Lanjutan dari Novel Pendekar Naga Bintang
Gao Rui hanyalah murid lemah di Sekte Bukit Bintang, bocah yatim berusia tiga belas tahun tanpa latar belakang, tanpa pelindung, dan tanpa bakat mencolok. Setelah gurunya, Tetua Ciang Mu, gugur dalam sebuah misi, hidup Gao Rui berubah menjadi rangkaian hinaan dan penyingkiran. Hingga suatu hari, ia hampir mati dikhianati oleh kakak seperguruannya sendiri. Dari ambang kematian, Gao Rui diselamatkan oleh Boqin Changing, pendekar misterius yang melihat potensi tersembunyi dalam dirinya.
Di bawah tempaan kejam Boqin Changing di dunia khusus tempat waktu mengalir berbeda, Gao Rui ditempa bukan untuk cepat menjadi kuat, melainkan untuk tidak runtuh. Ketika kembali, ia mengejutkan sekte dengan menjuarai kompetisi bela diri dan mendapat julukan Pendekar Naga Bintang. Namun perpisahan dengan gurunya kembali memaksanya berjalan sendiri. Kali ini, Gao Rui siap menghadapi dunia persilatan yang kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Oleh Oleh dari Yanjing
Tetua Agung Xu Qung dan Patriak Li Xuang saling bertukar pandang sejenak sebelum akhirnya Xu Qung mengulurkan tangan. Dengan gerakan tenang, ia membuka salah satu bungkusan itu. Aroma khas langsung menyebar ke udara, lembut namun jelas.
Li Xuang ikut membuka bungkusan lainnya. Seketika, keduanya memahami apa yang ada di hadapan mereka.
“Makanan khas Kota Yanjing…” gumam Li Xuang pelan.
Xu Qung tidak berkata apa-apa, namun sudut matanya sedikit menyempit. Perlahan, kedua orang itu mengalihkan pandangan mereka, bukan ke Gao Rui, melainkan ke Tetua Peng Bei.
Tatapan itu tidak keras, tidak pula mengandung amarah. Justru ketenangan itulah yang membuat Peng Bei merasa keringat dingin mengalir di punggungnya. Ia tersenyum kaku, punggungnya refleks menegak.
“Ini…” Xu Qung akhirnya membuka suara, nadanya datar, “bukan dari hutan, sepertinya.”
Peng Bei menelan ludah.
“Ah… hehe… ya…”
Li Xuang mendengus pelan. Alisnya berkerut tipis. Dalam sekejap, amarah muncul di dadanya. Ia hampir saja membuka mulut, hendak menegur Peng Bei, bahkan mungkin memarahinya karena justru mengajak Gao Rui berjalan-jalan ke kota saat seharusnya bocah itu memusatkan diri pada latihan.
Namun sebelum kata-kata itu keluar, pandangannya jatuh pada Gao Rui. Bocah itu berdiri tegak, kedua tangannya memegang sisa bungkusan dengan hati-hati. Wajahnya polos, matanya berbinar, jelas terlihat senang bisa memberikan sesuatu pada orang-orang yang ia hormati. Tidak ada sedikit pun rasa bersalah atau niat tersembunyi di sana. Hanya ketulusan seorang anak yang ingin berbagi.
Amarah Li Xuang pun meredup sebelum sempat meledak.
“…Hmmmmm,” desahnya akhirnya.
Dalam pikirannya, sebuah kesadaran muncul. Gao Rui mungkin memang membutuhkan hiburan. Latihan yang dijalaninya terlalu keras untuk bocah seusianya. Sedikit udara kota, sedikit perubahan suasana… mungkin justru membantu menenangkan pikirannya.
Li Xuang menarik napas, lalu mengangguk pelan.
“Terima kasih,” katanya singkat kepada Gao Rui.
Xu Qung juga mengangguk.
“Kami akan menerimanya.”
Gao Rui tersenyum lebih lebar.
“Syukurlah.”
Tanpa memperpanjang pembicaraan, Li Xuang dan Xu Qung segera berpamitan. Mereka melangkah pergi meninggalkan halaman kediaman Peng Bei, sosok mereka perlahan menghilang di balik gerbang.
Begitu keduanya benar-benar pergi, Tetua Peng Bei menghembuskan napas panjang.
“Huuh…”
Seolah beban seberat gunung baru saja diangkat dari dadanya. Ia menyadari satu hal yang membuat tengkuknya dingin, Gao Rui baru saja membongkar kebohongannya sendiri. Yang lebih mengerikan, bocah itu sama sekali tidak menyadarinya.
Peng Bei menoleh ke arah Gao Rui. Andaikan yang melakukan hal ini adalah murid biasa, ia sudah pasti akan dimarahi habis-habisan. Teguran keras, bahkan mungkin hukuman ringan, akan langsung dijatuhkan.
Namun ini adalah Gao Rui. Bocah ajaib. Bocah dengan bakat yang suatu hari nanti akan menggetarkan seluruh dunia bela diri Kekaisaran Zhou.
Peng Bei mengepalkan tangannya pelan. Sebisa mungkin… jangan membuat masalah dengannya. Jangan menyakiti hatinya sejak awal.
Ia menarik napas, lalu berbicara dengan nada setenang mungkin.
“Rui’er,” katanya, “cukup sampai di sini. Pulanglah dan beristirahat.”
Gao Rui terkejut kecil.
“Eh? Latihannya sudah selesai?”
“Sudah,” jawab Peng Bei singkat. “Hari ini dicukupkan saja.”
Tanpa menunggu tanggapan lebih jauh, ia berbalik dan melangkah masuk ke dalam kediamannya, meninggalkan Gao Rui sendirian di halaman.
Gao Rui berdiri mematung sejenak, wajahnya penuh kebingungan. Ia menggaruk pipinya pelan.
“…Apa ada yang salah dari mulutku barusan?”
Ia menatap ke arah pintu yang tertutup, sama sekali tidak menyadari bahwa kepolosannya barusan membuat Tetua Peng Bei begitu malu di hadapan Patriak dan Tetua Agung.
Gao Rui berdiri sebentar di halaman kediaman Peng Bei, masih menggaruk pipinya dengan ekspresi bingung. Angin sore berhembus pelan, membawa aroma dedaunan kering. Ia menoleh ke arah pintu rumah, lalu ke arah jalan utama.
“…Kalau begitu aku pulang,” gumamnya.
Namun langkahnya terhenti setelah baru berjalan beberapa meter. Ia mengangkat kepala, menatap ke arah luar yang mulai ramai menjelang senja. Entah kenapa, bayangan satu sosok tiba-tiba muncul di benaknya, Lan Suya.
Seseorang yang selalu tampak sibuk, selalu mengeluh soal tumpukan pekerjaan, namun diam-diam selalu memperhatikannya. Gao Rui mengerutkan alis tipis.
“Biasanya… Bibi Ya masih ada di sana,” katanya pelan.
Alih-alih berbelok menuju rumahnya, kaki kecil itu justru berbelok ke arah lain. Gao Rui melangkah menyusuri jalan batu menuju luar sekte, tujuannya jelas,Restoran Langit Bintang.
...*******...
Restoran Langit Bintang sudah ramai ketika Gao Rui tiba. Lentera-lentera digantung rapi, memantulkan cahaya keemasan yang hangat. Dari dalam, terdengar suara obrolan dan dentingan mangkuk.
Begitu Gao Rui melangkah masuk, beberapa pelayan langsung menoleh.
“Oh?”
“Bukankah itu Tuan Muda Rui?”
“Benar, benar!”
Seorang pelayan wanita segera membungkuk hormat.
“Tuan Muda Rui, selamat datang.”
Gao Rui mengangguk canggung.
“E-eh… Bibi Ya ada?”
Pelayan itu tersenyum kecil.
“Nyonya Ya ada. Seperti biasa, di ruangan khusus.”
Tanpa perlu penjelasan lebih lanjut, dua pelayan segera mengiringinya. Beberapa tamu yang mengenali Gao Rui ikut melirik, sebagian tersenyum, sebagian berbisik pelan. Bocah yang sering terlihat bersama Tetua Peng Bei dan bahkan Patriak siapa yang tidak mengenalnya?
Mereka berhenti di depan sebuah pintu kayu besar berukir awan dan bintang. Salah satu pelayan mengetuk pelan.
“Nyonya Ya, Tuan Muda Gao Rui datang.”
Tidak ada jawaban.
Pelayan itu saling pandang, lalu mendorong pintu perlahan. Di dalam ruangan, pemandangan yang sudah sangat familiar tersaji. Sebuah meja panjang dipenuhi tumpukan kertas, dokumen, buku catatan, dan gulungan laporan. Tingginya bahkan hampir menyamai kepala orang dewasa yang duduk di baliknya.
Di balik “gunung kertas” itu, tampak Lan Suya. Rambutnya digelung seadanya, alisnya sedikit berkerut, tangannya terus bergerak menulis tanpa henti. Jarak pandangnya ke depan jelas terganggu oleh tumpukan dokumen itu. Ia sepertinya sangat fokus sehingga tidak mendengar ucapan pelayan itu sebelumnya.
Saat pintu terbuka, ia bahkan tidak menoleh.
“Kalau mau mengantar makanan atau minuman, nanti saja,” katanya cepat, nadanya datar namun jelas kelelahan. “Aku sedang sibuk.”
Pelayan yang berdiri di ambang pintu langsung membeku. Ia membuka mulut, menutupnya lagi, jelas bingung harus menjelaskan bagaimana.
Sebelum ia sempat berkata apa pun, sebuah suara tiba-tiba terdengar dari belakangnya.
“Bibi… ini aku.”
Tangan Lan Suya yang sedang menulis langsung berhenti.
“…Hm?”
Ia mengangkat kepala perlahan. Butuh satu tarikan napas baginya untuk menyadari ada sesuatu yang tidak biasa. Keningnya berkerut, lalu ia sedikit memiringkan tubuh, berusaha melihat ke depan melewati tumpukan kertas.
Begitu pandangannya bertemu dengan sosok kecil di balik pintu, Lan Suya nampak kaget.
“Rui’er?”
Dalam sekejap, ekspresi serius dan lelah itu runtuh. Lan Suya bangkit cepat hingga kursinya berdecit keras ke belakang.
“Kau?” matanya membelalak. “Kenapa kau ada di sini?”
Gao Rui tersenyum lebar, menggaruk belakang kepalanya.
“Latihanku sudah selesai. Aku mau pulang, tapi kupikir… Bibi biasanya ada di sini.”
Lan Suya terdiam sejenak, lalu mendesah panjang. Ia melangkah keluar dari balik meja, mendorong beberapa tumpukan kertas hingga hampir roboh.
“Dasar bocah…” gumamnya pelan, namun sudut bibirnya terangkat.
Ia menepuk kepala Gao Rui ringan.
“Kau tahu betul mencariku di saat aku paling sibuk.”
Pelayan-pelayan yang menyaksikan adegan itu diam-diam saling pandang. Nyonya Ya yang biasanya galak dan dingin… sekarang tersenyum selembut ini?
Lan Suya menoleh ke arah mereka.
“Kalian keluar dulu. Tutup pintunya.”
“Baik!” jawab mereka serempak, lalu buru-buru menyingkir.
Begitu pintu tertutup, Lan Suya kembali menatap Gao Rui. Pandangannya lembut, namun juga penuh perhatian.
“Sudah makan?” tanyanya.
Gao Rui menggeleng.
“Belum.”
“Kalau begitu duduklah,” katanya sambil menarik kursi. “Bibi istirahat sebentar.”
Ia melirik tumpukan kertas di meja, lalu tertawa kecil penuh pasrah.
“Sepertinya… kedatanganmu memang alasan yang tepat untuk berhenti sejenak.”