Karena orang tua serta para keluarga selalu mendesak untuk menikah. Akhirnya Adelia Aurellia nekat menikahi seorang anak magang yang jarak usianya sepuluh tahun dibawahnya. Hal itu malah membuat orang tua Aurel menjadi murka. Pasalnya orang tua sang supir yang bernama Adam Ashraf adalah seorang pengkhianat bagi keluarganya Aurel.
Padahal itu hanya fitnah, yang ingin merenggangkan persahabatan antara Ayahnya Aurel dan juga Ayahnya Adam. Makanya Adam sengaja bekerja pada mereka, karena ingin memulihkan nama baik sang Ayah. Dan karena tujuan itu, ia pun langsung menerima tawaran dari Aurel, untuk menikahinya.
Akankah, Adam berhasil membersihkan nama baik sang Ayah? Dan Akankah mereka mendapatkan restu dari keluarga Aurel? Yuk ikuti karya Ramanda, jangan lupa berikan dukungannya juga ya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DETIK YANG TERCURI.
Adam memacu mobilnya seperti orang gila. Jarum spidometer menyentuh angka 140 kilometer per jam, meliuk tajam di antara kendaraan yang memenuhi jalanan protokol Surabaya. Keringat dingin mengucur di pelipisnya. Pikirannya hanya satu: Aurel.
"Angkat teleponnya, Adel! Sialan, angkat!" teriak Adam sambil memukul kemudi.
Panggilan kesepuluh kembali berakhir di kotak suara. Perasaan Adam semakin tidak keruan. Ucapan Irfan di dermaga tadi bukan gertakan sambal. Irfan sengaja memancingnya keluar agar pertahanan di rumah Bramasta melemah.
Di sampingnya, ponsel kembali bergetar. Kali ini dari pengawal rumah.
"Halo! Bagaimana keadaan di rumah?" tanya Adam cepat.
"Maaf, Bos. Ada gangguan pada sistem listrik dan CCTV. Kami sedang memeriksa area belakang, tapi..." Suara di seberang tiba-tiba terputus oleh suara gaduh dan dentuman keras, lalu hening.
"Halo? Halo!" Adam membanting ponselnya ke kursi penumpang. "Bangsat!"
Dua puluh menit kemudian, mobil Adam berderit tajam saat mengerem di depan gerbang rumah. Pintu gerbang terbuka lebar. Dua pengawal tergeletak di halaman dengan luka memar di kepala. Mereka tidak tewas, tapi jelas dilumpuhkan oleh tenaga profesional.
Adam mencabut pistol dari laci tersembunyi di bawah kursi kemudi. Ia melangkah keluar dengan gerakan taktis. Halaman rumah yang biasanya asri kini terasa mencekam di bawah sisa hujan sore tadi.
"Adel! Mbak Arumi!" teriak Adam saat memasuki ruang tamu.
Ruangan itu berantakan. Vas bunga pecah, kursi terbalik, dan ada bekas seretan di lantai marmer. Adam mengikuti jejak itu menuju dapur. Di sana, ia menemukan Arumi pingsan di dekat meja makan.
"Mbak! Mbak Arumi!" Adam menepuk pipi kakaknya dengan panik.
Arumi mengerang, perlahan membuka matanya. Ia memegang kepalanya yang berdarah. "Adam... Raffa... mana Raffa?"
"Raffa aman, Mbak. Dia bersama Ansel di kantor polisi. Di mana Aurel? Mana istriku?"
Mata Arumi membelalak ketakutan. "Tadi ada tiga orang masuk. Mereka pakai penutup muka. Aurel mencoba melawan agar aku bisa lari, tapi mereka memukulku. Mereka membawa Aurel ke lantai atas!"
Adam tidak menunggu penjelasan lebih lanjut. Ia berlari menaiki tangga dua langkah sekaligus. Jantungnya berdegup seirama dengan langkah kakinya. Begitu sampai di depan kamar utama, pintu tertutup rapat. Dari dalam, terdengar suara tawa yang sangat ia kenali.
Adam menendang pintu kamar hingga engselnya jebol. Di tengah ruangan, Aurel terduduk di kursi dengan tangan terikat ke belakang. Mulutnya disumpal kain. Di belakangnya, seorang pria berdiri sambil memainkan pisau lipat di leher Aurel.
Pria itu melepas penutup wajahnya. "Denis Subandi, bukankah belum saatnya kau keluar?" desis Adam saat melihat wajah pria itu.
Denis hanya menyunggingkan senyuman sinisnya, "Lama tidak jumpa, Adam Ashraf. Bagaimana rasanya bulan madu yang kacau?" Denis menyeringai, matanya menyiratkan kegilaan.
"Lepaskan istriku, Denis. Kau punya masalah denganku, jangan libatkan dia," desis Adam. Tangannya kokoh menodongkan pistol ke arah kepala Denis.
"Oh, tentu ini masalahmu. Tapi membunuhmu sekarang terlalu mudah. Aku ingin kau merasakan apa yang aku rasakan. Kehilangan ayah, kehilangan kehormatan, dan sekarang... kehilangan cinta," Denis menekan mata pisau ke kulit leher Aurel hingga setetes darah muncul.
Aurel meronta, matanya yang basah menatap Adam, menggelengkan kepala agar Adam tidak meletakkan senjatanya.
"Kau sudah kalah, Denis. Polisi sudah menangkap Irfan. Mereka menuju ke sini. Letakkan pisaunya!" gertak Adam.
"Irfan itu sampah! Dia cuma pion yang aku gunakan untuk membuka jalan," Denis meludah ke lantai. "Aku tidak butuh uangnya. Aku hanya butuh kehancuranmu. Dan kau tahu apa yang paling lucu? Istrimu ini sangat berani. Dia sempat menggigit anak buahku sebelum mereka pingsan di luar."
"Apa maumu?" suara Adam merendah, mencoba mencari celah.
"Letakkan pistolmu. Tendang ke bawah ranjang. Kalau tidak, aku akan menyayat wajah cantik ini sekarang juga!" perintah Denis.
Adam ragu sejenak. Jika ia melepas senjata, mereka berdua tamat. Tapi jika ia menembak, kemungkinan besar peluru akan mengenai Aurel karena posisi Denis yang berlindung di balik tubuh istrinya. Dengan tangan gemetar, Adam meletakkan pistolnya dan menendangnya menjauh.
Denis tertawa puas. Ia memberi kode pada dua anak buahnya yang muncul dari balik lemari. Mereka segera menyergap Adam, menghantam perut dan wajahnya hingga Adam jatuh berlutut.
"Pukul lagi! Sampai dia tidak bisa berdiri!" teriak Denis.
Adam menerima pukulan bertubi-tubi. Darah mulai mengalir dari bibirnya, tapi matanya tetap terkunci pada Aurel. Ia melihat Aurel berhasil melonggarkan ikatan tangannya karena gerakan pria di belakangnya yang terlalu fokus pada Adam.
"Berhenti!" teriak Adam sambil terbatuk darah. "Denis, lihat aku. Kau ingin aku mati? Bunuh aku sekarang. Tapi biarkan Aurel pergi. Dia tidak tahu apa-apa soal persaingan kita."
Denis mendekat, menarik rambut Adam agar mendongak. "Dia tahu terlalu banyak sekarang. Dia tahu siapa aku. Dan itu artinya dia tidak boleh hidup."
Tepat saat Denis mengangkat pisaunya untuk menghujam punggung Adam, Aurel beraksi. Ia menyentakkan tangannya yang ternyata sudah lepas dari ikatan, lalu menyambar lampu tidur di atas nakas dan menghantamkannya ke kepala Denis.
PRAKK!
"Sekarang, Adam!" teriak Aurel.
Adam tidak menyia-nyiakan kesempatan. Meski tubuhnya sakit, ia melakukan sapuan kaki yang membuat dua anak buah Denis terjatuh. Ia menerjang Evan yang sedang sempoyongan. Perkelahian brutal terjadi di lantai kamar.
Adam menghujamkan tinjunya ke wajah Evan berkali-kali. "Jangan... pernah... sentuh... istriku!"
Suara sepatu laras panjang berderap di koridor. Polisi menerobos masuk ke dalam kamar. Rian dan Ansel memimpin di depan.
"Angkat tangan! Jangan bergerak!" teriak petugas.
Dua anak buah Denis langsung menyerah. Evan yang sudah babak belur di bawah kangkangan Adam hanya bisa terengah-engah dengan wajah hancur. Polisi segera menarik Adam dan memborgol Denis.
Adam langsung menghambur ke arah Aurel. Ia memutus sisa tali di tangan istrinya dan memeluknya dengan sangat erat, seolah takut Aurel akan menghilang jika ia lepaskan.
"Maafkan aku, Adel. Maafkan aku terlambat," bisik Adam sambil menciumi kening Aurel.
Aurel terisak di dada Adam. "Aku takut, Adam... aku sangat takut bukan karena aku akan mati, tapi karena aku takut tidak bisa melihatmu lagi."
Ansel mendekat, wajahnya yang biasanya konyol kini tampak sangat sedih. "Maafkan aku, Kak. Aku tidak bisa menjaga rumah dengan benar."
Adam menatap adiknya, lalu mengangguk kecil. "Bukan salahmu, Ansel. Ini rencana yang sangat rapi dari Denis."
Saat polisi membawa Denis keluar, pria itu sempat berhenti di depan Adam. Ia menyeringai berdarah. "Kau pikir ini sudah berakhir? Ayahku punya sekutu yang lebih kuat dari sekadar preman jalanan. FB Build akan runtuh dari dalam, Adam. Tunggu saja saat kalian kembali ke Jakarta."
Adam mengabaikan ucapan itu. Ia membimbing Aurel keluar dari kamar yang penuh memori buruk itu. Arumi sudah sadar dan sedang ditenangkan oleh petugas medis di bawah.