𝘛𝘳𝘢𝘨𝘦𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯 𝙈𝙤𝙧𝙣𝙞𝙣𝙜 𝙂𝙡𝙤𝙧𝙮—𝘖𝘳𝘨𝘢𝘯𝘪𝘴𝘢𝘴𝘪 𝘱𝘳𝘢𝘫𝘶𝘳𝘪𝘵 𝘣𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘞𝘢𝘯𝘨 𝘚𝘩𝘪𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘮𝘢𝘴𝘵𝘦𝘳 𝘦𝘭𝘪𝘵𝘦 𝘱𝘳𝘢𝘫𝘶𝘳𝘪𝘵, 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘸𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘳𝘦𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘶𝘳𝘶𝘬 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘥𝘪𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘱 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢.
𝘚𝘩𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘪 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘢𝘯 𝘳𝘢𝘯𝘥𝘰𝘮 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶— 𝘵𝘦𝘳𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘵𝘶𝘢.
𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢, 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘬𝘦𝘬𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Magisna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
왕신 ー 12
...왕신...
...ー...
𝓗𝓪𝓹𝓹𝔂 𝓻𝓮𝓪𝓭𝓲𝓷𝓰!
Lima ratus juta won sama dengan bunuh diri di hadapan Eiji Shoーayah angkatnya. Dalam satu menit Aiko sudah harus menemukan cara bagaimana mengacau rencana seorang polisi keparat bernama Oh Chunbae.
“Baiklah! Aku akan siapkah cek-nya, tapi Anda harus menepati janji, jangan sampai bisnis kami tercium aparat selain Anda, Detektif!"
“Tentu saja! Dengan senang hati.” Senyum Chunbae merekah lebar. Belagak bossy dengan sorot mata sewarna merebut tender dari pesaing.
“Tunggu sebentar, aku ambil cek-nya. Silakan sambil menikmati buah-buahan itu.” Aiko seraya menunjuk ke meja dengan matanya, di mana sekeranjang buah berbeda macam ada di sana.
“Ini berkah. Aku akan menikmatinya,” tanggap Chunbae senang.
Aiko berbalik badan, masuk kembali ke area tempat tidurnya. Sampai di sana, meraih tas dan mengambil kertas cek. Digit angka sesuai permintaan Oh Chunbae segera dituangnya dengan goresan tinta.
“Jika sudah seperti ini, apa boleh buat. Aku tidak ingin dipenjara, tidak juga ingin mati di tangan ayah angkatku.” Selain cek, sesuatu diambil lalu disembunyikan di saku outer-nya. Daripada menciptakan kerugian uang, lalu dia kembali terjebak dalam ketiranan ayah angkatnya.
Langkah diambil, kembali ke sekat ruang utama dimana detektif gila itu sedang memasukkan butir per butir anggur ke dalam mulut.
“Ini.”
Melihat helai cek yang ditamparkan Aiko ke atas meja, mata Oh Chunbae terang menyala. Sisa dua butir anggur dilahap sekaligus lalu dengan tak sabar meraih kertas sehelai itu, memegangnya dengan kedua tangan sambil ditatap penuh nafsu angka-angkanya.
“Waaa, aku tidak percaya ini. Anda benar-benar sangat murah hati, Nona. Jika begini, aku akan pastikan semua aman sampai Anda pulang kembali ke Jeー"
JLEB!
“Eugh!”
Euforia Oh Chunbae hanya berlangsung singkat, terpotong oleh sesuatu yang baru saja menembus daging pundaknya, sesuatu yang panjang dan tajam.
Dengan mata lebar, satu telapak tangannya naik perlahan untuk menyentuh bagian itu. “Ka-kau ....”
JLEBBB!
“Pfftt!”
Lebih melotot, meregang urat-urat di wajah saat tusukan kedua mengoyak daging di pundak sebelah lagi.
Sebuah konde dua belas senti, benda yang diambil Aiko bersamaan cek, dia menancapkannya. Darah memancar dan segera mengaliri badan Oh Chunbae.
“Wa ni ta ke pa raat!" Polisi itu mengutuk dengan suara terpatah. Namun meskipun dalam keadaan yang seburuk itu, kakinya belum limbung sama sekali. Tatapannya malah menajam merah menusuk jantung Aiko membentuk kengerian pekat.
Wanita itu mundur terkatung, bergetar takut karena Chunbae 'tak langsung tumbang seperti dalam bayangannya.
“Seharusnya aku menusuk dadanya saja.” Dia menyesalkan. Tatapannya menuju pintu, lalu melanting cepat untuk melakukan upaya akhirーmelarikan diri secepat mungkin.
Namun ....
“Kenapa terkunci?!”
Lebih sial lagi, sekarang Oh Chunbae sedang bergerak mendekat padanya, membawa seringai iblis untuk mengolok keadaan yang tertahan karena gagal melarikan diri.
“Kau pikir aku bodoh? Pintu itu sudah kukunci.”
Aiko menelan ludah, resah menatap pria itu sambil dengan bodoh terus memutar-mutar pegangan pintu berharap lepas sendiri.
Dan ....
Greb!
Sekali terkam, Oh Chunbae mendapatkannya.
“Le ... pas ... kan.”
Urat wajah Aiko meregang, sekuat tenaga menahan tangan Oh Chunbae agar tidak sampai berhasil mencekik lehernya.
“Wanita bodoh! Kau pikir kau bisa membunuhku semudah itu, huh?! Tusukanmu bahkan tak cukup dalam untuk membuatku mati sekaligus ... Jalang Sialaan!"
Aiko kewalahan.
“Mati kau!”
Kekuatan Oh Chunbae naik lipatan level meski dalam keadaan ternahas.
Napas Aiko semakin sesak, berat walau untuk meraih satu raupan saja. Tidak berdaya selain pukulan-pukulan lemah di tangan baja lelaki itu.
“Ini balasan karena kau nakal, Jalang! Seharusnya kau tidak main licik seperti ini. Kalau kau ingin, kita bisa negosiasi ... seperti menggunakan tubuhmu misalnya.” Ditutup Chunbae dengan seringai.
Beberapa detik lagi sampai Aiko mungkin akan melepas nyawa ....
BRAK!
DUAGH!
Bantuan datang.
Chunbae terpetal ke dinding sebelum sempat tertawa. Sebuah tendangan keras dari seseorang yang baru saja masuk, menghantam bagian punggungnya.
Aiko yang berhasil terlepas langsung terhuyung seraya memegani leher dengan mulut terbuka lebar untuk meraup udara sebanyak-banyaknya.
Dalam kondisi yang sudah kacau, Oh Chunbae masih mencoba bangkit, matanya yang tajam bertemu seraut wajah yang sangat asing di ingatannya.
“Siapa kau, Siaー”
BUG!
Dia terkapar setelah satu pukulan keras menimpa rahang kirinya. Sayu matanya perlahan padam disusul tubuh melemas dan ... gelap.
"Nona Hart, kau baik-baik saja?!"