Tio tidak pernah meminta untuk mati—apalagi tereinkarnasi dan bangun di dunia kultivasi brutal sebagai Ci Lung di Benua Tianlong.
Dengan tekad sederhana untuk hidup tenang di Lembah Sunyi, ia mencoba menjauh dari sekte, perang, dan orang-orang yang bisa membelah gunung hanya dengan bersin. Sayangnya, sebuah sistem misterius muncul, memberinya kekuatan… sekaligus hutang yang terus bertambah.
Lebih sial lagi, dunia mulai salah paham dan menganggapnya sebagai ahli tersembunyi yang menakutkan—padahal tingkat kultivasinya sebenarnya masih pas-pasan.
Di belakangnya berdiri Gu Shentian, guru di puncak Void Realm yang terlalu kuat untuk dijelaskan. Di sampingnya ada Yan Yu, murid kecil yang terlalu percaya bahwa gurunya adalah legenda hidup.
Ci Lung hanya ingin hidup normal.
Masalahnya…
Setiap kali ia mencoba, langit justru retak duluan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fandi Pradana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aliansi Murim
Rumor tentang tebasan hitam itu menyebar seperti wabah.
Di kota-kota besar, para kultivator berkumpul di penginapan dan aula sekte, suara mereka dipenuhi campuran kagum dan takut.
“Satu tebasan tanpa suara, coba bayangkan,” kata seorang pria berjubah biru dengan mata berbinar. “Gunung terbelah seperti tahu.”
“Hei itu bukan tebasan biasa,” sahut yang lain. “Itu adalah konsep dari pemotongan itu sendiri!”
Nama teknik itu lahir dari mulut ke mulut:
Tebasan Duniawi.
Di Lembah Sunyi, pemilik tebasan legendaris itu sedang menatap layar sistem dengan ekspresi seorang pria yang curiga sedang ditipu.
[Hutang pengguna: 0.]
Ci Lung berkedip. “Itu salah ketik ya?”
[Hutang pengguna: Lunas.]
“…Aku kan belum bayar apa-apa.”
[Reputasi pengguna meningkat. Ketakutan massal berhasil dikonversi menjadi poin.]
Ci Lung menatap kosong. “Aku dibayar karena bikin trauma satu benua.”
[Ringkasan akurat.]
Dia menyandarkan kepala ke dinding. “Aku mulai mengerti kenapa dunia ini rusak.”
[Pengguna adalah faktor signifikan.]
“Aku mau komplain sistem sialan.”
[Formulir komplain tidak tersedia.]
Dengan napas panjang, Ci Lung bangkit dan menarik Pedang Malam Tanpa Fajar. Udara di sekitarnya langsung terasa lebih dingin.
“Latihan aja deh,” gumamnya.
Dia mengalirkan qi dengan presisi, mengikuti jalur Teknik Tebasan Senja Abadi. Ayunannya halus—ditahan, dikendalikan.
Garis hitam pendek melesat dan memotong batu besar menjadi empat bagian identik.
Ci Lung mengangguk puas.
Yan Yu bertepuk tangan keras. “Wah, Guru bisa jual potongan batu di kota!”
Ci Lung terdiam.
“hmmmzz…Itu bukan ide yang buruk.”
[Rekomendasi: Pengguna berhenti mencari pekerjaan sampingan saat diburu empat entitas tingkat puncak.]
“Biar aku mikir bentar!”
Sementara itu, dunia luar tenggelam dalam kekacauan.
Zhao Ming berjalan menembus wilayah Sekte Seribu Puncak. Para tetua sekte membentuk formasi raksasa, langit dipenuhi simbol bercahaya.
“Berhenti!” raung pemimpin sekte. “Ini wilayah terlarang!”
Zhao Ming tetap melangkah maju.
Auranya jatuh seperti bintang runtuh.
Formasi itu pecah seperti kaca. Gunung di belakang sekte retak dari puncak hingga akar. Para kultivator terhempas, tulang mereka berderak.
“Aku tidak suka dihalangi,” katanya dingin, lalu terus berjalan di antara puing-puing.
Di tempat lain, Mo Cil terperangkap dalam jebakan Sekte Teratai Putih. Ribuan benang energi menutup langit.
Dia mengangkat satu jari.
Benang cahayanya sendiri menari, memotong simpul formasi dengan presisi absolut. Seluruh jebakan runtuh tanpa suara, seperti mimpi yang dibatalkan.
Para kultivator jatuh berlutut, meridian mereka terkunci total.
Mo Cil tersenyum tipis. “Terima kasih atas hiburannya manusia lemah.”
Yi Sheng melintasi sebuah kota benteng yang mencoba menutup gerbangnya. Dia menyentuh tembok itu dengan satu telapak tangan.
bzzzt.
Separuh tembok langsung menghilang.
Bukan hancur atau hilang, seolah dihapus dari dunia.
Han Zir meninggalkan jejak paling brutal. Sekte yang menantangnya berubah menjadi sebuah kawah luas setelah satu benturan tunggal. Aura gelapnya masih menggantung di udara seperti luka yang menolak sembuh.
Nama mereka berempat menyatu dalam satu sebutan:
Empat Bencana.
Musuh publik dunia murim.
Tekanan itu memaksa Pemimpin Aliansi Murim bergerak.
Di aula agung yang dipenuhi pemimpin sekte, Gu Shentian berdiri dari singgasananya. Rambutnya memutih di pelipis, matanya setajam pedang.
“Aku akan menghentikan salah mereka, kita akan berangkat besok,” katanya tenang.
Keheningan jatuh. Tidak ada yang meragukannya.
Namun tak ada yang tahu bahwa pemimpin aliansi bergerak sendirian mencari mereka, sedangkan dia menyuruh para pasukan bersiap besok hari.
Gu Shentian yang sudah pergi sendirian menemukan Han Zir di dataran yang sudah hancur setengahnya.
Han Zir menoleh, senyum tipis muncul. “Akhirnya, seseorang yang pantas telah muncul.”
“Aku datang untuk menghentikanmu,” kata Gu Shentian sembari mengarahkan pedangnya ke Han zir.
“Datanglah, datanglah kemari sialan” jawab Han Zir dengan sedikit senyuman.
Clangg.
Benturan pertama mereka menghancurkan cakrawala.
Pedang Gu Shentian bersinar seperti matahari yang jatuh. Setiap tebasannya membawa prinsip ketertiban murni dari teknik itu sendiri. Han Zir membalas dengan aura gelap pekat yang menggerus cahaya.
Hari pertama dilalui seperti badai tanpa akhir—Gunung runtuh menjadi debu, sungai menguap. Langit dipenuhi retakan energi mereka berdua.
Hari kedua, pertarungan mereka menjadi lebih brutal dari sebelumnya.
kghh.
Tinju Han Zir menghantam bahu Gu Shentian—tulang retak dengan suara keras.
SlingSling...Sling.
Gu Shentian membalas dengan tebasan yang memotong sisi tubuh Han Zir. Darah menyembur dan menguap sebelum menyentuh tanah.
Mereka bertabrakan lagi dan lagi, tubuh mereka menjadi senjata. Setiap pukulan menciptakan kawah baru.
Pada hari ketiga, medan perang telah berubah menjadi neraka batu cair.
Gu Shentian berdiri sempoyongan, pedangnya dipenuhi retakan. Han Zir juga berlumuran luka, napasnya berat tapi matanya masih tajam.
Gu Shentian mengangkat pedangnya untuk terakhir kali.
Dia membakar sisa hidupnya menjadi satu serangan.
“Tebasan Penjaga Surga!, RASAKAN INI"
Cahaya putih meledak, menelan dunia.
Han Zir seraya maju dan berkata
"KEMARI KAU BANGSAT!!"
Pedangnya menembus cahaya itu. Aura gelapnya meledak seperti jurang tak berdasar. Pedang mereka bertemu.
CLANG.
Dunia berhenti.
Lalu pecah.
Gelombang kejut menyapu benua. Awan tersapu bersih. Tanah terbelah hingga cakrawala.
Saat debu turun, Gu Shentian berlutut di kawah raksasa. Pedangnya hancur. Dadanya naik turun dengan susah payah.
Han Zir tetap berdiri tegak, tubuhnya yang nampak seolah tak terkena dampak apapun, namun dari dalam ia terkena banyak serangan yang mengenai organnya.
“Kau luar biasa,” katanya pelan. “Tapi tidak cukup.”
Gu Shentian tersenyum pahit sebelum roboh.
Han Zir menatapnya sejenak, lalu berbalik menuju timur—ke arah Benua Tianlong.
Keheningan menyelimuti kawah itu sampai sebuah sosok muncul tanpa suara.
Seorang pria berjubah sederhana berlutut di sisi Gu Shentian. Tangannya menyentuh dada sang pemimpin aliansi.
Qi yang dalam dan tenang mengalir—begitu halus hingga dunia seakan menahan napas.
Luka-luka Gu Shentian perlahan stabil. Napasnya kembali teratur.
Pria itu mengangkatnya dengan mudah, matanya tenang seperti danau tanpa dasar.
Jika ada kultivator tingkat tinggi di sana, mereka akan gemetar.
Aura itu… berada di puncak Dao Comprehension, dan sebentar lagi ia akan bisa pergi ke alam atas.
Namun tidak ada saksi.
Pria itu melirik ke arah Tianlong untuk sesaat, ekspresinya tak terbaca.
Lalu dia menghilang bersama Gu Shentian.
Tidak ada yang tahu bahwa sosok itu adalah guru Ci Lung yang telah kembali.
Di Lembah Sunyi, Ci Lung tiba-tiba bersin saat bermeditasi.
“…Ada yang ngomongin aku?”
[Probabilitas: Sangat tinggi.]
Dia mengerutkan kening. Dingin aneh merayap di tulang punggungnya.
[Konfirmasi: Empat ancaman tingkat puncak terus mendekat.]
Ci Lung menatap Yan Yu yang sedang tertawa di tepi sungai.
Dia menggenggam pedangnya erat.
Dunia sedang bergerak ke arahnya.
Dan kali ini, dia tahu dia tidak bisa terus menghindar.
Reaksi dunia datang seperti badai.
Kabar kekalahan Ketua Aliansi Murim menyebar lebih cepat daripada rumor apa pun sebelumnya. Kota-kota gempar. Sekte-sekte besar mengadakan pertemuan darurat. Nama Han Zir diucapkan dengan campuran takut dan marah.
Di aula utama Aliansi Murim, para tetua berdiri kaku saat komandan pasukan elit berlutut di tengah ruangan.
“Ketua… bergerak sendirian?” suara salah satu tetua bergetar.
Komandan itu menunduk lebih dalam. “Kami baru menerima konfirmasi. Beliau meninggalkan markas tanpa pengawalan.”
Hening mencekik ruangan.
Tetua tertua mengepalkan tangan. “Bodoh! Tapi sudah terlambat untuk menyalahkan siapa pun. Kumpulkan pasukan. Hubungi sekte-sekte sekutu. Target kita satu: empat bencana itu.”
Perintah menyebar seperti api.
Seratus lima puluh kultivator elit bergerak sebagai satu unit—pedang, tombak, dan artefak bersinar di bawah matahari. Mereka akhirnya menemukan Han Zir di sebuah lembah tandus.
Han Zir duduk bersandar pada batu besar, napasnya berat namun stabil. Luka-luka halus masih terlihat di lengannya—bekas duel tiga hari yang belum sepenuhnya pulih.
Dia membuka satu mata saat pasukan itu mengepungnya.
“Banyak sekali,” gumamnya malas. “Aku cuma istirahat sebentar.”
Komandan maju selangkah. “Han Zir! Atas nama Aliansi Murim, kau ditangkap atas kejahatan terhadap dunia kultivasi!”
Han Zir tertawa pelan. “Haha—HAHAHAHA—Aku? Ditangkap? Oleh kalian?”
Seorang kultivator muda berteriak, “Jangan meremehkan kami! Ketua kami—”
“—sudah kalah,” potong Han Zir datar.
Kemarahan meledak di antara barisan pasukan.
Komandan mengangkat pedangnya. “Formasi!”
Seratus lima puluh aura menyatu. Formasi cahaya raksasa terbentuk di udara, menekan ke arah Han Zir seperti gunung jatuh.
Han Zir berdiri perlahan.
“Aku sedang tidak ingin bermain lama,” katanya sambil mengangkat pedang. “Tapi kalian memaksaku.”
Benturan pertama memecahkan tanah.
Dialog bercampur teriakan perang memenuhi lembah.
“Tahan sisi kiri!”
“Dia menembus formasi!”
“Mustahil—!”
Han Zir bergerak seperti bayangan tajam. Setiap ayunan pedangnya memutus beberapa leher kultivator sekaligus. Darah dan qi meledak di udara.
Komandan menyerangnya langsung. “Untuk Aliansi!”
Klang.
Pedang mereka bertabrakan. Gelombang kejut menghancurkan batu di sekitarnya.
“Kau kuat,” akui Han Zir. “Tapi tidak cukup.”
Satu tebasan vertikal membelah komandan dari bahu ke pinggang.
Formasi runtuh.
Yang tersisa berubah menjadi pembantaian sepihak.
Jeritan memudar satu per satu sampai lembah kembali sunyi, dipenuhi kabut merah tipis.
Han Zir mengibaskan darah dari pedangnya.
Sebuah suara gemetar terdengar dari satu kultivator yang masih hidup, merangkak mundur.
“K-kau… siapa sebenarnya…?”
Han Zir menatapnya dengan mata dingin.
“Aku?” Dia tersenyum tipis. “Leluhur Sekte Pedang Surgawi.”
Mata kultivator itu melebar sebelum padam.
Berita itu mengguncang dunia.
Aliansi Murim langsung mendeklarasikan perang, meski dipisahkan oleh benua. Langit politik dunia kultivasi retak seperti kaca.
Sementara itu, di Lembah Sunyi, Ci Lung berdiri sendirian dengan pedang Malam Tanpa Fajar di tangannya.
“Aku cuma mau coba setengah daya,” katanya hati-hati.
[Rekomendasi sistem: jangan.]
“Dicatat dan diabaikan.”
Dia mengayunkan pedang.
Langit terbelah.
Awan mendung di atas dua benua terpisah seperti tirai ditarik paksa. Cahaya matahari membanjiri dunia.
Jauh di wilayah lain, pasukan Kultus Demonic yang sedang berbaris tiba-tiba terpotong oleh garis hitam sunyi. Setengah sekte mereka lenyap dalam satu kedipan.
Ci Lung berkedip.
“…Aku kena sesuatu lagi ya?”
[Konfirmasi: pengguna baru saja memicu insiden besar.]
Ci Lung menatap langit yang kini cerah.
“Aku cuma latihan…”
[Sistem memperbarui status pengguna: Bencana berjalan.]
Dan kalo boleh jujur,
Kalau authornya konsisten pakai gaya ini, ini bisa jadi ciri khas yang beda dari pasar murim mainstream, aku bakal lanjut baca.
Inget thor aku bakal jadi salah satu pembaca yang marah kalo Yan yuu kenapa-kenapa😠