Seorang pemulung menemukan jasad tanpa wajah di Kampung Kemarin. Hanya ada cincin bertanda 'S' dan sehelai kertas tentang "kayu ilegal" sebagai petunjuk.
Detektif Ratna Sari menyadari kasus ini tidak biasa – setiap jejak selalu mengarah pada huruf 'S': dari identitas korban, kelompok tersembunyi, hingga lokasi rahasia bisnis gelap.
Ancaman datang dari mana saja, bahkan dari dalam. Bisakah Ratna mengungkap makna sebenarnya dari 'S' sebelum pelaku utama melarikan diri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3 (three)
Hujan gerimis mulai membasahi aspal kota Sukamaju saat mobil SUV hitam yang dikemudikan Brigadir Teguh membelah keheningan malam. Tujuan mereka adalah sebuah rumah petak di pinggiran daerah industri, tempat istri Samsul Bahri tinggal. Suasana di dalam mobil terasa kaku, hanya suara detak wiper yang menyapu kaca depan secara ritmis.
"Bu," Teguh membuka suara, memecah kesunyian. "Kenapa Ibu yakin istri Samsul tahu sesuatu? Biasanya dalam kasus seperti ini, keluarga adalah orang terakhir yang diberitahu tentang bisnis gelap suaminya."
Ratna menyandarkan kepalanya ke jok mobil, matanya menatap lampu-lampu jalan yang kabur karena air hujan. "Samsul adalah pengawas lapangan, Teguh. Orang di posisi itu biasanya menyimpan 'asuransi'. Jika dia merasa nyawanya terancam karena tahu terlalu banyak soal kayu ilegal, dia pasti meninggalkan sesuatu untuk keluarganya sebagai jaminan. Masalahnya, apakah istrinya berani bicara?"
"Atau apakah dia masih hidup untuk bisa bicara?" gumam Teguh pelan, yang disambut dengan tatapan tajam dari Ratna.
Sepuluh menit kemudian, mereka sampai di sebuah gang sempit yang hanya diterangi oleh satu lampu merkuri yang berkedip-kedip.
Rumah nomor 14 itu tampak suram. Tidak ada bendera kuning yang terpasang, sebuah tanda bahwa kematian Samsul belum diumumkan secara resmi atau mungkin sengaja 'disembunyikan'.
Ratna turun dari mobil, merapatkan jasnya. Ia mencium aroma yang akrab di udara aroma tanah basah yang bercampur dengan sesuatu yang manis. Wijayakusuma.
"Teguh, siapkan senjatamu. Tetap di belakangku," bisik Ratna.
Mereka mengetuk pintu kayu yang catnya sudah mengelupas. Setelah ketukan ketiga, pintu terbuka sedikit, menampakkan wajah seorang wanita paruh baya dengan mata sembab dan wajah pucat pasi. Ia adalah Lastri, istri Samsul.
"Siapa?" tanya wanita itu dengan suara bergetar.
"Detektif Ratna dari Polres Sukamaju, Bu Lastri. Kami ingin bicara soal suami Anda," ujar Ratna sambil menunjukkan lencana kepolisiannya.
Melihat lencana itu, Lastri bukannya tenang, malah terlihat semakin histeris. "Pergi! Saya tidak tahu apa-apa! Suami saya tidak pulang! Tolong pergi sebelum mereka melihat kalian di sini!"
Ratna dengan sigap menahan pintu yang hendak ditutup paksa. "Siapa yang Ibu maksud dengan 'mereka'? Jika Ibu diam, nyawa Ibu dan anak-anak Ibu juga dalam bahaya. Kami di sini untuk melindungi."
"Melindungi?" Lastri tertawa pahit, suaranya parau karena tangis. "Polisi sudah datang ke sini satu jam yang lalu, Bu Detektif. Mereka memakai seragam yang sama dengan Anda, tapi mereka menggeledah rumah saya seperti perampok! Mereka mencari 'buku hitam' milik Samsul!"
Ratna dan Teguh saling berpandangan. Bambang. Atau setidaknya orang-orang suruhan yang bergerak di bawah radar.
"Bu Lastri, dengarkan saya," Ratna masuk ke dalam rumah tanpa menunggu izin, memaksa Lastri untuk duduk di kursi kayu yang reyot. "Saya tidak tahu siapa yang datang tadi, tapi saya berjanji, saya bukan bagian dari mereka. Samsul meninggal karena dia mencoba melakukan hal yang benar, bukan? Dia mencatat aktivitas kayu ilegal di Proyek S.K.?"
Mendengar nama 'Proyek S.K.', Lastri terperanjat. Ia menatap ke sekeliling ruangan dengan ketakutan yang murni. "Samsul bilang... 'S' itu bukan manusia. 'S' itu adalah sistem. Siapapun yang mencoba melawannya akan dihancurkan wajahnya agar tidak bisa masuk surga. Begitu kata mereka."
"Di mana buku itu, Bu?" tanya Teguh tidak sabar.
"Saya sudah membakarnya," jawab Lastri pelan.
Ratna mengamati gerak-gerik wanita itu. Jemari Lastri terus-menerus memilin ujung taplak meja plastik. Ratna tahu itu adalah kebohongan karena keputusasaan. "Anda tidak membakarnya. Anda menyembunyikannya karena itu satu-satunya alasan Anda masih hidup sekarang. Jika buku itu musnah, mereka tidak punya alasan lagi untuk membiarkan Anda bernapas."
Tiba-tiba, suara kaca pecah terdengar dari arah dapur.
PRANG!
"Teguh! Amankan belakang!" teriak Ratna.
Teguh melesat ke arah dapur dengan senjata terhunus, sementara Ratna menarik Lastri ke bawah meja. Dari kegelapan luar jendela, sebuah botol berisi bensin dengan sumbu menyala dilemparkan masuk. Api langsung menyambar gorden lusuh di ruang tamu.
"Keluar lewat jendela samping! Sekarang!" perintah Ratna.
Saat mereka berusaha keluar dari rumah yang mulai dilahap api, sebuah bayangan melintas di halaman depan. Ratna melihat seorang pria mengenakan jaket hoodie hitam memegang senjata laras pendek. Tanpa ragu, Ratna melepaskan tembakan peringatan ke udara.
"Polisi! Jatuhkan senjata!"
Bukannya menyerah, pria itu justru membalas tembakan. Peluru menyerempet tiang kayu tepat di samping kepala Ratna. Dalam kekacauan itu, Ratna melihat sebuah mobil sedan hitam bermesin kencang melaju pergi dari ujung gang. Di kursi belakang mobil itu, ia sempat melihat siluet seorang wanita yang duduk tegak dengan tangan yang memegang batang bunga panjang.
Teguh kembali dari dapur dengan napas terengah-engah. "Mereka kabur lewat kebun belakang, Bu! Ada dua orang!"
"Lupakan mereka! Amankan Bu Lastri ke tempat aman!" seru Ratna sambil terbatuk karena asap.
Setelah berhasil menjauh dari rumah yang kini membara, Lastri yang lemas akhirnya jatuh berlutut di aspal. Ia merogoh bagian dalam bantal kecil yang ia dekap sejak tadi. Di dalamnya, ada sebuah kartu memori kecil (microSD) yang terbungkus plastik.
"Ini... ini yang mereka cari," isyak Lastri. "Samsul menyembunyikannya di dalam mainan anaknya. Dia bilang, jika terjadi sesuatu padanya, cari orang bernama 'Sari'. Saya pikir itu Anda."
Ratna menerima kartu memori itu dengan tangan yang kotor karena jelaga. Sari. Samsul mengenalnya? Atau ini adalah jebakan lain yang lebih dalam?
"Bu, rumahnya habis," kata Teguh sambil menatap kobaran api yang mulai dipadamkan warga sekitar. "Kita harus membawa Bu Lastri ke safe house. Kantor polisi sudah tidak aman lagi."
Ratna mengangguk, namun matanya tetap tertuju pada kartu memori di telapak tangannya. "Bawa dia ke rumah ibumu, Teguh. Jangan beri tahu siapapun, bahkan istrimu sendiri. Aku akan pergi ke suatu tempat."
"Ke mana, Bu?"
"Menemui 'S' yang asli."
Ratna kembali ke Polres saat fajar menyingsing, namun ia tidak menuju ruangannya. Ia pergi ke ruang arsip lama yang terletak di rubanah (basement). Di sana, ia mencari berkas lama tentang kasus kayu ilegal sepuluh tahun yang lalu.
Setelah mencari selama satu jam, ia menemukan sebuah foto lama tim investigasi kehutanan. Di sana berdiri Komisaris Bambang yang masih muda, Samsul Bahri yang masih gagah, dan seorang pria lain yang wajahnya sudah dicoret dengan spidol hitam.
Di balik foto itu tertulis sebuah catatan kecil: Sukamaju - Kematian adalah harga untuk sebuah Kesetiaan.
Ratna menyadari sesuatu yang mengerikan. Huruf 'S' pada cincin itu memiliki bentuk lekukan yang identik dengan logo pada kancing seragam lama para petugas kehutanan di foto tersebut. Ini bukan sekadar sindikat kriminal biasa. Ini adalah sisa-sisa unit khusus yang seharusnya melindungi hutan, namun berubah menjadi predator yang paling rakus.
Ponsel Ratna kembali bergetar. Bukan pesan singkat, melainkan sebuah panggilan video dari nomor tidak dikenal.
Ratna mengangkatnya. Layar ponselnya menampilkan ruangan gelap. Kemudian, lampu dinyalakan, memperlihatkan Mbah Mansur yang sedang duduk diikat di sebuah kursi kayu kursi yang sama dengan yang ada di Rumah Kosong Cemara.
"Selamat pagi, Detektif Ratna Sari," suara seorang wanita terdengar merdu namun dingin, seolah-olah ia sedang membacakan puisi. "Mbah Mansur bilang dia ingin memberikan kue ulang tahun untuk cucunya. Sayangnya, dia salah mengambil barang di tepi sungai kemarin."
"Lepaskan dia! Dia tidak tahu apa-apa!" teriak Ratna ke arah ponselnya.
"Dia tahu terlalu banyak tentang bagaimana bau kematian, Sari," wanita itu tertawa kecil. Di latar belakang, terlihat sebuah kapak besar yang bersandar di dinding. "Datanglah ke dermaga lama di pinggir sungai Ciliwung pukul sepuluh malam ini. Bawa kartu memori itu, atau kita akan memiliki jasad tanpa wajah yang kedua di kampung Kemuning."
Klik.
Panggilan terputus.
Ratna menatap layar ponselnya yang hitam dengan perasaan hancur sekaligus amarah yang meluap. Ia baru saja menyadari bahwa dalam permainan ini, ia bukan lagi pemburu. Ia adalah umpan yang sedang ditarik masuk ke tengah jaring laba-laba.
"S..." bisik Ratna. "Siapapun kau, kau melakukan kesalahan besar dengan menyentuh orang yang tidak bersalah."