Karina rela melepaskan identitas dan membuang kemewahan yang dimilikinya sebagai putri tunggal keluarga Wijaya hanya untuk bersama Agus, ia jatuh cinta pada Agus karena kebaikan dan kejujurannya.
Pernikahannya tampak begitu sempurna dan bahagia, hingga Agus pun sudah menjadi pria sukses berkat dukungan dan bantuan Karina. Sayangnya dengan kesuksesannya, Agus justru terlena dan mengkhianati pernikahan yang sudah terjalin selama bertahun-tahun itu.
Bagaimana kisah selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada pernikahan Karina dan Agus? Apa yang akan dilakukan Karina?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Tidak Akan Datang
Karina teringat pertengkaran hebat dua puluh tahun lalu, Ayahnya sampai menggebrak meja hingga cangkir tehnya pecah ketika Karina bersikeras ingin menikahi Agus yang saat itu hanya seorang montir dengan masa depan yang tidak jelas.
Saat itu, Karina yang sedang dimabuk asmara dan menganggap Ayahnya terlalu materialistis, ia bahkan tega meninggalkan rumah hanya demi Agus.
Namun malam ini, di tengah kemewahan yang kembali ia rengkuh, Karina menyadari betapa benarnya sang Ayah. Agus tidak pernah mencintai Karina, Agus hanya mencintai apa yang bisa Karina berikan untuknya.
"Dua puluh tahun aku membuang waktu kalian, kalian meninggal tanpa aku di samping kalian setiap hari karena aku sibuk melayani mertua yang tidak tahu diri dan suami yang berkhianat, aku melewatkan saat-saat terakhir kalian hanya untuk mencuci baju dan memasak untuk orang-orang yang akhirnya mengusirku," gumam Karina yang meratapi nasibnya.
Rasa sakit itu begitu nyata hingga fisiknya terasa nyeri, ia merasa seperti pengkhianat bagi darah Wijaya yang mengalir di tubuhnya, Karina telah membiarkan berlian yang diasah kedua orang tuanya terkubur dalam lumpur selama dua dekade.
Di tengah kesedihannya, tba-tiba sebuah ketukan lembut terdengar di pintu. "Mama?" suara Aisha terdengar lirih dari balik kayu jati.
"Mama tidak apa-apa? Kami mendengar suara... Mama menangis?" tanya Ella.
Karina tersentak, ia segera menghapus air matanya dengan kasar dan menarik napas dalam-dalam, ia berusaha menetralkan suaranya. Karina tidak boleh terlihat lemah di depan anak-anaknya, mereka telah cukup menderita melihat ibu mereka dihina di rumah Agus.
Karina bangkit, merapikan rambutnya dan membuka pintu. Di sana berdiri Ella dan Aisha, mengenakan piyama sutra baru mereka, tampak sangat kecil dan rapuh di koridor yang luas.
"Mama hanya... terlalu bahagia bisa pulang ke rumah Kakek dan Nenek kalian, maafin Mama ya karena baru membawa kalian kesini," ucap Karina sambil tersenyum tipis, meski matanya masih merah.
Ella yang lebih peka, memeluk ibunya erat-erat. "Jangan minta maaf pada kami, Ma. Dan jangan merasa bersalah pada Kakek dan Nenek, mereka pasti bangga melihat Mama kembali menjadi diri sendiri sekarang," ucap Ella.
Aisha ikut memeluk Karina dan Ella, "Mama adalah pahlawan kami, sekarang saatnya Mama hidup untuk Mama sendiri... dan untuk menghancurkan mereka," ucap Ella.
Mendengar dukungan putri-putrinya, rasa bersalah dalam hati Karina perlahan berubah menjadi tekad yang membeku lalu ia melepaskan pelukan itu dan menatap mata kedua anaknya dengan tajam.
"Kalian benar, menangis tidak akan mengembalikan waktu yang hilang. Tapi menghancurkan Papa kalian... itu akan menjadi persembahan terakhirku untuk nisan Kakek dan Nenek kalian," ucap Karina.
"Ini baru Mama, Ella dan Aisha akan bantu," ucap Ella.
"Terima kasih sayang," ucap Karina dan kembali memeluk kedua putrinya.
Malam itu berakhir dengan pelukan hangat di antara tiga wanita yang baru saja kehilangan sosok kepala keluarga, namun menemukan kembali jati diri mereka. Setelah memastikan Ella dan Aisha terlelap di kamar mereka, Karina kembali ke kamarnya sendiri.
Karina duduk di tepi ranjang dan menatap ponsel jadulnya yang bergetar, ada beberapa pesan masuk dari Agus.
[Jangan lupa, besok adalah sidang perceraian kita, aku harap kau datang. Kau tidak akan mendapatkan harta gono gini dan untuk kau akan mendapatkan hak asuh anak]
Karina hanya menatap pesan itu dengan tatapan kosong lalu sebuah senyum simpul yang dingin tersungging di bibirnya.
^^^[Aku tidak akan datang, kau kirimkan saja akta cerainya ke tempat Mbak Gita]^^^
Setelah itu, Karina mematikan ponselnya dan menaruhnya di atas meja.
Karina menatap ponselnya, ia lupa belum memberi kabar Mbak Gita tentang permasalahannya dengan Agus. Namun, Karina yakin jika Mbak Gita sudah tahu, karena pernikahan Agus dan Sabrina menjadi trending topik.
Mbak Gita adalah tetangga Karina dan Agus sebelum mereka sukses dan pindah ke rumah yang lebih mewah, Mbak Gita juga yang selama ini membantu Karina. Jika ia membutuhkan sesuatu, pasti Mbak Gita yang selalu maju terlebih dahulu bahkan sebelum Karina meminta tolong.
Setelah karina pindah pun, Mbak Gita masih sering menghubungi Karina dan Karina pun sering datang ke rumah Mbak Gita sekadar bertamu saja dan melepas rindu.
Tak lama kemudian, ponselnya bergetar dan benar saja ternyata Bu Gita meneleponnya, Karina pun mengambil ponselnya dan mengangkat sambungan telepon tersebut.
Karina!
^^^Ada apa, Mbak? Jangan teriak-teriak dong.^^^
Kamu nggak apa-apa?
^^^Aku nggak apa-apa, Mbak. Aku kan power rangers.^^^
Karina!
^^^Hehehe, iya Mbak. Aku beneran nggak apa-apa, Mbak tenang aja, jangan khawatir ya.^^^
Agus kurang ajar! Berani-beraninya dia nyakitin kamu.
^^^Memang kurang ajar dia, udahlah Mbak. Aku juga udah nggak mau mikirin dia, oh ya Mbak, besok kan sidang perceraianku sama Agus dan aku nggak akan datang, aku tadi bilang ke Agus buat taruh surat cerainya di rumah mbak Gita, nggak apa-apa kan Mbak?^^^
Nggak apa-apa dong, kamu sekarang tinggal dimana? Kalau nggak ada tempat tinggal kamu ke rumah Mbak sekarang!
^^^Aku ada tempat tinggal kok Mbak, aku hidup dengan nyaman. Mbak Gita tenang aja, aku sama anak-anak sekarang hidup lebih baik daripada tinggal dengan Agus.^^^
Kamu keren banget Karina, maafin Mbak ya. Ini Mbak dari pasar, pasar ramai banget sampai Mbak nggak sempat pegang hp, terus ini tadi Mbak baru lihat berita.
^^^Iya, Mbak. Mbak Gita jangan kerja terus, kasihan Nino masih kecil.^^^
Iya, pokoknya kalau kamu butuh bantuan Mbak, kamu harus hubungi Mbak ya.
^^^Siap, Mbak!^^^
Kamu jaga diri baik-baik ya.
^^^Iya, Mbak.^^^
Setelah itu, Mbak Gita memutuskan sambungan telepon tersebut.
Setelah menutup telepon dari Mbak Gita, Karina meletakkan ponselnya dengan perlahan. Kehangatan dari perhatian tulus Mbak Gita sedikit mencairkan kekakuan di hatinya, di dunia yang penuh kepalsuan seperti yang ia jalani selama dua puluh tahun terakhir, orang-orang seperti Mbak Gita adalah sesuatu yang berharga.
Namun, senyum Karina memudar saat matanya tertuju pada pantulan dirinya di cermin besar kamar tersebut, ia melihat seorang wanita yang selama ini menyembunyikan mahkotanya di balik celemek dapur.
"Cukup menjadi korban, Karina," bisiknya pada diri sendiri.
Keesokan harinya, fajar menyingsing di atas cakrawala Jakarta dengan warna kemerahan yang tajam, seolah menandakan awal dari sebuah peperangan. Karina sudah bangun sejak pukul lima pagi, ia tidak mengenakan daster katun kusam yang biasa ia pakai untuk memasak sarapan bagi Agus dan mertuanya.
Pagi ini, ia mengenakan setelan blazer navy blue potongan tailored yang sangat pas di tubuhnya, mempertegas otoritas yang selama ini ia tekan.
Paman Andri sudah menunggunya di ruang makan bersama seorang wanita muda berkacamata dengan tatapan mata yang sangat sigap.
"Karina, kamu ingat Yessi?" tanya Paman Andri.
.
.
.
Bersambung.....