. Aku butuh istirahat," pinta Ghea dengan suara lirih yang dibuat-buat.

​"Tentu, Ratu-ku. Kau sudah bekerja sangat keras hari ini," jawab Adrian tanpa sedikit pun curiga.

​Malam itu, Ghea menyadari satu hal. Ia telah berhasil melewati ujian loyalitas terbesar. Adrian kini memandangnya sebagai rekan, bukan lagi sebagai tawanan. Dan itu adalah celah terbesar yang ia miliki untuk menghancurkan pria ini dari dalam.

​Ghea menyentuh kalung berlian di lehernya—pelacak yang masih aktif. Kau pikir kau sudah mengendalikan macan yang sudah jinak, Adrian. Kau tidak tahu kalau macan ini baru saja belajar cara menggunakan taringnya di duniamu.

1
sun
sinopsisnya bagus thor,tapi kalau untuk penulisannya kurang bagus,karena banyak kata yang hilang dan tidak nyambung.
sarannya sebelum di update dibaca ulang yah thor....
Leebit: makasih ya atas komentarnya. sya usahakan bab 2 lebih baik lagi😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!