Di tahun 3000 terjadi kekacaun dunia. Banyak orang berpendapat itu adalah akhir zaman, bencana alam yang mengguncang dunia, Gempa bumi, lonsor, hujan yang disertai badai..
Saat mata mereka terbuka, dunia sudah berubah. Banyak orang yang tewas akibat tertimpa bangunan yang roboh dan juga tertimbun akibat tanah longsor.
Tapi, ada yang berbeda dengan Orang yang terkena air hujan. Mereka tiba-tiba menjadi linglung, bergerak dengan lambat, meraung saat mencium bauh darah.
Yah, itu Virus Zombie. Semua orang harus bertahan hidup dengan saling membunuh. Kekuatan yang muncul sedikit membantu mereka untuk melawan ribuan Zombie.
Lima tahun berlalu, Dunia benar-benar hancur.. Tidak ada lagi harapan untuk hidup. Sumber makanan sudah habis, semua tanaman juga bermutasi menjadi tanaman yang mengerikan.
Aruna Zabire, memasuki hutan yang dipenuhi hewan dan tumbuhan mutasi. Dia sudah bosan untuk bertahan, tidak ada lagi keluarga dan kerabat. Mereka semua tumbang satu persatu ditahun ketiga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Bajak Laut
"Tangkap mereka semua!" Sang Ketua memberi perintah dengan percaya diri. Dia sebenarnya sedikit penasaran dengan status mereka.
Di lihat dari tubuhnya saja mereka bukan seperti pengungsi, mereka terlihat seperti orang kaya dari kota, tapi jika mereka anak bangsawan dari kota bukankah sangat lalai jika membiarkan anak-anak Mereka pergi tanpa para pengawal?
Tapi dia tidak ingin berpikir jauh, jika tidak ada pengawal bukan kan lebih memudahkan mereka untuk menangkap mereka semua?
Semua anak buahnya maju untuk menangkap Ozian dengan yang lainnya. Namun baru beberapa langkah sang ketua meminta mereka untuk kembali berhenti, karena firasatnya makin yakin, jika ada sesuatu yang tidak beres dengan para anak muda tersebut.
Lihatlah tampang mereka yang tidak terlihat takut sama sekali, biasanya jika mereka ingin menculik seseorang, orang-orang itu akan menangis dan berusaha untuk kabur. Tapi ada apa dengan Ozian dan yang lainnya? Apakah mereka bisa bela diri? Oh tidak, tidak ada jejak tenaga dalam yang dia rasakan, atau mungkin ada pengawal bayangan yang sedang bersembunyi di kegelapan? Dan siap untuk menyerbu.
Sang ketua berpikir cepat dengan keanehan ini, dia berkata "Kita balik sekarang!" suaranya terdengar sedikit gugup.
Semua anak buahnya terkejut, ada apa dengan Ketua mereka? "Ketua, kita belum menangkap mereka, kanapa harus balik?" tanya salah satunya.
Sang Ketua menatap anak buahnya dengan tajam, "Tidak ada bantahan, ayo balik." ujarnya sambil berjalan pergi, dengan sedikit tergesa. Dia merasa makin lama suasananya makin aneh.
Para anak buah berbalik dengan enggan, sesekali melirik Ozian dengan yang lainnya, mereka pergi dengan seribu pertanyaan di hati. Bukankah terget yang ada di depan mata terlihat lebih baik daripada korban sebelumnya? Ada dengan Ketua?
Setelah mereka naik kapal, sang Ketua meminta untuk segera berlayar dengan cepat. Setelah setelah agak jauh, dia baru merasa agak rileks.
Di perkemahan, Aruna dan yang lainnya saling tatap dengan raut wajah tak percaya, karena rencana yang mereka atur tidak sesuai dengan apa yang terjadi.
Ozian sedikit kecewa, padahal dia sudah menanti untuk melawan para bandit itu, tapi para bandit malah bersikap pengecut, pertempuran belum dimulai malah kabur duluan.
Namun berbeda dengan pikiran Aruna, dia merasa bandit yang dipanggil ketua itu memiliki otak yang sedikit pintar, karena mengetahui ada yang aneh dengan situasi
Jika dipikir-pikir merekalah yang kurang prepare, seharusnya mereka juga harus akting menangis dan ketakutan sehingga para bandit itu tidak waspada.
Setelah mengaktifkan kekuatan mentalnya, akhirnya Aruna mengetahui di mana markas para bandit, "jangan bersedih! Mereka pergi itu lebih bagus, jadi tidak perlu ada pertumpahan darah di sini."
"Tapi jika kita tidak mengalahkan mereka para Bandit itu akan selalu bertindak sewenang-wenang kepada para nelayan!"Ujar Lin.
"Ya, belum lagi mereka juga mencuri para pria dewasa, apa-apaan mereka?" Chen juga ikut marah, karena kakak laki-lakinya hilang dicuri para bandit saat mereka masih kecil.
Melihat mereka dalam kondisi kecewa dan marah akhirnya Aruna mengatakan, "tapi bukan berarti kita tidak bisa membantai mereka"
Ozian dan yang lainnya kenapa bingung, bukankah kata dia berkata tidak perlu ada petumpahan darah? kenapa sekarang harus dibantai lagi?
"Apakah kamu ada rencana?" Tanya Ozian.
"Hmm, mari kita habiskan mereka sekaligus dengan markasnya!" balas Aruna dengan menyeringai.
Semua terbelalak mendengarnya, ternyata itu maksud dari perkataan Aruna yang tidak perlu ada pertumpahan darah di sini tapi di tempat lain, sungguh bijak. Tapi di mana mereka harus mencari para bandit? Mereka sudah pergi dengan menggunakan kapal.
Mengetahui apa yang ada di dalam pikiran mereka Aruna mengatakan "Markas mereka ada di tengah laut di sebuah pulau kecil. bagaimana, apakah kalian tetap ingin melanjut kan?"
"Di tengah laut! Bagaimana kita harus ke sana?"
"Terbang, apa lagi?"
...----------------...
Di pulau kecil yang ada di tengah laut, di dalam markas kecil terjadi rapat kecil-kecilan. Pembahasan kali ini mengenai ke anehan yang terjadi di dermaga.
"Ketua, maksudmu para Nelayan itu juga menghilang gara-gara pemuda itu?" tanya salah satu dari mereka.
"Hmm bisa jadi, jika mereka memiliki kekuatan yang lebih besar dari kita!" yang lain memberi asumsi.
"Ya, aku baru sadar setelah mengatakan keanehan itu, mereka tidak terlihat takut sama sekali seperti korban sebelumnya!"
"Jadi, Ketua apa yang harus kita lakukan?"
Sang Ketua berpikir sejenak, lalu melirik dua kelompok lainnya. "Bagaimana dengan kalian, apakah ada keanehan?"
Ternyata mereka tidak hanya mendatangi satu termaga, tapi tiga dermaga kecil yang ada di daerah tersebut. Kebetulan Sang Ketua mendapat giliran di dermaga di tempat Aruna dan yang lainnya.
"Tidak ada masalah, bagaimana kalau kita bergabung saja, mari kita lihat apakah mereka masih tetap sok jago, cihh aku yakin dengan jumlah kita yang banyak, mereka pasti lari ketakutan..." Ucapnya dengan percaya diri.
Mendengar saran itu, mereka semua langsung setuju. Mereka itu seorang bandit, mana bisa takut dengan seorang bocah, meski seorang bandit, mereka juga punya harga diri.
"Baiklah, mari kita bersiap! Jangan sampai mereka meninggalkan dermaga besok pagi." Sekarang hampir pukul 4 pagi, dan menuju dermaga menggunakan kapal membutuhkan selama 2 jam.
Tapi sebelum mereka beranjak, terdengar dobrakan pintu dari luar. Sang Ketua Tidak percaya apa yang dilihatnya, seketika percaya dirinya yang sudah kembali langsung sirna berubah jadi ketakutan.
Braaakkkk....
"Tak perlu repot-repot, kami sudah datang!" Ucap Aruna sambil menatap orang-orang yang ada di depannya. Dia sudah bisa merasakan jejak kekuatan mereka ternyata sama dengan para bandit gunung, mereka benar-benar satu Klan.
"Kalian kenapa bisa di sini?" tanya salah satu anak buah yang ikut ke dermaga.
Semua terkejut dengan kedatangan Aruna dengan yang lainnya. Masalahnya, markas mereka berada di palau kecil yang letaknya ditengah laut. Dan bukan cuman satu pulau yang ada di tengah laut, ada beberapa pulau kecil lainnya. Tapi kenapa mereka bisa langsung menebaknya, dan bagaimana cara mereka bisa sampai ke sini? Apakah menggunakan perahu Nelayan? Tapi itu tidak mungkin, karena naik perahu ke pulau tersebut membutuhkan waktu sekitar 6 jam, mereka belum lama bertemu sekitar kurang lebih 2 jam dan saat ini mereka sudah sampai di sini.
"Apa yang kalian inginkan?" tanya sang Ketua setelah sadar kembali, meski masih ada rasa gugup. Dia juga tak menyangka, Aruna bisa menemukan markas mereka.
"Waahhh,, Siapa gadis cantik ini?" tanyanya pada sang Ketua, tapi matanya hanya fokus pada Aruna seorang, sampai tidak melihat gelagat aneh ketuanya.
Sang Ketua menatapnya dengan tajam, bagaimana dia masih bisa sesantai itu setelah melihat kedatangan Aruna dengan yang lainnya? Bukankah hal itu harusnya makin janggal bagi mereka? Baru bertemu sekitar 2 jam yang lalu, dan saat ini mereka sudah tiba di markas, itu artinya Aruna dan yang lainnya benar-benar memiliki kekuatan yang lebih tinggi.
"Aku hanya menginginkan matamu!" ucapan sebelumnya bukan hanya bualan,, dia benar-benar akan membuat orang itu tidak akan bisa melihat dunia lagi jika mereka menatapnya dengan nafsu, dan lihatlah sekarang semua yang ada di ruangan itu, akan habis di tangannya.
"KURANG AJAR, beraninya kau..! Apakah kau tidak tahu ketua kami ini sangat kuat? Meskipun kalian hanya bocah ingusan, ketua kami tidak pernah pandang umur!"
"Diamlah..!" bentak sang ketua kepada anak buahnya yang banyak bicara, di situasi seperti ini masih sempetnya membesar-besarkan kekuatannya.
Aruna sudah bosan melihat mereka hanya saling membentak, dia tidak ingin membuang waktu lama lagi dan saat itu juga sudah hampir pagi, jadi dia memulai aksinya membius para bandit itu dan hanya menyisakan 9 orang yang bertubuh besar dan memiliki kekuatan yang lumayan, agar Ozian dan yang lainnya bisa berlatih bela diri.
Yah, dia sudah percaya dengan kekuatan Ozian dan yang lainnya jadi dia membiarkan nya untuk melawan para bandit itu, mungkin jika itu dulu mereka sudah bergetar karena ketakutan.
Brukkk...
Brukkk...
Bruukkk...
Satu persatu para bandit itu berjatuhan ke lantai tak sadarkan diri, mereka sudah terbius obat tidur yang diberikan Aruna secara diam-diam, sang Ketua sangat terkejut dan juga makin takut melihat kejadian itu yang sangat mendadak. Padahal Aruna tidak bergerak sama sekali, kenapa para anak buahnya malah tidak sadarkan diri?
"Apa yang kalian lakukan dengan anak buahku?" tanyanya dengan marah, tapi dia adalah seorang ketua yang sangat setia kepada anak buahnya
"Tidak ada, kami hanya ingin berlatih bela diri!" ucap Lin dengan percaya diri.
"Jika ingin selamat maka berusahalah untuk menang!" setelah mengatakan itu Ozian segera maju terlebih dahulu untuk menyerang sang ketua yang menurutnya memiliki kekuatan yang lebih tinggi daripada yang lainnya.
Sang Ketua bandit mau tidak mau harus melawan Ozian, dia bener-bener terkejut melihat kekuatan besar dari Ozian dan yang lainnya, sungguh kali ini dia benar-benar terkecoh. Ternyata benar, sesuatu tidak bisa dilihat hanya dengan sampulnya saja.
Melihat mereka sudah bertarung, Aruna meninggalkan ruangan tersebut dan menuju tempat di mana banyak barang berharga, apalagi kalau bukan gudang penyimpanan. Dan benar saja setelah memasuki ruang tersebut ada banyak persediaan dapur di dalamnya, tanpa ragu dia mengambil semuanya dan menyimpannya ke dalam ruang penyimpanan.
Bukan hanya ada persediaan makanan, ternyata ada ada beberapa peti yang berisikan koin emas dan juga batangan emas, sungguh bandit yang kaya raya. Setelah gudang itu kosong, dia melanjutkan perjalanan ke belakang, di belakang ada beberapa kandang ternak, sapi, kuda, dan babi, serta beberapa ekor ayam dan bebek. Semua juga dibersihkan masuk, masuk, dan masuk ke ruang penyimpanan.
Meski di ruang penyimpanannya banyak stok yang melimpah karena di lahan pertanian sudah tumbuh subur, bahkan sudah siap panen, ada padi sayur-sayuran buah-buahan dan ternak tapi jika ada yang gratis kenapa tidak? Dia tetap mengambilnya dan akan membagikannya kepada orang yang lebih membutuhkan.
Setelah beberapa menit berlalu Aruna tidak lagi mendengar ada perkelahian di dalam, jadi dia berjalan untuk melihat dan ternyata semua para bandit itu sudah tumbang. Tentu dia tidak pelit untuk memuji Ozian dengan yang lainnya, sebagai Guru bela diri mereka Aruna sangat puas melihat perkembangan mereka, itu juga semua dibantu karena air spiritual, mungkin saat ini mereka juga bisa dikatakan setara dengan para jenderal, tapi itu hanya perkiraannya, mari kita lihat bagaimana kekuatan yang ada di Ibukota sana.
Mereka keluar dari markas itu, dan tanpa membuang waktu Aruna membakar markas tersebut seperti sebelumnya, hanya dengan sekali jentikan api berkobar tanpa asap hingga melahap semua puing-puing bangunan tanpa tersisa, bahkan abu pun tak terlihat sama sekali. Mereka terpana untuk yang kesekian kalinya, sungguh kekuatan yang sangat mengagumkan.
Matahari hampir terbit, Aruna segera mengajak mereka untuk kembali ke perkemahan dia sudah bisa menebak jika orang di perkemahan sudah mulai bangun satu persatu dan mereka menggunakan tikar dan terbang di udara menggunakan tenaga dalam Aruna.
***
Dan benar saja setelah tiba di di dermaga terlihat warga Desa sudah melakukan aktivitasnya di pagi hari begitupun dengan para Nelayan, satu persatu perahu datang berlabuh, para Nelayan yang semalam juga sudah datang, melihat tidak ada kekacauan mereka semua menghala nafas lega.
Setiba di perkemahan Aruna dan yang lainnya langsung sarapan, kali ini bukan Aruna yang menceritakan bagaimana pengalamannya menghabiskan para bandit, tapi Lin yang mengambil alih cerita. Dia menceritakan dengan antusias bagaimana mereka dengan gagahnya mengalahkan semua para bandit.
Kepala desa dan para warga mendengar itu sangat terkejut dan bahagia, tidak menyangka hanya beberapa minggu saja bela diri mereka sudah cukup kuat bahkan sampai mengalahkan bandit yang terkenal kejam.
Ya, Aruna juga merasa kecepatan dalam belajar bela diri mereka bisa dikatakan sangat terlalu cepat, tapi karena dia mengetahui asal-usulnya dia hanya diam saja.
Setelah sarapan Aruna menghampiri para Nelayan dan memberitahu mereka untuk tidak khawatir, karena para bandit itu sudah dimusnahkan, juga mengingatkan jika suatu hari nanti ada seseorang yang datang untuk menyelidiki hal tersebut mereka hanya perlu mengatakan tidak tahu apa-apa.
Rombongan perlu satu hari lagi untuk istirahat, karena Aruna ingin membeli banyak stok dari laut jadi memutuskan untuk berangkat besok pagi, mendengar hal itu anak-anak sungguh bahagia mereka berlarian di pinggir pantai sambil bermain, sungguh hidup yang sangat menyenangkan.
Para nelayan juga sangat senang mengetahui Aruna masih ingin membeli hasil tangkapan mereka, setelah beristirahat sejenak mereka melanjutkan untuk berlayar saat itu juga.
lanjut thorr💪💪💪