Lahir pada malam 1 Suro setelah dikandung dua belas bulan, seorang bayi menjadi incaran para pendekar aliran hitam dan putih. Di tengah pertumpahan darah, ia menghilang dari dunia manusia.
Diasuh oleh makhluk mitos di rimba purba, ia tumbuh dengan ilmu yang tak dikenal perguruan mana pun. Ia belajar dari angin, dari api, dan dari naluri alam.
Saat dewasa, Braja Geni kembali ke dunia persilatan.
Kehadirannya menggemparkan jagat kanuragan. Jurusnya tak berpihak pada putih maupun hitam—ia adalah kekuatan baru yang mengancam keseimbangan.
Namun di balik kesaktiannya, tersembunyi rahasia kelahiran dan takdir besar yang akan menentukan arah dunia persilatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 33
Setelah Nyi Lestari tersadar, rombongan kecil itu pun bergerak menuju desa sebelah, tempat orang tua Nyi Lestari tinggal. Ki Baraya ingin memastikan istrinya berada di tempat yang aman sebelum ia melangkah ke wilayah yang tak kasatmata.
Di beranda rumah yang sederhana namun hangat itu, Ki Baraya berbicara dengan suara tenang, meski beban di dadanya terasa berat.
“Nyi… aku akan pergi melatih anak-anak. Perang kemungkinan besar akan terjadi. Tapi mungkin aku masih punya kesempatan untuk menguatkan mereka di negeri itu. Bila Ki Lurah Damanik datang, katakan saja aku akan segera kembali. Kurasa ia akan tiba bersama prajurit khusus Pajajaran. Bersama mereka, desa-desa sekitar akan siap menghadapi pasukan dari tengah hutan itu.”
Nyi Lestari menatap suaminya lekat-lekat. Kekhawatiran jelas terlihat di matanya.
“Baiklah, Kang. Tapi jangan terlalu lama. Negeri itu bukan negeri manusia. Kau harus menjaga anak-anak kita.”
Ki Baraya menggenggam tangan istrinya.
“Aku akan menjaga mereka sepenuh hati dan seluruh tenagaku, Nyi.”
Setelah berpamitan, mereka pun berangkat menuju sisi barat Hutan Jagabodas—wilayah yang jarang disentuh manusia. Udara di sana terasa berbeda. Lebih sunyi. Lebih dalam.
Braja Geni berjalan paling depan.
Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah padang rumput luas yang anehnya begitu tenang. Di tengahnya berdiri sebuah batu hitam sebesar rumah, permukaannya licin dan berkilau redup seperti menyerap cahaya.
Ki Baraya menyipitkan mata.
Itu bukan batu biasa.
Aura yang memancar darinya berat dan dalam, seperti jurang tak terlihat.
“Itu gerbang,” gumam Ki Baraya pelan. “Gerbang menuju jagat gaib.”
Namun kunci untuk membukanya bukan terletak pada kekuatan, melainkan pada pengetahuan. Dan yang memahaminya hanyalah Braja.
“Kita sudah sampai,” ucap Braja Geni. “Aku akan memanggil mereka.”
Ia melangkah maju mendekati batu hitam itu. Tangannya menyentuh permukaan batu yang terasa dingin seperti logam tua. Angin tiba-tiba berembus melingkar.
Braja menutup mata.
Lalu dengan suara yang berbeda dari biasanya—lebih ringan, lebih cepat, seperti gema kecil di lorong sempit—ia melafalkan bahasa tuyul:
“Rimbariki… tumaleka su’ru kintala.
Wesira raden Braja nimpala.
Buka palastra, giri waluka.
Kami nara sangkala, miwa karuma.”
Begitu kalimat itu selesai diucapkan, batu hitam bergetar halus.
Dari permukaannya muncul retakan cahaya kehijauan, seperti garis tipis yang menyala dari dalam. Tanah di sekitar mereka berdesir, dan udara terasa lebih padat.
Ki Baraya merasakan bulu kuduknya berdiri.
Dari balik batu itu, terdengar suara-suara kecil—berbisik, tertawa lirih, seperti makhluk-makhluk mungil yang menyambut kedatangan tamu.
Gerbang perlahan terbelah.
Dan dari celah cahaya itu… tampak lorong yang tak mengikuti hukum ruang manusia.
Braja membuka mata.
“Mereka sudah mendengar panggilanku.”
Kini tak ada jalan kembali tanpa melangkah maju.
Dari lorong hitam yang berpendar kehijauan itu, muncul dua sosok kecil bertubuh kurus, berkulit pucat kehijauan, dengan mata besar yang berkilat tajam. Mereka mengenakan rompi dari anyaman serat akar dan membawa tombak ramping yang ujungnya memancarkan cahaya redup.
Mereka adalah penjaga gerbang.
“Raden,” ujar salah satu dari mereka dengan suara melengking namun tegas, “kau telah membuka kunci gerbang dengan mantra suci kami. Tentu kami akan mempersilakan Raden masuk. Tapi tidak dengan tiga manusia itu.”
Ki Baraya berdiri tegak, tak tersinggung, hanya mengamati.
Braja melangkah maju sedikit. “Mereka adalah ayah dan saudara-saudaraku. Aku memohon izin agar mereka dapat memasuki negeri kalian. Laporkanlah hal ini kepada Putra Mahkota. Aku akan menunggu di sini.”
Kedua penjaga saling pandang.
“Kalau begitu baiklah. Jangan melangkah lebih jauh sebelum aku dan Putra Mahkota kembali,” balas penjaga itu.
“Aku akan menunggu,” jawab Braja mantap.
Kedua penjaga lalu kembali masuk ke lorong, menghilang bersama cahaya yang berdesir seperti kabut.
Tak lama berselang, dari dalam lorong terdengar langkah-langkah ringan namun berirama pasti.
Seorang sosok muncul.
Putra Mahkota Kerajaan Tuyul.
Tingginya tak lebih dari dada orang dewasa, namun tubuhnya proporsional dan tegap. Kulitnya lebih cerah dari tuyul biasa, seakan berkilau lembut. Rambutnya putih keperakan, terikat ke belakang dengan hiasan emas kecil berbentuk daun. Matanya besar dan jernih, memancarkan kecerdikan sekaligus kenakalan. Ia mengenakan jubah hijau tua bersulam benang emas tipis yang membentuk pola pusaran angin. Di pinggangnya tergantung sebilah keris mungil dengan gagang batu giok.
Aura yang dipancarkannya berbeda.
Bukan aura liar seperti penjaga gerbang, melainkan wibawa yang halus namun jelas terasa.
Begitu melihat Braja, wajahnya langsung berbinar.
“Heyy, Raden! Akhirnya kau berkunjung juga!” serunya riang.
Braja tersenyum tipis. “Oh, Raden Balsem. Maaf aku baru berkunjung. Dan kunjunganku ini… membawa maksud tertentu pula.”
“Hmppphhh…” Jatibumi menahan tawa ketika mendengar nama itu.
Raden Balsem melirik tajam ke arahnya.
“Apa ada yang lucu, hah?”
“Plakk!”
Ki Baraya mengeplak kepala Jatibumi.
“Kau ini tak bisa menghormati sedikit!” geramnya.
Braja buru-buru menjelaskan, “Maafkan dia, Raden. Ia tak memahami bahasa tuyul. ‘Balsem’ dalam bahasa kami terdengar aneh. Padahal dalam bahasa tuyul, artinya adalah ‘yang paling rupawan dan harum keberuntungannya’.”
“Hmppphhh—” Jatibumi kembali hampir tertawa.
“Plakkk!”
Kali ini lebih keras.
“Aduhh! Ayah kejam sekali sih!” protes Jatibumi sambil mengusap kepalanya.
“Kau harus minta maaf,” ucap Ki Baraya tegas.
Jatibumi menghela napas. “Baiklah… maafkan aku, Raden Balsem. Sepertinya lantai ini penuh batu tajam. Setiap kakiku melangkah rasanya seperti digelitiki.”
Raden Balsem menatapnya beberapa detik… lalu tertawa lepas.
“Ohh hahahaha! Kau ini lemah sekali. Justru batu-batu itu bagus untuk menguatkan saraf tubuhmu!”
Ki Baraya hanya bisa menggeleng pelan.
Raden Balsem lalu kembali menoleh pada Braja. Sorot matanya kini lebih serius.
“Nah, sahabatku. Katakanlah keperluanmu.”
Braja menunduk hormat.
“Raden Balsem… tentu kau masih ingat janjimu padaku. Bila suatu hari aku membutuhkan bantuanmu, kau akan membantuku.”
Raden Balsem menyipitkan mata, senyumnya memudar menjadi garis tipis.
“Tentu aku ingat. Aku tak pernah melupakan hutang budi. Kau telah menyelamatkanku dari perangkap siluman rawa tiga musim lalu.”
Ia melirik Ki Baraya dan kedua saudaranya.
“Dan sekarang… kau datang membawa manusia ke gerbang negeriku.”
Braja mengangguk.
“Perang besar akan terjadi di Pasundan. Ayahku ingin melatih kami. Waktu di negerimu berjalan berbeda. Kami memohon izin untuk tinggal sementara dan berlatih di bawah pengawasanmu.”
Angin dari dalam lorong berembus pelan, membuat jubah Raden Balsem berkibar ringan.
Putra Mahkota itu terdiam sejenak.
Matanya yang cerdas memindai Ki Baraya, Jatibumi, dan Laras.
“Aku bisa mengizinkan,” ujarnya perlahan. “Namun negeri kami bukan tempat berlindung tanpa syarat.”
Senyumnya kembali muncul—kali ini lebih misterius.
“Jika kalian masuk… kalian akan tunduk pada hukum kerajaan tuyul. Dan setiap tamu… harus melewati ujian penerimaan.”
Suasana mendadak hening.
Gerbang telah terbuka.
Tapi langkah pertama mereka… tidak akan semudah yang dibayangkan.