Hero dan Awan adalah dua sisi mata uang yang berbeda. Hero begitu hangat dan penuh kasih, sementara Awan sedingin es dan tak tersentuh. Namun, maut merenggut Hero terlalu cepat, meninggalkan Jasmine yang sedang hamil muda dalam kehancuran.
Sebelum napas terakhirnya, Hero menitipkan "warisan" yang paling berharga kepada Awan: istri dan calon anaknya.
Kini, Jasmine harus terjebak satu atap dengan pria yang paling ia hindari. Awan yang ketus, kaku, dan sudah memiliki kekasih matre bernama Celine. Bagi Awan, menjaga Jasmine adalah beban wasiat yang menyebalkan. Bagi Jasmine, melihat wajah Awan adalah luka yang terus terbuka.
Di tengah duka dan tuntutan harta, mampukah Awan menjalankan wasiat kembarannya? Ataukah kebencian di antara mereka justru berubah menjadi benih cinta yang tak seharusnya ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Matahari sore Jakarta yang berwarna jingga kemerahan mulai turun, membiarkan bayangan panjang pepohonan jatuh di halaman samping rumah. Jasmine berdiri di sana, di dekat tanaman hias yang dulu sering ia siram bersama Hero. Kakinya melangkah gelisah—tiga langkah ke kanan, berhenti, lalu tiga langkah ke kiri. Begitu seterusnya.
Tangannya sesekali mengelus perutnya yang kini terasa sedikit lebih berat. Ada sebuah keinginan yang sejak siang tadi menghantui pikirannya. Keinginan yang sangat aneh, tidak masuk akal, dan bahkan bagi dirinya sendiri terdengar gila.
"Aduh, gimana ya ngomongnya... tapi pengen banget," bisiknya pada diri sendiri.
Jasmine melirik ke arah jendela besar ruang kerja di lantai bawah. Di sana, ia bisa melihat siluet Awan yang sedang menatap layar laptop dengan kening berkerut. Aura pria itu sejak pulang dari rumah sakit tadi masih sama: kaku, judes, dan terlihat seolah tidak ingin diganggu.
Jasmine menghela napas. Ia lebih baik menahan keinginan ini daripada harus menghadapi semprotan kalimat ketus dari kakak iparnya itu. Namun, baru saja ia berniat masuk ke dalam, suara berat dan dingin sudah menghentikan langkahnya.
"Lo kenapa kayak setrikaan?"
Jasmine tersentak hingga hampir melompat. Awan sudah berdiri di ambang pintu geser, menyandarkan bahunya di kusen pintu sambil melipat tangan di dada. Matanya yang tajam menatap Jasmine dengan penuh selidik.
"Eh—Kak. It-itu..." Jasmine meremas ujung kardigannya, tidak berani menatap mata Awan.
Awan mendengus, ia berjalan mendekat. Langkahnya yang mantap membuat Jasmine semakin gugup. "Lo dari tadi mondar-mandir di sini bikin gue nggak fokus kerja. Kenapa? Perut lo sakit? Mau ke dokter lagi?"
"Bukan, Kak. Aku... aku nggak apa-apa kok," bohong Jasmine.
"Jangan bohong. Muka lo itu transparan banget," potong Awan telak. Ia diam sejenak, lalu matanya melirik ke arah perut Jasmine. Sesuatu melintas di pikirannya tentang buku panduan kehamilan yang sempat ia baca diam-diam semalam. "Lo ngidam? Pengen apa?"
Jasmine merona merah. Ia menggigit bibir bawahnya, menimbang-nimbang apakah ia harus jujur atau tidak. "Aku... aku pengen sesuatu, tapi Kak Awan jangan marah ya? Ini aneh banget soalnya."
"Tinggal ngomong aja susah banget sih. Mau buah yang nggak ada musimnya? Atau mau makanan yang tempatnya jauh? Ngomong sekarang atau gue tinggal masuk," desak Awan, judesnya kembali keluar.
Jasmine memejamkan mata rapat-rapat, lalu mengatakannya dengan satu tarikan napas cepat. "Aku pengen naik rollercoaster, Kak! Gatau kenapa, tapi pengen banget..."
Hening.
Awan terdiam. Matanya membelalak, menatap Jasmine seolah perempuan di depannya ini baru saja mengatakan ingin pindah ke Mars. "Apa lo bilang? Rollercoaster?"
Jasmine mengangguk pelan, wajahnya sudah merah padam karena malu. "Iya... aku tahu itu bahaya buat bumil, tapi bayinya kayak pengen banget ngerasain angin kencang atau... aku nggak tahu, Kak. Rasanya kepikiran terus."
"Lo gila ya?" semprot Awan, kali ini suaranya naik satu oktav. "Lo baru pendarahan minggu lalu, Jasmine! Sekarang lo mau naik wahana yang bikin jantung orang sehat aja mau copot? Lo mau bikin ponakan gue lahir prematur di atas rel besi itu?!"
Jasmine menunduk dalam, air matanya mulai menggenang. "Iya, aku tahu... makanya tadi aku nggak mau ngomong. Maaf ya, Kak."
Melihat Jasmine yang mulai terisak, amarah Awan mendadak surut, digantikan oleh rasa frustrasi yang aneh. Ia mengacak rambutnya dengan kasar. Ia membenci kenyataan bahwa ia tidak bisa memberikan apa yang diinginkan Jasmine kali ini, tapi ia juga tidak tega melihat Jasmine bersedih.
Awan membuang muka, lalu berdeham. "Ganti baju lo. Pakai sepatu yang nyaman."
Jasmine mendongak kaget. "Hah? Jadi... Kakak mau anterin aku naik itu?"
"Nggak ada rollercoaster!" ketus Awan sambil berjalan masuk mengambil kunci mobil. "Tapi gue bakal cari cara biar keinginan aneh lo itu terpenuhi tanpa harus ngebahayain nyawa lo sama ponakan gue. Cepetan! Jangan lambat kayak siput!"
Awan membawa Jasmine ke sebuah taman hiburan yang sudah tutup untuk umum. Ternyata, dengan kekuasaannya sebagai pemilik salah satu perusahaan besar, Awan bisa menyewa tempat itu untuk satu jam saja di sore hari.
Namun, Awan tetap pada pendiriannya: tidak ada rollercoaster sungguhan. Sebagai gantinya, Awan membawa Jasmine ke sebuah simulator kelas atas yang biasa digunakan untuk latihan pilot, yang sudah ia minta stafnya untuk diseting sedemikian rupa agar gerakannya sangat halus namun memberikan sensasi angin dan pemandangan yang sama.
Awan duduk di samping Jasmine di dalam simulator itu. Saat mesin mulai bekerja dan pemandangan virtual rel rollercoaster yang curam muncul, Jasmine memekik senang. Angin buatan bertiup kencang mengenai wajahnya.
Awan hanya duduk kaku, tangannya memegang pinggiran kursi dengan erat, namun matanya terus melirik ke arah Jasmine. Melihat Jasmine tertawa lepas untuk pertama kalinya sejak kematian Hero, hati Awan yang sekeras batu itu rasanya sedikit mencair.
"Seneng lo?" tanya Awan saat simulator berhenti.
Jasmine mengangguk antusias, matanya berbinar. "Seneng banget, Kak! Makasih ya... meskipun bukan yang beneran, tapi ini udah lebih dari cukup. Kak Awan ternyata baik banget."
Awan membuang muka, mencoba menyembunyikan semburat merah di pipinya. "Gue nggak baik. Gue cuma nggak mau denger lo nangis di telinga gue semalaman. Ayo balik, udah mau gelap."
Di saat Jasmine dan Awan merasakan secuil kebahagiaan, di sebuah kontrakan sempit di pinggiran kota, Celine sedang duduk di depan sebuah meja yang penuh dengan foto-foto Jasmine. Wajahnya yang dulu cantik kini terlihat kusam dan penuh dendam. Kariernya hancur, hartanya disita oleh tim legal Awan, dan ia kini menjadi buronan kasus penggelapan.
Di depannya, ada dua orang pria berbadan kekar dengan tato di sekujur lengan.
"Jadi, tugas kalian mudah," ucap Celine dengan suara parau sambil melemparkan sisa uang tunainya ke meja. "Culik perempuan ini. Bawa dia ke gudang tua di pelabuhan. Dan setelah itu... terserah kalian mau apakan dia, yang penting dia dan bayi sialan itu nggak akan pernah kembali ke rumah Awan."
Salah satu pria itu menyeringai. "Gampang, Nyonya. Kapan eksekusinya?"
Celine menatap foto Jasmine yang sedang tersenyum di samping Hero. Ia mengambil sebuah pisau kecil dan menggores wajah Jasmine di foto itu.
"Besok. Saat Awan pergi ke kantor dan perempuan itu sendirian dengan perawatnya. Aku mau liat Awan berlutut di depan aku sambil nangis darah karena kehilangan satu-satunya warisan kembarannya."
Celine tertawa melengking, suara tawa yang penuh dengan kegilaan. Ia tidak sadar bahwa Awan bukanlah lawan yang mudah, namun kebencian telah menutup akal sehatnya. Badai besar sedang menuju ke arah Jasmine, dan kali ini, perlindungan Awan akan benar-benar diuji sampai batas terakhir.
Malam itu, setelah pulang, Jasmine tertidur pulas dengan senyum kecil di bibirnya. Awan berdiri di depan pintu kamar Jasmine yang sedikit terbuka, memperhatikannya dari kegelapan koridor.
Ia merogoh ponselnya, menghubungi kepala keamanannya.
"Perketat penjagaan rumah besok. Saya punya perasaan nggak enak tentang Celine," perintah Awan singkat. "Kalau ada lalat pun yang lewat tanpa izin, gue mau kalian patahkan sayapnya. Mengerti?"
Awan menutup teleponnya. Ia menatap kamar Jasmine sekali lagi sebelum berbalik menuju kamarnya sendiri. Di dalam benaknya, ia bersumpah, siapa pun yang berani menyentuh seujung rambut Jasmine, maka mereka tidak akan pernah melihat matahari esok hari.
Celine mulai menjalankan aksinya besok pagi.