Deanada Kharisma, hampir 3 tahun menjalani kehidupan remaja diantara toxic circle. Memiliki teman yang toxic, menindas, bertindak sesukanya, dan melakukan diskriminasi.
Namun siapa sangka di balik itu, sebenarnya ia menyimpan rahasia bahkan dari teman-temannya sendiri, hingga Tuhan mempertemukannya dengan Rifaldi yang merupakan pemuda broken home sekaligus begundal sekolah dan naasnya adalah musuh bebuyutannya di sekolah.
Bagaimana Tuhan membolak-balikan perasaan keduanya disaat faktanya Dea adalah seorang korban victim blaming?
Conquer me ~》Taklukan aku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10🩷 Menghindar
Rifal menarik sebelah alisnya, melihat sikap Dea itu. Tak ada sorot tajam, atau nyolot seperti yang biasa ia lakukan pada teman-teman lainnya. Atau mungkin lebih tepatnya seperti biasanya seorang Deanada Kharisma yang menyebalkan dan judes.
Apakah ancaman dan peringatannya itu benar-benar dipatuhi Dea? Seharusnya Rifal senang jika begitu, tapi kenapa seperti ada rasa---keberatan sekarang.
/
Dan sekarang apa, saat Dea bersama Inggrid dan Gibran jalan ke arah kantin, begitu terlihat sekali...gadis itu memutar arah langkahnya ketika notice kehadirannya.
"Gue lagi pingin siomay deh, tapi dipakein sambelnya tuh 3 sendok deh, De...kayanya lagi mau pms deh..." ucap Inggrid memegang perutnya, Dea mengangguk, "gue juga mau lah." Disusul Gibran yang menepuk pundaknya sengaja ingin membuat kaget, namun Dea dan Inggrid tidak terkejut sama sekali bahkan mendorong wajah Gibran gemas.
"Willy mana?"
"Di ruang basket."
Dea melihat dari arah kejauhan Rifal yang berjalan bersama Vian dan Rio, namun kemudian...Dea berbalik memutar arah langkahnya seperti tak ingin berpapasan, "eh, lupa gue...belok dulu lah ke toilet."
"Lah, kemana? Katanya mau jajan siomay?!" suara Inggrid yang cukup melengking cukup memberikan informasi jika sebenarnya tujuan gadis itu adalah kantin.
"Bentar, kebelet!" jawabnya.
/
Atau ketika gadis itu dengan sengaja tak melihatnya, seolah menganggap Rifal tak ada meski mereka berada di satu radar yang sama, kantin.
Rifal yang membeli minum, dan Dea bersama Inggrid masih berada di gerobak tukang siomay, menyela siswa lain.
Dea benar-benar menyebalkan, Rifal menggeleng mengalihkan pandangan setelah mendapatkan minum dan roti.
Sepeninggal Rifal dari kantin yang kembali bersama Vian dan Rio, Dea tersenyum... caranya itu berhasil membuat hatinya sedikit lebih tenang, dan Rifal...tak mengganggunya hari ini, tidak mengungkit kejadian kemarin. Toh, ia dan yang lain cukup tau batasan sekarang untuk menjaga jarak dengan MIPA 3.
Kenzi turut bergabung diantara mereka di meja kantin, "Hay baby."
"Ken.." sapa Willy saat Kenzi menyapa mereka duluan.
Dea menggeser tempatnya membiarkan Kenzi duduk di samping Inggrid, sementara dirinya mepet-mepet di dekat Gibran. Bahkan dengan sengaja Gibran justru menariknya untuk duduk di pangkuan, membuat mereka riuh diantara meja mereka saja.
"Mau tungguin aku cheers nanti, ngga?" tanya Inggrid bergelayutan ria sambil bermanja pada Kenzi membuat Willy, Dea dan Gibran sedikit geli nan risih sebenarnya melihat itu.
"Kamu mau nungguin aku bokerr ngga?" bisik Gibran pada Dea yang meledakan tawanya tiba-tiba, "aduh pedess ihhh!" Segera ia meraih minum miliknya, takut tersedak sambal siomay, membuat Inggrid dan Kenzi menoleh. Bahkan Willy sudah mengumpat menggeplak pundak Gibran, "an jing lu ah."
Jika sudah jadwal ekskul begini, maka Dea dan Inggrid akan pulang berdua, ditinggal oleh Gibran dan Willy, terlebih sekarang Inggrid berencana pulang dengan Kenzi dan otomatis Dea harus pulang sendiri.
"Gue tungguin deh, De..." Gibran sudah menawarkan diri, sebab tau Dea akan pulang sendiri.
"Ojol aja gimana, De?" tanya Inggrid "atau bener deh, ditunggu Gibran biar Kenzi ada temennya."
"Ngga usah, ngga apa-apa gue balik sendiri," jawab Dea menatap Gibran menggeleng, "nanti Tante Silvi marah."
"Ck, ya engga lah...apalagi baliknya bareng lo. Atau gini, gue balik...ntar gue balik lagi ngambil dulu motor buat jemput Lo, gimana?"
Ide Gibran cukup bagus juga...lagipula ia cukup takut pulang sendiri, kan lumayan lah jemputan gratis.
"Oke deh." Dea setuju.
Keempatnya berpisah, Willy dan Gibran yang pulang duluan. Sementara Dea dan Inggrid menuju tempat para anggota ekskul pemandu sorak berkumpul.
Tepat di lapangan, namun sebelum itu...keduanya harus berganti pakaian terlebih dahulu.
"Baby, mau tunggu dimana?" kini mereka berjalan bertiga. Kenzi bergidik, "gue ngga tau, enaknya dimana?" tanya nya pada Inggrid yang sejak tadi tak lepas menggandeng Kenzie seolah takut pemuda ini akan pergi.
"De, bentar deh...gue anter Kenzi dulu buat cari tempat nunggu.."
"Oh oke." Dea lebih memilih masuk ke kamar mandi duluan dan mengganti pakaian seragamnya dengan seragam pemandu sorak bernuansa merah dan hitam.
Ia sudah keluar sementara Inggrid baru saja datang, "ihhh udah duluan, ninggalin deh! Tunggu disini pokoknya!" ancam Inggrid menunjuk Dea dan bergegas masuk, "iya Ing, buruan gue hitung sampai 20!" tawa Dea mendapati gerutuan Inggrid yang tak terima, "kenapa ngga sekalian cuma sampai 5 terus dadah mo nyet?"
Dea tertawa lagi, sambil menunggu ia memperhatikan sepatu yang simpul talinya terurai.
"De, Lo masih disitu kan ya?"
Dea menutup mulutnya agar tak bersuara bersembunyi di balik tembok samping toilet demi mengusili Inggrid.
"De...?!"
Dea masih begitu dengan merapat di dinding.
"Deaaaa! Dea tega ya Lo ninggalin!" omelnya berteriak-teriak. Namun, "boo!" Dea membuatnya terkejut ketika membuka pintu, "si alan! Deaaaa!"
"Hahaha, sorry---sorry, ngga usah ngambek...yuk ah! Kenzi tunggu dimana?" tanya Dea menarik dan merangkul Inggrid yang manyun, "disana!" tuduhnya ke arah bangku teduh dekat lapang sedang bermain ponsel. Sementara di sudut lain, ia melihat gerombolan anak-anak MIPA 3 yang baru saja keluar dengan beberapa orangnya digiring Bu Wilda ke arah lab IPA, dimana ruangan itu cukup bisa terjangkau lapangan.
Ada Rama, Gilang, Vian, Yusuf dan tentu saja Rifal. Sepertinya kali ini, mereka membuat ulah lagi.
Dea segera memutuskan pandangannya, dan berjalan terus saja bersama Inggrid, "sumpah De, masih kesel banget gue sama anak-anak sampah itu. Gue tandain si Vina...yang nyolot banget sama siapa kemaren tuh, yang kecil tuh, Mutiara ya namanya?" ucap Inggrid begitu sinis melihat mereka.
"Udah lah Ing, dari awal juga kita kan tau...ngga usah berurusan sama mereka lagi. Udah gue bilang..." bukan apa-apa, Dea tak mau lagi memiliki urusan dengan mereka terutama....
Rifal, ia tau jika pemuda itu sejak tadi melihatnya.
"Ngga bisa lah, besok-besok kita mesti mainnya cantik. Ngga tau ya, mereka bilang kita so kecakepan, lah emang kita cakep...beda sama mereka yang norak. Gaulnya, pacarannya ya orang-orang itu lagi...kuper banget ngga sih, anak-anak bermasalah, cihhh!" gidiknya menunjukan ketidaksukaannya.
Sementara Dea, ia diam saja dan mulai bergabung, "hayyyy sistahhh!" sapa Inggrid merentangkan tangannya pada anggota lain.
Dea turut bergabung.
"De, ambil dulu speaker di ruang ekskul!" pinta Fiona telah menariknya, maksudnya minta diantar, Dea mau tak mau ikut bersama Sachi.
Hufffttt! Sebenarnya Dea enggan, sebab....ruang itu hanya berjarak beberapa meter dari lap IPA dimana----
Dea sempat menemukan tatapan itu mengarah padanya, saat tak sengaja mengedarkan pandangan.
"Deaaa..." goda Vian usil saat Dea berada tak jauh dari mereka, di ambang pintu ruangan. Namun dirinya yang sudah terbiasa judes itu memang terlatih untuk tak mendengar, bahkan merotasi bola matanya.
"Salam dari mas Rifal..." kekeh Yusuf. Rifal menggeleng justru melempar kepala Yusuf dengan lap kotor.
"An jir." umpatnya tertawa bersama Rama dan Gilang serta Vian.
Ingin sekali Dea mengumpati mereka seperti sebelumnya, namun...berurusan dengan mereka itu artinya ia harus berhadapan dengan Rifaldi Elvan Januar. Ia tak mau.
Berkat kejadian kemarin saja, ia masih berkeringat dingin sampai detik ini, huffftt...inhale exhale.
Anggap dia ngga ada De...anggap dia cuma sekelebat bayangan hitam...
Dan Rifal, Lo ngindarin gue De...gue tau itu. Ia berniat meminta maaf, tapi tidak disini, tidak di depan orang banyak begini.
.
.
.
.
Dea ikut kalian aman, Dea kalian tahan, kalian gk selamat.
itu ketua Genk cuma lagi tatrum aja, bukan Maslah Gedhe kog
bukan Kirana kalian di halangi Genk motor tapi karena dea
jari nya di tahan, belum tau kenyataan nya kenapa Kirana memanfaatkan willy😁
aku yg nonton sambil nyemilin kacang
perlu kayak pernyataan.
kamu kan belum secara tega bilang Dea aku suka sama kamu, mau nggak kamu jadi pacarku.
cuma Hts, moro² cium paksa, tiba² ngajak jalan², tanpa diminta jadi donatur...
jangan salahkan Dea ,klo Dea nganggep kalian bukan siapa²
dari sini dea-rifal mulai landing 😁😁