Menjadi orang asing adalah satu-satunya cara kita bisa bekerja sama tanpa harus saling menghancurkan lagi."
Lima tahun lalu, Maya pergi membawa luka yang tidak sempat ia jelaskan. Ia mengira waktu dan jarak akan menghapus segalanya. Namun, takdir memiliki selera humor yang pahit. Maya dipaksa kembali ke hadapan Arlan Dirgantara—pria yang kini menjadi sosok dingin, berkuasa, dan penuh kebencian.
Arlan bukan lagi pria hangat yang dulu ia cintai. Arlan yang sekarang adalah klien sekaligus "penjara" bagi karier Maya. Arlan menuntut profesionalisme, namun tatapannya masih menyimpan bara dendam yang menolak padam.
Di tengah proyek renovasi rumah tua yang penuh kenangan, mereka terjebak dalam permainan pura-pura. Berpura-pura tidak kenal, berpura-pura tidak peduli, dan berpura-pura bahwa getaran di antara mereka sudah mati.
Mampukah mereka tetap menjadi asing saat setiap sudut ruangan mengingatkan mereka pada janji yang pernah terucap? Ataukah kembali mengenal satu sama lain justru akan membu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Darah Lebih Dingin dari Air
Gudang tua itu kini hanya diterangi oleh lampu darurat yang berkedip kemerahan, menciptakan suasana mencekam seperti di dalam perut monster. Richard Dirgantara berdiri mematung di depan koper logam hitamnya. Di usianya yang senja, ia tetap tampak angkuh, bahkan saat moncong senjata cucunya sendiri mengarah tepat ke dahinya.
"Kamu menodongkan senjata pada orang yang mengajarimu cara memegangnya, Arlan?" Richard tertawa kecil, suara serak yang penuh penghinaan. "Jangan lupakan siapa yang membiayaimu, siapa yang membentukmu menjadi pria seperti sekarang."
"Orang yang membentukku adalah pria yang membunuh ayahku sendiri," desis Arlan. Langkahnya tetap stabil meski darah merembes dari luka di perutnya, membasahi kemeja pengantinnya yang kini hancur. "Aku bukan lagi pionmu, Richard. Kamu sudah mati bagiku sejak hari kecelakaan itu."
Maya, yang masih terikat di tiang, menatap Arlan dengan ngeri. Ia bisa melihat kegelapan yang begitu pekat di mata suaminya. Arlan yang sekarang bukan lagi Arlan yang memberikan hazelnut latte di pagi hari; pria ini adalah predator yang haus akan pembalasan.
"Lan, jangan!" teriak Maya. "Kalau kamu membunuhnya sekarang, kamu nggak ada bedanya sama dia! Jangan kotori tanganmu lebih dalam lagi!"
Richard melirik Maya sekilas, lalu kembali pada Arlan. "Dengarkan istrimu, Arlan. Dia benar. Tapi dia juga tidak tahu... bahwa di dalam koper ini, ada bukti bahwa ayah Maya juga terlibat lebih jauh dari sekadar kurir. Ayahmu, Maya, adalah orang yang menarik pelatuk pada rekan kerjanya sendiri demi uang 'Proyek Merapi' sebelum akhirnya dia dikhianati oleh Hendra."
Maya membeku. "Bohong! Ayahku bukan pembunuh!"
"Percaya atau tidak, itu faktanya," Richard tersenyum licik, mencoba memecah konsentrasi Arlan. "Keluarga Dirgantara dan Sefnawati sama-sama berlumuran darah. Jadi, kenapa kita tidak bekerja sama saja? Kita kuasai pasar senjata ini bersama."
Tangan Arlan bergetar hebat. Kebenaran yang dilemparkan Richard terasa seperti racun yang melumpuhkan syarafnya. Namun, ia melihat ke arah Maya. Ia melihat air mata wanita itu. Ia melihat penderitaan selama lima tahun yang diakibatkan oleh pria tua di depannya ini.
"Cukup komunikasinya, Richard," Arlan mengokang senjatanya. "Kebohonganmu nggak akan mempan lagi."
Tiba-tiba, suara langkah kaki banyak orang mengepung gudang. Bukan unit bayangan Arlan, melainkan pasukan elit kepolisian yang dipimpin oleh tim khusus dari Jakarta.
"Arlan, turunkan senjatamu! Tempat ini sudah dikepung!" teriak sebuah suara dari pengeras suara di luar.
Richard tertawa terbahak-bahak. "Kamu pikir aku datang tanpa persiapan? Aku yang memanggil mereka. Aku adalah tokoh publik, Arlan. Sedangkan kamu? Kamu hanyalah arsitek yang mendadak gila dan menyandera kakeknya sendiri."
Situasi berbalik. Arlan kini terjepit. Jika ia menarik pelatuk, ia akan menghabiskan sisa hidupnya di penjara atau mati ditembak polisi. Jika ia melepaskan Richard, iblis itu akan kembali berkuasa dan mereka akan selamanya hidup dalam pelarian.
"Maya, merunduk!" bisik Arlan tiba-tiba.
Tanpa peringatan, Arlan menembak rantai yang mengikat tangan Maya hingga putus. Di saat yang sama, ia melemparkan sebuah granat asap ke tengah ruangan.
BUM!
Asap putih pekat memenuhi gudang. Suara tembakan membabi buta terdengar dari anak buah Richard yang tersisa. Arlan menerjang ke arah Maya, memeluknya dan berguling di balik tumpukan peti besi.
"Pegang ini," Arlan memberikan sebuah flashdisk kecil yang sempat ia ambil dari brankas sebelum kekacauan terjadi. "Ini data aslinya. Richard memegang koper kosong, aku sudah menukarnya saat lampu padam tadi."
"Arlan, kamu terluka parah!" Maya menyentuh perut Arlan yang bersimbah darah.
"Lari lewat pintu ventilasi di belakang peti ini, May. Ada timku yang menunggumu di sana," Arlan mencium dahi Maya dengan sangat dalam, seolah itu adalah ciuman terakhir. "Bawa bukti ini ke media massa. Jangan ke polisi, sebagian dari mereka sudah dibeli Richard. Hancurkan dia lewat publik."
"Aku nggak mau pergi tanpamu, Lan!"
"Pergi, Maya! Ini satu-satunya cara supaya pengorbanan ayah kita nggak sia-sia!" Arlan mendorong Maya menuju celah ventilasi.
Maya merangkak masuk dengan tangis yang tertahan, menggenggam flashdisk itu seolah nyawanya bergantung di sana. Begitu ia mencapai luar, ia mendengar suara ledakan besar dari dalam gudang.
Gudang itu runtuh. Api berkobar hebat membumbung tinggi ke langit malam pelabuhan.
"ARLAAAAN!" jerit Maya pecah. Ia jatuh terduduk di atas aspal yang dingin, menatap kobaran api yang melahap segalanya—semua rahasia, semua dendam, dan pria yang baru saja menjadi suaminya beberapa jam yang lalu.
Di kejauhan, sirine polisi meraung-raung mendekat. Maya menggenggam flashdisk itu erat. Matanya yang tadi penuh kesedihan kini berubah menjadi tajam dan dingin. Arlan benar, ia tidak boleh menyerah. Jika Richard dan rahasia Dirgantara ingin menghancurkan hidupnya, maka ia akan memastikan dunia tahu siapa iblis yang sebenarnya.