NovelToon NovelToon
AKU BUKAN WARTEGMU, MAS!

AKU BUKAN WARTEGMU, MAS!

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Selingkuh / Balas Dendam
Popularitas:23.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira ohyver

Senja, seorang Arsitek berbakat dengan karier gemilang di Bali, memilih melepaskan proyektor dan penggarisnya demi sebuah janji suci. Ia jatuh cinta pada Rangga, mantan pengamen jalanan yang ia temui di tikungan parkir kantornya.

Demi "merajakan" sang suami, Senja resign dari firma arsitek, menguras tabungan untuk memodali karier Rangga menjadi DJ, hingga rela belajar memasak demi memanjakan lidah suaminya. Bagi Senja, rumah pribadinya adalah istana tempat ia mengabdi sepenuhnya.

​Namun, saat Rangga mulai sukses dan dipuja banyak orang, dia lupa siapa yang membangun panggungnya. Rumah hanya dijadikan tempat "numpang makan" dan ganti baju, sementara hatinya jajan di kamar hotel setiap luar kota.

Senja tidak akan menangis bombay. Jika Rangga hanya butuh pelayanan gratis tanpa kesetiaan, dia salah alamat. Senja siap menendang benalu itu dari rumahnya!

​"Aku istrimu, Mas. Bukan Warteg tempatmu numpang makan saat lapar, lalu kau tinggalkan setelah kenyang!"

Jam update:07:00-12:00-20:00

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: Sidang Pertama yang Panas

​Pagi itu, Pengadilan Agama Semarang terlihat lebih ramai dari biasanya. Bagi Senja, bangunan ini adalah simbol dari keruntuhan total desain hidup yang pernah ia rancang dengan penuh cinta. Ia datang mengenakan setelan blazer berwarna cokelat tua yang sangat rapi, rambutnya disanggul rendah, memberikan kesan wanita profesional yang tidak bisa digoyahkan.

​Di sisi lain koridor, Rangga datang dengan penampilan yang sangat kontras. Ia tidak lagi mengenakan jaket kulit mahal atau kemeja bermerek. Ia mengenakan kemeja polos yang tampak agak kusut, wajahnya dibuat semurung mungkin, dan ia berjalan dengan bahu yang lunglai. Di sampingnya, Ibu Lastri sudah siap dengan wajah garangnya, seolah-olah dia sedang bersiap untuk berperang memperebutkan tanah warisan.

​"Ingat, Le," bisik Ibu Lastri yang masih bisa didengar Senja karena jarak mereka yang cukup dekat. "Kamu sudah kasih dia 'nafkah batin' selama setahun. Kamu berhak atas rumah itu. Setengahnya punya kamu!"

​Senja hanya menoleh sekilas, lalu kembali menatap lurus ke depan. Ia merasa ingin tertawa mendengar istilah 'nafkah batin' yang dijadikan alasan untuk merampok hartanya.

​Begitu persidangan dimulai, suasana langsung memanas. Hakim ketua membuka sidang dengan agenda mediasi, namun pengacara Rangga langsung memotong dengan tuntutan yang tidak masuk akal.

​"Yang Mulia, klien kami, Saudara Rangga, menuntut hak gono-gini atas rumah yang ditempati selama pernikahan, sebuah motor sport, dan seluruh perlengkapan studio musik. Klien kami berargumen bahwa selama setahun ini, ia telah mencurahkan seluruh waktu dan tenaga untuk mendukung karir dan kebahagiaan penggugat, sehingga ia kehilangan kesempatan untuk mengembangkan karirnya sendiri secara mandiri," ucap pengacara Rangga dengan nada yang dibuat sangat meyakinkan.

​Senja mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia melirik Rangga yang sedang menunduk, pura-pura menghapus air mata dengan sapu tangan.

​"Interupsi, Yang Mulia," Om Danu, pengacara Senja, berdiri dengan tenang. "Kami memiliki bukti kuat bahwa rumah tersebut dibeli oleh klien kami, Senja Amara, dua tahun sebelum pernikahan mereka terjadi. Sertifikatnya murni atas nama Senja Amara. Begitu juga dengan motor dan alat studio. Kami memiliki semua bukti transfer dari rekening pribadi klien kami. Saudara Tergugat tidak menyetorkan satu rupiah pun untuk perolehan aset-aset tersebut."

​"Tapi klien kami yang merawatnya, Yang Mulia!" potong pengacara Rangga. "Klien kami adalah nyawa dari studio tersebut. Tanpa keahlian klien kami, studio itu hanyalah tumpukan besi tua!"

​Senja tidak tahan lagi. Ia meminta izin kepada Hakim untuk berbicara.

​"Yang Mulia," suara Senja terdengar jernih dan berwibawa. "Rumah itu adalah hasil keringat saya selama lima tahun bekerja siang dan malam sebagai arsitek kota ini yang kemudian pindah di Bali dan bertemu pria itu. Alat studio itu saya beli karena rasa iba saya kepada suami yang saat itu tidak punya pekerjaan tetap. Sekarang, ia menuntut setengah dari hasil kerja keras saya dengan alasan 'mendukung kebahagiaan'? Apakah berselingkuh dengan wanita lain menggunakan fasilitas yang saya berikan adalah bentuk dukungan yang ia maksud?"

​Senja mengeluarkan sebuah amplop cokelat besar dan meletakkannya di depan meja hakim.

​"Di dalam sana ada bukti bahwa selama satu tahun pernikahan, nafkah yang diberikan Tergugat kepada saya adalah nol rupiah. Sebaliknya, saya yang membiayai makan, pakaian, pulsa, hingga biaya kuliah adiknya di desa. Jika Tergugat merasa telah memberikan 'waktu dan tenaga', saya rasa itu sudah terbayar lunas dengan fasilitas mewah yang ia nikmati secara cuma-cuma selama ini."

​Suasana sidang mendadak riuh. Ibu Lastri yang duduk di kursi penonton mulai berteriak-teriak tidak terima.

​"Bohong itu! Anak saya itu artis! Dia punya nama!" teriak Ibu Lastri sebelum akhirnya ditegur keras oleh petugas keamanan pengadilan.

​Rangga terlihat mulai panik. Ia tidak menyangka Senja akan membawa bukti keuangan sedetail itu. Ia pikir Senja adalah tipe wanita yang akan merasa malu jika urusan dapur dibuka di persidangan. Namun ia salah, Senja yang sekarang adalah arsitek yang sedang membongkar bangunan busuk sampai ke akarnya.

​Setelah perdebatan yang panjang, Hakim memutuskan untuk menunda sidang dan meminta kedua belah pihak melakukan mediasi di luar persidangan terlebih dahulu.

Begitu keluar dari ruang sidang, Rangga langsung mencegat Senja di parkiran. Ibu Lastri dan Doni juga ikut mengepung Senja.

​"Senja! Kamu keterlaluan! Kamu mau lihat aku gembel di jalanan?" bentak Rangga, topeng sedihnya sudah hilang, digantikan oleh wajah penuh kemarahan.

​"Itu pilihanmu sendiri, Mas. Kamu yang memilih untuk jadi parasit, dan sekarang inangnya sudah nggak mau kasih makan lagi," jawab Senja sambil membuka pintu mobilnya.

​"Mbak Senja, tolonglah. Cicilan kuliahku gimana?" Doni mencoba menarik lengan baju Senja.

​Senja menepis tangan Doni dengan kasar. "Kuliah itu tanggung jawab kakakmu, bukan tanggung jawab mantan iparmu. Kalau kakakmu lebih milih beliin kalung buat selingkuhannya daripada bayar kuliahmu, marahlah sama dia, bukan sama aku."

​"Kamu wanita nggak punya hati!" Ibu Lastri berteriak, wajahnya sudah sangat dekat dengan wajah Senja. "Kamu sudah makan anak saya setahun ini, sekarang kamu buang begitu saja!"

​Senja menatap Ibu Lastri dengan pandangan dingin. "Ibu yang nggak punya hati. Ibu tahu anak Ibu salah, tapi Ibu malah dukung dia buat ngerampok harta menantunya sendiri. Malu, Bu. Umur sudah tua tapi masih mau makan dari keringat orang lain."

​Senja masuk ke dalam mobilnya dan segera mengunci pintu. Ia menyalakan mesin dan perlahan keluar dari area pengadilan, meninggalkan keluarga Rangga yang masih berteriak-teriak di belakangnya.

​Di dalam mobil, Senja menarik napas panjang. Ia melihat tangannya yang sedikit gemetar di atas kemudi. Sidang tadi barulah permulaan. Ia tahu Rangga tidak akan berhenti di sini. Pria itu akan mencari cara lain untuk memerasnya, entah melalui hukum atau melalui opini publik.

​Tiba-tiba, pesan masuk di ponselnya. Bukan dari Rangga, tapi dari grup WhatsApp kantor. Sinta kembali mengirimkan pesan yang membuat Senja mengernyitkan dahi.

"Ja, tadi aku lihat Ibu Lastri posting di Facebook. Dia nangis-nangis bilang kamu ngusir mereka dan nggak mau kasih nafkah gono-gini. Kasihan ya orang tua digituin. Apa nggak sebaiknya kamu kasih sedikit buat mereka pulang ke desa? Kasihan lho orang tua, kualat nanti.”

​Senja tidak membalas. Ia menyimpan pesan itu sebagai bukti tambahan bagaimana Rangga menggunakan keluarganya untuk menyerang mentalnya. Ia juga mulai menyadari bahwa Sinta bukan sekadar "kasihan", tapi wanita itu sepertinya mulai merasa "lebih bermoral" daripada Senja.

​"Silakan saja, Sinta," gumam Senja sambil menatap jalanan Semarang yang mulai macet. "Mungut sampah memang butuh nyali besar. Kita lihat seberapa kuat kamu bertahan saat sampah itu mulai bau di rumahmu sendiri."

​Senja memutar musik di mobilnya keras-keras, berusaha menulikan suara-suara sumbang yang mencoba masuk ke hidupnya. Ia harus tetap fokus. Proyek galerinya sedang di tahap krusial, dan ia tidak akan membiarkan parasit dari masa lalu merusak mahakarya masa depannya.

1
Yayang Suami Risa
Rangga Axel itu mencintai Senja makanya mau melindungi Senja ngga kayak kamu yang cuma manfaatkan Senja
🧡⃟ᴀғᷫғᷤαη∂нι⁵ᴸ
kuliah byr sndri doni🤣
🧡⃟ᴀғᷫғᷤαη∂нι⁵ᴸ
jangan ambil pusing senja
ksh pelajaran aja buat rangga
🧡⃟ᴀғᷫғᷤαη∂нι⁵ᴸ
ibu anak SMA aja parasit🤣
🧡⃟ɢᴏᷫɴᷤтєɴɢ ƈιʅιƙ¹ᴸ
udah ga ada hrpam sinta sembuh dari bucin
dh stadium akut😭
🧡⃟ɢᴏᷫɴᷤтєɴɢ ƈιʅιƙ¹ᴸ
dlu sinta sibuk nasehati senja, skrng dia jilat ludah sndri 😭
🧡⃟ɢᴏᷫɴᷤтєɴɢ ƈιʅιƙ¹ᴸ
semua habis sin
saking bucinnya ke mas dj dj
🧡⃟ɢᴏᷫɴᷤтєɴɢ ƈιʅιƙ¹ᴸ
sinta dh dnger semua msh ga sadar😭
🧡⃟ɢᴏᷫɴᷤтєɴɢ ƈιʅιƙ¹ᴸ
udah jelas bnget tpi egonya tinggi sisinta
🧡⃟ɢᴏᷫɴᷤтєɴɢ ƈιʅιƙ¹ᴸ
sampah dipungut sin ga salah🤣
🧡⃟ɢᴏᷫɴᷤтєɴɢ ƈιʅιƙ¹ᴸ
tetap seamangat senja🤗
🧡⃟ɢᴏᷫɴᷤтєɴɢ ƈιʅιƙ¹ᴸ
nyusahin bnget si rangga😆
🧡⃟ɢᴏᷫɴᷤтєɴɢ ƈιʅιƙ¹ᴸ
enak bnr suruh bayarin uang kuliah
wkwk doni mulutnya minta disambelin🤣
🧡⃟ɢᴏᷫɴᷤтєɴɢ ƈιʅιƙ¹ᴸ
kan kan berulah lagi si serangga😌
🧡⃟ɢᴏᷫɴᷤтєɴɢ ƈιʅιƙ¹ᴸ
jngn mau balikan senja😌
🧡⃟ɢᴏᷫɴᷤтєɴɢ ƈιʅιƙ¹ᴸ
nah enak kan semua disita
wwk jdi gembel lg kamu😆
🧡⃟ɢᴏᷫɴᷤтєɴɢ ƈιʅιƙ¹ᴸ
bagus kumpulin bukti" selingkuhan rangga buat bukti
🧡⃟ɢᴏᷫɴᷤтєɴɢ ƈιʅιƙ¹ᴸ
wow chatnya rangga smaa cwe lain😌
🧡⃟ɢᴏᷫɴᷤтєɴɢ ƈιʅιƙ¹ᴸ
wah udah mulai maen" si serangga ini
🧡⃟ɢᴏᷫɴᷤтєɴɢ ƈιʅιƙ¹ᴸ
istri yang baik selalu doain suaminya eeh malah disuami asyik smaa yang lain astaga
kasian senja😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!